home

about us

missions

contact us

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are unity, democracy and prosperity.
 

 

 Missions
 Programs
 People
 Events
 Analysis
 Research
 Publications
 Contribution
 Join Us

 
 

 

 

 


 

"ENHANCING THE MIND"

What a waste it is to lose one's mind. Or not to have a mind is being very wasteful. How true that is.  Dan Quayle, US Vice President, 88-92.

 

 

Elwin Tobing

 

Pendahuluan

Mengapa suatu bangsa lebih sejahtera daripada bangsa lain? Atau, mengapa kualitas hidup suatu bangsa lebih baik daripada bangsa lain? Beberapa dekade lalu, ada semacam konsensus bahwa perbedaan kualitas hidup bangsa-bangsa lebih disebabkan perbedaan dalam tingkat teknologi, kebiasaan menabung dan ketersediaan sumberdaya alamnya. Penekanannya adalah pada hal-hal di luar sumberdaya manusia. Kekeliruan ini segera disadari dua dekade terakhir, dan para ahli kemudian menemukan konsensus baru bahwa perbedaan dalam kesejahteraan bangsa sangat erat kaitannya dengan akal, pikiran dan pengetahuan manusia yang berdiam di dalam bangsa tersebut. Secara ringkas, kesimpulannya: mind and knowledge adalah dua kunci kemajuan suatu bangsa. Titik berat bukan pada sumberdaya modal fisik dan alam, tetapi pada sumberdaya manusia.

Sumberdaya manusia yang dimaksud bukan pada sisi fisik tenaga, tetapi lebih pada hal-hal yang intangibles seperti gagasan (idea), akal (mind), pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills).  Adalah ide dibalik konsep creative destruction (penghancuran yang kreatif) yang dikemukakan ekonom yang brillian, Joseph Schumpeter[1] lebih setengah abad lalu. Istilah (notion) Schumpeter ini sangat sesuai dengan apa yang berkembang di ekonomi baru sekarang ketika teknologi dan model-model bisnis baru secara simultan menghancurkan yang lama dan menghadirkan kesempatan dan nilai baru untuk memberikan keuntungan. Beberapa dekade kemudian, Peter Drucker[2] menggambarkan lahirnya masyarakat berpengetahuan (the knowledge society) dimana menurut Drucker, pengetahuan menjadi sumberdaya yang tidak hanya akan mengubah dinamika sosial tetapi juga dinamika ekonomi, politik dan bisnis. Tidak lama berselang secara terpisah, Paul Romer dan Rober Lucas, ahli ekonomi, dengan menggunakan model formal, menyimpulkan bahwa ide dan learning process adalah faktor yang menggerakkan ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia? Kualitas hidup bangsa Indonesian dibanding dengan bangsa-bangsa lain di dunia masih jauh dari harapan. Berdasarkan gambaran umum, peringkat pembangunan manusia di Indonesia, yang didasarkan atas Human Development Index masih di atas 100 dari sekitar 160 negara.  Di lihat secara parsial, beberapa indikator menunjukkan gambaran yang tidak menggembirakan. Jumlah penduduk miskin sekitar 35-40 persen dari total populasi. Persentase penduduk yang tingkat pendidikannya paling tinggi SD sekitar 50%. Ditambah berbagai peringkat negatif lainnya seperti index korupsi, tingkat hutang luar negeri, kesenjangan distribusi pendapatan dan lain sebagainya, permasalahan dan tantangan yang dihadapi Indonesia tidaklah mudah. Diperlukan ekstra kerja keras dan kesungguhan daripada manusianya.

Sementara itu....

Sketsa singkat

Mari simak kejadian-kejadian berikut[3]:

Seorang anak muda menyiramkan bensin ke tubuh anak muda lainnya. Yang lain menjentikkan korek api dan dengan seketika si anak muda yang tubuhnya bermandikan bahan bakar, terbakar hebat, menggelepar-gelepar teriak minta tolong tidak lebih daripada ayam yang sedang disembelih. Anak-anak muda, anak-anak kecil ingusan dan orang-orang tua pada ketawa gembira. Massa bersorak sorai seolah-olah senang menang perang, seolah-olah tim olahraga kesayangannya sedang juara. Si anak muda mati seketika, meninggalkan sejarah yang satu orangpun di antara kerumunan itu peduli kecuali keluarga dekatnya. Dan ironisnya, satu orangpun di antara kerumunan itu belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi sehingga si anak muda tersebut harus dibakar. Mereka hanya ikut nimbrung gembira melihat ada orang dibakar sedang melolong di depan mata sendiri.

Di lain situasi, sekelompok orang menghunus pedang, mengejar orang-orang yang tidak ada salahnya dan memenggal kepala mereka. Lagi-lagi, anak-anak muda, anak-anak kecil ingusan, orang-orang tua pada ketawa gembira. Massa bersorak sorai seolah-olah senang menang perang, seolah-olah tim olahraga kesayangannya sedang juara.  Orang-orang mati tanpa kepala, meninggalkan sejarah yang satu orangpun di antara kerumunan itu peduli kecuali keluarga dekatnya, yang mungkin juga mati semuanya. Dan ironisnya, satu orangpun di antara kerumunan itu belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi sehingga orang-orang tersebut dimusnahkan.

Suasana lain, sekelompok orang-orang memporak-porandakan suatu bangunan, merampas segala isi bangunan tersebut, mengusir dan melukai penghuninya. Lagi-lagi, anak-anak muda, anak-anak kecil ingusan, orang-orang tua pada ketawa gembira. Massa bersorak sorai seolah-olah senang menang perang, seolah-olah tim olahraga kesayangannya sedang juara.  Orang-orang kehilangan tempat tinggal dan tempat mencari nafkah tanpa seorangpun di antara kerumunan itu peduli. Dan ironisnya, satu orangpun di antara kerumunan itu belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi kecuali orang yang dihancurkannya memiliki perbedaan tertentu dengan diri mereka.

Dalam situasi yang berbeda, seorang bapak setengah baya, memakai jas necis lengkap dengan sepatu Bally mengkilap, duduk bersandar di kursi empuknya, menatap ke dinding kantornya yang lapang. Hari ini dia baru menandatangani check untuk suatu program kesejahteraan umum yang disponsori pemerintah. Sejumlah besar dana untuk program tersebut masuk ke kantong pribadi dan konco-konconya. Program kesejahteraan umum berakhir dengan program kebingungan umum. Masyarakat bingung apakah program tersebut dapat berguna. Program penyaluran bantuan umumnya malah berakhir dengan penuh teka teki. Kalau kejadian di atas menggambarkan anak-anak muda, anak-anak ingusan dan orang-orang tua dari kaum kurang terdidik bersorak sorai, di sini kaum terdidik berpesta ria. Sementara rakyat jelata miskin beteriak mencari kerja dan makan, kaum terdidik ini berpesta di tempat-tempat mewah seolah-olah merayakan kemenangan perang, menghabiskan sumberdaya yang bukan miliknya.

Setting kejadian-kejadian di atas bukan di jaman primitif, tidak terjadi di hutan belantara dan tidak juga dijaman feodal kerajaan-kerajaan dulu.  Itu terjadi di kota-kota besar di tengah peradaban maju jaman sekarang, di jaman revolusi teknologi informasi. Terjadi di negeri, yang konon tepo saliro sangat tinggi, yang menjungjung tinggi peri kemanusiaan, yang berke-Tuhanan, yang berkeadilan sosial dan lain sebagainya. Dan untungnya itu terjadi di jaman internet sekarang sehingga informasinya dapat dengan segera diketahui oleh banyak orang.

Pertanyaannya, mengapa hal-hal tersebut di atas bisa terjadi? Banyak tentu yang mencoba memberikan penjelasan mulai dari desakan ekonomi, desakan emosi yang sudah kumulatif, kemarahan sosial terhadap penguasa yang disalurkan ke pihak lain dan lain sebagainya. Intinya, menurut penjelasannya hal-hal tersebut wajar saja terjadi mengingat situasi dan kondisi yang berkembangan. Sikon (situasi dan kondisi) menjadi dasar justifikasi. Kalau demikian halnya, tidak heran, kalau sikon makin memburuk, mungkin orang akan saling makan satu sama lain, mentah-mentah seperti jaman kanibal. Karenanya, logika penjelasan ini tentu sangat absurb dan menyesatkan. Justifikasi kebrutalan karena sikon tidak akan pernah menghasilkan kemajuan, sebaliknya kemunduran yang dashyat.

Ada juga yang memberikan justikasi bahwa itu karena perbedaan dalam cara pandang dan cara bertindak yang didorong ketidaksamaan dalam suku, agama dan etnis. Di sini, perbedaan menjadi dasar justikasi. Intinya, karena kita berbeda, sah-sah saja berbuat sesuatu yang negatif kepada orang lain. Kalau demikian halnya, dunia akan hancur sekejab, karena pada dasarnya orang dilahirkan penuh perbedaan. Mau berusaha menyamakan semua orang? Pertama, tentu orang tersebut musti mampu mengeringkan laut. Logika atas justifikasi perbedaan tersebut dengan sendirinya sangat menyesatkan. Justifikasi atas kebrutalan karena perbedaan tidak akan pernah menghasilkan damai, sebaliknya kebencian dan kehancuran.

