|
Jan
10/03
Di
awal tahun ini, ada dua hal menarik dari dua negara
dalam mengatasi persoalan ekonominya. Untuk merangsang
ekonomi negaranya yang cenderung slow down
sejak akhir tahun 1990-an, Presiden AS George Bush
menekankan pada penghapusan pajak stock dividends yang
akan menyebabkan kurangnya penerimaan pemerintah AS
sebanyak 300 milyar dolar AS dalam jangka sepuluh
tahun ke depan. Paket rencana pemulihan ekonomi yang
menelan biaya sekitar 600 milyar dolar AS, menurut
perkiraan para analyst akan mendorong defisit anggaran
Federal sebanyak 200 milyar dolar AS. Dalam
presentasinya, Presiden Bush menekankan prioritas
kebijakan ekonominya sebagai berikut: Penyediaan
lapangan, pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan
ekonomi. Defisit menjadi isu sekunder.
Di
lain situasi, Indonesia, yang juga mengalami krisis
ekonomi yang lebih parah disuguhi kebijakan baru oleh
pemerintahnya. Presiden Megawati dan kabinet
ekonominya menekankan pada pengurangan defisit
anggaran dengan cara mengurangi subsidi pada
bahan-bahan konsumsi pokok seperti beras, BBM dan
tarif listrik serta pada bahan penting dalam produksi
penting seperti harga BBM, tarif listrik dan telepon.
Urutan prioritas adalah defisit anggaran, pertumbuhan
ekonomi dan lain-lain kurang jelas.
Menanggapi
kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif
listrik dan telepon, Menko Dorodjatun mengatakan bahwa
kenaikan beragam tarif di awal tahun 2003 ini tidak
memberatkan rakyat. Ia beralasan bahwa kenaikan bahan
bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) itu
bertujuan membuat pertumbuhan ekonomi sesuai dengan
targetnya. Djatun mengatakan bahwa saat ini
pemerintah memerlukan stimulus untuk menggerakkan
ekonomi.
Saat ini, orang awam sekalipun dapat mengerti bahwa
permasalahan pokok bukan kenaikan nominal, tetapi
adalah: (1) psikologi rakyat terhadap kenaikan harga
di tengah
lapangan kerja yang sangat terbatas dan para koruptor
kelas kakap, baik dari birokrat, legislator dan pelaku
bisnis bebas berkeliaran; (2) bahwa kenaikan ini
memiliki efek meluas terhadap barang-barang lain
sehingga inflasi akan meningkat. Misalnya saja,
apabila berpikir secara parsial, harga minyak tanah
yang naik seratus rupiah secara nominal tidak
menyusahkan rakyat membeli minyak tanah. Tetapi
kenaikan tersebut, dikombinasikan dengan kenaikan
dalam listrik dan tarif telepon, memiliki efek pada
barang-barang lain. Dengan sendirinya secara umum daya
beli masyarakat akan menurun sementara pendapatan
tetap dan pengangguran semakin meningkat.
Alasan Menko
Djatun untuk mengejar pertumbuhan ekonomi barangkali
perlu mendapat penjelasan yang lebih rasional. Apakah
kalau mau mengejar pertumbuhan ekonomi, harga-harga
harus ditingkatkan? Ini lebih bersifat jangka pendek.
Di atas segalanya, apa sesungguhnya rencana kebijakan
pemerintah dalam memulihkan dan membangun ekonomi yang
prioritasnya: Penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan
ekonomi, pemerataan kesempatan ekonomi dan lain
sebagainya.
Terlepas dari
argumen bahwa ada dasar lain daripada kebijakan
pemerintah tersebut, yakni pengurangan defisit budget
pemerintah, penyimakan terhadap Ekonomi 101 barangkali
berguna dilakukan, terutama untuk orang yang awam
Ekonomi.
Di teori ekonomi
makro, ada perdebatan klasik masalah inflasi dan
pengangguran yang dikenal luas dengan Kurva Phillips
(yang sebetulnya belum terbukti salah dan benar secara
umum di semua ekonomi/negara). Kurva tersebut
menggambarkan adanya hubungan jangka pendek negatif
antara laju inflasi dengan pengangguran: Laju inflasi
tinggi, pengangguran rendah (dan produksi nasional
tinggi). Akan tetapi, kebalikannya juga justru dapat
terjadi yakni kenaikan harga-harga secara umum, yang
dilihat dari tingginya laju inflasi akan menurunkan
produksi nasional dan dengan sendirinya meningkatkan
pengangguran.
Hubungan inflasi,
produksi nasional dan pengangguran (tiga hal yang
sangat sentral dalam kebijakan makroekonomi) sangat
ditentukan oleh aggregat penawaran dan permintaan
terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Apabila aggregat
permintaan meningkat, permintaan terhadap tenaga kerja
akan meningkat (dengan sendirinya pengangguran
berkurang) dan produksi nasional juga meningkat (dengan
sendirinya pertumbuhan ekonomi meningkat). Sebaliknya
kenaikan aggregat permintaan tersebut akan menaikkan
harga-harga (meningkatkan laju inflasi). Ini yang
dinamakan hubungan negatif inflasi dan pengangguran.
Di tahun 50-an dan 60-an, hubungan negatif ini luas
ditemukan di negeri maju seperti Inggris dan Amerika.
Bagaimana bila
terjadi penurunan dalam aggregat penawaran terhadap
barang-barang dan jasa-jasa? Penurunan penawaran
dengan sendirinya berakibat pada “seolah” kenaikan
dalam permintaan. Akibatnya harga-harga meningkat (inflasi
meningkat). Akan tetapi karena penawaran menurun ini
berarti permintaan terhadap tenaga kerja juga menurun
yang dengan sendirinya menurunkan produksi nasional.
