|
"ENHANCING
THE MIND"
What a waste it is
to lose one's mind. Or not to have a mind is being
very wasteful. How true that is.
Dan Quayle, US Vice President, 88-92. |
|
|
Elwin
Tobing
|
|

Pendahuluan
Mengapa suatu bangsa lebih sejahtera daripada
bangsa lain? Atau, mengapa kualitas hidup suatu bangsa
lebih baik daripada bangsa lain? Beberapa dekade lalu,
ada semacam konsensus bahwa perbedaan kualitas hidup
bangsa-bangsa lebih disebabkan perbedaan dalam tingkat
teknologi, kebiasaan menabung dan ketersediaan
sumberdaya alamnya. Penekanannya adalah pada hal-hal di
luar sumberdaya manusia. Kekeliruan ini segera disadari
dua dekade terakhir, dan para ahli kemudian menemukan
konsensus baru bahwa perbedaan dalam kesejahteraan
bangsa sangat erat kaitannya dengan akal, pikiran dan
pengetahuan manusia yang berdiam di dalam bangsa
tersebut. Secara ringkas, kesimpulannya: mind and
knowledge adalah dua kunci kemajuan suatu bangsa.
Titik berat bukan pada sumberdaya modal fisik dan alam,
tetapi pada sumberdaya manusia.
Sumberdaya manusia yang dimaksud bukan pada sisi
fisik tenaga, tetapi lebih pada hal-hal yang intangibles
seperti gagasan (idea), akal (mind),
pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills).
Adalah ide dibalik konsep creative destruction
(penghancuran yang kreatif) yang dikemukakan ekonom yang
brillian, Joseph Schumpeter
lebih setengah abad lalu. Istilah (notion)
Schumpeter ini sangat sesuai dengan apa yang berkembang
di ekonomi baru sekarang ketika teknologi dan
model-model bisnis baru secara simultan menghancurkan
yang lama dan menghadirkan kesempatan dan nilai baru
untuk memberikan keuntungan. Beberapa dekade kemudian,
Peter Drucker
menggambarkan lahirnya masyarakat berpengetahuan (the
knowledge society) dimana menurut Drucker,
pengetahuan menjadi sumberdaya yang tidak hanya akan
mengubah dinamika sosial tetapi juga dinamika ekonomi,
politik dan bisnis. Tidak lama berselang secara terpisah,
Paul Romer dan Rober Lucas, ahli ekonomi, dengan
menggunakan model formal, menyimpulkan bahwa ide dan learning
process adalah faktor yang menggerakkan ekonomi.
Bagaimana dengan Indonesia? Kualitas hidup bangsa
Indonesian dibanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia
masih jauh dari harapan. Berdasarkan gambaran umum,
peringkat pembangunan manusia di Indonesia, yang
didasarkan atas Human Development Index masih di atas
100 dari sekitar 160 negara.
Di lihat secara parsial, beberapa indikator
menunjukkan gambaran yang tidak menggembirakan. Jumlah
penduduk miskin sekitar 35-40 persen dari total populasi.
Persentase penduduk yang tingkat pendidikannya paling
tinggi SD sekitar 50%. Ditambah berbagai peringkat
negatif lainnya seperti index korupsi, tingkat hutang
luar negeri, kesenjangan distribusi pendapatan dan lain
sebagainya, permasalahan dan tantangan yang dihadapi
Indonesia tidaklah mudah. Diperlukan ekstra kerja keras
dan kesungguhan daripada manusianya.
Sementara itu....
Sketsa singkat
Mari simak kejadian-kejadian berikut:
Seorang anak muda menyiramkan bensin
ke tubuh anak muda lainnya. Yang lain menjentikkan korek
api dan dengan seketika si anak muda yang tubuhnya
bermandikan bahan bakar, terbakar hebat,
menggelepar-gelepar teriak minta tolong tidak lebih
daripada ayam yang sedang disembelih. Anak-anak muda,
anak-anak kecil ingusan dan orang-orang tua pada ketawa
gembira. Massa bersorak sorai seolah-olah senang menang
perang, seolah-olah tim olahraga kesayangannya sedang
juara. Si anak muda mati seketika, meninggalkan sejarah
yang satu orangpun di antara kerumunan itu peduli
kecuali keluarga dekatnya. Dan ironisnya, satu orangpun
di antara kerumunan itu belum tahu sesungguhnya apa yang
terjadi sehingga si anak muda tersebut harus dibakar.
Mereka hanya ikut nimbrung gembira melihat ada orang
dibakar sedang melolong di depan mata sendiri.
Di lain situasi, sekelompok orang
menghunus pedang, mengejar orang-orang yang tidak ada
salahnya dan memenggal kepala mereka. Lagi-lagi,
anak-anak muda, anak-anak kecil ingusan, orang-orang tua
pada ketawa gembira. Massa bersorak sorai seolah-olah
senang menang perang, seolah-olah tim olahraga
kesayangannya sedang juara. Orang-orang mati tanpa kepala, meninggalkan sejarah yang satu orangpun di antara kerumunan itu peduli kecuali
keluarga dekatnya, yang mungkin juga mati semuanya. Dan
ironisnya, satu orangpun di antara kerumunan itu belum
tahu sesungguhnya apa yang terjadi sehingga orang-orang
tersebut dimusnahkan.
Suasana lain, sekelompok orang-orang
memporak-porandakan suatu bangunan, merampas segala isi
bangunan tersebut, mengusir dan melukai penghuninya.
Lagi-lagi, anak-anak muda, anak-anak kecil ingusan,
orang-orang tua pada ketawa gembira. Massa bersorak
sorai seolah-olah senang menang perang, seolah-olah tim
olahraga kesayangannya sedang juara.
Orang-orang kehilangan tempat tinggal dan tempat
mencari nafkah tanpa seorangpun di antara kerumunan itu
peduli. Dan ironisnya, satu orangpun di antara kerumunan
itu belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi kecuali
orang yang dihancurkannya memiliki perbedaan tertentu
dengan diri mereka.
Dalam situasi yang berbeda, seorang
bapak setengah baya, memakai jas necis lengkap dengan
sepatu Bally mengkilap, duduk bersandar di kursi
empuknya, menatap ke dinding kantornya yang lapang. Hari
ini dia baru menandatangani check untuk suatu program
kesejahteraan umum yang disponsori pemerintah. Sejumlah
besar dana untuk program tersebut masuk ke kantong
pribadi dan konco-konconya. Program kesejahteraan umum
berakhir dengan program kebingungan umum. Masyarakat
bingung apakah program tersebut dapat berguna. Program
penyaluran bantuan umumnya malah berakhir dengan penuh
teka teki. Kalau kejadian di atas menggambarkan
anak-anak muda, anak-anak ingusan dan orang-orang tua
dari kaum kurang terdidik bersorak sorai, di sini kaum
terdidik berpesta ria. Sementara rakyat jelata miskin
beteriak mencari kerja dan makan, kaum terdidik ini
berpesta di tempat-tempat mewah seolah-olah merayakan
kemenangan perang, menghabiskan sumberdaya yang bukan
miliknya.
Setting kejadian-kejadian di atas bukan di jaman
primitif, tidak terjadi di hutan belantara dan tidak
juga dijaman feodal kerajaan-kerajaan dulu.
Itu terjadi di kota-kota besar di tengah
peradaban maju jaman sekarang, di jaman revolusi
teknologi informasi. Terjadi di negeri, yang konon tepo
saliro sangat tinggi, yang menjungjung tinggi peri
kemanusiaan, yang berke-Tuhanan, yang berkeadilan sosial
dan lain sebagainya. Dan untungnya itu terjadi di jaman
internet sekarang sehingga informasinya dapat dengan
segera diketahui oleh banyak orang.
Pertanyaannya, mengapa hal-hal tersebut di atas
bisa terjadi? Banyak tentu yang mencoba memberikan
penjelasan mulai dari desakan ekonomi, desakan emosi
yang sudah kumulatif, kemarahan sosial terhadap penguasa
yang disalurkan ke pihak lain dan lain sebagainya.
Intinya, menurut penjelasannya hal-hal tersebut wajar
saja terjadi mengingat situasi dan kondisi yang
berkembangan. Sikon (situasi dan kondisi) menjadi dasar
justifikasi. Kalau demikian halnya, tidak heran, kalau
sikon makin memburuk, mungkin orang akan saling makan
satu sama lain, mentah-mentah seperti jaman kanibal.
Karenanya, logika penjelasan ini tentu sangat absurb
dan menyesatkan. Justifikasi kebrutalan karena sikon
tidak akan pernah menghasilkan kemajuan, sebaliknya
kemunduran yang dashyat.
Ada juga yang memberikan justikasi bahwa itu
karena perbedaan dalam cara pandang dan cara bertindak
yang didorong ketidaksamaan dalam suku, agama dan etnis.
Di sini, perbedaan menjadi dasar justikasi. Intinya,
karena kita berbeda, sah-sah saja berbuat sesuatu yang
negatif kepada orang lain. Kalau demikian halnya, dunia
akan hancur sekejab, karena pada dasarnya orang
dilahirkan penuh perbedaan. Mau berusaha menyamakan
semua orang? Pertama, tentu orang tersebut musti mampu
mengeringkan laut. Logika atas justifikasi perbedaan
tersebut dengan sendirinya sangat menyesatkan.