Penjelasan terhadap koruptor dan penyeleweng jabatan umumnya berkisar pada masalah budaya, mentalitas dan lemahnya pelaksanaan hukum. Mereka mem-blame mentalitas dan lemahnya pelaksanaan hukum. Namun penjelasannya bisa dibalik, bukankah mentalitas dan pelaksanaan hukum berkaitan dengan manusia? Kedua hal ini tentu bukan benda mati, tetapi ter-internalize di dalam diri manusia. Jadi bukan sesuatu yang dapat di blame dan menjadi scapegoat. Yang merancang dan menegakkan hukum adalah manusia, bukan mahluk asing. Jadi persoalannya adalah di manusianya.

Ada yang memberikan alasan spontanitas. Artinya, kejadian-kejadian di atas adalah reaksi spontan. Pengrusakan massal terhadap harta orang lain adalah spontan, korupsi juga spontan (terkadang juga disebut aji mumpung) dan perang antar etnis adalah spontan. Sama seperti justifikasi yang didasarkan atas sikon, penjelasan spontanitas juga sangat absurb. Jika penjelasan ini diterima, maka krisis ekonomi juga adalah tentunya hal yang spontan. Pada akhirnya tidak mudah menghasilkan jalan keluar yang konstruktif apabila berpegang pada penjelasan spontanitas ini. Umumnya tindakan manusia didahului oleh prakondisi, adanya dorongan tertentu dalam pribadi seseorang atau kelompok. Letupan bisa terjadi tetapi umumnya disebabkan adanya dorongan yang secara sadar atau tidak sadar terpendam dalam mind seseorang atau kelompok.  

 

Back to top

The Mind dan Tindakan

Seperti kata ahli-ahli, tindakan adalah premeditated atau melibatkan unsur kesengajaan dan kesadaran. Dalam kaitan ini Searle[4] memperkenalkan istilah the prior intention (niat yang mendahului) yang lebih kurang berarti perencanaan atau proyeksi mental dari suatu tindakan. Menurut Searle, tindakan adalah hubungan sebab akibat dan transaksi niat antara mind dan kenyataan. Sedangkan prior intention berarti mempersiapkan transaksi sebelum tindakan dilakukan. Dengan sendirinya tindakan secara keseluruhan adalah kondisi pemenuhan dari niat yang mendahului.  

 

Bagan 1

Berikut ini adalah skema yang digambarkan oleh Searle

Tindakan

Niat yang mendahului  ¾®  niat dalam aksi  ¾®  gerakan/aksi

Tanda panah menunjukkan arah sebab, yakni niat yang mendahului menyebabkan niat dalam aksi dan niat dalam aksi menyebabkan gerakan/aksi.

Secara sederhana, konsep niat yang mendahului (X) untuk tindakan Y dapat digambarkan sebagai berikut

Saya melakukan tindakan Y dengan melaksanakan niat X.

Niat yang mendahului ditandai oleh dua ciri yakni adanya arah kecocokan dan arah kausasi (sebab akibat). Arah kecocokan menggambarkan hubungan dari dunia nyata (world) dengan mind, sebaliknya arah kausasi menggambarkan hubungan dari mind ke dunia nyata. Arah kecocokan berarti agar niat yang mendahului berhasil, kondisi di dunia nyata harus selaras dengan kondisi yang ada di mind. Sedangkan arah kausasi menekankan bahwa the prior intention menyebabkan aksi dan kondisi yang diinginkan untuk dicapai.

Sebagaimana di dalam kehidupan nyata yang sangat kompleks, niat yang mendahului tidak selalu gampang di definisikan dan disadari apakah exist dalam setiap situasi.  Tidak jarang, niat yang mendahului terjadi bersamaan dengan aksi yang dilakukan. Dalam hal ini O’Shaughnessy[5] dan Searle (1983) menegaskan bahwa sangat mungkin dalam tindakan yang kompleks, niat yang mendahului berkembang ketika aksi sedang dilakukan. Ini kemudian melahirkan istilah niat dalam aksi (intention-in-action). Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut

Kejadian W dapat di dipengaruhi dengan melaksanakan tindakan X.

Sama seperti niat yang mendahului, niat dalam aksi juga dicirikan oleh arah kecocokan, dari dunia nyata ke mind dan arah kausasi, dari mind ke dunia nyata.

Sebelum mencoba mengaplikasikan konsep tersebut pada kasus-kasus yang umum terjadi, ada baiknya diperjelas lebih dahulu pengertian mind. Apakah mind? Menurut Kamus Merriam-Webster, “mind” adalah (1) the element or complex of elements in an individual that feels, perceives, thinks, wills, and especially reasons atau (2) the conscious mental events and capabilities in an organism. Secara ringkas, mind adalah mental sadar yang ada pada setiap individu yang berfungsi dalam merasakan dan berpikir. Dalam bahasa sehari-hari, mind sering diidentikkan dengan arti yang lebih sempit: akal. Untuk menghindari arti mind secara sempit, saya akan konsiten menggunakan mind sepanjang tulisan ini.

Back to top

 

Empat Kategori Individual

Berdasarkan kualitas mind, indvidual kemudian dapat dibedakan atas empat kategori yakni: stable mind, common mind, less stable mind dan poor mind individual. Kerangka pembedaan ini dapat dipahami dalam konteks hubungan antara mind dengan dunia nyata (world) atau environment (yakni manusia dan alam sekitarnya).  Berdasarkan konteks ini, orang yang memiliki mind yang stabil adalah individu yang memiliki tingkat harmonitas tinggi antara mind dan environment. Dengan demikian ciri-ciri individu yang memiliki mind yang stabil adalah memiliki tujuan dan panggilan hidup jelas yang tidak hanya berfokus pada dirinya (mind) tetapi juga pada masyarakat sekelilingnya (environment), pekerja keras yang konsisten dan persisten (mind), berpengetahuan luas (mind), memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan (environment), melihat proses hidupnya sebagai bagian dari masa lalu dan masa depan (environment) serta yang melihat sumberdaya alam sebagai tanggung jawab, bukan kekayaan pribadi (environment).

Individu ini juga tidak mudah untuk goyah oleh setiap provokasi baik yang sifatnya personal maupun general karena dia lebih menggunakan rasio daripada emosi dalam melihat persoalan dan gejolak. Individu ini juga tidak gampang untuk tergoda oleh keuntungan sesaat yang efek jangka panjangnya sangat merugikan karena dia melihat persoalan tidak hanya saat ini tetapi juga peduli dengan masa depan. Dalam konteks kemasyarakatan, individu ini melihat dirinya sebagai bagian utuh daripada masyarakat sehingga dia akan menghindari setiap usaha yang merugikan masyarakat. Dalam konteks hidup sesama, individu ini melihat sesamanya sebagai asset, bukan liabilities. Karenanya dia bersikap terbuka dan koperatif terhadap sesamanya terlepas latar belakang ras, suku, agama, kelompok etnis dan bangsa. Perbedaan bagi individu ini justru merupakan kesempatan, bukan ancaman.  Dengan sendirinya, bagi individu ini tidak ada tendensi untuk memaksakan sistem berpikir dan kepercayaan kepada orang lain apalagi dengan cara-cara represif. Bisa juga diartikan, individu ini memiliki noble character (watak yang terpuji). Karena sifatnya stabil, watak terpuji individu ini tidak akan goyah oleh perubahan waktu, jaman dan situasi. Pendek kata, individu ini adalah asset dan sosok ideal baik untuk kemajuan bangsa, masyarakat dan keluarganya. Istilah Pancasila, manusia seutuhnya.

Individu yang memiliki common mind adalah individu yang stable mind minus cara berpikir yang cenderung partisan dan kualitas stabilitas yang kurang. Individu ini memiliki hampir semua sifat-sifat dan karakter individu yang memiliki mind yang stabil, tetapi cara berpikirnya yang partisan dan primordial membuatnya tidak utuh dan panggilan hidupnya yang belum seimbang antara individu dan masyarakat. Dia menjadi sosok pejuang untuk kelompoknya tetapi bukan untuk masyarakatnya secara keseluruhan. Ini adalah tipe kebanyakan orang yang pemikiran dan cara pandangnya terkungkung dalam wawasan kelompok.  Individu ini pekerja keras, persisten, berpengetahuan luas, berpikir jauh ke depan dan menganggap sumberdaya alam sebagai warisan yang harus dipelihara. Sayangnya, keseimbangan orientasinya tidak untuk kemajuan dan keharmonisan semua orang, melainkan untuk kelompoknya. Kritik kepada dirinya bisa diartikan sebagai kritik kepada kelompoknya dan tidak jarang menggunakan  kelompoknya untuk ambisi pribadinya.

