|
Feb
25/04
Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan.
Demikian kesimpulan berbagai kalangan. Apakah memang
benar?
Pertanyaan tidak gampang. Diperlukan dasar terstruktur
serta parameter relevan untuk menjawabnya. Artinya,
perlu dijelaskan apa landasan kepemimpinan, kemudian
diuraikan apa tantangan krusial yang dihadapi oleh
Indonesia, baik kini dan di masa depan. Beranjak dari
keduanya, dirumuskan kira-kira kepemimpinan seperti
apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat urgent
dan aktual. Saat ini Indonesia tidak hanya dalam
proses seleksi kepemimpinan nasional, juga dalam
proses perumusan arah perjalanan bangsa.
Lantas, apakah landasan kepemimpinan? Berbagai
pengertian akan hal ini dapat disampaikan, tetapi
secara umum dapat disimpulkan dalam satu kalimat yang
ditulis oleh Eric Hoffer, “pemimpin
harus praktis dan membumi, tetapi juga harus berbicara
dalam bahasa yang visioner dan idealis” (“The
leader has to be practical and a realist, yet must
talk the language of the visionary and the idealist”).
Dengan kata lain,
kepemimpinan harus dibangun di atas idealisme,
realisme dan optimisme. Ketiga hal inilah yang menjadi
landasan kepemimpinan.
Idealisme berkaitan dengan situasi dan kondisi ideal
masa kini dan masa depan yang ingin dicapai;
menyangkut arah perjalanan dan aspirasi yang hendak
dicapai. Tanpa idealime, seorang pemimpin akan
kehilangan kompas, tidak tahu peta perjalanan yang
ingin di tempuh. Juga, ia akan cenderung larut dalam
perkara-perkara kecil (minor) dan yang tidak
relevan (irrelevant) terhadap perwujudan
aspirasi yang diinginkan. Alhasil, pemimpin demikian
akan membawa kelompok yang dipimpimnya ke arah yang
tidak menentu.
Idealisme juga berkaitan dengan inspirasi. Arah
perjalanan yang jelas merupakan sumber inspirasi dalam
berjuang. Masuk akal bila seorang pemimpin nasional
idealnya adalah seorang inspirator, yang memiliki
gagasan-gagasan inspiratif, baik kecil maupun besar,
yang menjadi salah satu landasan dalam meletakkan arah
perjalanan bangsa.
Karenanya, pemimpin yang memiliki idealisme adalah
pemimpin yang visionaris. Pandangannya tidak hanya ke
masa kini, juga ke masa depan; tidak hanya menyangkut
hal-hal praktis kekinian, juga yang idealis-inspiratif.
Sebab, seperti ditulis oleh Oliver Holmes Jr., “yang
terpenting bukan di mana Anda sedang berada, tetapi ke
mana Anda hendak berjalan”
(“the
great thing in this world is not so much where you
stand, as in what direction you are moving”).
Pemimpin
demikian adalah inspirator yang visionaris.
Pada jaman Orde Lama, Presiden Soekarno kerap
berpidato yang isinya tentang “Revolusi”, “Berdikari”
dan “Indonesia jaya”. Bila dikaitkan benang merahnya,
tema utama pidatonya lebih kurang adalah “mewujudkan
Indonesia jaya dengan penekanan pada swadaya dan
dengan semangat revolusioner.” Pada periode hampir
sama, di awal tahun 1960-an, Presiden AS John Kennedy
mengumumkan visinya bahwa sebelum dekade 60-an
berakhir, manusia (astronot AS) akan menginjakkan
kakinya di bulan.
Dari sisi idealisme, bekas Presiden Soekarno adalah
cemerlang. Paling tidak dia menggariskan arah dan
aspirasi yang ditempuh. Demikian juga halnya dengan
Presiden AS Kennedy. Apakah dari perspektif landasan
kepemimpinan yang kedua, realisme, visi tersebut sudah
tepat? Jawabnya tertuang pada uraian berikut.
Realisme menyangkut pengertian dan pemahaman akan
kondisi dan situasi yang berkembang. Di sini artinya
agak berbeda dengan pengertian filosofisnya yang
cenderung menolak hal-hal impractical atau
visionary, tetapi lebih pada konsern terhadap
fakta atau realitas (concern for fact or reality).
Seperti ditulis Marian Anderson, “kepemimpinan harus
dilahirkan dari pemahaman akan kebutuhan dari yang
dipimpinnya” (“leadership
should be born out of the understanding of the needs
of those who would be affected by it”)
.
Idealisme dari kepemimpinan harus dibangun di atas
fakta dan realitas yang berkembang. Misalnya, seorang
pemimpin bisa memiliki visi menjadikan Indonesia
negara tangguh yang mampu memproduksi pesawat
supersonik dan ulang-ulang antariksa. Tetapi apakah
mimpi itu memiliki fondasi yang kuat sekarang ini,
ketika memproduksi bahan-bahan pangan utama masih
belum efisien dan belum terjamin produktivitasnya?
Landasan kedua ini sangat penting karena tanpa
pemahaman akan fakta dan situasi yang berkembang,
meski memiliki idealisme, seorang pemimpin tidak lebih
daripada dilusioner. Apa yang dikatakannya kurang
didukung fakta dan realitas. Alhasil, dia tidak hanya
akan kehilangan kepercayaan dari yang dipimpinnya,
juga akan membawa ketertinggalan kepada kelompoknya.
