|
Jan
03/03
Masalah divestasi di Indosat sekarang tampaknya
cenderung bukan menjadi
masalah ekonomi dan masalah masa depan bangsa
Indonesia, tetapi menjadi terfokus pada persoalan
politik. Tanpa kita larut dalam polemik seputar
divestasi ini, ada sesuatu yang secara inheren jauh
lebih penting daripada divestasi, privatisasi dan
semacamnya.
Saya melihat persoalan terbesar sekarang ini bukan
masalah divestasi dan
semacamnya, tetapi adalah kemana arah dan tujuan
pemulihan dan pembangunan
nasional, terutama dari tentang pemulihan dan
pembangunan sosial dan ekonomi. Seperti kata Oliver
Helmes," The great thing in this world is not so
much where you stand, as in what direction you are
moving," masalah paling pokok adalah arah, bukan
waktu per waktu saja.
Sampai saat ini, setelah empat tahun Soeharto jatuh
dan setelah lima tahun krisis,
Indonesia belum memiliki blue print jangkah menengah
dan jangka panjang
pemulihan dan pembangunan ekonomi nasional. Malaysia,
segera setelah krisis,
langsung berupaya mewujudkan hal tersebut di bahwa
komando Perdana Menteri Mahathir. Beberapa waktu silam,
bekas Presiden Wahid membentuk dewan pemulihan ekonomi
nasional yang dipimpin oleh pengusaha yang juga sumber
masalah ketika itu. Itu tidak lebih daripada banyolan.
Dan sampai sekarang, setelah satu setengah tahun,
pemerintahan Megawati belum memiliki perencanaan yang
jelas. Semua tampaknya hanya persoalan.
Kabinet bekerja dari satu persoalan ke persoalan lain
tanpa ada koordinasi, tanpa ada koherensi dan tanpa
ada perencenaan yang jelas. Menteri tenaga kerja
berucap sesuatu yang tidak masuk akal ketika Sony
memilih hengkang dari Indonesia. Dan sekarang Menteri
Laksamana dipandang melakukan sesuatu yang anti-nasionalisme.
Menko Dorodjatun suka berbicara pertumbuhan ekonomi
sebesar 2%,3% atau 4% ketika kita mengetahui bahwa
persoalan utama bukan masalah pertumbuhan ekonomi
tetapi lapangan kerja, hutang luar negeri, investasi,
BPPN, reformasi financial dan lain sebagainya.
Bahkan Soeharto sendiripun, setelah secara resmi
berkuasa, menyadari betapa
pentingnya planning ketika dia dengan tim-nya
merumuskan Repelita di tahun
1968 dan menjadi Pelita di 1969.
Kalau ada yang mau dituntut mundur itu adalah tim
ekonomi Megawati, karena
gagal menyadari hal yang paling penting. Sejauh ini
masih sedikit kalangan yang melihat isu ini krusial
dalam proses pemulihan dan pembangunan ekonomi. (Lebih
lanjut dapat di lihat di sini:
Megawati's Economic Team Should Resign.)
Masalah divestasi dan investasi tetap seharusnya
dilihat dalam kerangka
perencanaan pembangunan. Ketika menyusun kabinet
sendiri, Presiden Megawati
seakan mengabaikan pentingnya investasi. Ketika itu
seharusnya Megawati
membentuk tim khusus di bawah presiden atau mungkin
departemen sendiri untuk
menarik dan memulihkan invetasi. BKPM sangat pasif.
Badan Koordinasi? Apa
yang harus dikoordinasi? Namanya harus menjadi Badan
Penarik dan Pelancar
Investasi. Nama mencerminkan visi dan misi. Dan Menko
Ekuin mungkin
ditiadakan. Tetapi menjadi Menko Pemulihan dan
Pembangunan Ekonomi. Lain
masalah harus lain pendekatan. Menko Ekuin masih
warisan dari situasi jaman
Soeharto.
Persoalan yang dihadapi Indonesia sekarang sangat
berbeda dan masalah luar biasa (extraordinary
episodes) tentu harus dihadapi dengan pendekatan
yang luar biasa juga (extraordinary measures).
Kalau memang perlu ditinjau secara seksama keuntungan
dan kerugian akan hubungan RI dengan IMF. Kalau lebih
banyak ruginya, apakah Indonesia langsung kacau balau
kalau hubungan putus? Tidak juga. Yang penting apa
rencana pemulihan dan pembangunan dan bagaimana
mewujudkannya.
Kalau rakyat di minta berhemat BBM misalnya untuk
kebaikan nasional, jelas rakyat rasanya bakal bersedia
sejauh itu diikuti segenap kalangan. Kalau misalnya
naiknya harga-harga adalah untuk kompensasi jangka
pendek agar ekonomi pulih, rakyat akan dapat mengerti,
sejauh itu dikomunikasikan dengan jelas dan sejauh itu
bagian daripada rencana pemulihan dan pembangunan
ekonomi.
