home   about us   mission   contact us

 
The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are democracy, unity and prosperity.
 

 

MAIN ISSUES
 

Democracy

 

Economy

 

Labor/Unemployment

 

Education

 

Development

 

Global Issues

 

Research

 

Contact Us

 

 


Readers' comments/feedback

Occasionally, I will post some of the comments and questions sent to me and my friend here. I will try to provide answers if necessary. For general questions and answers, you can find in Q & A.

page  4  2  1

April 23, 2002. Zhafir M. A. Pontoh, Jakarta

On the article on INVESTMENT

(my comments = blue color. Elwin)

Do the author really think that with the current law system in Indonesia investors would invest their money here?

I do agree with you that the current law has to be changed, to make it more conducive for both domestic and foreign investors. Nevertheless, even under the current law system (to have a new one could take more than on year), the government should be able to attract more investor if they could launch strong investment initiatives and set recovery economic agenda. My simple reason is, in 1997, prior to the crisis, the total approved investment projects was doubled from that of in 1994. In that sense, although the current law is not conducive, but we were still able to attract domestic investors.

Look what happened to the Indonesian economy after 32 years of investment based economies under the Soeharto regime! It left us with a debt so huge that not even our great-great grand children can bear to repay it!

Domestic & foreign direct investment and external debts are two different things although they can be related to each other. Bear in mind that not all these debts are public debts. Around 50% of those are private debts.

Investors come only when they know that their investments are safeguarded by authorities (spend a couple of hundred dollars for them!) and the return is quick yielding! They don't give a damn if the laborers are paid a wage of 20 cents an hour! Now how can you call that ""economic growth""?

That’s true and that’s the other side of the problem. But we should not focus on that bad side and then loose the momentum. We cannot just increase the minimum wage to $1 per day without creating economic and social chaos.  Instead we need to focus our energy on something that can be done to stabilize this country.  Poor mentality, amorality, corruption and all the kinds are not easy to be eradicated. We can’t just throw bad people out to the sea, otherwise we are not better than them. Revival starts from sharing something good we have to others. It starts in our mind, in the mind of the young generations. Work hard, study hard and share your knowledge, experience and skills with others. Support others. That’s the bottom line. These politicians and poor mind businessmen will be replaced soon by stable mind individuals.  But it will never happen if we don’t develop our mind. The bad cycle will still be there if the young generations also end up having poor mind. That’s why we need to work for that. Law and regulations are all man made but as long as we have poor mind leaders, bureaucrats and businessmen, good and conducive regulations are no better than the garbage ones. It’s all in our mind, and it’s up to the people

Regards,

Elwin

 

April 9, 2002. Anonymous, Jakarta.

Berikut ini adalah komunikasi dengan anonymous di Indonesia yang memberikan pertanyaan dan tanggapan sangat menarik. Response saya adalah teks biru. Elwin.

Elwin, pertama kali saya membaca situs TII, saya melihat ada pekerjaan besar yang masih berbentuk cita-cita. Cita-cita yang sangat mulia. Dan sekarang ini cita-citanya bertambah jelas yaitu “Enhancing the mind” untuk menuju “Stable Mind”, saat kamu belum selesai menuliskannya ada beberapa pendapat yang diberikan untuk tulisan kamu itu.

Apakah “Stable Mind” itu saja tujuan akhir TII? Saya merasa untuk mencapainya tujuan itu sangat-sangat sulit. Mengubah “jalan pikiran” orang. Menurut pendapat saya : terbentuknya jalan pikiran dan watak hampir bersamaan, mungkin hanya pengalaman dan perasaan saja yang bisa mengubahnya. Ada pepatah di Intisari bulan lalu  tertulis “Setiap analisa cenderung meniadakan perasaan”.

Sama seperti Indonesia memiliki tujuan adil dan makmur. Tentu sulit kalau tidak ada pelaksanaan yang terencana dari awal serta konsistensi. Adil dan makmur ini saya definisikan dalam konteks manusia. Jadi membangun bangsa bukan dengan membangun negaranya/bangsanya tetapi membangun orangnya. Dulu beredar konsep membangun manusia Indonesia seutuhnya dan membangun masyarakat madani atau konsep-konsep lainnya. Intinya hampir sama, hanya bahasanya diperjelas dan saya lebih tekankan pada dua aspek: kerja keras dan fairness. Itu saja. Kerja keras akan menghasilkan kemakmuran dan fair/toleransi akan menghasilkan keadilan. Kedua hal ini berkaitan dengan orang, berkaitan dengan mentalitas dan watak. Benar watak dan mentalitas bisa dipengaruhi oleh pengalaman tetapi banyak hal bisa mempengaruhi hal tersebut termasuk pendidikan formal, non formal dan informal. Yang saya dan mungkin yang lain-lain sedang galakkan adalah pendidikan informal seperti pendidikan keluarga, masyarakat, publik figure, kontak komunikasi dengan yang orang lain dan lain sebagainya. Kalau seseorang berada dalam lingkungan dimana orang-orang suka bekerja keras dan bersifat fair, besar kemungkinan orang tersebut akan terpengaruh juga. Tapi, coba saksikan pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat dan pendidikan oleh publik figure di Indonesia, apakah konstruktif menghasilkan orang yang kerja keras dan fair? Bukankah sebaliknya?

Setelah itu tentu pemerintah harus proaktif baik dalam perancangan dan pelaksanaan kebijakan yang membangun mind orang Indonesia.  Dalam hal ini, untuk menjadi institusi yang lebih berguna, TII harus mampu memberikan alternatif kebijakan, harus juga berada dalam lingkungan strategis. Ini landasannya. Kalau hanya untuk memberikan beasiswa, lebih baik kumpul dana dan salurkan, habis perkara. Dan itu sudah banyak yang melakukan kenapa tidak salurkan lewat mereka saja? A campaign to enhance our people’s mind and policy making adalah dua hal saling berkaitan. Cuma tentu policy making sekarang masih susah tetapi itu bagian integral daripada mission ini. Ada practical dan conceptual grounds tetapi juga ada strategic policy ground yang pelan-pelan lewat research dan network.

Yang saya lihat sekarang ini adalah kecenderungan latah tanpa arah. Ini sama halnya latah dalam business. Satu orang buka wartel, semua pojok jalanan ada wartel. Satu orang buka warnet, semua pojok gang ada warnet. Orang-orang buat kelompok untuk memberi sumbangan, itu ok. Memberi sumbangan buku, itu ok. Memberi les private gratis, itu juga ok. Namun jangan hanya karena latah. Kalau itu adalah bagian yang secara sadar untuk enhancing our people’s mindset, yang menonjolkan kerja keras dan fairness, itu sangat bagus. Itu sebabnya setipa campaign saya tekankan, jelaskan dulu your direction, baru talking about program and its implementation. Tapi orang lantas bicara sumbangan. Yang saya lihat akhirnya setiap upaya/program menjadi sub bagian daripada uang. Tidak salah akhirnya menjadi money determines your direction, tapi bukan your direction determines your money.