Individu yang less stable mind adalah individu yang stable mind minus consistency dan kualitas mind yang kurang stabil. Kualitas mind-nya berubah tergantung situasi dan kondisi lingkungan. Seperti individu yang memiliki mind stabil, individu ini pekerja keras yang konsisten dan persisten, berpengetahuan luas, memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan, melihat proses hidupnya sebagai bagian dari masa lalu dan masa depan serta yang melihat sumberdaya alam sebagai tanggung jawab, bukan kekayaan pribadi. Itu kalau situasi aman dan tidak ada gejolak. Kalau ada gejolak sosial, ekonomi atau politik, kualitas mind-nya akan berubah drastis, menjadi sangat partisan, orientasinya sepenuhnya menjadi  keuntungan pribadi dan menjadi opportunist hebat.

Individu yang poor mind adalah kebalikan daripada yang stable mind.  Dengan demikian ciri-ciri individu yang memiliki poor mind adalah yang memiliki tujuan dan panggilan yang berfokus pada diri sendiri, kurang rajin dan ulet, berpengetahuan sempit, memiliki toleransi rendah terhadap perbedaan, cenderung melihat proses hidupnya hanya bagian dari masa kini serta yang melihat sumberdaya alam sebagai hak pemilikan.  Individu ini gampang dipolitisir dan diprovokasi untuk tujuan-tujuan yang destruktif. Individu ini tidak selalu dari kalangan ekonomi lemah, karena poor mind tidak ditentukan oleh tingkat ekonomi. Karena wataknya kurang rajin dan ulet, tingkat ekonominya ditentukan kecanggihan dalam melakukan praktik-praktik negatif termasuk korupsi, suap, manipulasi dan lain sebagainya. Individu ini menjadi liabilities bagi masyarakat dan bangsa.  

Bagan 2

 Sketsa individu berdasarkan kategori kualitas mind.

  

Ciri

Stable mind

Common mind

Less stable mind

Poor mind

 

 

 

 

 

C1

Kuat

Kurang

Kurang

Sangat Buruk

C2

Kuat

Kurang

Kurang

Sangat Buruk

C3

Ya

Ya

Ya/Tidak

Buruk

C4

Ya

Ya/Kurang

Ya/Tidak

Tidak

C5

Ya

Tidak

Ya/Tidak

Tidak

C6

Asset

Ancaman

Asset/ Ancaman

Ancaman

C7

Ya

Ya

Ya/Tidak

Tidak

C8

Ya

Ya

Ya/Tidak

Tidak

C1= Harmonitas mind dan environment

C2= Keseimbangan panggilan hidup

C3= Pekerja keras yang konsisten dan persisten

C4= Berpengetahuan luas (lebih mengunakan rasio daripada emosi)

C5= Toleransi tinggi terhadap perbedaan

C6= Melihat perbedaan sebagai

C7= Melihat proses hidupnya sebagai bagian dari masa lalu dan masa depan melihat C8= Menganggap sumberdaya alam sebagai tanggung jawab, bukan kekayaan pribadi (environment).

Seperti ditunjukkan dalam bagan di atas, kualitas mind tidak selalu berkaitan dengan tingkat formal pendidikan dan ekonomi? Dua hal ini akan diuraikan lebih detail dibagian lain.

Lantas, bagaimana mengaplikasikan konsep tersebut dalam konteks kasus yang uraikan sebelumnya?

Back to top

 

The Mind dan Tingkat Pendidikan & Ekonomi

Untuk menghindari bias, perlu digarisbawahi bahwa kestabilan mind seseorang tidak selalu ditentukan oleh tingkat pendidikan dan ekonomi. Meskipun seseorang memiliki tingkat pendidikan formal tinggi, dalam praktiknya, individu tersebut bisa sangat partisan. Ada tendensi, semakin tinggi tingkat formal pendidikan, individu cenderung mengganggap dirinya berpengetahuan luas, membangung jarak daripada yang lain sehingga secara tidak langsung menjadikan dirinya kurang approachable dan ini bisa menganggu keseimbangan orientasi hidupnya. Di lain pihak, semakin tinggi tingkat pendidikan formal, ada kemungkinan seorang individu akan semakin memahami kompleksitas dinamika proses sosial, ekonomi, business, politik dan lain sebagainya sehingga individu ini lebih dapat membedakan proses yang satu dengan yang lain. Dengan pengetahuannya juga individu ini semakin memahami pentingnya kemajemukan serta keseimbangan orientasi pribadi dan sosial.

Hal yang sama dapat terjadi kepada individu yang memiliki tingkat ekonomi tinggi. Seorang yang kaya secara material dapat menjadikan kekayaannya sebagai saluran untuk semakin memajukan kesejahteraan sosial. Ada beberapa contoh yang sangat nyata. Misalnya Carver family di US yang telah menyumbangkan lebih dari 200 juta dollar AS untuk pengembangan sekolah kesehatan dan penelitian di bidang kesehatan di University of Iowa. Carver bukan seorang yang maha milioner, tidak sekaya kampiun stok market Warren Buffet, dan jauh dibanding Bill Gates, tetapi dia mendonasikan persentase kekayaan yang relatif tinggi untuk kemajuan kemanusiaan. Sama seperti enterprenur yang membangun bisnisnya dari bawah dengan kekuatan pikirannya, Carver seorang pekerja keras dan berpengatahuan luas. Dan ada beberapa contoh yang hampir sama, termasuk Bill Gates, Ted Warner (yang mendonasikan 1 miliar dolar kepada PBB), Gordon Wu di Hong Kong (yang mendonasikan 100 juta dolar kepada almamaternya Princeton University tahun 1995) dan lain sebagainya, yang menunjukkan bahwa tingkat ekonomi dan strong mind bisa hand in hand.

Sebaliknya ada juga contoh dimana tingkat ekonomi dan strong mind bertolak belakang. Ini terutama ditunjukkan oleh kaum business people yang berhasil membangun kerajaan bisnisnya bukan karena kerja keras dan kekuatan pikiran serta idenya tetapi karena bantuan kelicikan, manipulasi dan berbagai praktik negatif yang merugikan negara dan masyarakat banyak. Pejabat pemerintah yang menimbun kekayaan dari praktik-praktik negatif juga adalah contoh individu dimana tingkat ekonomi kuat dan stable mind tidak sejalan satu sama lain.

Dalam kaitannya dengan cuplikan kasus dikemukakan di bagian awal, perilaku individu-individu yang bertindak anarkis dan sadis dengan membakar hidup-hidup orang lain yang disertai teriakan kemenangan menunjukkan adanya ketidak harmonisan antara mind dan environment. Menggunakan argumen Searle, individu-individu tersebut secara sadar atau tidak sadar memiliki niat yang mendahului (prior intention) dalam mind-nya. Kalaupun tidak memiliki niat yang mendahului, paling tidak di tengah-tengah tindakannya ada niat dalam aksi, yang berarti ada kaitan antara mind dan environment. Apakah kaitan ini harmonis atau tidak dapat dijelaskan dengan bagan 2.

Berdasarkan bagan 2, dapat dilihat bahwa pelaku-pelaku peristiwa semacam itu lebih cenderung menggunakan emosi daripada rasio dalam menghadapi gejolak (ciri 4), sehingga persepsi dan reaksinya terhadap suatu gejolak sering kurang rasional. Dalam memandang dinamika proses sosial, ekonomi, dan lain sebagainya, individu-individu tersebut tidak memiliki toleransi terhadap sesamanya (ciri 6). Dalam menghadapi pelaku kriminal sendiripun, setiap manusia harus tetap berdasarkan prinsip-prinsip toleransi. Toleransi bukan berarti membenarkan atau mengabaikan perbuatan kriminal yang bersangkutan, tetapi compassion kepada manusianya. Ini salah satu yang membedakan secara jelas antara yang stable mind dan yang poor mind, yakni kemampuan memilah antara perbuatan, pesan dan orang.

Banyak mungkin pelaku sadis tersebut yang memiliki tingkat pendidikan formal relatif rendah, tetapi sumber kurangnya compassion dan dan rasio tidak semata-mata karena rendahnya pendidikan formal. Apabila pendidikan formal yang rendah dilengkapi dengan pendidikan informal yang baik, besar kemungkinan kualitas mind daripada pelaku sadis tersebut akan membaik. Meletakkan justifikasi pada rendahnya pendidikan formal akan berakibat fatal karena untuk memajukan pendidikan formal memakan waktu lama dan biaya yang sangat mahal, sehingga selama proses transisi pembangunan itu apakah “dibenarkan” untuk berbuat tidakan sadis seperti digambarkan di atas? Jawabanya jelas tidak, dan untuk memperlengkapi kekurangan di bidang pendidikan formal, peranan keluarga, masyarakat, pers dan tokoh-tokoh penting dalam mendidik generasi muda sangatlah vital. Ini yang dimaksudkan dengan pendidikan informal.

Situasinya hampir sama dengan kasus kedua dan ketiga, tindakan individu-individu dalam kedua kasus tersebut berkaitan dengan kualitas mind yang kurang berkembang.

