home

about us

mission

contact us

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are study, democracy and unity.
 

 

MAIN ISSUES
 

Democracy

 

Economy

 

Labor/Unemployment

 

Education

 

Development

 

Global Issues

 

Research

 

Contact Us:

     
 

TALKING POINT

 
 

archives

 
     
  Kepemimpinan Nasional dan Tantangan Indonesia (2)

Landasan Kepemimpinan Nasional (1)

Menggalakkan koperasi sebagai suatu semangat

Demanding for Peace in Indonesia

Institusionalisasi Premanisme Harus Diakhiri 

Premanisme dan Tantangan Sosio-politik dan Budaya

Kebijakan Ekonomi Megawati Perlu Penjelasan

Kenaikan Harga-harga demi Pertumbuhan Ekonomi?

Privatisasi dan Divestasi

Small but invaluable"

"Sharing Knowledge

 

 
 


   

Landasan Kepemimpinan Nasional (1)

Elwin Tobing

 

Feb 25/04

Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Demikian kesimpulan berbagai kalangan. Apakah memang benar?

Pertanyaan tidak gampang. Diperlukan dasar terstruktur serta parameter relevan untuk menjawabnya. Artinya, perlu dijelaskan apa landasan kepemimpinan, kemudian diuraikan apa tantangan krusial yang dihadapi oleh Indonesia, baik kini dan di masa depan. Beranjak dari keduanya, dirumuskan kira-kira kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat urgent dan aktual. Saat ini Indonesia tidak hanya dalam proses seleksi kepemimpinan nasional, juga dalam proses perumusan arah perjalanan bangsa.

Lantas, apakah landasan kepemimpinan? Berbagai pengertian akan hal ini dapat disampaikan, tetapi secara umum dapat disimpulkan dalam satu kalimat yang ditulis oleh Eric Hoffer, “pemimpin harus praktis dan membumi, tetapi juga harus berbicara dalam bahasa yang visioner dan idealis” (The leader has to be practical and a realist, yet must talk the language of the visionary and the idealist”).  Dengan kata lain, kepemimpinan harus dibangun di atas idealisme, realisme dan optimisme. Ketiga hal inilah yang menjadi landasan kepemimpinan.

Idealisme berkaitan dengan situasi dan kondisi ideal masa kini dan masa depan yang ingin dicapai; menyangkut arah perjalanan dan aspirasi yang hendak dicapai. Tanpa idealime, seorang pemimpin akan kehilangan kompas, tidak tahu peta perjalanan yang ingin di tempuh. Juga, ia akan cenderung larut dalam perkara-perkara kecil (minor) dan yang tidak relevan (irrelevant) terhadap perwujudan aspirasi yang diinginkan. Alhasil, pemimpin demikian akan membawa kelompok yang dipimpimnya ke arah yang tidak menentu.

Idealisme juga berkaitan dengan inspirasi.  Arah perjalanan yang jelas merupakan sumber inspirasi dalam berjuang. Masuk akal bila seorang pemimpin nasional idealnya adalah seorang inspirator, yang memiliki gagasan-gagasan inspiratif, baik kecil maupun besar, yang menjadi salah satu landasan dalam meletakkan arah perjalanan bangsa.

Karenanya, pemimpin yang memiliki idealisme adalah pemimpin yang visionaris. Pandangannya tidak hanya ke masa kini, juga ke masa depan; tidak hanya menyangkut hal-hal praktis kekinian, juga yang idealis-inspiratif.  Sebab, seperti ditulis oleh Oliver Holmes Jr., “yang terpenting bukan di mana Anda sedang berada, tetapi ke mana Anda hendak berjalan” (“the great thing in this world is not so much where you stand, as in what direction you are moving”).

Pemimpin demikian adalah inspirator yang visionaris.

Pada jaman Orde Lama, Presiden Soekarno kerap berpidato yang isinya tentang “Revolusi”, “Berdikari” dan “Indonesia jaya”. Bila dikaitkan benang merahnya, tema utama pidatonya lebih kurang adalah “mewujudkan Indonesia jaya dengan penekanan pada swadaya dan dengan semangat revolusioner.” Pada periode hampir sama, di awal tahun 1960-an, Presiden AS John Kennedy mengumumkan visinya bahwa sebelum dekade 60-an berakhir, manusia (astronot AS) akan menginjakkan kakinya di bulan.

 Dari sisi idealisme, bekas Presiden Soekarno adalah cemerlang. Paling tidak dia menggariskan arah dan aspirasi yang ditempuh. Demikian juga halnya dengan Presiden AS Kennedy. Apakah dari perspektif landasan kepemimpinan yang kedua, realisme, visi tersebut sudah tepat? Jawabnya tertuang pada uraian berikut.

Realisme menyangkut pengertian dan pemahaman akan kondisi dan situasi yang berkembang. Di sini artinya agak berbeda dengan pengertian filosofisnya yang cenderung menolak hal-hal impractical atau visionary, tetapi lebih pada konsern terhadap fakta atau realitas (concern for fact or reality). Seperti ditulis Marian Anderson, “kepemimpinan harus dilahirkan dari pemahaman akan kebutuhan dari yang dipimpinnya” (“leadership should be born out of the understanding of the needs of those who would be affected by it”) .

Idealisme dari kepemimpinan harus dibangun di atas fakta dan realitas yang berkembang. Misalnya, seorang pemimpin bisa memiliki visi menjadikan Indonesia negara tangguh yang mampu memproduksi pesawat supersonik dan ulang-ulang antariksa. Tetapi apakah mimpi itu memiliki fondasi yang kuat sekarang ini, ketika memproduksi bahan-bahan pangan utama masih belum efisien dan belum terjamin produktivitasnya?