Saya lama di Indonesia dan saya amati dan hidup bergaul dengan segala lapisan ketika di sana, sehingga paling tidak ada pemahaman apa yang berkembang di sana. Jadi ada asalan saya untuk mengatakan bahwa Indonesia berada pada stage dimana mayoritas orang-orangnya pada common dan less stable mind. Ada email dari orang lain ke saya yang mengatakan, “kamu tidak mengerti sama sekali dengan Indonesia.” Jawab saya, coba kamu baca sedikit latar belakang saya. Nah, mentalitas seperti ini yang musti diperbaiki, meloncat ke kesimpulan yang tidak ada dasar tapi hanya karena emosi bahkan tidak membaca apa yang ada di depannya, tetapi sudah menyimpulkan sesuatu yang salah. Saya melihat sendiri Indonesia bagaimana dan saya bergaul di dalamnya kenapa harus berkata seperti itu? Nah yang saya lihat, tampaknya bukan karena faktor saya, tetapi karena saya ada di Amerika dan segala perkataan yang keluar dari orang yang tinggal di Barat cenderung diartikan sebagai tidak mengerti kondisi lokal. Saya katakan, justru yang hidup di negeri rantau sering lebih lebih memahami apa yang terjadi di Indonesia, karena tanpa ada perbandingan kita memang hidup seperti Alice in Wonderland, seperti katak dalam tempurung. Karena perbandingan saya melihat Indonesia sangat jauh tertinggal, dan karena perbandingan dalam kualitas mind saya melihat orang-orang Indonesia sangat tertinggal. Tapi banyak orang yang melihat perbandingan hanya dari segi fisik. Yang saya tonjolkan bukan itu, justru segi non-fisik, mentalitas, kerja keras dan watak (fair dan toleransi) yang saya kemas dalam istilah: mind.

Saya hanya berharap bahasanya disederhanakan. Saya terus mengikuti perkembangan tulisan kamu dan menyimpannya untuk saya.

Tulisan yang sangat panjang akan memerlukan waktu untuk membacanya, ini juga harus menjadi bahan pertimbangan.

Thanks sudah membacanya. Soal panjang atau tidak itu bisa diatur. Itu sebabnya ada sub bagian. Bagaimanapun orang harus terbiasa membaca. Yang luas terjadi di Indonesia, budaya membaca bukan buruk, tetapi sangat buruk, angka 2 dari 10.  Ini bukan men-judge. Saya tidak merujuk pada masyarakat kecil yang tidak mampu beli bacaan, tetapi pada lapisan menengah ke atas saja masih susah. Dan saya tidak merujuk ke membaca koran. Banyak sumber yang lebih edukatif sekarang ini. Yang sering terjadi adalah orang suka berbicara seolah mengetahui seuatu hal dengan jelasnya, ketika mereka sebetulnya tidak mengetahui sesuatu. Tidak mengherankan ada pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Setiap kali krisis terjadi, misalnya seperti di Indonesia, Latin Amerika dan lain sebagainya, saya biasanya spend waktu tidak hanya membaca dari Internet (yang sering berjam-jam) tetapi juga buku-buku dan related literature dari library meski harus menyita waktu, karena hanya dengan demikian kita bisa jadi lebih memahami dan lebih tahu besikap. Dan hanya dengan demikian kita bisa melihat siapa yang tong kosong siapa yang lebih memahami. Nah, saya berharap generasi muda di Indonesia juga demikian supaya tidak menjadi generasi yang emosional, yang kurang menggunakan rasio dan akal, tetapi juga tidak menjadi generasi yang kurang peduli, yang hanya peduli diri dan keluarganya sendiri.

Menurut kamu target pembaca TII adalah orang yang professional. Situs kamu itu sudah pernah saya perkenalkan ke teman-teman saya, saya pikir mereka tidak melanjutkannya untuk membacanya.

Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mensosialisasikan message daripada Institute/campaign ini. Ketika kita strike to the mind of people, biasanya yang muncul adalah resistance, perlawanan, meski sebodoh apapun. Meski terkesan counter productive, tetapi that’s the only way. The only way to improve our people’s mindset adalah dengan mengakui bahwa our mindset masih picik, dan juga memberi arah ke mereka supaya bisa mengenali posisi kulitas mindset mereka.  Karena kalau tidak, semua merasa sudah hebat. Kalau mereka tidak setuju dan tidak suka, itu adalah hak orang dan very welcome karena memang mustahil membuat semua orang agree. Hanya saja sepanjang your mission is right dan ada dasarnya, saya kira harus jalan terus. Di mana-mana, proses introduksi sering mengalami tantangan. Untuk TII, saya kira penerimaan umum sudah cukup lumayan dibanding usaha yang dikeluarkan untuk mengkampayekan itu. Jadi sangat prospektif.

Elwin, siapa yang pertama sekali akan melakukan “enhancing the mind” itu? Kamu menginginkan efek bola salju kepada penerima beasiswa, penerima beasiswa itu siapa dan kelas berapa, apakah mereka sudah cukup mampu juga melakukan enhancing the mind selanjutnya? Saya pikir tidak hanya anaknya orangtuanya juga, tetapi apakah orangtuanya pernah buka internet? Ingat. Lho kamu punya target itu kaum professional. Menurut saya, kamu bisa memberi pendapat itu karena kamu hidup di lingkungan social yang mapan dan terpola, kamu harus membayangkan kehidupan Indonesia di masa lalu, bagaimana Ki Hadjar Dewantara mulai mendirikan sekolah, atau Ibu Kartini dengan perjuangannya.

Ada dua hal yang sangat berbeda, mengajak dan menuruti. Tanggung jawab kita adalah mengajak dan mengembangkan wawasan orang lain serta memberikan support yang mereka perlukan sedaya mampu kita. Kalau mereka mendengar dan menuruti itu sangat bagus, kalau tidak tentu bukan salah kita lagi. Ada orang yang mengerti the language of love dan passion tetapi ada orang yang tidak mengerti, meski sampai menghabiskan waktu dan banyak sumberdaya untuk itu. Kalau orang lain tidak mendengar, itu soal lain. Yang saya lihat, kita ini cenderung selalu menyalahkan orang tua kalau anaknya bandel. Memang benar ada sebagian (dan itu sangat menonjol karena umumnya mereka publik figure), tetapi ada juga sebagian tidak. Jadi ada faktor lingkungan juga yang menegasikan semua hal-hal yang sudah kita anjurkan. Kalau faktor lingkungan di Indonesia bagus, tentu hasilnya akan berbeda.

Soal apakah karena saya hidup di negeri mapan, itulah sesungguhnya pelajaran yang saya ambil di sini. Sebaliknya ini juga yang salah satu membuat Indonesia mundur terus, karena setiap ide yang membangun selalu dilihat: karena kamu hidup di environment yang berbeda. Di negeri maju,  orang-orang sama punya hati dan punya mind. Memang mereka sudah mapan, tetapi kemapanan itu ada tahapannya dan prakondisinya dan tahapan/prakondisi itu yang saya mau introdusir. Kita pelajari dan adopsi hal-hal yang baik, bukan hal-hal yang buruk. Beberapa hari lalu terbersit berita bahwa Indonesia menjadi produsen ekstasi terbesar ketiga di dunia. Ini sungguh mengagetkan dan ternyata ada banyak orang yang justru adopsi hal-hal yang negatif.

Contoh yang kamu berikan tentang Ki Hajar dan Kartini adalah benar dan tidak mengherankan, itu sejalan dengan apa yang sedang TII galakkan . Mereka membangun sekolah, cenderung ke pendidikan formal karena itu kebutuhan mendesak saat itu. Sekarang ini adalah pendidikan informal dan salah satu infrastruktur fisik (semacam sekolah saat itu) yang digalakkan oleh TII adalah learning centers. Sama seperti Ki Hajar, policy making juga harus menjadi part of the agenda.