Apakah pelaku korupsi, seperti digambarkan pada kasus keempat, dapat dikategorikan sebagai stable mind individu? Berdasarkan bagan di atas, tidak hanya pelaku korupsi, tetapi juga politikus yang immoral dan pemimpin yang diktator termasuk individu-individu yang memiliki poor mind. Pelaku korupsi, politikus yang tidak bermoral dan pemimpin yang diktator mungkin secara prestasi sangat menonjol dalam bidangnya, tetapi dalam masalah harmonitas antara mind dan environment, mereka sangat buruk. Pada akhirnya, individu-individu seperti ini hanya menjadi beban pada masyarakat dan bangsa.

Apakah ekonomi dan pendidikan memegang peranan penting dalam pengembangan mind (mind enhancement)? Dari uraian di atas, meski kedua faktor tersebut tidak menunjukkan konsistensi hubungan, ekonomi dan pendidikan adalah syarat perlu dalam pengembangan mind. Penekanannya bukan pada pendidikan formal serta kemewahan secara ekonomi, tetapi pada pendidikan informal dan kecukupan relatif secara ekonomi. Ada syarat pendidikan yang hendaknya dipenuhi dan ada syarat kecukupan ekonomi minimum yang juga harus dipenuhi. Segala upaya pengembangan mind yang tidak didasarkan pada dua hal pokok ini akan senantiasa kurang berhasil. Dengan sendirinya, segala kegiatan pengembangan hal-hal tertentu, seperti demokrasi, kesejahteraan dan kesatuan bangsa, yang prakondisinya membutuhkan manusia-manusia yang memiliki stable mind akan cenderung kurang berhasil.

Dengan demikian, adalah natural untuk melihat bagaimana kaitan antara mind dengan ketiga tujuan yang mulia tersebut: demokrasi, kesejahteraan dan kesatuan.

Back to top

The Mind dan Pengembangan Demokrasi

Banyak orang salah kaprah dengan demokrasi. Sebagian menafsirkan demokrasi sebagai 51 suara dari 100 kami menang. Ada yang mengartikan sebagai, mayoritas yang menguasai. Ada yang melihat itu sebagai propaganda dari negara Barat untuk secara halus menguasai negara-negara dunia ketiga. Jadi, anggapan kalangan ini,  demokrasi digunakan oleh negara Barat sebagai lips service untuk tujuan-tujuan yang sepihak. Ada yang melihat demokrasi sebagai suatu pembodohan karena dalam demokrasi dianggap pemerintah (government) terlalu berkuasa, sehingga kalangan ini condong untuk memajukan anarkisme yang pada dasarnya tidak mendukung adanya pemerintah. Sebagian lain melihat demokrasi sebagai sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan dan ditegakkan. Kalangan ini melihat demokrasi sebagai satu-satunya faham yang sejauh ini lulus test of time dan yang mampu memberikan landasan pada kesejahteraan yang lebih baik. Ada juga yang melihat demokrasi sebagai freedom yang cenderung tanpa kontrol, bebas berbicara dan berbuat apa saja atas nama freedom. Sehingga pandangan ini kemudian melahirkan pandangan lain yang melihat demokrasi tidak lebih daripada dagelan karena orang bebas berbicara dan berbuat tanpa tanggung jawab.

Ada baiknya pengertian demokrasi dijelaskan di sini sekilas. Secara literal, demokrasi berarti pemerintahan rakyat (berasal dari bahas Yunani, demos=rakyat dan kratos=pemerintahan). Demokrasi memiliki tiga pengertian dalam penggunaannya secara kontemporer. Pertama, demokrasi diartikan sebagai bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan politik di lakukan secara langsung oleh badan pemerintahan rakyat yang pelaksananaanya dengan menggunakan prosedur mayoritas. Ini sering dinamakan sebagai demokrasi langsung. Kedua, demokrasi diartikan sebagai suatu bentuk pemerintahan dimana warga negara melakukan pemerintahan bukan secara individu tetapi lewat lembaga perwakilan yang dipilih dan bertanggung jawab kepada rakyat. Ini dinamakan sebagai demokrasi perwakilan. Ketiga, demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dalam mana kekuasaan dari mayoritas dilakukan dalam suatu kerangka pembatasan konstitusional yang dirancang untuk menjamin semua warga, tanpa kecuali, memiliki dan menikmati hak baik secara individu maupun per kelompok, seperti kebebasan berbicara dan beragama. Ini kemudian dinamakan demokrasi konstitusional. Negara seperti Indonesia dan Amerika menganut demokrasi konstitusional.

Belakangan ini berkembang pengertian demokrasi sosial. Demokrasi sosial memiliki persamaan ideologi dengan marxisme tetapi membuang militansi dan totalitarisme dari marxisme. Ada juga perbedaan tajam yakni dalam memandang proses akumulasi capital. Selain membuang jauh-jauh pemikiran dan tindakan kekerasan (violence) dan revolusi sebagai alat perubahan sosial serta menentang totalitarianisme, demokrasi sosial juga percaya bahwa negara berfungsi untuk mengatur, bukan memiliki, bisnis dan industri untuk meningkatan kesejahteraan umum dan mempersempit jurang ketimpangan ekonomi. Negara-negara maju di Eropa barat umumnya menganut demokrasi sosial.

Setelah memberikan uraian singkat pengertian demokrasi, sekarang kira-kira demokrasi seperti apa yang hendak dikembangkan di Indonesia? Kemajemukan bangsa Indonesia yang tidak hanya dari segi suku, agama, ras tetapi juga budaya tentu menjadi pertimbangan utama dalam membangun bangsa. Sebagai jalan keluar, sudah dikembangkan secara konsep apa yang dinamakan dengan demokrasi Pancasila. Tetapi pengertian ini menjadi sangat kurang populer justru karena perkataan pancasila yang seolah-olah menjadi cap meterai untuk segala jenis program dan konsep di Indonesia selama pemerintahan Orde Baru.  Sehingga tidak heran berkembang konsep-konsep lain yang dibelakangnya secara paksa diimbuh kata pancasila meskipun pengertian menjadi kurang jelas. Namun dalam hal demokrasi, pengertian demokrasi Pancasila patut kembali direvitaliasi dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen (bukan hanya slogan). 

Pada dasarnya demokrasi pancasila adalah demokrasi konstitusional yang berdasarkan asas pancasila. Jadi, seperti demokrasi konstitusional, demokrasi pancasila dirancang untuk menjamin semua warga, tanpa kecuali, memiliki dan menikmati hak baik secara individu maupun per kelompok, seperti kebebasan berbicara, beragama dan mencari nafkah dengan kerja keras dan jujur. Pengertian ini diakomodir dan dirumuskan dalam konstitusi UUD 1945, yang meski isinya bernuansa umum tetapi sebenarnya cukup jelas. Misalnya seperti pasal kebebasan beragama dijamin oleh negara. Ini berarti negara wajib melindungi setiap warga negara dalam menjalankan ibadah agamanya dan dengan sendirinya wajib juga untuk menghukum orang yang mensabotase jalannya ibadah agama orang lain. Dalam konteks ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan, isinya juga jelas.

Pertanyaan sekarang, apa hubungan antara mind dengan pengembangan demokrasi? Setelah memberikan uraian bahwa demokrasi yang di anut oleh Indonesia adalah demokrasi konstitusional pancasila, pertanyaan selanjutnya adalah, prakondisi apa yang dibutuhkan untuk dapat mewujudkan demokrasi tersebut. Satu hal yang perlu dicatat, demokrasi ditujukan bukan untuk benda mati, bukan untuk tumbuh-tumbuhan dan bukan juga untuk hewan, tetapi untuk manusia. Dengan sendirinya, prakondisi yang dibutuhkan juga berkaitan dengan manusia. Selain itu juga perlu dicatat bahwa demokrasi berkaitan dengan dua hal, yakni konsep/pemahaman (conception) tentang proses dinamika sosial, politik, budaya serta proses-proses lainnya dan tindakan (action) terhadap sesama dan lingkungannya dalam menyikapi dinamika proses-proses tersebut. Di dalam kerangka bernegara, ini berkaitan dengan conception dan action oleh setiap warga (individu), kelompok individu, pemerintah (executive), lembaga peradilan (judicative) dan lembaga perwakilan rakyat (legislative) 

Karena lembaga-lembaga yang terakhir, executive, judicative dan legislative, pada dasarnya terdiri atas manusia, maka kualitas conception dan action oleh setiap individu, terlepas posisi dan peranannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, terhadap dinamika sosial, politik, budaya serta proses-proses lainnya akan melahirkan kualitas conception dan action yang relatif sama oleh lembaga-lembaga infrastruktur negara. Misalnya, susah mengharapkan dari seluruh invididu yang bermukin di suatu negara yang menganut konsepsi sempit terhadap proses dinamika sosial, akan tercipta suatu lembaga perwakilan rakyat yang menganut konsepsi yang luas.  Kualitas suatu bangsa pada dasarnya sangat ditentukan oleh kualitas individu-individu yang berdiam di dalam bangsa tersebut.