Landasan kedua ini sangat penting karena tanpa pemahaman akan fakta dan situasi yang berkembang, meski memiliki idealisme, seorang pemimpin tidak lebih daripada dilusioner. Apa yang dikatakannya kurang didukung fakta dan realitas. Alhasil, dia tidak hanya akan kehilangan kepercayaan dari yang dipimpinnya, juga akan membawa ketertinggalan kepada kelompoknya. Apabila dia seorang pemimpin bangsa, bangsa tersebut akan terjerumus pada ketinggalan jauh. Karena gerak kemajuan suatu bangsa secara relatif memakan waktu lama, setiap proses kemunduran akan menghasilkan waktu yang jauh lebih lama untuk kembali ke keadaan yang diinginkan. Ini sudah terbukti dari pengalaman berbagai negara, termasuk misalnya China di masa Mao Zedong dan Filipina dengan Fidel Marcos.

Ketika John Kennedy mengumumkan sesuatu yang terkesan ‘mimpi’ di awal tahun 60-an, dia bukanlah bermimpi, tetapi memiliki visi yang berdasar. Ketika itu ekonomi, industri dan riset di AS mengalami booming dan kemajuan pesat. Khususnya dalam eksplorasi angkasa luar, semangat kompetisi sangat tinggi, mengetahui kejayaan Sputnik dari bekas Uni Soviet.

Dan ketika Presiden Soekarno menekankan betapa vitalnya semangat berdikari dan jiwa revolusioner dalam mewujudkan “Indonesia jaya”, dasarnya juga jelas. Realitas yang berkembang saat itu adalah bangsa Indonesia baru keluar dari ratusan tahun penjajahan. Mindset “saya mampu” dan semangat berpacu masih harus digugah terus menerus. Setelah lepas dari kolonialisme dan dengan berbagai konflik internal, kepercayaan diri merupakan isu utama saat itu.

Untuk fair, bekas presiden Soeharto juga memiliki keduanya dengan visinya “adil makmur berdasarkan Pancasila” dan dengan mantra “pembangunan”-nya. Soeharto memahami kenyataan bahwa hanya dengan ideologi yang inklusif dan adaptif (Pancasila), Indonesia dapat bersatu dan stabilitas dapat lebih terjamin. Juga hanya dengan ‘mantra’ pembangunan yang didasarkan kesamaan ideologi, Indonesia dapat keluar dari kemiskinan.

 

Pemimpin yang memiliki idealisme dan realisme adalah visionaris yang rasional. Namun, meski kedua landasan ini diperlukan, itu belum mencukupi. Diperlukan fondasi yang ketiga yakni optimisme.

Optimisme berkaitan dengan adanya enerji, kemampuan manajerial, kesanggupan untuk introspeksi (self-retrospection) dan semangat yang optimis bahwa kondisi ideal yang diinginkan, yang didasarkan realitas, dapat dicapai. Pemimpin yang memiliki optimisme akan mampu menjadi penggerak dan pemandu orang-orang sekelilingnya. Seperti kata John Rockefeller, “kepemimpinan menyangkut bagaimana menunjukkan cara kerja orang-orang besar terhadap orang-orang awam” (...”leadership consists in showing average people how to do the work of superior people”. Landasan kepemimpinan ketiga ini mensyaratkan bawah pemimpin adalah figur yang cakap (terampil), berpengetahuan dan sekaligus menjadi tauladan (model).

Juga fondasi optimisme menyaratkan bahwa seorang pemimpin adalah organisator, yang mampu membedakan fakta dari fiksi; hal mendesak dari yang dapat ditunda; vital dari yang kurang penting; salah dan benar. Tidak kalah penting, fondasi ini mensyaratkan adanya keterbukaan, kejujuran dan kerendahan hati (humility). Tanpa hal terakhir ini, mustahil seorang pemimpin mau dan mampu melakukan self-evaluation terhadap kepemimpinannya.  Dengan sendirinya, mustahil pemimpin menjadi inspirator dan tauladan. 

Karenanya seorang pemimpin nasional yang ideal tidak hanya memiliki idealisme yang berpijak pada realitas – yang menjadi pemandu dan penyatu visi, juga seorang organisator yang optimis yang dapat menggerakkan energi dan potensi sumberdaya bangsa, baik sumberdaya alam dan manusia, untuk mencapai misi tersebut. Masuk akal, jika seorang pemimpin harus memiliki fisik sehat, akal pikiran sehat, pengetahuan luas, cakap dan, tidak kalah penting, rendah hati. Tanpa fondasi yang ketiga ini, kegagalan seorang pemimpin hanya sebatas waktu. Cepat atau lambat, kepemimpinannya akan gagal mewujudkan, atau paling tidak mendekati, kondisi ideal yang diinginkan.

Dari fondasi ketiga ini, sayangnya, bekas pemimpin nasional kita gagal. Kadar humility rendah, self-restropection minim dan ketauladanan jauh dari harapan, karena pemimpin yang optimis, tidak hanya visionaris yang rasional, juga yang cakap dan rendah hati. 

Amat tepat bila kita mengevaluasi kepemimpinan sekarang termasuk calon-calon pemimpin nasional yang akan kita pilih dalam Pemilu mendatang. Adakah yang memiliki fondasi idealisme, realisme dan optimisme? Bila tidak ada, memang krisis kepemimpinan sedang terjadi. Bila ada, saatnya landasan kepemimpinan tersebut, yang sekaligus sebagai parameter dalam menilai kepemimpinan, diperhadapkan dengan tantangan Indonesia. Artinya, kita berbicara kepemimpinan nasional Indonesia.

 

 Your comment

Back to top

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved. Do not reprint without express written permission