 

Salam,

Elwin

 

March 26, 2002. Eva Gloria S. Bogor, Indonesia

Komentar untuk artikel: Indonesia's Future: Competition and Education

(red = Eva's; green=original article, blue=my comments)

Elwin,

Sebenarnya kamu menuliskan sejarah perkembangan ilmu ekonomi khususnya marketing yang dimulai dari Adam Smith. Kemudian ada revolusi industri. Saya pikir revolusi industri itu tidak ada kaitannya dengan perkembangan ilmu ekonomi. Revolusi Industri muncul bukan karena ada kebutuhan ekonomi, tetapi karena kebutuhan manusia untuk memudahkan hidupnya. Memang dalam kelanjutannya perkembangannya bersamaan, karena saling membutuhkan.

Sampai hari ini teknologi yang diciptakan seperti teknologi informasi itu diciptakan untuk mempermudah manusia, memang teknologi ini mempunyai nilai jual, dan antara kebutuhan dan nilai jual itulah yang terus berlomba. Teknologi berlomba dengan nilai jual, seperti yang dilakukan

Thanks atas komentarnya Eva dan mudah-mudahan diskusi ini paling tidak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang apa yang saya maksudkan.

Sebetulnya saya tidak menuliskan sejarah perkembangan ilmu ekonomi dan juga marketing. Saya mulai tulisan tersebut dengan observasi yang dikemukakan oleh Adam Smith lebih dua abad lalu kalau:

in properly functioning commercial markets, businesses and business people serve society even if to do so is not a conscious intention. Ini yang dinamakan oleh Smith “invisible hand”, semacam adanya kekuatan luar yang mengatur system ekonomi. Ekonom terkadang juga menamakannya self-regulatory. Saya kutip kembali apa yang dikatakan oleh Smith

Smith's notable lines, "...every individual generally neither intends to promote the public interest, nor knows how much he is promoting it. He intends only his own gain... By pursuing his own interest he frequently promotes that of society."

Pernyataan ini saya argue dalam bahasa yang simple, observasi Smith yang mengatakan kalau business dan individu sebetulnya tidak berniat untuk memajukan kepentingan umum atau tidak tahu kalau sedang melakukan itu dalam usaha mereka mengejar keuntungan pribadinya. Dalam hal ini saya katakan

With today's revolution in information technology, the undisputable triumph of capitalism, and the emergence of business people as important figures in society, the invisible hand theory no longer seems relevant. Businesses have been compelled to serve the public interest consciously out of a need to survive. The driving force is the relentless competition in the marketplace. Competition is proving to be a marvelously effective regulator of commerce.

Yang intinya, business people mengerti bahwa mereka sedang mempromosikan kepentingan umum di tengah usaha mereka mengejar keuntungan. Ini didasarkan paling tidak oleh tiga observasi yang disebut di atas yakni: revolution in information technology, the undisputable triumph of capitalism and the emergence of business people as important figures in society.

Microsoft is a good example. Its success is due to its ability to upgrade the quality and simultaneously lower the prices of its products. The same strategy applies for many Internet companies. Priceline.com and lowestfare.com have gained popularity through offering lower prices than that of their competitors. 

Kemudian dari pada itu yang terjadi sekarang ini, saya pikir teknologi informasi yang ada sangat dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan marketing, sebenarnya bukan marketing saja sehingga dikatakan “Marketing Age”, bidang-bidang lain juga kesehatan, pendidikan, pertahanan, dll. Memang dengan teknologi informasi kegiatan marketing bisa berhasil seperti contoh:

Microsoft, Priceline.com dan lowestfare.com adalah contoh tentang pricing dan marketing yang menyebabkan bahwa business sebetulnya serve society secara simultan out of their need to survive dan juga karena untuk mempromosikan kepentingan umum. Salah satu argument yang disampaikan oleh Microsoft misalnya dalam kasus monopoli web browser dengan Netscape selalu merujuk pada “serve the needs of consumers”.

 

In 1997, when Joseph Park and Yong Kang, two high school students in New York, were not satisfied with a company's online service, they set up their own online shopping company with the concept of same-day free one-hour delivery for all products. Today, the company has revenues of million dollars.

The growing Internet economy has created a new and intensely competitive environment for everything from retailing to securities marketing. In 1999, the Internet economy already amounted nearly to US$350 billion, according to figures released by the Center for Research in Electronic Commerce at the University of Texas.  It is estimated that the amount will jump to US$1.3 trillion in 2003, accounting for 9.4 percent of total business to business sales (Business Week, Oct. 4, 1999).

Indonesia saat ini belum sehebat seperti yang di atas dalam penggunaan internet, karena peralatan pendukung internet tsb masih sesuatu hal yang mewah atau mahal. Teknologi informasi dipakai masih cenderung untuk komunikasi memperlancar pelaksaan pekerjaan administrasi untuk kantor-kantor yang bonafid, dan mungkin banyak yang memakai situs gratis untuk beriklanbaris. Internet masih dipakai sebagai barang mewah dan media hiburan belum menjadi media informasi. Mengapa dikatakan barang mewah, jalur service atau pelayanan internet ini masih menjadi barang dagangan yang diperebutkan, pulsanya saja yang tidak diperdagangkan karena monopoli telkom, yang juga harganya pulsanya naik terus secara berkala.

Bagaimana kita bisa berharap banyak untuk menjadikan generasi muda seperti anak muda Joseph Park and Yong Kang. Kita sudah kalah dalam kompetisi ini. Janganlah dibandingkan dengan kehidupan anak muda Indonesia. Kamu sendiri mungkin merasakan kemajuan/kemudahan itu setelah tidak di Indonesia.

Kamu benar di bagian pertama, kalau masalah pengembangan Internet di Indonesia cukup problematic mulai dari infrastruktur sampai ke mentality masyarakat. Mentaility yang saya maksud adalah: apakah dapat dipercaya atau tidak. Karena sifat transaksinya online, setiap transaksi lebih didasarkan adanya mutual trust, sesuatu yang masih cukup kita prihatinkan di Indonesia. Sebelum Internet Age, di negara maju sudah terbiasa belanja dan order lewat catalog dan Internet hanya media yang mempercepat proses itu. Tentu dengan lompatan ke Internet age, masih suah mengharapkan adanya proses transaksi dan mutual trust antara business dan consumers di Indonesia.

Pemberian contoh Joseph dan Yong bukan dimaksudkan untuk membandingkannya dengan Indonesia. Itu adalah contoh dimana adanya the drastic reduction in business start-up costs telah mengilhami bahkan yang masih sekolah menengah atas untuk melakukan bisnis. Tentu di Indonesia masih banyak hal-hal yang perlu dilakukan sehingga proses start-up bisnis menjadi gampang, murah dan tidak berbelit-belit.

On a macro level, the economic and industrial policies conducted during the New Order regime tended to put consumers' rights secondary to that of producers.

Our national economy is still far from being customer-centered. Rather, it tends to be producer-centered. This has created inefficiencies in our economy as producers are not compelled to deliver products with the highest quality, cheapest prices and best customer service.