Apabila dia seorang pemimpin bangsa, bangsa tersebut
akan terjerumus pada ketinggalan jauh. Karena gerak
kemajuan suatu bangsa secara relatif memakan waktu
lama, setiap proses kemunduran akan menghasilkan waktu
yang jauh lebih lama untuk kembali ke keadaan yang
diinginkan. Ini sudah terbukti dari pengalaman
berbagai negara, termasuk misalnya China di masa Mao
Zedong dan Filipina dengan Fidel Marcos.
Ketika John Kennedy mengumumkan sesuatu yang terkesan
‘mimpi’ di awal tahun 60-an, dia bukanlah bermimpi,
tetapi memiliki visi yang berdasar. Ketika itu ekonomi,
industri dan riset di AS mengalami booming dan
kemajuan pesat. Khususnya dalam eksplorasi angkasa
luar, semangat kompetisi sangat tinggi, mengetahui
kejayaan Sputnik dari bekas Uni Soviet.
Dan ketika Presiden Soekarno menekankan betapa
vitalnya semangat berdikari dan jiwa revolusioner
dalam mewujudkan “Indonesia jaya”, dasarnya juga jelas.
Realitas yang berkembang saat itu adalah bangsa
Indonesia baru keluar dari ratusan tahun penjajahan.
Mindset “saya mampu” dan semangat berpacu masih
harus digugah terus menerus. Setelah lepas dari
kolonialisme dan dengan berbagai konflik internal,
kepercayaan diri merupakan isu utama saat itu.
Untuk fair, bekas presiden Soeharto juga
memiliki keduanya dengan visinya “adil makmur
berdasarkan Pancasila” dan dengan mantra “pembangunan”-nya.
Soeharto memahami kenyataan bahwa hanya dengan
ideologi yang inklusif dan adaptif (Pancasila),
Indonesia dapat bersatu dan stabilitas dapat lebih
terjamin. Juga hanya dengan ‘mantra’ pembangunan yang
didasarkan kesamaan ideologi, Indonesia dapat keluar
dari kemiskinan.
Pemimpin
yang memiliki idealisme dan realisme adalah visionaris
yang rasional. Namun, meski kedua landasan ini
diperlukan, itu belum mencukupi. Diperlukan fondasi
yang ketiga yakni optimisme.
Optimisme berkaitan dengan adanya enerji, kemampuan
manajerial, kesanggupan untuk introspeksi
(self-retrospection)
dan semangat yang optimis bahwa kondisi ideal yang
diinginkan, yang didasarkan realitas, dapat dicapai.
Pemimpin yang memiliki optimisme akan mampu menjadi
penggerak dan pemandu orang-orang sekelilingnya.
Seperti kata John Rockefeller, “kepemimpinan
menyangkut bagaimana menunjukkan cara kerja
orang-orang besar terhadap orang-orang awam” (...”leadership
consists in showing average people how to do the work
of superior people”.
Landasan kepemimpinan ketiga ini mensyaratkan bawah
pemimpin adalah figur yang cakap (terampil),
berpengetahuan dan sekaligus menjadi tauladan (model).
Juga fondasi optimisme menyaratkan bahwa seorang
pemimpin adalah organisator, yang mampu membedakan
fakta dari fiksi; hal mendesak dari yang dapat ditunda;
vital dari yang kurang penting; salah dan benar. Tidak
kalah penting, fondasi ini mensyaratkan adanya
keterbukaan, kejujuran dan kerendahan hati (humility).
Tanpa hal terakhir ini, mustahil seorang pemimpin mau
dan mampu melakukan self-evaluation terhadap
kepemimpinannya. Dengan sendirinya, mustahil pemimpin
menjadi inspirator dan tauladan.
Karenanya seorang pemimpin nasional yang ideal tidak
hanya memiliki idealisme yang berpijak pada realitas –
yang menjadi pemandu dan penyatu visi, juga seorang
organisator yang optimis yang dapat menggerakkan
energi dan potensi sumberdaya bangsa, baik sumberdaya
alam dan manusia, untuk mencapai misi tersebut. Masuk
akal, jika seorang pemimpin harus memiliki fisik sehat,
akal pikiran sehat, pengetahuan luas, cakap dan, tidak
kalah penting, rendah hati. Tanpa fondasi yang ketiga
ini, kegagalan seorang pemimpin hanya sebatas waktu.
Cepat atau lambat, kepemimpinannya akan gagal
mewujudkan, atau paling tidak mendekati, kondisi ideal
yang diinginkan.
Dari fondasi ketiga ini, sayangnya, bekas pemimpin
nasional kita gagal. Kadar humility rendah,
self-restropection minim dan ketauladanan jauh
dari harapan, karena pemimpin yang optimis, tidak
hanya visionaris yang rasional, juga yang cakap dan
rendah hati.
Amat tepat bila kita mengevaluasi kepemimpinan
sekarang termasuk calon-calon pemimpin nasional yang
akan kita pilih dalam Pemilu mendatang. Adakah yang
memiliki fondasi idealisme, realisme dan optimisme?
Bila tidak ada, memang krisis kepemimpinan sedang
terjadi. Bila ada, saatnya landasan kepemimpinan
tersebut, yang sekaligus sebagai parameter dalam
menilai kepemimpinan, diperhadapkan dengan tantangan
Indonesia. Artinya, kita berbicara kepemimpinan
nasional Indonesia.
Your
comment
Back
to top
|