home

about us

mission

contact us

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are study, democracy and unity.
 

 

MAIN ISSUES
 

Democracy

 

Economy

 

Labor/Unemployment

 

Education

 

Development

 

Global Issues

 

Research

 

Contact Us:

 
 

TALKING POINT

archives

Kenaikan Harga-harga demi Pertumbuhan Ekonomi?

Divestasi dan Privatisasi

Small but invaluable"

"Sharing Knowledge"

 


I agree with the mission of the Indonesian Institute to enhance the young Indonesians’ mindset which is hard to be achieved by poor people. How can you transfer knowledge to a large number of Indonesian poor people? Ika Sartika, Jakarta.

A small rock holds back a great wave. Homer (~700 BC), The Odyssey

The third week of November 2002's discussion at TII's forum:

"Sharing Knowledge" (2)

 

11/26/02

Riad, Makassar - Sulawesi, sedang kuliah di Brandenburg, Germany

Transfer knowledge bisa lewat dua cara, secara implisit dan explicit (tacit).  Implisit, transfernya bisa lewat sebaran informasi, database akses dan lain-lain.  Disini, ada orang menyamakan knowledge dan informasi, dan di sisi lain, ada yang membedakan knowledge dan informasi.

Secara
eksplisit harus ketemu langsung sama sumber knowledge-nya, karena sepertinya mereka tidak dapat mengekspresikan secara lisan, misalnya tukang pahat dan pelukis. Jadi bentuknya bisa training, diskusi, brainstorming dan lain-lain. 

Yang
tidak kalah pentingnya adalah siapa penerima knowledge. Walaupun sistematika transfer knowledge bagus, tapi bila kemampuan penerima tidak memadai proses transfer knowledge tidak akan efektif.

Diskusi transfer knowledge bagi poor people adalah salah satu ide menarik untuk menggerakkan dan menggali potensi anak bangsa yang tersembunyi (karena faktor kemiskinan yang melekat). Juga sangat penting adalah untuk membantu mengentaskan kemiskinan, yang secara tidak langsung membantu
pembangunan ekonomi.

Radja, Bandung

Langkah pertama adalah dengan pengembangan kesadaran politik dan menjalankannya dalam kehiduapan sehari-hari. Ada pengetahuan yang dalam eksplorasinya justru sangat murah dan tidak membutuhkan waktu banyak yakni kesadaran atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan berbuat sesuatu untuk membangunnya.

Proses persekolahan yang paling baik bukanlah di universitas atau di sekolah, tetapi berada di tengah-tengah masyarakat. Jadi kuncinya adalah dekat dengan orang (banyak) dan kesadaran akan dinamikan kehidupan.

 

Susi , Jakarta

Saya terus terang tergelitik dengan dua konsep dalam pertanyaan ini, yaitu "Knowledge" dan "Masyarakat Miskin". Pertanyaan saya: apa yang dimaksud kedua konsep tersebut? Ditinjau dari perspektif kita sendiri atau ethic, kita selalu menganggap bahwa masyarakat miskin (yang seringkali diidentikkan dengan tingkat sosial-ekonomi) tidak memiliki pendidikan yang cukup layak. Namun, secara emic (sesuai dengan perspektif masyarakat itu sendiri), bukan berarti mereka tidak memiliki pengetahuan (knowledge) sama sekali. Mereka sebenarnya juga memiliki pengetahuan yang dijadikan sebagai acuan dalam menghadapi lingkungan dan memenuhi kebutuhan mereka.

Sayangnya, knowledge mereka (bisa disebut: indigenous knowledge) seringkali tidak dihargai oleh orang-orang yang memperoleh pendidikan formal. Knowledge atau pengetahuan bukanlah sesuatu yang hanya dapat diperoleh dalam pendidikan formal tetapi juga dari lingkungan sosial. Tukang jualan gado-gado yang memiliki tingkat sosial-ekonomi rendah, misalnya, memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang bagaimana ia mengolah dagangannya. Secara informal, sebenarnya kita bisa juga belajar dari dia.

Masyarakat miskin? "miskin" menurut siapa? apakah masyarakat yang digolongkan "miskin" itu memang merasa miskin? Banyak lho orang miskin yang tidak merasa miskin dan puas dengan apa yang dimilikinya. Kebalikannya, banyak juga orang kaya yang ternyata "miskin" (secara moral, misalnya).

Saya berharap agar tidak terjebak dengan dikotomi, misalnya miskin dan kaya. Masing-masing manusia memiliki pengetahuannya sendiri sesuai dengan kondisi dan lingkungannya. Inilah yang perlu kita hargai. Perbedaan itu jelas ada. Namun, apabila perbedaan pengetahuan antara masing-masing kelas masyarakat (kaya-miskin) menyebabkan salah satu pihak memaksakan pengetahuannya pada pihak lain yang dipandang memiliki pengetahuan yang "kurang layak" maka hal ini dapat dipandang memarjinalkan pengetahuan kelas masyarakat itu.

Perbedaan itu indah.  Justru dengan saling menghargai perbedaan kita dapat menjadi masyarakat multikultural yang kita harapkan.

 

Joe, Canberra - Australia 

Kuncinya adalah turunkan biaya telepon. Dengan murahnya biaya telepon akses ke Internet akan semakin mudah dan semakin banyak pengetahuan yang bisa disebarkan ke banyak individu.

Kemudahan akses terhadap internet akan memudahkan manusia Indonesia berkomunikasi dengan dunia luar, sehingga pengetahuan akan berkembang pesat.  Seperti Bill Clinton pernah berkata bawah salah satu cara mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberi kemudahan akses terhadap Internet.  Logikanya benar, petani yang ada di pedesaan akan mudah mengakses bagaimana cara bertani yang paling menguntungkan. Banyak contoh keuntungan memanfaatkan teknologi Internet untuk kemajuan.

Masalah di Indonesia biaya telepon dihitung per pulsa, sehingga semakin lama kita menggunakan Internet maka akan semakin mahal biaya sambungan tilpon yang harus dibayar.  Di negara-negara maju seperti Australia misalnya mereka membuat tarif telepon (lokal) per connection (18 cents) bukan per pulsa seperti di Indonesia.  Jadi penggunaan selama 24 jam pun biaya telepon yang harus dibayar hanya 18 cents, asal jangan idle sehingga terputus sambungan.

Dengan sistem inipun perusahaan telepon di Australia seperti Telstra, Optus, Vodafone, Smartchat dan lain-lain tetap masih meraih untung yang cukup besar. Jika mereka dapat meraih untung dengan memberi kemudahan dan kemurahan pada konsumen, kenapa di Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta tidak bisa?

Masalahnya, Telkom  melakukan bisnis biaya tinggi. Terlalu banyak korupsi dan juga harus membayar upeti pada para pejabat (cq. pemerintah), akibatnya rakyat yang jadi korban karena harus membayar biaya yang tinggi.  Juga akibatnya biaya sambungan ke Internet menjadi mahal bukan karena ulah Internet providernya tetapi karena biaya telepon dari Telkom yang sangat mahal.

Cara paling mudah untuk menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat banyak adalah
dengan kemudahan dan kemurahan telekomunikasi. Tetapi adakah inisiatif pemerintah dan DPR untuk menurunkan tarif telekomunikasi?

(Continued...)

 Your comment

Back to top

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved. Do not reprint without express written permission