Bagaimana hubungan antara conception dan action? Secara singkat, kalau konsepsi seseorang terhadap perubahan sosial yang berlangsung adalah ancaman buat kesejahteraan dirinya, besar kemungkinan tindakan (action) yang dilakukan juga akan menentang perubahan tersebut. Karena dalam kerangka demokrasi, konsepsi yang dimaksud lebih berkaitan pada terjaminnya hak berbicara, hidup, beragama dan hak asasi lainnya, maka penekanan konsepsi lebih pada keselasaran antara individu dengan alam sekitarnya (manusia dan enviroment). Contoh sederhana, kalau misalnya dalam suatu keputusan di suatu desa terpencil akan dirikan pusat kesehatan masyarakat, tetapi sekelompok dukun pengobatan tradisional menentang hal tersebut, tentu keberatan para ahli pengobatan tradisional ini kurang berasalan dan lebih melihat suatu perubahan sosial dari sisi kepentingannya sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik tingkat nasional juga sering mendapat hambatan daripada sekelompok kecil yang anti perubahan karena memandang perubahan tersebut merugikan kelompoknya.

Seperti diuraikan sebelumnya, conception dan action sangat berkaitan erat dengan mind. Agar demokrasi yang diinginkan, yakni demokrasi konstitusional pancasila, dapat terwujud, pembangunan mind, sebagai prakondisi atau sebagai lahan buat tanaman yang disebut demokrasi, sangatlah urgent. Dari bagan 2, dengan jelas dapat dipahami bahwa hanya dengan memiliki mayoritas manusia yang memiliki stable mind, bangsa Indonesia dapat mengembangkan dan mewujudkan demokrasi konstitusional pancasila. Itu tidak saja tergantung pada pemerintahnya, juga tidak sepenuhnya tergantung pada pemimpin politiknya, tetapi lebih tergantung pada seluruh rakyatnya.  Bukan berari pemerintah, pemimpin politik, pemimpin organisasi kemasyarakatan dan pemimpin organisasi keagamaan tidak memegang peranan penting, mereka justru berperan penting. Tetapi meskipun mereka lebih cenderung memiliki less stable dan common mind, dan berusaha menggerakkan invididu-individu untuk mengikuti common dan less stable mind mereka, dengan cara memberikan perilaku buruk, moral buruk, sikap yang sangat partisan dan lain sebagainya, individu-individu yang memiliki stable mind tentu tidak akan goyah dan mengikuti contoh-contoh buruk tersebut. 

Ini adalah suatu debat menarik yang terjadi di Amerika ketika skandal seks Clinton mengemuka di tahun 1998. Ketika itu sebagian politikus di Kongres mendebat bahwa perilaku Clinton tersebut akan luas ditiru oleh masyarakat. Sebagian anggota Kongres berargumen bahwa rakyat AS cukup memahami apa yang patut di tiru dan apa yang tidak. Dalam konteks Indonesia, sejauh ini sulit mengatakan bahwa masyarakat secara umum sudah mengerti apa yang patut di tiru dan apa yang tidak. Contoh nyata (counter examples) adalah seperti digambarkan dalam kasus 1-4 di atas.

Dengan demikian, keberhasilan pengembangan demokrasi konstitusional pancasila sangat didasarkan pada keberhasilan membangun mind bangsa Indonesia. Membangun mind dulu baru demokrasi, bukan sebaliknya.

Back to top

 

The Mind dan Upaya Pewujudan Kesejahteraan

Dalam pembicaraan tentang kesejahteraan bangsa, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kesejahteraan bangsa tidak terlepas daripada kesejahteraan individu-individu yang mendiami negara tersebut. Kedua, kesejahteraan sangat berkaitan erat dengan kerja keras. Dari dua hal ini dengan sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa hanya dengan kerja keras daripada individu-individu yang mendiami suatu bangsa/negara, suatu bangsa dapat menjadi sejahtera. Tidak perlu mempelajari sejarah jaman purbakala untuk melihat bukti ini. Jepang dan Jerman adalah dua contoh nyata. Secara infrastruktur fisik dan juga secara mental, kedua negara tersebut hancur dalam perang dunia kedua. Tetapi dengan kerja keras individu-individu yang mendiami bangsa tersebut, Jepang dan Jerman keluar menjadi bangsa makmur yang paling disegani di dunia saat ini. Amerika juga adalah contoh negara makmur yang disebabkan kerja keras daripada warga negaranya. Tidak ada bangsa yang didiami oleh individu-individu yang malas dan bodoh akan menjadi sejahtera. Pendek kata, kesejahteraan berarti kerja keras dan ulet.

Pengertian kerja keras berarti di dalamnya ada internal motivasi untuk mencapai kondisi B dari kondisi A. Dalam hal kesejahteraan, ada motivasi untuk mencapai tingkat kesejahteraan dari tingkat tertentu ke tingkat yang lebih baik. Dalam proses ini terdapat juga beberapa kemungkinan. Pertama, individu pekerja keras dan orientasinya seluruhnya adalah pemenuhan kebutuhan emosi dan fisiknya secara pribadi. Kedua, individu kerja keras dan orientasinya adalah, meski masih condong pemenuhan kebutuhan pribadi, tetapi ada juga orientasi sosial. Ketiga, individu pekerja keras yang memiliki keseimbangan antara orientasi pribadi dan orientasi sosial. Keempat, individu pekerja keras yang memiliki kecenderungan pada orientasi sosial.

Secara bagan ini dapat digambarkan sebagai berikut

Bagan 3. Type individu dan orientasinya

 

Orientasi

Type Individu

Pekerja keras

Biasa-biasa

Pemalas

Seluruhnya pribadi

Poor Mind

Poor Mind (PM)

PM

Pribadi dan Sosial

Stable Mind

Common Mind (CM)

PM

Seimbang

Stable Mind

Common Mind

CM/PM

Cenderung sosial

Stable Mind

Common Mind

CM/PM

Seluruhnya sosial

 

 

CM

     = bangsa yang selalu terbelakang

     = bangsa yang penuh masalah

     = bangsa yang maju

 

Tidak susah memberikan contoh individu yang tergolong pekerja keras tetapi orientasinya seluruhnya adalah untuk hal-hal yang pribadi dan keluarganya. Ini termasuk para pelaku bisnis yang pekerja keras tetapi menghalalkan segala cara, termasuk merugikan rakyat banyak demi keuntungan pribadinya. Ini juga termasuk birokrat pekerja keras tetapi dengan segala cara menutup setiap kemungkinan untuk kemakmuran masyarakat banyak karena cenderung memberikan ijin dan hak-hak istimewa lainnya kepada keluarga dekat yang tidak professional. Ini adalah contoh nepotisme.  Demikian juga dengan individu yang tidak tergolong pekerja keras, tetapi orientasinya seluruhnya adalah pribadi dan keluarganya.  Contohnya adalah para koruptor, khususnya koruptor kelas menengah ke atas.  Tidak juga susah memberikan contoh individu yang cenderung malas dan memiliki orientasi pribadi dan sosial. Meski orientasinya sudah tidak berpusat pada dirinya, individu ini kurang memiliki inisiatif, semangat kerja keras dan keuletan. Akhirnya kebanyakan hanya mengeluh melihat situasi kurang kondusif yang berkembang di sekelilingnya. Semangat kerja keras individu ini sangat ditentukan oleh lingkungan luar. Wawasan orientasinya tidak membantu. Apakah mungkin ada individu yang pekerja keras dan orientasinya seluruhnya adalah hal sosial? Tentu ada dan contoh yang mudah dipahami adalah Bunda Teresa. Termasuk juga di dalamnya adalah indvidu-individu yang mencurahkan segala waktu dan dedikasinya untuk kemakmuran orang lain, rela hidup di daerah terpencil dan bahkan dengan risiko nyawa untuk memberikan sentuhan kemanusiaan pada sesamanya.  Ini sulit dikategorikan sebagai stable mind, barangkali yang lebih tepat adalah extraordinary mind.

Dari bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk memajukan suatu bangsa, kerja keras individu-individu yang mendiami bangsa tersebut adalah perlu (necessary) tetapi belum cukup (sufficient). Syarat cukup membutuhkan bahwa di dalam negera tersebut harus terdapat juga, dalam persentase yang relatif banyak, individu-individu yang memiliki orientasi sosial, baik yang seimbang maupun cenderung sosial. Tanpa itu, suatu bangsa akhirnya tidak akan mampu menjadi bangsa yang makmur.

Bagan berwarna merah berarti suatu bangsa didiami oleh individu pemalas. Ini tentu hanya menghasilkan bangsa yang terbelakang. Bagan berwarna kuning berarti suatu bangsa didiami individu pekerja keras tetapi orientasinya sepenuhnya pribadi. Selain itu juga didiami oleh individu yang bekerja secukupnya. Individu yang pekerja keras dan memiliki orientasi pribadi dan sosial yang seimbang akan menghasilkan negara maju, seperti pada bagan berwarna hijau.

Individu type mana yang umum terdapat di Indonesia sekarang ini? Apakah Indonesia berada pada bagan merah, kuning atau hijau? Adalah benar bahwa terdapat individu pekerja keras di Indonesia yang juga memiliki orientasi sosial dan probadi yang seimbang. Namun secara persentase, individu manakah yang paling banyak?