Menurut saya hal seperti di atas tidak terjadi, pada awalnya dalam study kelayakan, tentu yang dilihat bahwa ada pasar/konsumennya di Indonesia. Melihat pasar yang begitu besar, tentu ada peluang suatu produk untuk terjual, itulah “Visi”nya kemudian dalam menjalankan “misi”nya si produser banyak mengalami hambatan karena KKN, sehingga akan berakibat pada harga yang mahal, dan mungkin mutu bahan bakunya diturunkan sehingga kualitasnya juga menurun, dll.

Tidak juga sebenarnya. Banyak praktik bisnis di Indonesia tidak didasarkan keinginan untuk serve the best interest of the consumers, bahkan sebaliknya. Di banyak negara ini juga terjadi. Masalahnya, di Indonesia, birokrat lewat kebijakan-kebijakan yang ditetapkan dalam praktiknya seakan mendukung proses tersebut, misalnya dengan pemberian hak monopoli produksi, hak tunggal impor, dan lain sebagainya yang akhirnya meningkatkan harga dan merugikan consumers. Ini karena didasarkan prinsip: producers first, then consumers are secondary.

Memang seharusnya hal seperti ini dilaksanakan:

The primary agenda for our commercial policy should be to convert our business orientation from being producer-centered to being customer- centered…. This conversion can be achieved by enhancing fair and free competition in all segments of industry

Memang, dan di antara caranya adalah dalam perubahan policy dalam bisnis dan industri nasional serta pemberdayaan lembaga konsumen.

Tetapi mungkin akan terlaksana bila reformasi sudah berjalan di relnya, artinya kehidupan IPOLEKSOSBUDHANKAM (Istilah dalam pelajaran Pancasila) sudah berjalan di relnya.

Ini adalah bahasa Orde Baru yang membuat seolah-olah untuk mencapai masyarakat adil dan makmur itu sangat susah dan mimpi, padahal dengan cara yang benar itu tidak susah: Perbaiki mentalitas, galakkan kerjasama dan kerja keras dan scrutinize dan select politikus, birokrat dan orang-orang bisnis dengan benar, maka akan tercipta masyarakat yang adil dan makmur. Yang terjadi adalah kebalikan  hal-hal di atas.

Salam,

Elwin

 

Maret 25, 2002. Sri Libe, Bandung, Indonesia

Salam,

Saya sangat tertarik dengan visi Bang Elwin. Saya telah membaca beberapa artikel di website tersebut. Saat melihat-lihat website, saya rasa ada yang kurang yaitu misi no. 3. Tinjauan secara sosial dan pendidikan di Indonesia masih belum nampak di website tersebut (bukan gambaran umum tetapi lebih spesifik). Tetapi justru point 3 itulah yang membuat saya tertarik dengan The Prospect.

Saya kira Bang Elwin masih mengikuti perkembangan di Indonesia. Saya
pernah menulis tentang anak jalanan (dan saya pernah bergaul dengan
mereka). Saya mengamati kehidupan pedagang kaki lima. Mereka orang-orang yang berpikir sederhana,"Apakah saya bisa makan hari ini?" Bagaimana kehidupan pedagang kaki lima yang dikejar-kejar petugas ketertiban kota?  Menurut saya, hal-hal seperti ini perlu ditambahkan di dalam website the Prospect. Apalagi jika mampu menampilkan profil suatu kota/daerah yang memang perlu dibantu dalam hal infrastruktur, itu labih baik bagi The Prospect.

Ya... itu hanya pemikiran-pemikiran saya. Seandainya The Prospect ingin
mencapai misi point 3 (khususnya), The Prospect perlu ada didarat, karena orang-orang yang dituju tidak mungkin utnuk membuka website.


regards
sri


Dear Sri Libe

Apa yang kamu katakan tentu benar dan itu masukan baik. Sebagai suatu institusi yang baru, untuk sementara ada hal-hal yang perlu mendapat prioritas apalagi dengan keterbatasan resources, waktu dan lain sebagainya. Selain itu strategi usaha/penekanan yang sedang digalakkan oleh The Indonesian Institute (The Prospect hanya sebuah media komunikasi dan informasi, The Institute adalah lembaga di belakangnya yang melakukan hal-hal yang lebih strategis) terletak pada hal yang lebih fundamental yakni: to enhance the mindset of our people. Kalau misalnya kita fokus pada kasus-kasus, sangat banyak sekali kasus yang harus perhatikan dan dibantu, dan tentu dengan keterbatasan resources, mustahil untuk bisa menanganinya. Tetapi kita justru mulai dari pembaruan mentalitas dan mindset orang-orang sehingga dengan sendirinya ada efek bola salju, dimana kita tidak perlu harus bekerja dari suatu kasus ke kasus lain. Meski demikian bekerja pada kasus-kasus yang sangat mendesak juga amat penting. Itu sebabnya sebagian program yang dirancang ditujukan untuk itu, termasuk masalah penanganan sektor informal yang kamu sebutkan. Di dalam suatu tulisan di sini saya sudah tekankan bahwa penanganan sektor informal tidaklah gampang, tetapi sebetulnya juga tidak rumit. Tinggal apakah memang aparat dan pemerintah memiliki itikad yang benar-benar untuk mau membantu, dan bagaimana dalam usaha perbaikan itu mereka (aparat/pemerintah) dapat menggalang kerjasama dengan organisasi non pemerintah dan lembaga-lembaga studi & pengembangan.

Sarannya untuk ada tinjauan lebih spesifik, saya kira sangat baik. Dan ini yang saya sarankan kepada teman-teman untuk bisa hadir dan kontribusi dengan hal-hal yang diamatinya sepanjang hari. Terkadang, pengamatan sederhana dan kecil, efeknya sangat powerful. Motivasi saya untuk selalu mengajak kerjasama juga adalah di sini: sisihkan satu jam seminggu untuk menuliskan pengamatan anda di lapangan dan post di Internet (terserah kalau mau develop website sendiri dan distribute informasinya ke khalayak banyak, sehingga banyak orang bisa baca dan ada dokumentasinya). Seiring dengan perkembangannya, The Indonesian Institute akan hadir dengan beberapa studi kasus yang akan mengkaji lebih spesifik dan detail masalah pendidikan dan pembangunan sosial di Indonesia. Misalnya apakah pelajaran di tingkat sekolah atas tertentu dapat meningkatkan kualitas mind daripada pelajar dan apakah program tertentu yang ditujukan untuk pembangunan sosial memang benar-benar sampai pada tujuan yang diharapkan. Studi yang independen harus ada, suatu kelemahan yang selama ini berkembang karena umumnya studi kelayakan dan evaluasi biasanya disponsori oleh pemerintah. Kalau ada yang disponsori oleh lembaga independen asing dan dilakukan oleh organisasi non pemerintah lokal, umumnya hasil dan rekomendasi kurang kooperatif dari perspektif pemerintah. Jadi supaya setiap studi evaluasi berguna, di dalam penyampaian dan rekomendasinya harus memahami dinamika yang berkembang. Dan partisipasi anda, kalau tertarik di bidang ini sangat diharapkan.

Salam

Elwin

 

Maret 12, 2002. Edward, Netherlands 

It's a lucky accident that found this site. Bravo, for your great effort to establish this particular information. I totally agreed with your mission and I'll be honored to help and to become your team. I am studying master of Law at RuG, Netherlands. My interest is Debt Reduction for Indonesia.