Justifikasi atas kebrutalan karena perbedaan tidak akan
pernah menghasilkan damai, sebaliknya kebencian dan
kehancuran.
Penjelasan terhadap koruptor dan penyeleweng
jabatan umumnya berkisar pada masalah budaya, mentalitas
dan lemahnya pelaksanaan hukum. Mereka mem-blame
mentalitas dan lemahnya pelaksanaan hukum. Namun
penjelasannya bisa dibalik, bukankah mentalitas dan
pelaksanaan hukum berkaitan dengan manusia? Kedua hal
ini tentu bukan benda mati, tetapi ter-internalize
di dalam diri manusia. Jadi bukan sesuatu yang dapat di blame
dan menjadi scapegoat. Yang merancang dan
menegakkan hukum adalah manusia, bukan mahluk asing.
Jadi persoalannya adalah di manusianya.
Ada yang memberikan alasan spontanitas. Artinya,
kejadian-kejadian di atas adalah reaksi spontan.
Pengrusakan massal terhadap harta orang lain adalah
spontan, korupsi juga spontan (terkadang juga disebut aji
mumpung) dan perang antar etnis adalah spontan. Sama
seperti justifikasi yang didasarkan atas sikon,
penjelasan spontanitas juga sangat absurb. Jika
penjelasan ini diterima, maka krisis ekonomi juga adalah
tentunya hal yang spontan. Pada akhirnya tidak mudah
menghasilkan jalan keluar yang konstruktif apabila
berpegang pada penjelasan spontanitas ini. Umumnya
tindakan manusia didahului oleh prakondisi, adanya
dorongan tertentu dalam pribadi seseorang atau kelompok.
Letupan bisa terjadi tetapi umumnya disebabkan adanya
dorongan yang secara sadar atau tidak sadar terpendam
dalam mind seseorang atau kelompok.
Back to
top
The
Mind dan Tindakan
Seperti kata ahli-ahli, tindakan adalah
premeditated atau melibatkan unsur kesengajaan dan
kesadaran. Dalam kaitan ini Searle
memperkenalkan istilah the prior intention (niat
yang mendahului) yang lebih kurang berarti perencanaan
atau proyeksi mental dari suatu tindakan. Menurut Searle,
tindakan adalah hubungan sebab akibat dan transaksi niat
antara mind dan kenyataan. Sedangkan prior
intention berarti mempersiapkan transaksi sebelum
tindakan dilakukan. Dengan sendirinya tindakan secara
keseluruhan adalah kondisi pemenuhan dari niat yang
mendahului.
Bagan
1
Berikut ini adalah skema yang digambarkan oleh
Searle
Tindakan
|
Niat yang mendahului ¾® niat
dalam aksi
¾® gerakan/aksi
|
Tanda panah menunjukkan arah sebab, yakni niat
yang mendahului menyebabkan niat dalam aksi
dan niat dalam aksi menyebabkan gerakan/aksi.
Secara sederhana, konsep niat yang mendahului (X)
untuk tindakan Y dapat digambarkan sebagai berikut
Saya
melakukan tindakan Y dengan melaksanakan niat X.
Niat yang mendahului ditandai oleh dua ciri yakni
adanya arah kecocokan dan arah kausasi (sebab
akibat). Arah kecocokan menggambarkan hubungan dari
dunia nyata (world) dengan mind, sebaliknya arah
kausasi menggambarkan hubungan dari mind ke dunia
nyata. Arah kecocokan berarti agar niat yang mendahului
berhasil, kondisi di dunia nyata harus selaras dengan
kondisi yang ada di mind. Sedangkan arah kausasi
menekankan bahwa the prior intention menyebabkan
aksi dan kondisi yang diinginkan untuk dicapai.
Sebagaimana di dalam kehidupan nyata yang sangat
kompleks, niat yang mendahului tidak selalu gampang di
definisikan dan disadari apakah exist dalam
setiap situasi. Tidak
jarang, niat yang mendahului terjadi bersamaan dengan
aksi yang dilakukan. Dalam hal ini O’Shaughnessy
dan Searle (1983) menegaskan bahwa sangat mungkin dalam
tindakan yang kompleks, niat yang mendahului berkembang
ketika aksi sedang dilakukan. Ini kemudian melahirkan
istilah niat dalam aksi (intention-in-action).
Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut
Kejadian
W dapat di dipengaruhi dengan melaksanakan tindakan X.
Sama seperti niat yang mendahului, niat dalam aksi
juga dicirikan oleh arah kecocokan, dari dunia nyata ke
mind dan arah kausasi, dari mind ke dunia nyata.
Sebelum mencoba mengaplikasikan konsep tersebut
pada kasus-kasus yang umum terjadi, ada baiknya
diperjelas lebih dahulu pengertian mind. Apakah mind?
Menurut Kamus Merriam-Webster, “mind” adalah (1) the
element or complex of elements in an individual that
feels, perceives, thinks, wills, and especially reasons
atau (2) the conscious mental events and capabilities in
an organism. Secara ringkas, mind adalah mental
sadar yang ada pada setiap individu yang berfungsi dalam
merasakan dan berpikir. Dalam bahasa sehari-hari, mind
sering diidentikkan dengan arti yang lebih sempit:
akal. Untuk menghindari arti mind secara sempit, saya
akan konsiten menggunakan mind sepanjang tulisan ini.
Back to
top
Empat
Kategori Individual
Berdasarkan kualitas mind, indvidual kemudian dapat dibedakan atas empat kategori yakni:
stable mind, common mind, less stable mind dan poor
mind individual. Kerangka pembedaan ini dapat dipahami dalam
konteks hubungan antara mind dengan dunia nyata (world)
atau environment (yakni manusia dan alam sekitarnya). Berdasarkan konteks ini, orang yang memiliki mind yang
stabil adalah individu yang memiliki tingkat harmonitas
tinggi antara mind dan environment. Dengan
demikian ciri-ciri individu yang memiliki mind yang
stabil adalah memiliki tujuan dan panggilan hidup jelas yang
tidak hanya berfokus pada dirinya (mind) tetapi juga
pada masyarakat sekelilingnya (environment), pekerja
keras yang konsisten dan persisten (mind),
berpengetahuan luas (mind), memiliki toleransi yang
tinggi terhadap perbedaan (environment), melihat
proses hidupnya sebagai bagian dari masa lalu dan masa depan
(environment) serta yang melihat sumberdaya alam
sebagai tanggung jawab, bukan kekayaan pribadi (environment).
Individu ini juga tidak mudah
untuk goyah oleh setiap provokasi baik yang sifatnya
personal maupun general karena dia lebih menggunakan rasio
daripada emosi dalam melihat persoalan dan gejolak. Individu
ini juga tidak gampang untuk tergoda oleh keuntungan sesaat
yang efek jangka panjangnya sangat merugikan karena dia
melihat persoalan tidak hanya saat ini tetapi juga peduli
dengan masa depan. Dalam konteks kemasyarakatan, individu
ini melihat dirinya sebagai bagian utuh daripada masyarakat
sehingga dia akan menghindari setiap usaha yang merugikan
masyarakat. Dalam konteks hidup sesama, individu ini melihat
sesamanya sebagai asset, bukan liabilities. Karenanya dia
bersikap terbuka dan koperatif terhadap sesamanya terlepas
latar belakang ras, suku, agama, kelompok etnis dan bangsa.
Perbedaan bagi individu ini justru merupakan kesempatan,
bukan ancaman. Dengan
sendirinya, bagi individu ini tidak ada tendensi untuk
memaksakan sistem berpikir dan kepercayaan kepada orang lain
apalagi dengan cara-cara represif. Bisa juga diartikan,
individu ini memiliki noble character (watak yang
terpuji). Karena sifatnya stabil, watak terpuji individu ini
tidak akan goyah oleh perubahan waktu, jaman dan situasi.
Pendek kata, individu ini adalah asset dan sosok
ideal baik untuk kemajuan bangsa, masyarakat dan keluarganya.
Istilah Pancasila, manusia seutuhnya.
Individu yang memiliki common
mind adalah individu yang stable mind minus cara
berpikir yang cenderung partisan dan kualitas stabilitas
yang kurang. Individu ini memiliki hampir semua sifat-sifat
dan karakter individu yang memiliki mind yang stabil, tetapi
cara berpikirnya yang partisan dan primordial membuatnya
tidak utuh dan panggilan hidupnya yang belum seimbang antara
individu dan masyarakat. Dia menjadi sosok pejuang untuk
kelompoknya tetapi bukan untuk masyarakatnya secara
keseluruhan. Ini adalah tipe kebanyakan orang yang pemikiran
dan cara pandangnya terkungkung dalam wawasan kelompok.
Individu ini pekerja keras, persisten, berpengetahuan
luas, berpikir jauh ke depan dan menganggap sumberdaya alam
sebagai warisan yang harus dipelihara. Sayangnya,
keseimbangan orientasinya tidak untuk kemajuan dan
keharmonisan semua orang, melainkan untuk kelompoknya.
Kritik kepada dirinya bisa diartikan sebagai kritik kepada
kelompoknya dan tidak jarang menggunakan
kelompoknya untuk ambisi pribadinya.
