|
Jan
07/03
Menanggapi
kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif
listrik dan telepon, Menko Dorodjatun mengatakan bahwa
kenaikan beragam tarif di awal tahun 2003 ini tidak
memberatkan rakyat (Republika
2 Januari 2003). Ia beralasan bahwa kenaikan bahan
bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) itu
bertujuan membuat pertumbuhan ekonomi sesuai dengan
targetnya. Djatun mengatakan bahwa saat ini
pemerintah memerlukan stimulus untuk menggerakkan
ekonomi.
Orang awam sekalipun
mengerti bahwa permasalahan pokok sekarang
adalah: (1) psikologi
rakyat terhadap kenaikan harga sementara
lapangan kerja sangat terbatas dan para koruptor, baik
birokrat,
legislator dan pelaku bisnis yang korupsi ratusan
milyar, bebas berkeliaran; (2) bahwa kenaikan ini
memiliki efek meluas terhadap barang-barang lain
sehingga inflasi akan meningkat. Misalnya saja,
apabila berpikir secara parsial, harga minyak tanah
yang naik seratus rupiah secara nominal tidak
menyusahkan rakyat membeli minyak tanah. Tetapi
kenaikan tersebut, dikombinasikan dengan kenaikan
dalam listrik dan tarif telepon, memiliki efek pada
barang-barang lain. Dengan sendirinya secara umum daya
beli masyarakat akan menurun sementara pendapatan
tetap dan pengangguran semakin meningkat.
Alasan Menko
Djatun untuk mengejar pertumbuhan ekonomi barangkali
perlu mendapat penjelasan yang lebih rasional. Apakah
kalau mau mengejar pertumbuhan ekonomi, harga-harga
harus ditingkatkan? Terlepas dari argumen bahwa ada
dasar lain daripada kebijakan pemerintah tersebut,
yakni pengurangan defisit budget pemerintah,
penyimakan terhadap Ekonomi 101 barangkali berguna
dilakukan, terutama untuk orang yang awam Ekonomi.
Di teori ekonomi
makro, ada perdebatan klasik masalah inflasi dan
pengangguran yang dikenal luas dengan Kurva Phillips (yang sebetulnya belum terbukti
salah dan benar secara umum di semua ekonomi/negara),.
Kurva tersebut menggambarkan adanya hubungan negatif antara laju inflasi dengan
pengangguran: Laju inflasi tinggi, pengangguran rendah
(dan output tinggi). Akan tetapi kebalikannya juga
justru dapat terjadi yakni
kenaikan harga-harga secara umum, yang dilihat dari
laju inflasi akan menurunkan output (produksi nasional) dan dengan sendirinya meningkatkan
pengangguran.
Hubungan
inflasi, output dan pengangguran (tiga hal yang sangat
sentral dalam kebijakan makroekonomi) sangat
ditentukan oleh aggregat penawaran dan permintaan
terhadap barang-barang dan jasa-jasa. Apabila aggregat permintaan meningkat, permintaan terhadap
tenaga kerja akan meningkat (dengan sendirinya
pengangguran berkurang) dan produksi nasional juga
meningkat (dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi
meningkat). Akan tetapi, sebaliknya kenaikan aggregat
permintaan tersebut akan menaikkan harga-harga (meningkatkan
laju inflasi). Ini yang dinamakan hubungan negatif
inflasi dan pengangguran. Di tahun 50-an dan 60-an,
hubungan negatif ini luas ditemukan di negeri maju
seperti Inggris dan Amerika.
Bagaimana
bila terjadi penurunan dalam aggregat penawaran
terhadap barang-barang dan jasa-jasa? Penurunan
penawaran dengan sendirinya berakibat pada “seolah”
kenaikan dalam permintaan. Akibatnya harga-harga
meningkat (inflasi meningkat). Akan tetapi karena
penawaran menurun ini berarti permintaan terhadap
tenaga kerja juga menurun yang dengan sendirinya
menurunkan produksi nasional. Akhirnya yang terjadi
adalah inflasi tinggi dan pengangguran tinggi (dan
pertumbuhan ekonomi rendah). Ini yang luas terjadi di
tahun 70-an ketika terjadi resesi eknomi global.
Kembali pada
kebijakan ekonomi pemerintah menaikkan harga-harga.
Energi listrik, telepon dan bahan bakar minyak adalah
tiga unsur esensial dalam proses produksi. Di tengah
kesulitan permodalan sekarang, yang ditunjukkan dengan
rendahnya investasi baik domestik maupun investasi
asing serta permasalahn dalam sistim perbankan
nasional yang belum kunjung selesai, kenaikan tiga
unsur pokok dalam proses produksi tersebut sangat
mempengaruhi aggregat penawaran. Ceteris paribus (hal-hal
lain tidak berubah), kenaikan harga-harga di atas akan
menurunkan aggregate penawaran. Dengan sendirinya, itu
juga akan mendorong peningkatan pengangguran dan
menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi
aggregat permintaan, kenaikan harga-harga di atas
menurunkan daya beli masyarakat dan menimbulkan
penurunan dalam aggregat permintaan. Kombinasi
penurunan dalam aggregat penawaran dan aggregat
permintaan akan berakibat fatal pada pengangguran dan
juga pertumbuhan ekonomi.
Karenanya
saya tidak melihat ada alasan rasional peningkatan
harga-harga tersebut apabila tujuannya untuk
merangsang pertumbuhan ekonomi. Apabila tujuannya
adalah untuk menutupi defisit dalam budget pemerintah,
seharusnya yang menjadi agenda pokok adalah peningkatan pajak yang benar-benar masuk ke kas
pemerintah (bukan dikorupsi oleh oknum-oknum di
perpajakan bersama-sama dengan pengusaha yang mau
mengindari pajak) dan juga peningkatan “retensi”
pengeluaran yang benar-benar di gunakan (bukan menguap
di tengah jalan).
Menko Djatun
mungkin hebat, tetapi kali ini, sorry, saya tidak
melihatnya. Dengan segala respek kepada beliau dan
anggota tim ekonomi lainnya
yang terdiri dari Menkeu Boediono, Memperindag Rini
dan Menteri Laksamana, tim tersebut silahkan mengundurkan diri.
Mereka hendaknya mundur bukan karena masalah
kepribadian atau karakter orangnya tetapi karena kebijakan
mereka yang tidak jelas dan tidak koheren untuk
memulihkan dan membangun ekonomi bangsa.
Selain itu,
dalam tataran yang lebih penting, kabinet ekonomi (dan
juga sosial) Megawati gagal karena ketidakmampuan
mereka mengeluarkan rencana terpadu pemulihan dan
pembangunan ekonomi. Karena apabila semua kebijakan
mereka tersebut bagian daripada pemulihan dan
pembangunan yang
sudah jelas direncanakan, masih dapat dipahami. Itu
berarti pengorbanan sifatnya sementara dan adalah
tugas mereka untuk mengkomunikasikan seperti itu
kepada publik yang barangkali tidak mendapatkan
informasi yang akurat.
Tetapi kalau
hanya alasan untuk menutupi defisit dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi, tidak cukup beralasan. Itu sangat
berpikir jangka pendek (very short-run orientation). Itu tidak lebih daripada menutup lobang dengan lobang
lain? Atau menutup lobang dengan lobang lain yang
lebih besar. Kapan Indonesia majunya?
Your
comment
Back
to top
|