I am proposing new programs. I would like to make a suggestion to add a new "rubrik"" in this sites about Law. This subject will relate in to the International Law regarding to debt reduction campaign. I mean, we try find a way to resolve the debt problem by asking legally for the elimination of certain debt because of "criminal debt".

Edward

 

Hi Edward,

It's not a coincidence at all. TII has been looking for resources from law background too! And with regards to the new column and subject of your interest that you proposed, we can only say in simple words: "pucuk di cinta ulam tiba!" The subject is indeed one of the highly needed correction areas in our country.

The most urgent and corrupt issue in criminal debt now is nonetheless the corruption within BPPN and its tandem issue, disobedient (and this is in a very euphemistic term) debtors. What makes it interesting is that the two parties are mutually benefiting partners in perpetrating the corruption.

Here are some brief key facts on how bad the situation is:

IBRA boss I Putu Gede Ary Suta, the latest of six chairmen in three years, admits that out of 230 lawsuits filed by IBRA, it lost a lot, or almost all. He knows that if IBRA ever dared to take on one of the banking tycoons in court, it would lose to the high-powered lawyers who would run rings round it and make sure IBRA itself was in the dock. These black conglomerates are hiding in a contract's provision called 'Release and Discharge' . The government admitted that what they can only do now is 'to recommend that all parties collaborate to increase the bargaining power of the government in the negotiation table'. This is nothing but a blurred hope since everybody know that expecting something to change without ALL parties having the same vision and strong political wills would be like throwing salt to the sea. And sadly, this is what is going on in all of our system. Justice and Law are downright impotent - the system has turned out to be one which can only rely on the goodwill ('itikad baik) of each and every individual in this country.  Many efforts to bring criminals to justice are relegated to be just political maneuvers by the defendants' constituents.

We're glad to hear that you wanna come home soon.  The above topic is merely a suggestion. If you decide to also explore them, i would be honored to help you from here as i'm particularly interested in it as well. I'm planning to talk to a friend of mine who used to work in BPPN but who is later 'repentant' since he felt what he's doing was just a reminiscent to thief and criminal broker. If he decide to talk, his input could be very worthy for us to understand the details of the 'transactions'.

In summary, if you're interested in writing about it, we could:

- analyse and elaborate the loopholes in the agreements (MSAA, etc) between the Govt. and debtor and explain how they are actually areas that the Govt, if it's willing, could still capitalize for its advantage. For instance, pardon my unfamiliarity of law, but common sense tells me that if the agreement was conducted under some kind of 'intimidation' and tainted by briberies, it should be deemed invalid.

- tell a story about the real transactions, roles, and all the venal conducts of BPPN staffs and debtors.

Once again, welcome aboard my friend!

Best regards,

Linda Sari 

 

Maret 5, 2002. Maruli T. Jakarta 

What you talk and criticize for the development of democracy in Indonesia is absolutely true. But personally as I am from a minority ethnic group, I see that democracy has blocked our opportunity. The real challenge now is to work in both dimension, fairness and democracy.

 

Dear Maruli,

interesting point. We will have discussion on this topic. Stay tuned. Elwin

Maret 4, 2002. Juliana.  Jakarta 

Article kamu dalam "daily perspective" membahas ttg tabiat/karakter
pemimpin2 bangsa kita..., ya saya setuju dgn pandangan kamu itu .. kamu mewakili kaum intelektual bisa bertindak nyata krn selain competence and skillful kalian menguasai medannya... hal yg positif ini sgt didukung...!

Elwin, misi kamu (helping the poor & assisting the uneducated people..) itu alangkah lebih baiknya di sosialisasikan di forum pemuda/i, bgm mengimplementasikan ..? perlu strategi khusus khan..?

regards, */ Juliana

 

Juliana,

benar perlu strategi khusus dan itu yang masih dalam proses pemikiran. Karena kemajemukan bangsa Indonesia, setiap usaha yang baik bisa diinterpretasikan lain apakah itu karena latar belakang ras dan suku yang membawakan misi baik tersebut atau karena pengalaman lampau terhadap kampanye yang sama (oleh orang yang berbeda) yang ternyata isinya hanya palsu dan bohong atau hanya untuk kemakmuran si pembawa kampanye.

Elwin.

 

Maret 4, 2002. Alaiki Ch.  Jakarta 

Menurut pemahaman saya tulisan anda tentang generasi muda jarang yang sukses tanpa ada tanpa katabelece & cantelan. saya menyetujui hal itu. Karena saya pernah mendengar seseorang mengatakan “kalo kamu disuruh memilih pegawai, mana yang kamu pilih antara yang sudah kamu kenal atau yang belum kamu kenal sama sekali?” Pertanyaan itu saya balik kepada beliau dan jawabannya seperti yang saya duga “yang sudah saya kenal”.

Menurut pendapat saya hal itu benar juga karena bagaimana kita bisa mempercayai seseorang kalau kita belum mengenalnya sama sekali. Akan tetapi pengenalan memerlukan proses. Jadi mengenal bukan berarti saya harus melalui orang lain yang sudah saya kenal sebelumnya, tetapi saya sendiri yang harus mengenal orang tersebut lebih dekat dan memahami seperti apa orang itu sebenarnya. saya juga tidak akan mau menerima pegawai kalau saya tidak mengenalnya. Jadi pendapat seperti itulah yang menimbulkan adanya nepotisme dan sebagainya di negara kita ini.

Ada asumsi bahwa seorang sarjana dengan IP yang bagus bakal mudah mendapatkan pekerjaan. bukan sarjana dengan IP yang bagus akan mudah untuk berdiri sendiri. padahal dia punya SDM yang bagus. Dan dengan otaknya yang cemerlang sanggup menemukan ide untuk membuat dirinya sukses dengan tangannya sendiri dan bukan bergantung pada orang. lain. Justru sarjana dengan IP sedang lebih getol berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri. Saya pernah bekerja di suatu kantor notaris di Jakarta dan IP saya yang sedang saja malah membuat saya bisa bekerja lebih dulu dibanding teman saya yang IP-nya jauh diatas saya. Hanya saja saya menginginkan saya bisa berdiri sendiri karena atasan saya selalu mengatakan bahwa yang IP lebih tinggi itu lebih pintar dibanding saya yang pas-pasan. padahal menurut pandangan beberapa orang kerja saya lebih bagus dibanding yang lain itu.  Ini hanya contoh kecil yang mengakibatkan satu sama lain tidak mau bekerjasama membangun bangsa ini.

Selain itu generasi muda bangsa ini sudah banyak yg kehilangan kebanggan dengan bangsanya. rasa nasionalisme generasi muda kita sudah hampir habis. Apalagi yang orang tuanya kaya dan bisa mengirimnya ke luar negeri untuk sekolah. Semua akan mereka bandingkan dengan apa yang mereka lihat diluar negeri sana tanpa mempertimbangkan bahwa negara kita ini punya sifat yang beraneka ragam. mendengar bahwa negara kita ini menjadi miskin mereka malah takut pulang ke indonesia dan memilih bekerja di luar negeri yang gajinya lebih bagus katanya. Padahal kewajiban mereka adalah membangun bangsa ini supaya bisa menjadi lebih baik. Yang tepikir oleh mereka hanyalah materi saja. Nah bagaimana menumbuhkan kesadaran generasi penerus bangsa ini agar bisa mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi.