Individu yang less stable
mind adalah individu yang stable mind minus
consistency dan kualitas mind yang kurang stabil. Kualitas
mind-nya berubah tergantung situasi dan kondisi lingkungan.
Seperti individu yang memiliki mind stabil, individu ini
pekerja keras yang konsisten dan persisten, berpengetahuan
luas, memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan,
melihat proses hidupnya sebagai bagian dari masa lalu dan
masa depan serta yang melihat sumberdaya alam sebagai
tanggung jawab, bukan kekayaan pribadi. Itu kalau situasi
aman dan tidak ada gejolak. Kalau ada gejolak sosial,
ekonomi atau politik, kualitas mind-nya akan berubah drastis,
menjadi sangat partisan, orientasinya sepenuhnya menjadi
keuntungan pribadi dan menjadi opportunist hebat.
Individu yang poor mind
adalah kebalikan daripada yang stable mind. Dengan demikian ciri-ciri individu yang memiliki poor mind
adalah yang memiliki tujuan dan panggilan yang berfokus pada
diri sendiri, kurang rajin dan ulet, berpengetahuan sempit,
memiliki toleransi rendah terhadap perbedaan, cenderung
melihat proses hidupnya hanya bagian dari masa kini serta
yang melihat sumberdaya alam sebagai hak pemilikan.
Individu ini gampang dipolitisir dan diprovokasi
untuk tujuan-tujuan yang destruktif. Individu ini tidak
selalu dari kalangan ekonomi lemah, karena poor mind
tidak ditentukan oleh tingkat ekonomi. Karena wataknya
kurang rajin dan ulet, tingkat ekonominya ditentukan
kecanggihan dalam melakukan praktik-praktik negatif termasuk
korupsi, suap, manipulasi dan lain sebagainya. Individu ini
menjadi liabilities bagi masyarakat dan bangsa.
Bagan 2
Sketsa individu berdasarkan kategori kualitas mind.
|
Ciri
|
Stable mind
|
Common mind
|
Less stable mind
|
Poor mind
|
|
|
|
|
|
|
|
C1
|
Kuat
|
Kurang
|
Kurang
|
Sangat Buruk
|
|
C2
|
Kuat
|
Kurang
|
Kurang
|
Sangat Buruk
|
|
C3
|
Ya
|
Ya
|
Ya/Tidak
|
Buruk
|
|
C4
|
Ya
|
Ya/Kurang
|
Ya/Tidak
|
Tidak
|
|
C5
|
Ya
|
Tidak
|
Ya/Tidak
|
Tidak
|
|
C6
|
Asset
|
Ancaman
|
Asset/ Ancaman
|
Ancaman
|
|
C7
|
Ya
|
Ya
|
Ya/Tidak
|
Tidak
|
|
C8
|
Ya
|
Ya
|
Ya/Tidak
|
Tidak
|
C1= Harmonitas mind dan environment
C2= Keseimbangan panggilan
hidup
C3= Pekerja keras yang
konsisten dan persisten
C4= Berpengetahuan luas (lebih
mengunakan rasio daripada emosi)
C5= Toleransi tinggi terhadap
perbedaan
C6= Melihat perbedaan sebagai
C7= Melihat proses hidupnya
sebagai bagian dari masa lalu dan masa depan melihat C8=
Menganggap sumberdaya alam sebagai tanggung jawab, bukan
kekayaan pribadi (environment).
Seperti ditunjukkan dalam bagan
di atas, kualitas mind tidak selalu berkaitan dengan tingkat
formal pendidikan dan ekonomi? Dua hal ini akan diuraikan
lebih detail dibagian lain.
Lantas,
bagaimana mengaplikasikan konsep tersebut dalam konteks
kasus yang uraikan sebelumnya?
Back to
top
The
Mind dan Tingkat Pendidikan & Ekonomi
Untuk menghindari bias, perlu
digarisbawahi bahwa kestabilan mind seseorang tidak
selalu ditentukan oleh tingkat pendidikan dan ekonomi.
Meskipun seseorang memiliki tingkat pendidikan formal tinggi,
dalam praktiknya, individu tersebut bisa sangat partisan.
Ada tendensi, semakin tinggi tingkat formal pendidikan,
individu cenderung mengganggap dirinya berpengetahuan luas,
membangung jarak daripada yang lain sehingga secara tidak
langsung menjadikan dirinya kurang approachable dan ini bisa
menganggu keseimbangan orientasi hidupnya. Di lain pihak,
semakin tinggi tingkat pendidikan formal, ada kemungkinan
seorang individu akan semakin memahami kompleksitas dinamika
proses sosial, ekonomi, business, politik dan lain
sebagainya sehingga individu ini lebih dapat membedakan
proses yang satu dengan yang lain. Dengan pengetahuannya
juga individu ini semakin memahami pentingnya kemajemukan
serta keseimbangan orientasi pribadi dan sosial.
Hal yang sama dapat terjadi
kepada individu yang memiliki tingkat ekonomi tinggi.
Seorang yang kaya secara material dapat menjadikan
kekayaannya sebagai saluran untuk semakin memajukan
kesejahteraan sosial. Ada beberapa contoh yang sangat nyata.
Misalnya Carver family di US yang telah menyumbangkan lebih
dari 200 juta dollar AS untuk pengembangan sekolah kesehatan
dan penelitian di bidang kesehatan di University of Iowa.
Carver bukan seorang yang maha milioner, tidak sekaya
kampiun stok market Warren Buffet, dan jauh dibanding Bill
Gates, tetapi dia mendonasikan persentase kekayaan yang
relatif tinggi untuk kemajuan kemanusiaan. Sama seperti
enterprenur yang membangun bisnisnya dari bawah dengan
kekuatan pikirannya, Carver seorang pekerja keras dan
berpengatahuan luas. Dan ada beberapa contoh yang hampir
sama, termasuk Bill Gates, Ted Warner (yang mendonasikan 1
miliar dolar kepada PBB), Gordon Wu di Hong Kong (yang
mendonasikan 100 juta dolar kepada almamaternya Princeton
University tahun 1995) dan lain sebagainya, yang menunjukkan
bahwa tingkat ekonomi dan strong mind bisa hand in hand.
Sebaliknya ada juga contoh
dimana tingkat ekonomi dan strong mind bertolak belakang.
Ini terutama ditunjukkan oleh kaum business people
yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya bukan karena
kerja keras dan kekuatan pikiran serta idenya tetapi karena
bantuan kelicikan, manipulasi dan berbagai praktik negatif
yang merugikan negara dan masyarakat banyak. Pejabat
pemerintah yang menimbun kekayaan dari praktik-praktik
negatif juga adalah contoh individu dimana tingkat ekonomi
kuat dan stable mind tidak sejalan satu sama lain.
Dalam kaitannya dengan cuplikan
kasus dikemukakan di bagian awal, perilaku individu-individu
yang bertindak anarkis dan sadis dengan membakar hidup-hidup
orang lain yang disertai teriakan kemenangan menunjukkan
adanya ketidak harmonisan antara mind dan environment.
Menggunakan argumen Searle, individu-individu tersebut
secara sadar atau tidak sadar memiliki niat yang mendahului
(prior intention) dalam mind-nya. Kalaupun
tidak memiliki niat yang mendahului, paling tidak di
tengah-tengah tindakannya ada niat dalam aksi, yang
berarti ada kaitan antara mind dan environment.
Apakah kaitan ini harmonis atau tidak dapat dijelaskan
dengan bagan 2.
Berdasarkan bagan 2, dapat
dilihat bahwa pelaku-pelaku peristiwa semacam itu lebih
cenderung menggunakan emosi daripada rasio dalam menghadapi
gejolak (ciri 4), sehingga persepsi dan reaksinya terhadap
suatu gejolak sering kurang rasional. Dalam memandang
dinamika proses sosial, ekonomi, dan lain sebagainya,
individu-individu tersebut tidak memiliki toleransi terhadap
sesamanya (ciri 6). Dalam menghadapi pelaku kriminal
sendiripun, setiap manusia harus tetap berdasarkan
prinsip-prinsip toleransi. Toleransi bukan berarti
membenarkan atau mengabaikan perbuatan kriminal yang
bersangkutan, tetapi compassion kepada manusianya.
Ini salah satu yang membedakan secara jelas antara yang stable
mind dan yang poor mind, yakni kemampuan memilah
antara perbuatan, pesan dan orang.
Banyak mungkin pelaku sadis
tersebut yang memiliki tingkat pendidikan formal relatif
rendah, tetapi sumber kurangnya compassion dan dan
rasio tidak semata-mata karena rendahnya pendidikan formal.
Apabila pendidikan formal yang rendah dilengkapi dengan
pendidikan informal yang baik, besar kemungkinan kualitas
mind daripada pelaku sadis tersebut akan membaik. Meletakkan
justifikasi pada rendahnya pendidikan formal akan berakibat
fatal karena untuk memajukan pendidikan formal memakan waktu
lama dan biaya yang sangat mahal, sehingga selama proses
transisi pembangunan itu apakah “dibenarkan” untuk
berbuat tidakan sadis seperti digambarkan di atas? Jawabanya
jelas tidak, dan untuk memperlengkapi kekurangan di bidang
pendidikan formal, peranan keluarga, masyarakat, pers dan
tokoh-tokoh penting dalam mendidik generasi muda sangatlah
vital. Ini yang dimaksudkan dengan pendidikan informal.