Individu pekerja keras akan bekerja keras apapun yang terjadi dalam sekelilingnya. Tidak ada waktu untuk merusak prasarana umum dan pribadi. Individu ini adalah yang rasional yang melihat dengan jelas bahwa apabila prasarana umum di rusak, maka dengan sendirinya kesempatan bagi dirinya untuk bekerja akan berkurang. Individu pekerja keras umumnya rentan terhadap ajakan dan hasutan yang provokatif yang sifatnya merusak.

Berdasarkan persentase, Indonesia berada pada bagan kuning. Terlalu banyak individu yang kurang bertipe kerja keras dan kurang memiliki keseimbangan orientasi. Pengalaman selama pemerintahan Orde  Baru bahkan semakin menyuburkan kedua hal tersebut, melunturnya kerja keras dan meningkatnya orientasi pribadi. Ketika muncul istilah aji mumpung, ini lebih pada penyalahgunaan kesempatan melayani khalayak umum untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Birokrat, anggota legislatif, kaum bisnis dan masyarakat umumnya jatuh dalam kategori berwarna kuning. Tidak mengherankan Indonesia penuh dengan masalah.

Untuk memotivasi individu-individu yang berdiam dalam suatu negara agar memiliki orientasi sosial, suatu bangsa dapat melakukan beberapa cara. Amerika Serikat misalnya mengenal tax deduction system dimana sumbangan terhadap organisasi-organisasi non profit yang umumnya bertujuan untuk pengembagan kemanusiaan, pendidikan dan lingkungan akan diperhitungkan dalam pengurangan pajak donatur. Apakah ini yang mendorong Carver family untuk menyumbang 300 juta dolar untuk penelitian dan pengembangan kesehatan di Universitas Iowa, Henry Tippie yang menyumbang sekitar 40 juta dolar untuk pengembangan sekolah bisnis di universitas yang sama, serta banyak filantropis lainnya, namun paling tidak negara memberikan rangsangan/motivasi agar individu-individu juga memiliki orientasi sosial. Di negara Eropa Barat dan Kanada yang menganut demokrasi sosial, negara secara langsung terlibat dalam proses ‘motivasi’ ini dengan menerapkan pajak yang tinggi sebagai salah satu mekanisme distribusi pendapatan dari kaum kaya ke miskin.

Apa yang dilakukan oleh Indonesia untuk memotivasi individu-individu sehingga memiliki keseimbangan orientasi? Beberapa bulan lalu Presiden Megawati menganjurkan agar pengusaha menyumbang sebagian kekayaan mereka. Ini bagus, tetapi tidak merupakan suatu bagian dari usaha yang sungguh-sungguh dan sistematis. Hanya anjuran, siapa mau melakukan? Kecuali Presiden dan individu-individu di sekitarnya sendiri memulainya dengan sungguh-sungguh dan transparan. Namun itupun tidak akan cukup. Perlu kampanye yang sungguh-sungguh dan panjang. Mungkin dengan menggunakan mekanisme pajak. Dan yang penting, perlu usaha itu ditumbuhkan dan dikembangkan sejak awal. Tampaknya pendidikan keluarga serta pendidikan formal dan informal sangat memegang peranan.

Back to top

 

The Mind dan Upaya Pewujudan Kesatuan

Banyak orang mengerti kata monopoli. Di dunia bisnis, monopoli adalah sesuatu yang tidak jarang terjadi. Tidak perlu seorang ahli ekonomi untuk menunjukkan bahwa kegiatan monopoli berakibat negatif pada kemakmuran (welfare) masyarakat banyak. Di Indonesia, hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di masa Orde Baru, monopoli sangat terbiasa baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta. Monopoli pembelian cengkeh, adalah satu contoh dimana praktik tersebut berakibat negatif pada kemakmuran. Demikian juga dengan monopoli jasa telekomunikasi. Kalau bukan harga yang tinggi, pelayanan sangat buruk.

Dasar dari praktik monopoli adalah keinginan bermain sendiri untuk keuntungan sendiri yang maksimal. Keuntungan maksimal, menurut monopolist, dapat dicapai bila hanya ada supplier tunggal di pasar dan itu adalah dirinya sendiri. Memang secara teori ekonomi, klaim itu benar.  Tapi apa yang terjadi? Lebih banyak efek negatif daripada positifnya untuk kemakmuran rakyat. Ini karena praktik monopoli tidak mendorong adanya kompetisi, sementara kompetisi berarti adanya motivasi untuk selalu melakukan perbaikan dan inovasi yang menguntungkan customers (banyak orang). Dengan sendirinya, semangat monopolistic melemahkan mutual partnership.

Dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya, praktik monopoli juga tidak jarang terjadi, baik yang secara individu maupun kelompok. Sama seperti perusahaan yang monopolistik, individu dan kelompok yang monopolistik cenderung melemahkan adanya mutual partnership. Ketika semangat terhadap mutual partnership sudah tidak berkembang, kesatuan dan persatuan hanyalah mimpi.

Kesatuan adalah sesuatu yang dinamis dan aktif, tidak statik dan pasif. Kesatuan dan persatuan yang tidak mengandung semangat kerjasama adalah pasif dan akhirnya kalau kondisi itu dikembangkan terus menjadi statik. Tidak ada kemajuan. Sebaliknya, kesatuan dan persatuan yang dilandasi semangat bekerjasama adalah sesuatu yang aktif dan kalau dikembangkan terus menjadi dinamis. Ada kemajuan.  Jadi, dalam kesatuan dan persatuan, hal yang paling penting adalah semangat kerjasama.

Dasar dari setiap kerjasama dan mutual partnership adalah respek dan pengakuan terhadap eksistensi orang atau kelompok lain. Adanya respek ini dengan sendirinya mendorong individu untuk mampu menjaga keseimbangan orientasi pribadi dan orientasi sosialnya. Ketika ada hal-hal yang bertentangan dengan orientasi pribadinya, individu tersebut masih mampu menjaga kepedulian terhadap orientasi sosialnya untuk tidak terganggu (misalnya ketika seseorang harus turun dari jabatannya, individu tersebut masih mampu melayani kepentingan masyarakat dan menjadi asset bagi pembangunan masyarakat banyak. Umum terjadi, seseorang yang turun dari jabatan di Indonesia justru menjadi beban masyarakat). Apabila individu tersebut mampu mengembangkan respek dan mutual partnership terhadap individu lain, bakal tercipta apa yang dinamakan dengan damai.

Setiap orang yang rasional dan waras pastilah menginginkan kedamaian. Tidak ada yang lebih indah daripada hidup damai dengan lingkungan masyarakat dan diri sendiri. Tapi menginginkan adanya damai, dan berbuat sesuatu supaya damai tercipta adalah dua hal yang berbeda. Damai tidak segampang mengatakannya.  Damai membutuhkan kerja keras dan pengertian.

Ketika persiapan pendirian Republik Indonesia, para tokoh pendiri sangat menaruh banyak energi dalam merancang bagaimana supaya negara yang berdiri kelak dapat menjadi bangsa yang bersatu dan damai. Tidak mengherankan akhirnya mereka keluar dengan hasil fantantis, yakni butir ketiga persatuan dan kesatuan dalam landasan negara Pancasila. Tidak langsung menjadi butir pertama, karena mereka memahami bawah manusia memiliki pencipta, terlepas dari kepercayaan dan persepsinya terhadap kehidupan. Ada penghargaan sangat amat tinggi terhadap kebebasan beragama dan menaruh kepercayaan oleh setiap individu. Ini kemudian dilanjutkan dengan butir kedua yang menekankan humanity, justice dan civilization.  Sungguh ajaib dan amat tepat! Kesatuan dan persatuan yang ada dasar, baik yang supranatural (dalam konteks dengan kuasa yang absolut) maupun yang horizontal (dalam konteks dengan sesama manusia).

Tapi kesatuan tanpa ada damai adalah nonsense. Kesatuan dan persatuan dimulai dari adanya damai dan kententraman di dalam pribadi individu masing-masing yang kemudian direfleksikan dalam hubungannya dengan individu-individu yang lain. Dalam konteks yang horizontal, itu memiliki tiga aspek, yakni damai dengan: dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya dan masyarakatnya yang lebih luas (bangsanya). Dua dari tiga aspek di atas menggambarkan bahwa bobot damai lebih pada bagaimana persepsi dan perilaku seseorang terhadap lingkungan sekitar dan masyarakatnya yang lebih luas. Seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri, menjauhi hal-hal yang merusak dirinya, tetapi bisa gagal menerapkannya dalam interaksinya dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Karenanya damai tanpa kesatuan sama juga nonsense. Tanpa adanya kesatuan, damai tidak lebih daripada lips service, isapan jempol belaka karena damai yang dimaksud di bangun dan dikembangkan dalam lingkungan yang vakum atau tidak berdasarkan realitas yang berkembang. Damai karena kesatuan yang dipaksakan juga akan sangat berbahaya karena ketika faktor pemaksa sudah tidak ada, situasi akan bisa menjadi meledak dan terjadi gejolak sosial fatal.