Saya merasa bahwa bangsa kita ini selalu diremehkan oleh masayarakat dunia. khususnya negara-negara yang merasa dirinya sudah maju jauh di atas kita. saya pernah berbincang dengan seorang warga belanda yang mengaku sudah 6 tahun di Indonesia dan dia mengatakan bahwa tidak bisa berbahasa Indonesia. Kemudian saya pernah juga menemukan warga Australia yg lahir di Amerika dan sudah 11 tahun di Indonesia, tidak bisa berbahasa Indonesia. Bukankah ini penghinaan setiap orang Indonesia yang mau berangkat ke luar negeri untuk belajar ataupun bekerja di negara mereka harus menguasai bahasa mereka dengan dibatasi scorenya. Mengapa masyarakat dunia yang tinggal di Indonesia tidak mau belajar berkomunikasi dengan bahasa kita? Ternyata hal ini mengakibatkan generasi muda kita belajar bahasa asing beserta kebiasaannya sekalian. hal ini akan merusak budaya kita. Dan pasti rasa nasionalismenya pun akan luntur.

Tentang kebersamaan dan kekeluargaan memang sudah tinggal sedikit. Kalau ditanyakan apa sebenarnya yang bisa kita perangi untuk menumbuhkan persatuan? Andaikan masyarakat kita sadar yang harus kita perangi adalah hilangnya nasionalisme generasi kita serta kriminalitas yang meningkat setiap menit. Kebersamaan baru timbul kalau ada pencuri atau perampok yang tertangkap. Maka masyarakat spontan akan menghakimi. Ini kebersamaan yang tempatnya tidak tepat.

Nah bagaimana menimbulkan spontanitas seperti itu untuk hal yang berguna? Saya juga tidak tahu.  Sekarang semua serba money oriented.

Alaiki,

Hal-hal yang disampaikan sangat bagus terutama bagian terakhir dimana kerjasama spontan yang berkembang saat ini di Indonesia masih terfokus pada hal-hal yang tidak konstruktif bahkan yang merusak. Saya melihat sendiri bagaimana "perang" antar kampung/RT/RW dapat meledak seketika. Anak-anak muda dalam sekejab dapat kerjasama untuk memerangi kelompok lain. Apakah mereka dapat kerjasama untuk membersihkan parit dan got sehingga tidak banjir kalau hujan, misalnya? Atau hal-hal praktis lain yang lebih berguna? 

Ini barangkali menjadi diskusi menarik dan kepada pembaca silahkan berikan pendapatnya.

Elwin

 

Feb 28, 2002. Eva Gloria S. Hutabarat, Bogor, Indonesia

Elwin,
Sekarang ini IPB sudah kepudaran pamor, orang berpikir pertanian, tidak menjanjikan uang yang cepat dan banyak, padahal sebenarnya karena sistem pendidikan kita yang salah arah, dan juga gerak pembangunannya, buktinya kita masih mengimpor beras, makanan utama. Setelah aku tinggal di Bogor, aku melihat IPB itu menara gading, tidak membaur dengan kota Bogor yang semakin rusak alamnya.

Saat ini juga orang berlomba mencari beasiswa ke luar negeri, memang banyak yang bisa sekolah atau lulus test. Setelah pulang menjadi lebih bergengsi, dan untuk mempertahankan gengsi inilah terjadi korupsi. 

Sekarang ini korupsi sudah merajalela, atau suatu penyakit yang biasa, atau mungkin sudah menjadi budaya, budaya hukum rimba, yang kuat memakan yang kecil. Dengan kehidupan kemiskinan Indonesia yang melaju pesat, dana JPS (Jaringan Pengaman Social) semakin banyak disediakan, subsidi -subsidi semakin banyak. Hanya sekarang pertanggung jawabannya itu tidak jelas. 

Eva

 

Eva,

Sama seperti kebanyakan universitas lain, IPB juga tidak lepas dari masalah kehilangan arah. Banyak kendala mulai dari dana, sumberdaya manusia dan komitmen. Research-based universitas yang dari awal tahun 80-an dikumandangkan sampai sekarang belum jelas juga, karena untuk mewujudkan itu perlu infrastruktur dan komitmen kuat. Saya sendiri tidak tahu bakal kemana dunia pendidikan tinggi Indonesia akan dibawa. Link-nya dengan industri juga masih jauh, sementar kebanyakan proyek penelitian tidak lepas dari praktek korupsi.

Soal penerima beasiswa, observasi yang kamu kemukakan sangat menarik dan kiranya menjadi renungan buat orang-orang yang sekolah atas biaya pemerintah.

Korupsi memang saat ini sudah seakan menjadi darah daging orang Indonesia. Proyek kemiskinan saja di korupsi. Ada yang mengatakan hal ini tidak akan bisa diberantas. Tapi saya kira dia salah, korusi bisa diberantas. Kuncinya adalah kalau kedua hal berikut: pencegahan dan 'penyembuhan' dilakukan secara konsisten. Pencegahan termasuk dengan peningkatan kualitas pendidikan, baik formal dan informal, dan perbaikan perangkat-perangkat hukum. Penyembuhan termasuk dalam penerapan dan penegakan hukum yang jelas. Tanpa adanya law enforcement, para koruptor-koruptor besar akan tetap bebas dan yang kecil-kecil akan tetap beroperasi terus karena melihat koruptor-koruptor besar bebas berkeliaran seperti layaknya orang suci.

 

Feb 26, 2002. Vish Rao, India (Vish is a journalist for an US magazine based in India

First visit to Jakarta and the memories.

I came with an assignment to interview a textile exporter that took an hour and the balance 3 days was spent in Jakarta. Pleasant was the memories and I will be back again in May- Do I say Insha Allah! Yes I would.

You have built a nice infrastructure namely roads, bypasses but I recalled my cities like Bangalore, Bombay, which is catching up to provide such facilities. Well the water logged roads on the Air port road while reaching the town from the Airport, was an eye sore. I wondered if the road contractors have done a perfect job or failed to take care the quality of work or corruption played any role for an honest execution of the job. Just like here.

Well the taxi driver was nice but gave me shock when he abruptly, sharply pulled the car to the left, ran out and pulled his trouser zippers and started pissing! I could not understand what exactly he told me but probably, " Sorry Sir. It was an emergency landing! I laughed and let me tell you friends this is the truth of us- the humans and nature is nature and a nature call should be answered quickly or otherwise could have wet the car seats which was worse than not stopping and attending the nature call.

I reached hotel Alpine with whom I had made reservation through their practical-simple nice web-site. Also 'a good value for the money' concept hotel, I was surprised to get additional discount when they came to know that I was a journalist. That was too good of them. Less spoken English but well received and made me feel good by very nice smiling staff and I would recommend this hotel to those who do not seek 5 star tags. The room was big than I expected with effective air conditioning, free mineral water and all that and yet I only paid 1.5 million rupees for 4nights including breakfast and dinners! I cannot get this in my country (India) at all and it would have cost me at least 4 times.