Situasinya hampir sama dengan
kasus kedua dan ketiga, tindakan individu-individu dalam
kedua kasus tersebut berkaitan dengan kualitas mind
yang kurang berkembang.
Apakah pelaku korupsi, seperti
digambarkan pada kasus keempat, dapat dikategorikan sebagai stable
mind individu? Berdasarkan bagan di atas, tidak hanya
pelaku korupsi, tetapi juga politikus yang immoral
dan pemimpin yang diktator termasuk individu-individu yang
memiliki poor mind. Pelaku korupsi, politikus yang
tidak bermoral dan pemimpin yang diktator mungkin secara
prestasi sangat menonjol dalam bidangnya, tetapi dalam
masalah harmonitas antara mind dan environment,
mereka sangat buruk. Pada akhirnya, individu-individu
seperti ini hanya menjadi beban pada masyarakat dan bangsa.
Apakah ekonomi dan pendidikan
memegang peranan penting dalam pengembangan mind (mind
enhancement)? Dari uraian di atas, meski kedua faktor
tersebut tidak menunjukkan konsistensi hubungan, ekonomi dan
pendidikan adalah syarat perlu dalam pengembangan mind.
Penekanannya bukan pada pendidikan formal serta kemewahan
secara ekonomi, tetapi pada pendidikan informal dan
kecukupan relatif secara ekonomi. Ada syarat pendidikan yang
hendaknya dipenuhi dan ada syarat kecukupan ekonomi minimum
yang juga harus dipenuhi. Segala upaya pengembangan mind
yang tidak didasarkan pada dua hal pokok ini akan senantiasa
kurang berhasil. Dengan sendirinya, segala kegiatan
pengembangan hal-hal tertentu, seperti demokrasi,
kesejahteraan dan kesatuan bangsa, yang prakondisinya
membutuhkan manusia-manusia yang memiliki stable mind
akan cenderung kurang berhasil.
Dengan demikian, adalah natural
untuk melihat bagaimana kaitan antara mind dengan
ketiga tujuan yang mulia tersebut: demokrasi, kesejahteraan
dan kesatuan.
Back to
top
The
Mind dan Pengembangan Demokrasi
Banyak orang salah kaprah
dengan demokrasi. Sebagian menafsirkan demokrasi sebagai 51
suara dari 100 kami menang. Ada yang mengartikan sebagai,
mayoritas yang menguasai. Ada yang melihat itu sebagai
propaganda dari negara Barat untuk secara halus menguasai
negara-negara dunia ketiga. Jadi, anggapan kalangan ini,
demokrasi digunakan oleh negara Barat sebagai lips
service untuk tujuan-tujuan yang sepihak. Ada yang
melihat demokrasi sebagai suatu pembodohan karena dalam
demokrasi dianggap pemerintah (government) terlalu berkuasa,
sehingga kalangan ini condong untuk memajukan anarkisme yang
pada dasarnya tidak mendukung adanya pemerintah. Sebagian
lain melihat demokrasi sebagai sesuatu yang bernilai untuk
diperjuangkan dan ditegakkan. Kalangan ini melihat demokrasi
sebagai satu-satunya faham yang sejauh ini lulus test of
time dan yang mampu memberikan landasan pada
kesejahteraan yang lebih baik. Ada juga yang melihat
demokrasi sebagai freedom yang cenderung tanpa
kontrol, bebas berbicara dan berbuat apa saja atas nama freedom.
Sehingga pandangan ini kemudian melahirkan pandangan lain
yang melihat demokrasi tidak lebih daripada dagelan
karena orang bebas berbicara dan berbuat tanpa tanggung
jawab.
Ada baiknya
pengertian demokrasi dijelaskan di sini sekilas. Secara
literal, demokrasi berarti pemerintahan rakyat (berasal dari
bahas Yunani, demos=rakyat dan kratos=pemerintahan).
Demokrasi memiliki tiga pengertian dalam penggunaannya
secara kontemporer. Pertama, demokrasi diartikan sebagai
bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan
politik di lakukan secara langsung oleh badan pemerintahan
rakyat yang pelaksananaanya dengan menggunakan prosedur
mayoritas. Ini sering dinamakan sebagai demokrasi langsung.
Kedua, demokrasi diartikan sebagai suatu bentuk pemerintahan
dimana warga negara melakukan pemerintahan bukan secara
individu tetapi lewat lembaga perwakilan yang dipilih dan
bertanggung jawab kepada rakyat. Ini dinamakan sebagai
demokrasi perwakilan. Ketiga, demokrasi adalah suatu bentuk
pemerintahan dalam mana kekuasaan dari mayoritas dilakukan
dalam suatu kerangka pembatasan konstitusional yang
dirancang untuk menjamin semua warga, tanpa kecuali,
memiliki dan menikmati hak baik secara individu maupun per
kelompok, seperti kebebasan berbicara dan beragama. Ini
kemudian dinamakan demokrasi konstitusional. Negara seperti
Indonesia dan Amerika menganut demokrasi konstitusional.
Belakangan ini
berkembang pengertian demokrasi sosial. Demokrasi sosial
memiliki persamaan ideologi dengan marxisme tetapi membuang
militansi dan totalitarisme dari marxisme. Ada juga
perbedaan tajam yakni dalam memandang proses akumulasi
capital. Selain membuang jauh-jauh pemikiran dan tindakan
kekerasan (violence) dan revolusi sebagai alat
perubahan sosial serta menentang totalitarianisme, demokrasi
sosial juga percaya bahwa negara berfungsi untuk mengatur,
bukan memiliki, bisnis dan industri untuk meningkatan
kesejahteraan umum dan mempersempit jurang ketimpangan
ekonomi. Negara-negara maju di Eropa barat umumnya menganut
demokrasi sosial.
Setelah
memberikan uraian singkat pengertian demokrasi, sekarang
kira-kira demokrasi seperti apa yang hendak dikembangkan di
Indonesia? Kemajemukan bangsa Indonesia yang tidak hanya
dari segi suku, agama, ras tetapi juga budaya tentu menjadi
pertimbangan utama dalam membangun bangsa. Sebagai jalan
keluar, sudah dikembangkan secara konsep apa yang dinamakan
dengan demokrasi Pancasila. Tetapi pengertian ini menjadi
sangat kurang populer justru karena perkataan pancasila yang
seolah-olah menjadi cap meterai untuk segala jenis program
dan konsep di Indonesia selama pemerintahan Orde Baru.
Sehingga tidak heran berkembang konsep-konsep lain
yang dibelakangnya secara paksa diimbuh kata pancasila
meskipun pengertian menjadi kurang jelas. Namun dalam hal
demokrasi, pengertian demokrasi Pancasila patut kembali
direvitaliasi dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen (bukan
hanya slogan).
Pada dasarnya
demokrasi pancasila adalah demokrasi konstitusional yang
berdasarkan asas pancasila. Jadi, seperti demokrasi
konstitusional, demokrasi pancasila dirancang untuk menjamin
semua warga, tanpa kecuali, memiliki dan menikmati hak baik
secara individu maupun per kelompok, seperti kebebasan
berbicara, beragama dan mencari nafkah dengan kerja keras
dan jujur. Pengertian ini diakomodir dan dirumuskan dalam
konstitusi UUD 1945, yang meski isinya bernuansa umum tetapi
sebenarnya cukup jelas. Misalnya seperti pasal kebebasan
beragama dijamin oleh negara. Ini berarti negara wajib
melindungi setiap warga negara dalam menjalankan ibadah
agamanya dan dengan sendirinya wajib juga untuk menghukum
orang yang mensabotase jalannya ibadah agama orang lain.
Dalam konteks ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan, isinya
juga jelas.
Pertanyaan
sekarang, apa hubungan antara mind dengan
pengembangan demokrasi? Setelah memberikan uraian bahwa
demokrasi yang di anut oleh Indonesia adalah demokrasi
konstitusional pancasila, pertanyaan selanjutnya adalah,
prakondisi apa yang dibutuhkan untuk dapat mewujudkan
demokrasi tersebut. Satu hal yang perlu dicatat, demokrasi
ditujukan bukan untuk benda mati, bukan untuk
tumbuh-tumbuhan dan bukan juga untuk hewan, tetapi untuk
manusia. Dengan sendirinya, prakondisi yang dibutuhkan juga
berkaitan dengan manusia. Selain itu juga perlu dicatat
bahwa demokrasi berkaitan dengan dua hal, yakni konsep/pemahaman
(conception) tentang proses dinamika sosial, politik,
budaya serta proses-proses lainnya dan tindakan (action)
terhadap sesama dan lingkungannya dalam menyikapi dinamika
proses-proses tersebut. Di dalam kerangka bernegara, ini
berkaitan dengan conception dan action oleh
setiap warga (individu), kelompok individu, pemerintah (executive),
lembaga peradilan (judicative) dan lembaga perwakilan
rakyat (legislative)
Karena
lembaga-lembaga yang terakhir, executive, judicative dan
legislative, pada dasarnya terdiri atas manusia, maka
kualitas conception dan action oleh setiap
individu, terlepas posisi dan peranannya dalam kehidupan
bernegara dan berbangsa, terhadap dinamika sosial, politik,
budaya serta proses-proses lainnya akan melahirkan kualitas conception
dan action yang relatif sama oleh lembaga-lembaga
infrastruktur negara. Misalnya, susah mengharapkan dari
seluruh invididu yang bermukin di suatu negara yang menganut
konsepsi sempit terhadap proses dinamika sosial, akan
tercipta suatu lembaga perwakilan rakyat yang menganut
konsepsi yang luas. Kualitas suatu bangsa pada dasarnya sangat ditentukan oleh
kualitas individu-individu yang berdiam di dalam bangsa
tersebut.