Akhirnya yang terjadi adalah inflasi tinggi dan
pengangguran tinggi (dan pertumbuhan ekonomi rendah).
Ini yang luas terjadi di tahun 70-an ketika terjadi
resesi eknomi global.
Kembali pada
kebijakan ekonomi pemerintah menaikkan harga-harga.
Energi listrik, telepon dan bahan bakar minyak adalah
tiga unsur esensial dalam proses produksi. Memperoleh
modal untuk mendirikan, mempertahankan produksi dan
perluasan usaha sekarang sangat sulit. Di antaranya
ditunjukkan dengan rendahnya investasi dalam negeri
baik oleh investor domestik maupun investor asing
serta permasalahan dan kehati-hatian perbankan
nasional
dan lembaga keuangan
lainnya dalam memberikan pinjaman. Kombinasi keduanya
sangat mempengaruhi
produksi dan
aggregat penawaran. Ceteris paribus (hal-hal lain
tidak berubah), kenaikan harga-harga di atas akan
semakin menurunkan aggregat penawaran. Dengan
sendirinya, itu juga akan mendorong peningkatan
pengangguran dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi
aggregat permintaan, kenaikan harga-harga di atas
menurunkan daya beli masyarakat dan menimbulkan
penurunan dalam aggregat permintaan. Kombinasi
penurunan dalam aggregat penawaran dan aggregat
permintaan akan berakibat fatal pada pengangguran dan
juga pertumbuhan ekonomi.
Karenanya saya
tidak melihat ada alasan rasional peningkatan
harga-harga tersebut apabila tujuannya untuk
merangsang pertumbuhan ekonomi. Apabila tujuannya
adalah untuk menutupi defisit dalam budget pemerintah,
seharusnya yang menjadi agenda pokok adalah
peningkatan pajak yang benar-benar masuk ke kas
pemerintah (bukan dikorupsi oleh oknum-oknum di
perpajakan bersama-sama dengan pengusaha yang mau
mengindari pajak) dan juga peningkatan “retensi”
pengeluaran yang benar-benar di gunakan (bukan menguap
di tengah jalan).
Tentunya
alternatif pembiayaan dengan lewat utang dimana
pemerintah mengeluarkan obligasi sudah tidak mungkin
lagi mengingat pemerintah sudah ditimbun oleh
utang-utang swasta yang berubah menjadi utang publik.
Dan sekarang pihak swasta yang punya utang dibebaskan
dari tanggung jawab dengan instruksi R&D dari presiden.
Bagaimana dan berapa persisnya para pengusaha
berhutang tersebut membayar hutangnya masih penuh
misteri. Asset-asset mereka tidak gampang dijual dan
banyak masalah lainnya termasuk dengan kompetensi BPPN.
Sejauh ini misalnya total asset swasta yang bermasalah
yang bisa dijual baru sekitar 6-7% persen sementara di
Korea dan Thailand, sudah mencapai lebih 10%.
Selain itu, dalam
tataran yang lebih penting, kabinet ekonomi Megawati
gagal karena ketidakmampuan mereka mengeluarkan
rencana terpadu pemulihan dan pembangunan ekonomi.
Karena apabila semua kebijakan mereka tersebut bagian
daripada pemulihan dan pembangunan yang sudah jelas
direncanakan, pengurangan subsidi pada bahan-bahan
pokok – yang berakibat akan naiknya inflasi - masih
dapat dipahami. Itu berarti pengorbanan sifatnya
sementara dan adalah tugas mereka untuk
mengkomunikasikan seperti itu kepada publik yang
barangkali tidak mendapatkan informasi yang akurat.
Tetapi kalau
hanya alasan untuk menutupi defisit dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, tidak cukup beralasan. Itu sangat
berpikir jangka pendek (very short-run orientation)
dan tidak lebih daripada menutup lobang dengan lobang
lain? Atau menutup lobang dengan lobang lain yang
lebih besar.
Adalah tugas dan
tanggung jawab Presiden Megawati dan Menko Djatun
mengkonsolidasikan segenap potensi, keterampilan,
gagasan dan sumberdaya nasional yang ada untuk
menghasikan rencana dan strategi kebijakan pemulihan
dan pembangunan ekonomi nasional. Seperti kata Oliver
Holmes, “The great thing in this world is
not so much where you stand, as in what direction you
are moving,” hampir
lima tahun setelah krisis, Indonesia masih dihadapkan
dengan pertanyaan, “kemana gerangan pembangunan
ekonomi akan berjalan?” Tidak sampai setahun setelah
krisis, Perdana Menteri Mahathir di Malaysia langsung
memimpin dewan pemulihan ekonomi nasional. Salah satu
kebijakannya yang kontroversial, tetapi sejauh ini
terbukti ampuh, adalah dengan kebijakan capital
control.
Extraordinary
eposides
haruslah dijawab dengan ide-ide dan pelaku-pelaku
kebijakan yang cemerlang, lugas dan berani. Sudah
saatnya para pelaku kebijakan di tim ekonomi Megawati
bertanya apakah masih pantas untuk mengemban tanggung
jawab berat tetapi sangat mulia tersebut. Atau juga
sudah saatnya mereka dengan lugas dan koheren
menjelaskan kepada publik, yang selama ini masih
meraba-raba, apa sesungguhnya rencana pemulihan dan
pembangunan ekonomi bangsa ini.
Your
comment
Back
to top
|