 

Vish,

Thanks for sharing your story and we look forward to receiving your opinion of the recent development in Indonesia. Elwin

 

Feb 26, 2002: Almizan, Jakarta

Bung Elwin,

Trims atas undangannya. Saya sudah melihat-lihat sedikit homepage Anda dan kelihatannya kita memiliki platform perjuangan yang relatif sama. Sebagai kontribusi awal saya untuk the Prospect dibawah ini saya copykan ringkasan terjemahan e-discussion Building Coalition Anticorruption in Africa yang diselenggarakan oleh Development Forum Bank Dunia. Saya kira ringkasan diskusi ini dapat bermanfaat bagi para aktivis antikorupsi di Indonesia sebab walaupun targetnya adalah Africa tetapi kasus yang diangkat mencakup Amerika Latin, Eropa, dan Asia termasuk Korsel, Phillipina dan Indonesia. Juga, elemen-elemen yang terkait dengan sebab-sebab, dampak, dan bagaimana cara mengendalikan korupsi bersifat universal. E-discussion yang ini berlangsung selama 6 (enam) minggu dan dengan demikian terdapat enam terjemahan weekly summary (untuk enam topik yang berbeda)plus satu ringkasan secara keseluruhan. Ringkasan minggu pertama dibawah ini dan ringkasan yang berikutnya segera menyusul jika Anda Acc.

Cheers,
Al

 

Bung Al,

Dengan senang hati kiriman artikel anda sudah di post di sini. Di tunggu ringkasan berikutnya. 

Regards, 

Elwin

 

Feb 25, 2002. Eva Gloria S. Hutabarat, Bogor, Indonesia

Elwin,

Kamu banyak melihat orang Indonesia yang miskin, dan memang begitulah. Aku hanya memprihatinkan kemiskinan hati nurani orang Indonesia. Semua diproyekkan. Mungkin kamu yang jauh dari Indonesia tidak merasakan kepedihan itu, aku sampai merasa pesimis, kemana bangsa ini mau dibawa? Sebagai contoh sekitar tahun 1998, ketika krisis moneter dimulai, aku mencoba ikut menjadi sukarelawan mengajar anak-anak penyemir sepatu, aku mengusulkan program mengajar cenderung untuk keterampilan mereka mengatur/memperoleh uang, kesehatan, lingkungan hidup dan tata tertib. Karena aku pikir tidak mungkin mereka bisa melanjutkan sekolah, paling tidak mereka bisa bertahan hidup, tetapi ternyata tidak terlalu ditanggapi, pengajaran yang diberikan cenderung untuk mendapatkan ijazah. Kemudian aku lihat ini hanya kerjaan sampingan saja dari, sebagai tanda peduli krisis moneter (banyak anak yang putus sekolah), ketika aku mengajar (sekitar 6 (enam) orang murid), ada orang lain yang mewawancarai salah satu anak, ya anak itu tidak konsentrasi, toh. Ini bagian dari eksploitasi (aku pikir), rasa keadilanku juga terganggu ketika hidangan makanan tidak diberikan kepada anak-anak itu, padahal tersedia di depan mereka. Akhirnya aku berhenti.

Salam 

Eva

 

Eva,

Pengalaman kamu sangat menarik dan berharga buat orang lain. Saya berharap dengan kerjasama yang baik kita dapat berbuat lebih banyak. Soal korupsi memang di Departemen Pertanian juga tidak sedikit. Saya hanya berharap semoga Mr. Bungaran Saragih, menteri sekarang yang secara personal saya tahu orang yang bersih dan idealis bisa menangani praktik-praktik manipulasi dan korupsi di departemennya. Rasanya susah memahami di negeri yang tanahnya subur, hutannya kaya dan lautnya juga kaya, para petani masih miskin sekali. Yang salah bukan mereka tetapi justru orang-orang berdasi yang selalu memanipulasi dan mengeksploitasi mereka. 

 

Feb 26, 2002: Henry Situmorang

Thanks again for responding faster than I thought. Anyway I have already check the website. It was very good and fascinating, but I just wonder if this website has value to everybody. For me, it is good to improve my knowledge about Indonesia by reading those articles, even though I really don't know why or how is happened. But for someone who really suffered because of those problems will blame the other. And on the other hand, someone who really got advantages from the situation will say nothing !!! as they do think it is not their problems and who really care about the suffered people. Just as "a circle" when you are on the top, you really are the boss and you can do everything you want but when you are on the bottom you will suffer but accept the situation and someday you hope you will be on the top again. (that is not include with the revenge and hate for what the top people did to you when you are on the bottom).


I'm sorry about my sinistic comment , because I really don't know what to do to help my country better, because I really don't know how and why and what and who and when and where ???...............


But anyway thanks for your time and I really appreciate what you have done and keep up for the best.


Love and Peace,
Henry Situmorang

 

Henry,

Imagine a world without heroes. It's a world of haters and snobs whose main goals in life are just to take chances whenever possible, eyeballing others, waiting patiently to ruin you and to be on top of you and of everybody else. It's a homo homini lupus world - world without salvation, without dreams. A world without hopes. A world is envisaged by Nietzche where talks about truth actually are merely power struggles.

But consider this. What if somebody can change that rule. What if we are not just cosmic accidents, and that we are not here just to take chances, but that we actually have special callings in this world. What if we actually can cut off that vicious cycle?
What if Truth we say do have power and can make impacts, no matter how long it'd take?

How we can start to actualize this kind of world?
In my opinion, first and foremost we must know our place in this world - to know our callings. Whatever it is, our job is to use this knowledge and talents we are blessed with to make impacts in our society, in our small world.

To make impacts is not merely to adapt with the situation, neither is this to just hope that things will get better naturally, nor to let 'nature takes its course'. These are people who choose to do nothing but just to go with the flow. There are actually more people who just waste their talents and potentials for the sake of insignificant ends or seek for life's banalities.

There are some stages of intellectual exercise, and criticizing is only the first step of many others to take before one actually can produce breakthrough solutions.
I believe that the world is already packed with too many people synthesizing world's problems. Most of the time those problems actually are already given.
But you are already able to grasp that there is something very wrong with our society, my friend.

But don't stop in here. Keep going.

I agree with the notion that our country is already at the rock-bottom, and there is no other direction to go than up. Together, I'm sure we can be drivers to make the changes that our country desperately needs.

We are all instruments, you and I.
The question is, can we make a beautiful music together?

Best Regards,
Linda

 

Feb 25, 2002. Rulli, Texas, US

WOOOOOWWWWW, that's my first comment, Win. Aku salut berat deh ama project kamu ini. Aku ngga ngeliat website ini kayak personal homepage. It's really professional. Aduh, Win aku ngga nyangka......

Congrat Win..........continue your hard work.............

Tienne

 

Feb 19, 2002: Kilian Lumban Gaol, Jakarta

Mr. Elwin,

There is a good Global issue regarding :
Disaster or hazardous
This could be divided into two:
1. Natural Disaster or Hazardous
2. Man made Disaster or Hazardous

What do you think

Kilian

 

Mr. Lumban Gaol,


Thanks for the suggestion.
I absolutely agree with you that they are both important. Natural disasters such as earthquake and tornado are certainly unavoidable and not man made. But think about flood. Although to some extend we can agree that it is a natural disaster, we can actually have a better way of copying with and anticipating it. Of course it is not my qualification to write about how to better prepare our society and nation from future flood and how to fix the current problems. It will be great if we can work together, people who have different skills, educational background and experience and produce sort of recommendation. Whether the local and central governments will consider it, it is not a problem but at least we can share our ideas with the rest of the people in the country. The problem with this nation is, in most cases there is no powerful alternative solution or perspective to any event or idea. Everything is just rumors. The mass media write about rumor, people believe the rumor and the government is full of rumors. NGOs (Non Governmental Organizations) are also playing important role in developing the rumors. So, we have a nation which is developed by rumors.