Bagaimana
hubungan antara conception dan action? Secara
singkat, kalau konsepsi seseorang terhadap perubahan sosial
yang berlangsung adalah ancaman buat kesejahteraan dirinya,
besar kemungkinan tindakan (action) yang dilakukan
juga akan menentang perubahan tersebut. Karena dalam
kerangka demokrasi, konsepsi yang dimaksud lebih berkaitan
pada terjaminnya hak berbicara, hidup, beragama dan hak
asasi lainnya, maka penekanan konsepsi lebih pada
keselasaran antara individu dengan alam sekitarnya (manusia
dan enviroment). Contoh sederhana, kalau misalnya dalam
suatu keputusan di suatu desa terpencil akan dirikan pusat
kesehatan masyarakat, tetapi sekelompok dukun pengobatan
tradisional menentang hal tersebut, tentu keberatan para
ahli pengobatan tradisional ini kurang berasalan dan lebih
melihat suatu perubahan sosial dari sisi kepentingannya
sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan-kebijakan
ekonomi dan politik tingkat nasional juga sering mendapat
hambatan daripada sekelompok kecil yang anti perubahan
karena memandang perubahan tersebut merugikan kelompoknya.
Seperti
diuraikan sebelumnya, conception dan action
sangat berkaitan erat dengan mind. Agar demokrasi
yang diinginkan, yakni demokrasi konstitusional pancasila,
dapat terwujud, pembangunan mind, sebagai prakondisi atau
sebagai lahan buat tanaman yang disebut demokrasi, sangatlah
urgent. Dari bagan 2, dengan jelas dapat dipahami
bahwa hanya dengan memiliki mayoritas manusia yang memiliki stable
mind, bangsa Indonesia dapat mengembangkan dan
mewujudkan demokrasi konstitusional pancasila. Itu tidak
saja tergantung pada pemerintahnya, juga tidak sepenuhnya
tergantung pada pemimpin politiknya, tetapi lebih tergantung
pada seluruh rakyatnya.
Bukan berari pemerintah, pemimpin politik, pemimpin
organisasi kemasyarakatan dan pemimpin organisasi keagamaan
tidak memegang peranan penting, mereka justru berperan
penting. Tetapi meskipun mereka lebih cenderung memiliki less
stable dan common mind, dan berusaha menggerakkan
invididu-individu untuk mengikuti common dan less
stable mind mereka, dengan cara memberikan perilaku
buruk, moral buruk, sikap yang sangat partisan dan lain
sebagainya, individu-individu yang memiliki stable mind
tentu tidak akan goyah dan mengikuti contoh-contoh buruk
tersebut.
Ini adalah
suatu debat menarik yang terjadi di Amerika ketika skandal
seks Clinton mengemuka di tahun 1998. Ketika itu sebagian
politikus di Kongres mendebat bahwa perilaku Clinton
tersebut akan luas ditiru oleh masyarakat. Sebagian anggota
Kongres berargumen bahwa rakyat AS cukup memahami apa yang
patut di tiru dan apa yang tidak. Dalam konteks Indonesia,
sejauh ini sulit mengatakan bahwa masyarakat secara umum
sudah mengerti apa yang patut di tiru dan apa yang tidak.
Contoh nyata (counter examples) adalah seperti
digambarkan dalam kasus 1-4 di atas.
Dengan
demikian, keberhasilan pengembangan demokrasi konstitusional
pancasila sangat didasarkan pada keberhasilan membangun mind
bangsa Indonesia. Membangun mind dulu baru demokrasi,
bukan sebaliknya.
Back to
top
The
Mind dan Upaya Pewujudan Kesejahteraan
Dalam
pembicaraan tentang kesejahteraan bangsa, ada dua hal yang
perlu diperhatikan. Pertama, kesejahteraan bangsa tidak
terlepas daripada kesejahteraan individu-individu yang
mendiami negara tersebut. Kedua, kesejahteraan sangat
berkaitan erat dengan kerja keras. Dari dua hal ini dengan
sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa hanya dengan kerja
keras daripada individu-individu yang mendiami suatu bangsa/negara,
suatu bangsa dapat menjadi sejahtera. Tidak perlu
mempelajari sejarah jaman purbakala untuk melihat bukti ini.
Jepang dan Jerman adalah dua contoh nyata. Secara
infrastruktur fisik dan juga secara mental, kedua negara
tersebut hancur dalam perang dunia kedua. Tetapi dengan
kerja keras individu-individu yang mendiami bangsa tersebut,
Jepang dan Jerman keluar menjadi bangsa makmur yang paling
disegani di dunia saat ini. Amerika juga adalah contoh
negara makmur yang disebabkan kerja keras daripada warga
negaranya. Tidak ada bangsa yang didiami oleh
individu-individu yang malas dan bodoh akan menjadi
sejahtera. Pendek kata, kesejahteraan berarti kerja keras
dan ulet.
Pengertian kerja keras berarti
di dalamnya ada internal motivasi untuk mencapai kondisi B
dari kondisi A. Dalam hal kesejahteraan, ada motivasi untuk
mencapai tingkat kesejahteraan dari tingkat tertentu ke
tingkat yang lebih baik. Dalam proses ini terdapat juga
beberapa kemungkinan. Pertama, individu pekerja keras dan
orientasinya seluruhnya adalah pemenuhan kebutuhan emosi dan
fisiknya secara pribadi. Kedua, individu kerja keras dan
orientasinya adalah, meski masih condong pemenuhan kebutuhan
pribadi, tetapi ada juga orientasi sosial. Ketiga, individu
pekerja keras yang memiliki keseimbangan antara orientasi
pribadi dan orientasi sosial. Keempat, individu pekerja
keras yang memiliki kecenderungan pada orientasi sosial.
Secara bagan ini dapat
digambarkan sebagai berikut
Bagan 3. Type individu dan orientasinya
Orientasi
|
Type Individu
|
|
Pekerja keras
|
Biasa-biasa
|
Pemalas
|
| Seluruhnya
pribadi
|
Poor
Mind
|
Poor
Mind (PM)
|
PM
|
|
Pribadi dan Sosial
|
Stable Mind
|
Common
Mind (CM)
|
PM
|
|
Seimbang
|
Stable
Mind
|
Common
Mind
|
CM/PM
|
|
Cenderung sosial
|
Stable
Mind
|
Common
Mind
|
CM/PM
|
|
Seluruhnya sosial
|
|
|
CM
|
=
bangsa yang selalu terbelakang
=
bangsa yang penuh masalah
=
bangsa yang maju
Tidak susah memberikan contoh
individu yang tergolong pekerja keras tetapi orientasinya
seluruhnya adalah untuk hal-hal yang pribadi dan keluarganya.
Ini termasuk para pelaku bisnis yang pekerja keras tetapi
menghalalkan segala cara, termasuk merugikan rakyat banyak
demi keuntungan pribadinya. Ini juga termasuk birokrat
pekerja keras tetapi dengan segala cara menutup setiap
kemungkinan untuk kemakmuran masyarakat banyak karena
cenderung memberikan ijin dan hak-hak istimewa lainnya
kepada keluarga dekat yang tidak professional. Ini adalah
contoh nepotisme. Demikian
juga dengan individu yang tidak tergolong pekerja keras,
tetapi orientasinya seluruhnya adalah pribadi dan
keluarganya. Contohnya
adalah para koruptor, khususnya koruptor kelas menengah ke
atas. Tidak
juga susah memberikan contoh individu yang cenderung malas
dan memiliki orientasi pribadi dan sosial. Meski
orientasinya sudah tidak berpusat pada dirinya, individu ini
kurang memiliki inisiatif, semangat kerja keras dan keuletan.
Akhirnya kebanyakan hanya mengeluh melihat situasi kurang
kondusif yang berkembang di sekelilingnya. Semangat kerja
keras individu ini sangat ditentukan oleh lingkungan luar.
Wawasan orientasinya tidak membantu. Apakah mungkin ada
individu yang pekerja keras dan orientasinya seluruhnya
adalah hal sosial? Tentu ada dan contoh yang mudah dipahami
adalah Bunda Teresa. Termasuk juga di dalamnya adalah
indvidu-individu yang mencurahkan segala waktu dan
dedikasinya untuk kemakmuran orang lain, rela hidup di
daerah terpencil dan bahkan dengan risiko nyawa untuk
memberikan sentuhan kemanusiaan pada sesamanya.
Ini sulit dikategorikan sebagai stable mind,
barangkali yang lebih tepat adalah extraordinary mind.
Dari bagan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa untuk memajukan suatu bangsa, kerja keras
individu-individu yang mendiami bangsa tersebut adalah perlu
(necessary) tetapi belum cukup (sufficient).