Karena dasar dari kerjasama adalah respek dan pengakuan terhadap eksistensi orang atau kelompok lain, kesatuan juga tercipta apabila ada pengakuan akan eksistensi dan tujuan hidup seseorang. Tanpa itu yang ada hanya ke-satu-an dalam arti keakuan. Minimnya atau tiadanya pengakuan akan eksistensi dengan sendirinya menyebabkan rendahnya respek kepada orang lain. Sebaliknya, adanya pengakuan akan eksistensi akan menyebabkan terbinanya respek terhadap orang lain. Dengan adanya respek, sifat daripada interaksi juga akan menjadi condong ke arah kesatuan. Ambil contoh kecil. Misalkan ada seorang bos di tempat kerja yang cenderung kurang mengakui dan menghargai eksistensi pekerja selain memerintah dan membayar gaji. Meski masih ada pengakuan minim akan eksistensi pekerja tersebut, tetapi si pekerja akan pindah seketika ketika ada pekerjaan yang menawarkan gaji relatif sama tetapi lingkungan kerja dan bos yang lebih bersahabat.

Umumnya orang tahu bagaimana situasi di Timur Tengah. Rasanya wajar kalau ada pesimisme akan adanya damai. Gambaran berikut tidak ada hubungannya dengan posisi pribadi penulis terhadap masalah yang berkembang di sana. Ini hanya sebagai contoh, bagaimana, di tengah situasi dan kondisi yang sangat labil, jawaban terhadap adanya damai terletak pada diri setiap individu.

Sangat menarik jawaban seorang pemuda Israel ketika Tom Brokaw, pemandu acara televisi NBC mewawancarainya beberapa saat lalu. Brokaw menanyakan pemuda tersebut, di tengah krisis berat yang sedang terjadi, apakah ada kemungkinan kedua bangsa tersebut bisa berdamai. Saya berpikir dia mungkin menjawab “tidak” dan akan mulai menunjuk sana sini dengan hati yang emosi. Tempatnya bekerja baru saja hancur. Namun yang keluar adalah pernyataan, “damai pasti ada”. Brokaw bertanya , apa dasarnya dan apa syaratnya. Pemuda itu menjawab singkat.  Katanya damai sangat ditentukan oleh oleh mind setiap orang.  Bagaimana supaya mind orang dapat di arahkan ke arah damai, bukan sebaliknya.  Tentu bukan tempat saya dan juga bukan tempat siapa saja untuk menjadi hakim dalam persoalan di sana. Tapi satu hal yang menarik adalah: damai ditentukan oleh kualitas mind. Jadi enhancing the mind, dengan sendirinya akan mendorong terciptanya damai dan dengan sendirinya akan menciptakan adanya kesatuan dan persatuan.

Problematika di Indonesia tidak serumit di kawasan lain dan masalah kesatuan serta persatuan tidak karena disebabkan perbedaan persepsi terhadap kelompok lain. Tapi ini lebih pada mentalitas dan cara berpikir. Mentalitas dan cara berpikir yang percaya bahwa dengan untung sendiri, hidup akan makmur.  Ini mengapa banyak pemimpin, pejabat, pengusaha dan masyarakat menjadi cenderung berorientasi keakuan. Di dalam budaya yang paternalisitik, sikap individu-individu yang penting ini tentu sangat krusial karena generasi penerus akan sedikit banyak terpengaruh. Dengan sendirinya semua generasi menjadi berorientasi keakuan dan kurang semangat terhadap kesatuan yang dinamis dan aktif.

Program mind echancement bekerja untuk mengembangkan semangat kerjasama yang saling menguntungkan (mutual partnership) di antara generasi muda Indonesia. Dalam bagan 2, seorang individu akan memiliki semangat untuk kerjasama yang mutual apabila memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan (C5), melihat perbedaan sebagai asset (C6), berpengetahuan luas (C4), pekerja keras (C3) dan memiliki keseimbangan panggilan hidup antara orientasi pribadi dan sosial (C2).  Dengan demikian, individu yang memiliki mind yang stabil adalah individu yang memiliki semangat kerjasama dan kesatuan tinggi.

Membangun Indonesia yang bersatu dan maju sama dengan membangun manusia Indonesia sehingga memiliki mind yang stabil.

Tantangan dan Programs dalam Enhancing the MIND

Back to top

The Mind dan The Indonesian Institute

Tantangan dan Programs dalam Enhancing the MIND

Tujuan daripada enhancing the mind adalah untuk membantu pemerintah dan segala lapisan masyarakat dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Seutuhnya yang dimaksud di sini adalah yang memiliki mind stabil. Dari perspektif pengetahuan dan wawasan, mind yang stabil berarti manusia yang berpengetahuan tinggi dan berwawasan luas.

Dalam kaitannya dengan kedua hal tersebut, yakni untuk mewujudkan manusia yang berpengetahuan tinggi dan berwawasan luas, ada beberapa tantangan yang dihadapi:

  1. Ekonomi
  2. Fasilitas
  3. Budaya
  4. Kebijakan Pemerintah
  5. Orientasi masyarakat/pemimpin/tokoh publik

 

Ekonomi

Adalah jelas, untuk menggali pengetahuan, diperlukan adanya biaya.  Dengan demikian faktor ekonomi sangat berperanan penting. Seringkali kesulitan biaya menyebabkan proses enhancing the mind, terutama peningkatan pengetahuan, terhambat. Karena tingkat pengetahuan dapat membantu pengembangan wawasan (meskipun tidak selalu), dengan sendirinya, kesulitan ekonomi juga dapat mempengaruhi pengembangan wawasan seseorang. Dalam situasi yang berbeda, tingkat ekonomi yang berlebihan dapat juga menyebabkan kurangnya wawasan. Meski demikian, fokus daripada enhancing mind adalah pada situasi ekonomi yang lemah.

Kesulitan ekonomi dapat di sebabkan oleh beberapa hal mulai dari minimnya sumberdaya modal (fisik kapital), sumberdaya manusia (brain) dan terbatasnya kesempatan berusaha.

Kampanye enhancing mind dari The Indonesian Institute diharapkan menjadi semacam multi level marketing. Satu orang individu yang sudah melalui proses mind enhancement, akan membantu mengembangkan mind daripada individu sekitarnya.

Karenanya dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi ini, the Institute bekerja baik secara individu maupun secara kelompok. Secara ringkas program yang akan dilakukan adalah:

  1. Membantu individu tertentu yang kesulitan secara ekonomi dalam proses mind enhancement dengan prasyarat bahwa individu memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengembangkan mind individu-individu di sekitarnya. Bentuk praktis dan strategis daripada program ini adalah dengan pemberian beasiswa sekolah, penyediaan lapangan kerja paruh waktu (bekerja sama dengan berbagai institusi dan perusahaan), penyediaan learning centers dimana individu yang kesulitan sekolah formal dapat menggali ilmu dan pengetahuan di learning centers tersebut yang berguna dalam memperbaiki keadaan ekonominya. 

 

  1. Program yang sama juga dapat diaplikasikan pada kelompok individu dimana penekanan lebih pada penyediaan learning centers.

 

  1. Learning centers yang dimaksud di sini adalah pusat pendidikan yang menekankan kombinasi antara pengetahuan praktis dan pengembangan wawasan yang diberikan secara cuma-cuma, atau dengan biaya yang sangat minimum, kepada individu atau kelompok yang memiliki motivasi dan komitmen dalam pengembangan mind. Learning centers mirip perpustakaan tetapi sifatnya lebih proaktif dalam memberikan pelayanan yang merangsang dan mengembangkan mindset individu-individu.

 

Fasilitas

Kesulitan fasilitas sangat berpengaruh pada pengembangan mind. Fasilitas yang dimaksud di sini termasuk hal-hal yang tangible seperti bahan bacaan, alat bantu teknologi, mentor dan hal-hal yang intagible seperti lingkungan yang kondusif pada pengembangan mind (yang terakhir berkaitan dengan budaya).

Program praktis dan strategis yang akan dikembangkan oleh TII adalah dengan penyediaan learning centers, penyediaan informasi dan bahan-bahan bacaan yang merangsang dan mengembangkan mind kepada sekolah-sekolah, universitas, kelompok-kelompok pemuda dan berbagai lapisan masyarakat lainnya. Bahan-bahan bacaan ini dapat berbentuk buletin, newsletter, dan buku-buku yang berkaitan dengan mind enhancement.  Dalam tataran yang intangible, TII akan secara aktif mengkampanyekan perlunya mind enhancement sebagai gerakan nasional sehingga dengan sendirinya membantu masyarakat lebih luas untuk sadar pentingnya mind enhancement. Dengan adanya kesadaran pada masyarakat, setiap program yang bertujuan untuk mind echancement, akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Secara ringkas, bentuk program praktis dan strategis adalah:

 

  1. Penyediaan learning centers
  2. Penyebaran informasi dan bahan-bahan bacaan yang merangsang dan mengembangkan mind kepada sekolah-sekolah, universitas, kelompok-kelompok pemuda dan berbagai lapisan masyarakat lainnya dalam buletin, newsletter dan buku-buku.
  3. Mengkampayekan dan mendorong pemerintah untuk menjadikan mind enhancement sebagai gerakan nasional.