Tetapi kalangan di sekeliling Presiden Megawati luput
melihat masalah
penting ini. Dalam tulisan singkat
It's the
Investment, Stupid, saya uraikan
beberapa inisiatif untuk menarik dan melancarkan
investasi serta hal lain
yang berkaitan.
Jadi, apakah Indosat dijual, saya tidak melihat itu
masalah nomor satu. Kalau
memang itu adalah bagian daripada rencana untuk
memulihkan dan memajukan
ekonomi, mengapa menjadi masalah hebat? Tetapi saya
kira memang tidak karena
kita sendiri tidak tahu mau berjalan kemana. Persoalan
silih berganti: dari
BCA, Sinar Mas, Sony, dan lain sebagainya tanpa jelas
arah pemulihan dan pembangunan ekonomi.
Sekarang ini terlalu banyak politik. Ketua MPR Amien
Rais cenderung menyerang personality daripada Menteri
Laksamana. Akhirnya, lebih ke persoalan politik. Dan
jujur saja, tidak lagi dalam kerangka etis. Sebagai
elit politik Amien Rais seharusnya lebih mengkritik
kebijakan bukan orang.
Saya tidak fans Laksamana dan juga tidak fans Amien
Rais. Tetapi asumsikan bahwa Laksamana bertindak hanya
untuk kepentingan diri sendiri dan kepentingan
kalangan asing. Seharusnya Amien Rais, sebagai seorang
elite politik nasional yang
diharapkan dapat menjadi contoh, tidak secara vulgar
mengeluarkan ucapan
yang sifatnya tuduhan personal seperti (dalam
wawancara dengan Tempo), "Sejak lama saya sudah
mencurigai orang ini sebenarnya adalah agen asing."
Setiap orang, termasuk politikus, berhak mengkritik
kebijakan pemerintah.
Tetapi setiap orang juga wajib mentaati rambu-rambu
kebebasan berpendapat.
Kalau Amien Rais sungguh-sungguh pejuang rakyat,
seharusnya dari awal dia
kritik kebijakan pemerintah termasuk nihilnya rencana
dan sebagainya.
Berikut adalah perbedaan singkat good politicians and
bad politicians
(diambil dari
Searching for Good Politicians)
"The difference rests in four alphabets: Bad
politicians often talk about
poli-tics, while good politicians often talk about
poli-cy. For bad
politicians, politics is everything. They come to
power through politics,
they defend their power with politics and in most
cases they "die" because
of politics. The order of their priority is as follow:
Politics, personality
and policy. No wonder, when it comes to a
policy-making process they always
politicizing it because they see policy less important
than politics."
Dan usaha saya menyuarakan (moga-moga ada yang
mendukung) supaya tim ekonomi mundur bukan karena
masalah personal, tetapi karena kebijakan dan program
mereka yang tidak jelas.
Kepada politikus atau yang menyiapkan diri menjadi
politikus, pesan saya adalah: Bicaralah kebijakan,
personality dan politik, bukan dengan urutan
sebaliknya. Berusahalah menjadi politikus yang baik (Be
good politicians).
"So, what about good politicians? Good politicians
talk first about policies
that can make their country better and then ask a
question who are the right
persons to execute the policies. Realizing that
diversity does exist in any
society, good politicians search for the common ground
among diverse views,
negotiate with those who agree and disagree with them
and make adjustments
to their proposals without destroying the goals they
seek to accomplish. In
other words, they build political consensus on those
two issues (policies
and persons). (Diambil
dari
Searching for Good Politicians) "
 |
|
Discussion: |
|
|
 |
Jan 3, 03: Maria Kusumadewi,
State University of New York, Buffalo.
Good observation!
It's true no planning whatsoever informed by our
President
or her
cabinet
on how they
go about fixing the economy problems, which we
all expect they do. Here in the US, everyone
goes public eventhough sometimes it's
politically incorrect, and in Indonesia
as we all know, everything
is on
its good cover. Who
knows may be they want to avoid
'I do not have any relationship
with that woman!'
type of thing.
But we should remember that they/we
have been facing an enormous economic and
political problems which will take an off a
long time to fix them, so give her some time.
Imagine she has to fix a whole field full of
rotten beans planted by the previous
administration
in the past 32 years. Not easy. I still
think, she's the right person at the right time.
Question is, how much support can she get to
clean up the field.
It seems that
everyone disagree no matter what she does. I
agree with you tho, I wish she would tell which
direction we're moving to.
|
Your
comment
Back
to top
|