Syarat cukup membutuhkan bahwa di dalam negera tersebut
harus terdapat juga, dalam persentase yang relatif banyak,
individu-individu yang memiliki orientasi sosial, baik yang
seimbang maupun cenderung sosial. Tanpa itu, suatu bangsa
akhirnya tidak akan mampu menjadi bangsa yang makmur.
Bagan berwarna merah berarti
suatu bangsa didiami oleh individu pemalas. Ini tentu hanya
menghasilkan bangsa yang terbelakang. Bagan berwarna kuning
berarti suatu bangsa didiami individu pekerja keras tetapi
orientasinya sepenuhnya pribadi. Selain itu juga didiami
oleh individu yang bekerja secukupnya. Individu yang pekerja
keras dan memiliki orientasi pribadi dan sosial yang
seimbang akan menghasilkan negara maju, seperti pada bagan
berwarna hijau.
Individu
type mana yang umum terdapat di Indonesia sekarang ini?
Apakah Indonesia berada pada bagan merah, kuning atau hijau?
Adalah benar bahwa terdapat individu pekerja keras di
Indonesia yang juga memiliki orientasi sosial dan probadi
yang seimbang. Namun secara persentase, individu manakah
yang paling banyak?
Individu
pekerja keras akan bekerja keras apapun yang terjadi dalam
sekelilingnya. Tidak ada waktu untuk merusak prasarana umum
dan pribadi. Individu ini adalah yang rasional yang melihat
dengan jelas bahwa apabila prasarana umum di rusak, maka
dengan sendirinya kesempatan bagi dirinya untuk bekerja akan
berkurang. Individu pekerja keras umumnya rentan terhadap
ajakan dan hasutan yang provokatif yang sifatnya merusak.
Berdasarkan
persentase, Indonesia berada pada bagan kuning. Terlalu
banyak individu yang kurang bertipe kerja keras dan kurang
memiliki keseimbangan orientasi. Pengalaman selama
pemerintahan Orde Baru
bahkan semakin menyuburkan kedua hal tersebut, melunturnya
kerja keras dan meningkatnya orientasi pribadi. Ketika
muncul istilah aji mumpung, ini lebih pada
penyalahgunaan kesempatan melayani khalayak umum untuk
kepentingan pribadi dan keluarga. Birokrat, anggota
legislatif, kaum bisnis dan masyarakat umumnya jatuh dalam
kategori berwarna kuning. Tidak mengherankan Indonesia penuh
dengan masalah.
Untuk
memotivasi individu-individu yang berdiam dalam suatu negara
agar memiliki orientasi sosial, suatu bangsa dapat melakukan
beberapa cara. Amerika Serikat misalnya mengenal tax
deduction system dimana sumbangan terhadap
organisasi-organisasi non profit yang umumnya bertujuan
untuk pengembagan kemanusiaan, pendidikan dan lingkungan
akan diperhitungkan dalam pengurangan pajak donatur. Apakah
ini yang mendorong Carver family untuk menyumbang 300 juta
dolar untuk penelitian dan pengembangan kesehatan di
Universitas Iowa, Henry Tippie yang menyumbang sekitar 40
juta dolar untuk pengembangan sekolah bisnis di universitas
yang sama, serta banyak filantropis lainnya, namun paling
tidak negara memberikan rangsangan/motivasi agar
individu-individu juga memiliki orientasi sosial. Di negara
Eropa Barat dan Kanada yang menganut demokrasi sosial,
negara secara langsung terlibat dalam proses ‘motivasi’
ini dengan menerapkan pajak yang tinggi sebagai salah satu
mekanisme distribusi pendapatan dari kaum kaya ke miskin.
Apa
yang dilakukan oleh Indonesia untuk memotivasi
individu-individu sehingga memiliki keseimbangan orientasi?
Beberapa bulan lalu Presiden Megawati menganjurkan agar
pengusaha menyumbang sebagian kekayaan mereka. Ini bagus,
tetapi tidak merupakan suatu bagian dari usaha yang
sungguh-sungguh dan sistematis. Hanya anjuran, siapa mau
melakukan? Kecuali Presiden dan individu-individu di
sekitarnya sendiri memulainya dengan sungguh-sungguh dan
transparan. Namun itupun tidak akan cukup. Perlu kampanye
yang sungguh-sungguh dan panjang. Mungkin dengan menggunakan
mekanisme pajak. Dan yang penting, perlu usaha itu
ditumbuhkan dan dikembangkan sejak awal. Tampaknya
pendidikan keluarga serta pendidikan formal dan informal
sangat memegang peranan.
Back to
top
The
Mind dan Upaya Pewujudan Kesatuan
Banyak
orang mengerti kata monopoli. Di dunia bisnis, monopoli
adalah sesuatu yang tidak jarang terjadi. Tidak perlu
seorang ahli ekonomi untuk menunjukkan bahwa kegiatan
monopoli berakibat negatif pada kemakmuran (welfare)
masyarakat banyak. Di Indonesia, hal ini sudah menjadi
bagian dari kehidupan sehari-hari. Di masa Orde Baru,
monopoli sangat terbiasa baik yang dilakukan oleh pemerintah
maupun oleh swasta. Monopoli pembelian cengkeh, adalah satu
contoh dimana praktik tersebut berakibat negatif pada
kemakmuran. Demikian juga dengan monopoli jasa
telekomunikasi. Kalau bukan harga yang tinggi, pelayanan
sangat buruk.
Dasar
dari praktik monopoli adalah keinginan bermain sendiri untuk
keuntungan sendiri yang maksimal. Keuntungan maksimal,
menurut monopolist, dapat dicapai bila hanya ada supplier
tunggal di pasar dan itu adalah dirinya sendiri. Memang secara
teori ekonomi, klaim itu benar.
Tapi apa yang terjadi? Lebih banyak efek negatif
daripada positifnya untuk kemakmuran rakyat. Ini karena
praktik monopoli tidak mendorong adanya kompetisi, sementara
kompetisi berarti adanya motivasi untuk selalu melakukan
perbaikan dan inovasi yang menguntungkan customers (banyak
orang). Dengan sendirinya, semangat monopolistic melemahkan
mutual partnership.
Dalam
konteks hubungan manusia dengan sesamanya, praktik monopoli juga
tidak jarang terjadi, baik yang secara individu maupun
kelompok. Sama seperti perusahaan yang monopolistik,
individu dan kelompok yang monopolistik cenderung melemahkan
adanya mutual partnership. Ketika semangat terhadap mutual
partnership sudah tidak berkembang, kesatuan dan persatuan
hanyalah mimpi.
Kesatuan
adalah sesuatu yang dinamis dan aktif, tidak statik dan
pasif. Kesatuan dan persatuan yang tidak mengandung semangat
kerjasama adalah pasif dan akhirnya kalau kondisi itu
dikembangkan terus menjadi statik. Tidak ada kemajuan.
Sebaliknya, kesatuan dan persatuan yang dilandasi semangat
bekerjasama adalah sesuatu yang aktif dan kalau dikembangkan
terus menjadi dinamis. Ada kemajuan. Jadi, dalam kesatuan dan persatuan, hal yang paling penting
adalah semangat kerjasama.
Dasar
dari setiap kerjasama dan mutual partnership adalah
respek dan pengakuan terhadap eksistensi orang atau kelompok
lain. Adanya respek ini dengan sendirinya mendorong individu
untuk mampu menjaga keseimbangan orientasi pribadi dan
orientasi sosialnya. Ketika ada hal-hal yang bertentangan
dengan orientasi pribadinya, individu tersebut masih mampu
menjaga kepedulian terhadap orientasi sosialnya untuk tidak
terganggu (misalnya ketika seseorang harus turun dari
jabatannya, individu tersebut masih mampu melayani
kepentingan masyarakat dan menjadi asset bagi pembangunan
masyarakat banyak. Umum terjadi, seseorang yang turun dari
jabatan di Indonesia justru menjadi beban masyarakat).
Apabila individu tersebut mampu mengembangkan respek dan
mutual partnership terhadap individu lain, bakal tercipta
apa yang dinamakan dengan damai.
Setiap
orang yang rasional dan waras pastilah menginginkan
kedamaian. Tidak ada yang lebih indah daripada hidup damai
dengan lingkungan masyarakat dan diri sendiri. Tapi
menginginkan adanya damai, dan berbuat sesuatu supaya damai
tercipta adalah dua hal yang berbeda. Damai tidak segampang
mengatakannya. Damai
membutuhkan kerja keras dan pengertian.
Ketika
persiapan pendirian Republik Indonesia, para tokoh pendiri
sangat menaruh banyak energi dalam merancang bagaimana
supaya negara yang berdiri kelak dapat menjadi bangsa yang
bersatu dan damai. Tidak mengherankan akhirnya mereka keluar
dengan hasil fantantis, yakni butir ketiga persatuan dan
kesatuan dalam landasan negara Pancasila. Tidak langsung
menjadi butir pertama, karena mereka memahami bawah manusia
memiliki pencipta, terlepas dari kepercayaan dan persepsinya
terhadap kehidupan. Ada penghargaan sangat amat tinggi
terhadap kebebasan beragama dan menaruh kepercayaan oleh
setiap individu. Ini kemudian dilanjutkan dengan butir kedua
yang menekankan humanity, justice dan civilization.
Sungguh ajaib dan amat tepat! Kesatuan dan persatuan
yang ada dasar, baik yang supranatural (dalam konteks dengan
kuasa yang absolut) maupun yang horizontal (dalam konteks
dengan sesama manusia).