 

Budaya

Seiring dengan perkembangan jaman, ada budaya yang harus dipertahankan karena nilai-nilainya yang universal dan yang membantu pengembangan mindset manusia, tetapi ada juga budaya yang harus disesuaikan dengan perkembangan jaman. Salah satu budaya yang mendapat perhatian untuk disesuaikan adalah kecenderungan untuk seragam dengan orang lain dalam arti yang lebih tidak konstruktif. Keinginan untuk tampil berbeda dalam konteks yang positif harus senantiasa di dorong dan kemajemukan dalam suatu lingkungan harus tetap dipelihara dan dihargai.

Kampanye mind enhancement tidak hidup dalam lingkungan vakum tetapi berada di Indonesia yang ciri khas bangsanya adalah sangat beragam baik dari suku, budaya, agama, dan ras. Perbedaan satu budaya dengan lainnya dapat menghambat pengembangan mind kalau perhatian lebih dipusatkan pada perbedaan tersebut.  Dengan demikian, dalam kaitan dengan hal ini,  program praktis dan strategis TII antara lain adalah dengan penciptaan kelompok-kelompok kerjasama lintas SARA baik yang akan terlibat dalam proyek-proyek praktis maupun dalam proyek-proyek konseptual (perencanaan dan evaluasi program). Kerjasama mutual adalah kata kunci yang akan dikembangkan dan ditonjolkan oleh TII. Karenanya, di dalam informasi dan bahan-bahan bacaan yang merangsang dan mengembangkan mind, kerjasama dalam kemajemukan ini akan mendapat penekanan serius.  Hanya dengan adanya semangat kerjasama, tanpa mengenal batas-batas SARA, mind seseorang dapat berkembang.

Selain itu ada budaya lain yang mendesak untuk dikembangkan yakni budaya menghargai dan memberikan penghargaan kepada orang lain. Pengakuan terhadap karya seseorang betatapun kecilnya merupakan menjadi faktor penting dalam mengembangkan mind seseorang. Pengakuan ini dapat berbentuk pemberian penghargaan pada prestasi seseorang, penyelenggaraan lomba-lomba berhadiah yang bersifat mind enhancement serta pentingnya nama seseorang diakui sebagai kontributor dalam setiap program betapun kecilnya partisipasinya. Kebiasaan yang berkembang, baik di sektor pemerintah, swasta dan masyarakat adalah seorang pemimpin mengambil semua kredit untuk suatu program yang berhadil tanpa menyisakan dengan sungguh-sungguh kredit tersebut kepada the least contributors. Akhirnya the least contributors akan tetap menjadi the least contributors tanpa termotivasi menjadi the main contributors.

Budaya tukar pikiran secara konstruktif, alot dan sistematis adalah hal lain yang akan dikembangkan. Sejauh ini tampaknya budaya yang berkembang masih cenderung pada talk, forget and talk randomly serta kecenderungan berbicara dan berargumen dengan dasar yang belum sistematis.  Mind enhancement tidak akan berkembang dalam lingkungan yang tidak teratur, tidak sistematis dan tidak konstruktif. Tetapi berkembang dalam lingkungan yang menonjolkan hal-hal yang rasional, empirical dan sistematis. Kebiasaan berdiskusi dan berdebat dengan batas-batas yang konstruktif, dengan cara yang sistematis dan dengan isi yang membangun dan rasional sangat perlu dikembangkan. Debat-debat kusir yang tidak membangun sangat negatif dalam enhancing the mind. Dalam kaitan ini, program praktis yang akan dikembangkan oleh TII adalah penggalakan kelompok-kelompok diskusi yang konstruktif dan rasional yang di dukung oleh fasilitas dan sumber informasi, penyelenggaran seminar, lokakarya, kontes debat dan lomba menulis essay yang bertemakan masalah sosial, budaya, ekonomi dan teknologi.

 

Kebijakan Pemerintah

Pemerintah tetap merupakan faktor yang memainkan peranan penting dalam pengembangan manusia Indonesia yang seutuhnya. Kebijakan pemerintah dapat berbentuk pada kebijakan di bidang yang berkaitan langsung dengan masalah pengembangan pengetahuan, misalnya pendidikan formal, dan bidang yang berkaitan dengan ekonomi yang juga mempengaruhi pengembangan wawasan seseorang. Pemerintah perlu partner dan masukan dalam perancangan kebijakan-kebijakan tersebut dan TII berpartisipasi sebagai partner pemerintah dalam melakukan studi dan analisa kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan manusia serta pembangunan sosial dan ekonomi.

 

Orientasi masyarakat/pemimpin/tokoh publik

Tokoh publik dapat menjadi contoh tetapi juga dapat menjadi penghambat utama dalam pengembangan mindset masyarakat (generasi muda). Individu-individu yang muncul menjadi tokoh publik oleh karena cara-cara yang tidak etis dapat menjadi penghambat utama pengembangan mindset. Sebaliknya individu-individu yang berhasil menjadi tokoh publik lewat proses perjuangan yang ulet dan etis menjadi contoh yang sangat efektif. Dalam kaitan ini, salah satu program pokok TII adalah mengidentifikasi individu-individu di Indonesia yang berhasil lewat perjuangan ulet dan etis sebagai tokoh publik serta mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam upaya pengembangan mindset ini. Individu-individu tersebut dapat terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari petani ulet yang berhasil, guru SD yang berhasil mendidik murid-muridnya, artis yang memiliki integritas, ilmuwan yang humanis, pengusaha sukses yang ulet dan etis serta politikus yang idealis.

Program-program di atas baik yang bersifat praktis dan strategis dimaksudkan untuk secara menyeluruh menggalang potensi yang ada dalam mengembangkan mindset generasi muda Indonesia. Hanya dengan berkembangnya individu-individu yang memiliki ming yang stabil, Indonesia dapat makmur, bersatu dan berkeadilan.

The Indonesian Institute merupakan institute yang mempelopori dan secara aktif mengkampanyekan enhancing the mind dengan konsep dan program yang jelas baik lewat ajakan, penjelasan, dan penggalangan potensi masyarakat domestik dan internasional dan pemerintah Indonesia.

The Prospect adalah media komunikasi online dan offline The Indonesian Institute yang membahas topik yang berkaitan erat dengan kehidupan berbangsa dan bernegara serta yang berhubungan langsung dengan upaya pengembangan mindset. Topik-topik tersebut adalah: demokrasi, ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja, pembangunan sosial lainnya, isu-isu global dan penelitian kebijakan (research policy) dalam bidang ekonomi dan sosial. The Prospect berorientasi ke depan dengan berpijak pada fakta dan kenyataan yang berkembang di masa kini dan masa lalu. The Prospect untuk Indonesia yang makmur, bersatu dan berkeadilan.

 

Back to top

 

The Mind dan Our Programs

 

Back to top

 

US, April 2002.

Elwin Tobing

Terbuka terhadap dan sangat mengharapkan saran-saran terhadap misi ini. Terima kasih.

Back to top

 

[1] Capitalism, socialism, and democracy, 1984. New York. Harpercollins.

[2] Post-Capitalist Society, 1993. New York:Harper Business.

[3] Berikut ini ada komentar menarik dari Sdr. Toto Murdiono yang dimuat di Surat Pembaca harian Kompas

Bangsa yang Minder


Sebagai bagian dari bangsa ini saya sering bingung menempatkan diri sebagai orang Indonesia. Coba bayangkan dimana lagi kita harus letakkan muka kita ini diantara bangsa-bangsa serumpun Asean.

Orang Malaysia sudah menganggap tenaga kerja kita ini para "pendatang haram". Cari makan di negeri orang tetapi bikin keributan melulu. Orang Singapura mulai mencibir Indonesia sebagai sarang teroris. Orang kita ditangkap di Filipina karena bawa bahan peledak.

Orang Brunei lebih kesal lagi, bantuan sosial dari Sultan Brunei dijadikan komoditas politik dalam kasus Bruneigate. Orang Vietnam bersyukur karena peringkat korupsi negerinya sekarang lebih rendah dari Indonesia. Orang Thailand senyum-senyum karena buah-buahan di Indonesia semua sudah serba "Bangkok". Kebanggaan apa lagi yang masih sisa buat Indonesia?

Jargon-jargon masalalu seperti Pancasila, Gotong Royong, bangsa yang berbudaya tinggi seolah-olah tidak lagi punya makna. Yang paling menggelisahkan hati saya adalah, bagaimanakan anak-anak kita kelak? Masihkah mereka bisa bangga akan bangsa dan negerinya?

[4] Searle, J. (1983). Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind. New York, Cambridge University Press.

[5] O'Shaughnessy, B. (1991). "Searle's Theory of Action" in Lepore and Van Gulick eds. John Searle and His Critics. Cambridge, MA, Blackwell.

Back to top

 


Revised: August 23, 2007

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved.