|
"Sharing Knowledge" (2)
11/26/02
Riad,
Makassar - Sulawesi, sedang kuliah di Brandenburg,
Germany
Transfer knowledge bisa lewat dua cara, secara
implisit dan explicit (tacit). Implisit,
transfernya bisa lewat sebaran informasi, database
akses dan lain-lain. Disini, ada orang
menyamakan knowledge dan informasi, dan di sisi lain,
ada yang membedakan knowledge dan informasi.
Secara eksplisit
harus ketemu langsung sama sumber knowledge-nya,
karena sepertinya mereka tidak dapat mengekspresikan
secara lisan, misalnya tukang pahat dan pelukis. Jadi
bentuknya bisa training, diskusi, brainstorming dan
lain-lain.
Yang tidak kalah
pentingnya adalah siapa penerima knowledge. Walaupun
sistematika transfer knowledge bagus, tapi bila
kemampuan penerima tidak memadai proses transfer
knowledge tidak akan efektif.
Diskusi transfer knowledge bagi poor people adalah
salah satu ide menarik untuk menggerakkan dan menggali
potensi anak bangsa yang tersembunyi (karena faktor
kemiskinan yang melekat). Juga sangat penting adalah
untuk membantu mengentaskan kemiskinan, yang secara
tidak langsung membantu
pembangunan ekonomi.
Radja, Bandung
Langkah pertama adalah
dengan pengembangan kesadaran politik dan
menjalankannya dalam kehiduapan sehari-hari. Ada
pengetahuan yang dalam eksplorasinya justru sangat
murah dan tidak membutuhkan waktu banyak yakni
kesadaran atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar
dan berbuat sesuatu untuk membangunnya.
Proses persekolahan
yang paling baik bukanlah di universitas atau di
sekolah, tetapi berada di tengah-tengah masyarakat.
Jadi kuncinya adalah dekat dengan orang (banyak) dan
kesadaran akan dinamikan kehidupan.
Susi
, Jakarta
Saya terus terang
tergelitik dengan dua konsep dalam pertanyaan ini,
yaitu "Knowledge" dan "Masyarakat
Miskin". Pertanyaan saya: apa yang dimaksud kedua
konsep tersebut? Ditinjau dari perspektif kita sendiri
atau ethic, kita selalu menganggap bahwa masyarakat
miskin (yang seringkali diidentikkan dengan tingkat
sosial-ekonomi) tidak memiliki pendidikan yang cukup
layak. Namun, secara emic (sesuai dengan perspektif
masyarakat itu sendiri), bukan berarti mereka tidak
memiliki pengetahuan (knowledge) sama sekali. Mereka
sebenarnya juga memiliki pengetahuan yang dijadikan
sebagai acuan dalam menghadapi lingkungan dan memenuhi
kebutuhan mereka.
Sayangnya, knowledge
mereka (bisa disebut: indigenous knowledge) seringkali
tidak dihargai oleh orang-orang yang memperoleh
pendidikan formal. Knowledge atau pengetahuan bukanlah
sesuatu yang hanya dapat diperoleh dalam pendidikan
formal tetapi juga dari lingkungan sosial. Tukang
jualan gado-gado yang memiliki tingkat sosial-ekonomi
rendah, misalnya, memiliki pengetahuan yang cukup luas
tentang bagaimana ia mengolah dagangannya. Secara
informal, sebenarnya kita bisa juga belajar dari dia.
Masyarakat miskin?
"miskin" menurut siapa? apakah masyarakat
yang digolongkan "miskin" itu memang merasa
miskin? Banyak lho orang miskin yang tidak merasa
miskin dan puas dengan apa yang dimilikinya.
Kebalikannya, banyak juga orang kaya yang ternyata
"miskin" (secara moral, misalnya).
Saya berharap agar
tidak terjebak dengan dikotomi, misalnya miskin dan
kaya. Masing-masing manusia memiliki pengetahuannya
sendiri sesuai dengan kondisi dan lingkungannya.
Inilah yang perlu kita hargai. Perbedaan itu jelas ada.
Namun, apabila perbedaan pengetahuan antara
masing-masing kelas masyarakat (kaya-miskin)
menyebabkan salah satu pihak memaksakan pengetahuannya
pada pihak lain yang dipandang memiliki pengetahuan
yang "kurang layak" maka hal ini dapat
dipandang memarjinalkan pengetahuan kelas masyarakat
itu.
Perbedaan itu indah.
Justru dengan saling menghargai perbedaan kita
dapat menjadi masyarakat multikultural yang kita
harapkan.
Joe,
Canberra - Australia
Kuncinya adalah turunkan biaya telepon. Dengan murahnya biaya telepon
akses ke Internet akan semakin mudah dan semakin
banyak pengetahuan yang bisa disebarkan ke banyak
individu.
Kemudahan
akses terhadap internet akan memudahkan manusia
Indonesia berkomunikasi dengan dunia luar, sehingga
pengetahuan akan berkembang pesat. Seperti Bill Clinton pernah berkata bawah salah satu cara
mengentaskan kemiskinan adalah dengan memberi
kemudahan akses terhadap Internet. Logikanya
benar, petani yang ada di pedesaan akan mudah
mengakses bagaimana cara bertani yang paling
menguntungkan. Banyak contoh keuntungan memanfaatkan
teknologi Internet untuk kemajuan.
Masalah di Indonesia biaya telepon dihitung per
pulsa, sehingga semakin lama kita menggunakan Internet
maka akan semakin mahal biaya sambungan tilpon yang
harus dibayar. Di negara-negara maju seperti
Australia misalnya mereka membuat tarif telepon (lokal)
per connection (18 cents) bukan per pulsa seperti di
Indonesia. Jadi penggunaan selama 24 jam pun
biaya telepon yang harus dibayar hanya 18 cents, asal
jangan idle sehingga terputus sambungan.
Dengan
sistem inipun perusahaan telepon di Australia seperti
Telstra, Optus, Vodafone, Smartchat dan lain-lain
tetap masih meraih untung yang cukup besar. Jika
mereka dapat meraih untung dengan memberi kemudahan
dan kemurahan pada konsumen, kenapa di Indonesia yang
penduduknya lebih dari 200 juta tidak bisa?
Masalahnya,
Telkom melakukan
bisnis biaya tinggi. Terlalu banyak korupsi dan juga
harus membayar upeti pada para pejabat (cq. pemerintah),
akibatnya rakyat yang jadi korban karena harus
membayar biaya yang tinggi. Juga akibatnya biaya
sambungan ke Internet menjadi mahal bukan karena ulah
Internet providernya tetapi karena biaya telepon dari
Telkom yang sangat mahal.
Cara paling mudah untuk menyebarkan pengetahuan kepada
masyarakat banyak adalah dengan
kemudahan dan kemurahan telekomunikasi. Tetapi adakah
inisiatif pemerintah dan DPR untuk menurunkan tarif
telekomunikasi?
(Continued...)
Your
comment
Back
to top
|