Tapi
kesatuan tanpa ada damai adalah nonsense. Kesatuan
dan persatuan dimulai dari adanya damai dan kententraman di
dalam pribadi individu masing-masing yang kemudian
direfleksikan dalam hubungannya dengan individu-individu
yang lain. Dalam konteks yang horizontal, itu memiliki tiga
aspek, yakni damai dengan: dirinya sendiri, lingkungan
sekitarnya dan masyarakatnya yang lebih luas (bangsanya).
Dua dari tiga aspek di atas menggambarkan bahwa bobot damai
lebih pada bagaimana persepsi dan perilaku seseorang
terhadap lingkungan sekitar dan masyarakatnya yang lebih
luas. Seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri,
menjauhi hal-hal yang merusak dirinya, tetapi bisa gagal
menerapkannya dalam interaksinya dengan lingkungan dan
masyarakat sekitarnya.
Karenanya
damai tanpa kesatuan sama juga nonsense. Tanpa adanya
kesatuan, damai tidak lebih daripada lips service,
isapan jempol belaka karena damai yang dimaksud di bangun dan
dikembangkan dalam lingkungan yang vakum atau tidak
berdasarkan realitas yang berkembang. Damai karena kesatuan
yang dipaksakan juga akan sangat berbahaya karena ketika faktor
pemaksa sudah tidak ada, situasi akan bisa menjadi meledak
dan terjadi gejolak sosial fatal.
Karena
dasar dari kerjasama adalah respek dan pengakuan terhadap
eksistensi orang atau kelompok lain, kesatuan juga tercipta
apabila ada pengakuan akan eksistensi dan tujuan hidup
seseorang. Tanpa itu yang ada hanya ke-satu-an dalam
arti keakuan. Minimnya atau tiadanya pengakuan akan
eksistensi dengan sendirinya menyebabkan rendahnya respek
kepada orang lain. Sebaliknya, adanya pengakuan akan
eksistensi akan menyebabkan terbinanya respek terhadap orang
lain. Dengan adanya respek, sifat daripada interaksi juga
akan menjadi condong ke arah kesatuan. Ambil contoh kecil.
Misalkan ada seorang bos di tempat kerja yang cenderung
kurang mengakui dan menghargai eksistensi pekerja selain
memerintah dan membayar gaji. Meski masih ada pengakuan
minim akan eksistensi pekerja tersebut, tetapi si pekerja
akan pindah seketika ketika ada pekerjaan yang menawarkan
gaji relatif sama tetapi lingkungan kerja dan bos yang lebih
bersahabat.
Umumnya
orang tahu bagaimana situasi di Timur Tengah. Rasanya wajar
kalau ada pesimisme akan adanya damai. Gambaran berikut
tidak ada hubungannya dengan posisi pribadi penulis terhadap
masalah yang berkembang di sana. Ini hanya sebagai contoh,
bagaimana, di tengah situasi dan kondisi yang sangat labil,
jawaban terhadap adanya damai terletak pada diri setiap
individu.
Sangat
menarik jawaban seorang pemuda Israel ketika Tom Brokaw,
pemandu acara televisi NBC mewawancarainya beberapa saat
lalu. Brokaw menanyakan pemuda tersebut, di tengah krisis
berat yang sedang terjadi, apakah ada kemungkinan kedua
bangsa tersebut bisa berdamai. Saya berpikir dia mungkin
menjawab “tidak” dan akan mulai menunjuk sana sini
dengan hati yang emosi. Tempatnya bekerja baru saja hancur.
Namun yang keluar adalah pernyataan, “damai pasti ada”.
Brokaw bertanya , apa dasarnya dan apa syaratnya. Pemuda itu
menjawab singkat. Katanya
damai sangat ditentukan oleh oleh mind setiap orang.
Bagaimana supaya mind orang dapat di arahkan
ke arah damai, bukan sebaliknya.
Tentu bukan tempat saya dan juga bukan tempat siapa
saja untuk menjadi hakim dalam persoalan di sana. Tapi satu
hal yang menarik adalah: damai ditentukan oleh kualitas mind.
Jadi enhancing the mind, dengan sendirinya akan
mendorong terciptanya damai dan dengan sendirinya akan
menciptakan adanya kesatuan dan persatuan.
Problematika
di Indonesia tidak serumit di kawasan lain dan masalah
kesatuan serta persatuan tidak karena disebabkan perbedaan
persepsi terhadap kelompok lain. Tapi ini lebih pada
mentalitas dan cara berpikir. Mentalitas dan cara berpikir
yang percaya bahwa dengan untung sendiri, hidup akan makmur.
Ini mengapa banyak pemimpin, pejabat, pengusaha dan
masyarakat menjadi cenderung berorientasi keakuan. Di
dalam budaya yang paternalisitik, sikap individu-individu
yang penting ini tentu sangat krusial karena generasi
penerus akan sedikit banyak terpengaruh. Dengan sendirinya
semua generasi menjadi berorientasi keakuan dan kurang
semangat terhadap kesatuan yang dinamis dan aktif.
Program
mind echancement bekerja untuk mengembangkan semangat
kerjasama yang saling menguntungkan (mutual partnership) di
antara generasi muda Indonesia. Dalam bagan 2, seorang
individu akan memiliki semangat untuk kerjasama yang mutual
apabila memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan (C5),
melihat perbedaan sebagai asset (C6), berpengetahuan luas
(C4), pekerja keras (C3) dan memiliki keseimbangan panggilan
hidup antara orientasi pribadi dan sosial (C2).
Dengan demikian, individu yang memiliki mind yang
stabil adalah individu yang memiliki semangat kerjasama dan
kesatuan tinggi.
Membangun
Indonesia yang bersatu dan maju sama dengan membangun
manusia Indonesia sehingga memiliki mind yang stabil.
Tantangan
dan Programs dalam Enhancing the MIND
Back to
top
The
Mind dan The Indonesian Institute
Tantangan
dan Programs dalam Enhancing the MIND
Tujuan daripada enhancing
the mind adalah untuk membantu pemerintah dan segala
lapisan masyarakat dalam mewujudkan manusia Indonesia
seutuhnya. Seutuhnya yang dimaksud di sini adalah yang
memiliki mind stabil. Dari perspektif pengetahuan dan
wawasan, mind yang stabil berarti manusia yang
berpengetahuan tinggi dan berwawasan luas.
Dalam kaitannya dengan kedua
hal tersebut, yakni untuk mewujudkan manusia yang
berpengetahuan tinggi dan berwawasan luas, ada beberapa
tantangan yang dihadapi:
- Ekonomi
- Fasilitas
- Budaya
- Kebijakan Pemerintah
- Orientasi masyarakat/pemimpin/tokoh publik
Ekonomi
Adalah jelas, untuk menggali
pengetahuan, diperlukan adanya biaya.
Dengan demikian faktor ekonomi sangat berperanan
penting. Seringkali kesulitan biaya menyebabkan proses
enhancing the mind, terutama peningkatan pengetahuan,
terhambat. Karena tingkat pengetahuan dapat membantu
pengembangan wawasan (meskipun tidak selalu), dengan
sendirinya, kesulitan ekonomi juga dapat mempengaruhi
pengembangan wawasan seseorang. Dalam situasi yang berbeda,
tingkat ekonomi yang berlebihan dapat juga menyebabkan
kurangnya wawasan. Meski demikian, fokus daripada enhancing
mind adalah pada situasi ekonomi yang lemah.
Kesulitan ekonomi dapat di
sebabkan oleh beberapa hal mulai dari minimnya sumberdaya
modal (fisik kapital), sumberdaya manusia (brain) dan
terbatasnya kesempatan berusaha.
Kampanye enhancing mind dari
The Indonesian Institute diharapkan menjadi semacam multi
level marketing. Satu orang individu yang sudah melalui
proses mind enhancement, akan membantu mengembangkan mind
daripada individu sekitarnya.
Karenanya dalam membantu
mengatasi kesulitan ekonomi ini, the Institute bekerja baik
secara individu maupun secara kelompok. Secara ringkas
program yang akan dilakukan adalah:
- Membantu individu tertentu yang kesulitan
secara ekonomi dalam proses mind enhancement dengan
prasyarat bahwa individu memiliki tugas dan tanggung
jawab dalam mengembangkan mind individu-individu di
sekitarnya. Bentuk praktis dan strategis daripada
program ini adalah dengan pemberian beasiswa sekolah,
penyediaan lapangan kerja paruh waktu (bekerja sama
dengan berbagai institusi dan perusahaan), penyediaan learning
centers dimana individu yang kesulitan sekolah
formal dapat menggali ilmu dan pengetahuan di learning
centers tersebut yang berguna dalam memperbaiki keadaan
ekonominya.
- Program yang sama juga dapat diaplikasikan
pada kelompok individu dimana penekanan lebih pada
penyediaan learning centers.
- Learning centers yang dimaksud di sini adalah
pusat pendidikan yang menekankan kombinasi antara
pengetahuan praktis dan pengembangan wawasan yang
diberikan secara cuma-cuma, atau dengan biaya yang
sangat minimum, kepada individu atau kelompok yang
memiliki motivasi dan komitmen dalam pengembangan mind.
Learning centers mirip perpustakaan tetapi sifatnya
lebih proaktif dalam memberikan pelayanan yang
merangsang dan mengembangkan mindset individu-individu.
Fasilitas
Kesulitan fasilitas sangat
berpengaruh pada pengembangan mind. Fasilitas yang dimaksud
di sini termasuk hal-hal yang tangible seperti bahan
bacaan, alat bantu teknologi, mentor dan hal-hal yang intagible
seperti lingkungan yang kondusif pada pengembangan mind
(yang terakhir berkaitan dengan budaya).
Program praktis dan strategis
yang akan dikembangkan oleh TII adalah dengan penyediaan
learning centers, penyediaan informasi dan bahan-bahan
bacaan yang merangsang dan mengembangkan mind kepada
sekolah-sekolah, universitas, kelompok-kelompok pemuda dan
berbagai lapisan masyarakat lainnya. Bahan-bahan bacaan ini
dapat berbentuk buletin, newsletter, dan buku-buku yang
berkaitan dengan mind enhancement.
Dalam tataran yang intangible, TII akan secara aktif
mengkampanyekan perlunya mind enhancement sebagai gerakan
nasional sehingga dengan sendirinya membantu masyarakat
lebih luas untuk sadar pentingnya mind enhancement.
Dengan adanya kesadaran pada masyarakat, setiap program yang
bertujuan untuk mind echancement, akan lebih mudah
diterima oleh masyarakat.
Secara ringkas, bentuk program
praktis dan strategis adalah:
- Penyediaan learning centers
- Penyebaran informasi dan bahan-bahan bacaan
yang merangsang dan mengembangkan mind kepada
sekolah-sekolah, universitas, kelompok-kelompok pemuda
dan berbagai lapisan masyarakat lainnya dalam buletin,
newsletter dan buku-buku.
- Mengkampayekan dan mendorong pemerintah untuk
menjadikan mind enhancement sebagai gerakan
nasional.
Budaya
Seiring dengan perkembangan
jaman, ada budaya yang harus dipertahankan karena
nilai-nilainya yang universal dan yang membantu pengembangan
mindset manusia, tetapi ada juga budaya yang harus
disesuaikan dengan perkembangan jaman. Salah satu budaya
yang mendapat perhatian untuk disesuaikan adalah
kecenderungan untuk seragam dengan orang lain dalam arti
yang lebih tidak konstruktif. Keinginan untuk tampil berbeda
dalam konteks yang positif harus senantiasa di dorong dan
kemajemukan dalam suatu lingkungan harus tetap dipelihara
dan dihargai.
Kampanye mind enhancement
tidak hidup dalam lingkungan vakum tetapi berada di
Indonesia yang ciri khas bangsanya adalah sangat beragam
baik dari suku, budaya, agama, dan ras. Perbedaan satu
budaya dengan lainnya dapat menghambat pengembangan mind
kalau perhatian lebih dipusatkan pada perbedaan tersebut. Dengan demikian, dalam kaitan dengan hal ini,
program praktis dan strategis TII antara lain adalah
dengan penciptaan kelompok-kelompok kerjasama lintas SARA
baik yang akan terlibat dalam proyek-proyek praktis maupun
dalam proyek-proyek konseptual (perencanaan dan evaluasi
program). Kerjasama mutual adalah kata kunci yang akan
dikembangkan dan ditonjolkan oleh TII. Karenanya, di dalam
informasi dan bahan-bahan bacaan yang merangsang dan
mengembangkan mind, kerjasama dalam kemajemukan ini akan
mendapat penekanan serius. Hanya dengan adanya semangat kerjasama, tanpa mengenal
batas-batas SARA, mind seseorang dapat berkembang.
Selain itu ada budaya lain yang
mendesak untuk dikembangkan yakni budaya menghargai dan
memberikan penghargaan kepada orang lain. Pengakuan terhadap
karya seseorang betatapun kecilnya merupakan menjadi faktor
penting dalam mengembangkan mind seseorang. Pengakuan ini
dapat berbentuk pemberian penghargaan pada prestasi
seseorang, penyelenggaraan lomba-lomba berhadiah yang
bersifat mind enhancement serta pentingnya
nama seseorang diakui sebagai kontributor dalam setiap
program betapun kecilnya partisipasinya. Kebiasaan yang
berkembang, baik di sektor pemerintah, swasta dan masyarakat
adalah seorang pemimpin mengambil semua kredit untuk suatu
program yang berhadil tanpa menyisakan dengan
sungguh-sungguh kredit tersebut kepada the least
contributors. Akhirnya the least contributors
akan tetap menjadi the least contributors tanpa
termotivasi menjadi the main contributors.
Budaya tukar pikiran secara
konstruktif, alot dan sistematis adalah hal lain yang akan
dikembangkan. Sejauh ini tampaknya budaya yang berkembang
masih cenderung pada talk, forget and talk
randomly serta kecenderungan berbicara dan berargumen
dengan dasar yang belum sistematis.
Mind enhancement tidak akan berkembang dalam
lingkungan yang tidak teratur, tidak sistematis dan tidak
konstruktif. Tetapi berkembang dalam lingkungan yang
menonjolkan hal-hal yang rasional, empirical dan sistematis.
Kebiasaan berdiskusi dan berdebat dengan batas-batas yang
konstruktif, dengan cara yang sistematis dan dengan isi yang
membangun dan rasional sangat perlu dikembangkan.
Debat-debat kusir yang tidak membangun sangat negatif dalam enhancing
the mind. Dalam kaitan ini, program praktis yang akan
dikembangkan oleh TII adalah penggalakan kelompok-kelompok
diskusi yang konstruktif dan rasional yang di dukung oleh
fasilitas dan sumber informasi, penyelenggaran seminar,
lokakarya, kontes debat dan lomba menulis essay yang
bertemakan masalah sosial, budaya, ekonomi dan teknologi.
Kebijakan
Pemerintah
Pemerintah tetap merupakan
faktor yang memainkan peranan penting dalam pengembangan
manusia Indonesia yang seutuhnya. Kebijakan pemerintah dapat
berbentuk pada kebijakan di bidang yang berkaitan langsung
dengan masalah pengembangan pengetahuan, misalnya pendidikan
formal, dan bidang yang berkaitan dengan ekonomi yang juga
mempengaruhi pengembangan wawasan seseorang. Pemerintah
perlu partner dan masukan dalam perancangan
kebijakan-kebijakan tersebut dan TII berpartisipasi sebagai
partner pemerintah dalam melakukan studi dan analisa
kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan manusia serta
pembangunan sosial dan ekonomi.
Orientasi
masyarakat/pemimpin/tokoh publik
Tokoh
publik dapat menjadi contoh tetapi juga dapat menjadi
penghambat utama dalam pengembangan mindset masyarakat (generasi
muda). Individu-individu yang muncul menjadi tokoh publik
oleh karena cara-cara yang tidak etis dapat menjadi
penghambat utama pengembangan mindset. Sebaliknya
individu-individu yang berhasil menjadi tokoh publik lewat
proses perjuangan yang ulet dan etis menjadi contoh yang
sangat efektif. Dalam kaitan ini, salah satu program pokok
TII adalah mengidentifikasi individu-individu di Indonesia
yang berhasil lewat perjuangan ulet dan etis sebagai tokoh
publik serta mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam
upaya pengembangan mindset ini. Individu-individu tersebut
dapat terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari
petani ulet yang berhasil, guru SD yang berhasil mendidik
murid-muridnya, artis yang memiliki integritas, ilmuwan yang
humanis, pengusaha sukses yang ulet dan etis serta politikus
yang idealis.
Program-program
di atas baik yang bersifat praktis dan strategis dimaksudkan
untuk secara menyeluruh menggalang potensi yang ada dalam
mengembangkan mindset generasi muda Indonesia. Hanya dengan
berkembangnya individu-individu yang memiliki ming yang
stabil, Indonesia dapat makmur, bersatu dan berkeadilan.
The
Indonesian Institute merupakan institute yang mempelopori
dan secara aktif mengkampanyekan enhancing the mind
dengan konsep dan program yang jelas baik lewat ajakan,
penjelasan, dan penggalangan potensi masyarakat domestik dan
internasional dan pemerintah Indonesia.
The
Prospect adalah media komunikasi online dan offline The
Indonesian Institute yang membahas topik yang berkaitan erat
dengan kehidupan berbangsa dan bernegara serta yang
berhubungan langsung dengan upaya pengembangan mindset.
Topik-topik tersebut adalah: demokrasi, ekonomi, pendidikan,
kesempatan kerja, pembangunan sosial lainnya, isu-isu global
dan penelitian kebijakan (research policy) dalam
bidang ekonomi dan sosial. The Prospect berorientasi ke
depan dengan berpijak pada fakta dan kenyataan yang
berkembang di masa kini dan masa lalu. The Prospect untuk
Indonesia yang makmur, bersatu dan berkeadilan.
Back to
top
The
Mind dan Our Programs
Back to
top
US, April 2002.
Elwin Tobing
Terbuka
terhadap dan sangat mengharapkan saran-saran terhadap misi
ini. Terima kasih.
Back to
top
O'Shaughnessy,
B. (1991). "Searle's Theory of Action" in
Lepore and Van Gulick eds. John Searle and His
Critics. Cambridge, MA, Blackwell.
Back to
top
|