That's why environmental issues are sometimes believed as rumors as well. The issue of the hazardous activities of Inti Rayon in Porsea is sometimes no better than rumor where in fact the truth is they destroy the environment.


Why there is no single organization that can present a strong case of environmental issues and distribute it freely or accessible in a plain language? How can I get more information about Inti Rayon, for example? In fact, there are millions of environmental problems in the country.
I hope your suggestion will motivate others to have interest in this important issue. And as a starting point, Mr. Gaol might need to give a motivating example for us.

Kindly regards,

Elwin


Feb 19, 2002: Tari Hartanti, Jakarta

Elwin, idenya sangat menarik. Soal Jakarta memang di mana-mana sekarang semrawut dan kacau. Pemandangannya sangat jauh berbedanya dari yang dulu. Pokoknya tinggal di Jakarta sangat sumpek.

Terima kasih Tari, saya tunggu tulisannya soal Jakarta.
Elwin



Feb 17, 2002: Lifi, Iowa City, US

Elwin,
I would have to agree with you. Reading the original article from Suratkabar.com gave me the impression that the author was somewhat biased and passive:


"Kita nantikan saja apa aji-aji Megawati menghadapi perekonomian Indonesia sampai dengan akhir masa jabatannya tiga tahun mendatang. Bisakah dia membawa kita ke masa cerah kembali, prosperity for all?"
That's the passive part. The bias part was that the author only emphasized on the "Not Sure" poll results than the other 2 categories, despite the fact that the "Sure" and "Very Sure" combined percentage was higher.


Back to the quotation above. If this kind of attitude (eg. taking polls on how the people think about the president) is encouraged to be nurtured, then it won't give much help and support the government needs to make Indonesia a better home. It will only destroy the president's self-esteem and confidence. Isn't the TRUST and continuous SUPPORT of the people the most important thing for the president to rule a nation and make it a better place? The same kind of attitude would destroy the entire nation, eventually. Moreover, Megawati was elected president by the people, didn't she? Doesn't that mean that majority of the people "trust" her to rule? Then why after only this little period of time people turn their backs against our president that we elected ourselves? Unless there were some issues n the election.


Also, regarding the quotation I pasted above, if majority of the people think, "oh, we'll wait and see what happens," instead of "what can we do to help make our nation a better home," then the answer to the question at the end of the quotation would be: NO. Moreover, why do the people NEED to be TAKEN back to their own "brighter tomorrow," as the author claimed?


Doesn't that kind of blaming the government for the chaos happening today in the nation? Is NOW really the time to blame each other? Or is it the time to stand tall, to help those around us and to encourage those who lost faith and gave up to fight to stand up as well?
Alternatively, the president can't be the only one to blame. The president is also a person. Mistakes are inevitable. It's not like she could wave a magic wand and voila! the entire nation comes back to the "prosperous" state like back in the early 80's. Come to think of it, it's extremely hard to change a person's bad habit, let alone a nation's. Furthermore, did "prosperity for all" really exist back in the 80's?

Best Regards,
*Lifi*

Lifi,
Thanks for your comments.  First of all, you did ask a critical question, did "prosperity for all" really exist back in the 80's? I am not sure what was in the journalist's mind when he/she wrote the report. But I suspect that the journalist does not really know what's going in the country. In fact, as reported widely and I just rephrased again here (How poor are WE), the percentage of poor people in Indonesian in 1980 was around 40%. So, prosperity for whom? This is a horrible statement from an Indonesian journalist. And in fact this kind of bad reports and performances by our mass media that motivate me to establish this small, non-profit and independent media (The Prospect). Through this media, we will discuss issues in a more civilized, balanced (not trying to blame or condemning any party) and progressive way. 


You are right in pointing that blaming each other will not solve the problem. Unfortunately, this is the practice that is widely happened in the country. People blame the government. Media blame the government. The government blames the House of Representatives, and the latter react by blaming back the government. So, who is right, who is wrong. Everybody's wrong. But they should not trying to find who is right and who is wrong. Instead they should focus what they can do and work hard to realize that. Soon I will post in this site my view on the statement of a top government official regarding our public debt. You will see how unfortunate we are having such official who preached us about bad situation (mostly by blaming others) the government is facing without giving any hints for what the government is going to do the debt.
That's why I challenge any Indonesian who hasn't done anything yet to do small thing for the benefits of the nation. Even a piece of argument and discussion will be helpful.


Elwin


Feb 17, 2002: Indra, Brazil

Thank's a lot about your information regarding Indonesian institution organisation.


I'm appreciated with you which is really take care about indonesian future, which is not like me....so bravo for all of you.
I'm really pessimist about Indonesian future, since you know corruption culture is every where like cancer, even more in government department and most of them are done by educated peoples (bachelor, master, phd, and professional)and most of them are even claim themselves to be religious


So, what I can say......? It's really complicated, mixture problem between culture, wrong interpretation of their religion especially for lateral communication, they only
concern for vertical communications.
So I really don't believe that education will solve this problem. I have lot of friends, they graduated from the best University in US, but when they back to Indonesia and hold a bureaucratic position, they becoming professional...but...in corruption field.


Terrible.
Indra

Indra, 
your observation and comments are really true. And I have some answers here (go to the very bottom of the page) as my response to a question from readers regarding the conducts and practices of the bureaucrat who studied abroad before.
About mixture problem between culture and wrong interpretation of religion, I can only say that to some extend we still develop less constructive culture such as uniformity (not harmony), laziness and etc. It will be very interesting if someone can come up with a short argument explaining this thing. 


Elwin

Feb 16, 2002: Jorge Menezes Aquino

This is really helpful chance for me to learn and explorer many information and subjects wolrdwide on how to develop my capacity building for this 21st century's born country although all are still in lower level development. I expecting that very soon I will be getting some benefits from this good relationship. Let me explain that I was in Indonesia before specifically in Bandung city for my undergraduate study at the university that was not stopped after reaching 8 semesters as the result of the last Sept.99 referendum where the most of East Timorese people voted for self determination of their own country and last riots which happened nationwide.
Then I fled back to East Timor till now living in East Timor. And very soon I am going back to university to complete the remaining semesters. But this is rather likely a challenge for me of unsufficient fund to cover the tuition fees and living cost during my stay there. Therefore I going to look for some sponsors to finance the university fees. Please let me know if you have some resouces of donors to help me it will be highly appreciated.

 

Jorge, 
we will inform you once we have information about scholarship. However, please stay tune since we are in the business of providing funds for unfortunate students.


Feb 12, 2002: Binu, Jawa Tengah, Indonesia


Saya baca-baca situs Anda. Salut u/ orang muda seperti Anda. Sekaligus malu pd diri sendiri yg tidak benar-benar ingin bergumul dengan hal seberat itu walaupun kadang prihatin juga. Saya tidak tahu mau komentar apa. Sikap apatis umumnya anak bangsa ini kali ya? Tapi teruskan saja



Feb 12, 2002: Putri, US

I went to check out your homepage and was impressed! That was quiet a work and mission that you have placed on your shoulders to carry through. Best wishes to you!



Komentar untuk artikel CENEP, Bak Pao dan Bak Mie
Feb 12, 2002: Rio Augusto, Indonesia


Saya sangat setuju dengan pendapat Anda. Apa yg Anda katakan benar belaka adanya, karena sampai saat ini masih saja semua yang berbau "pesan Bapak" dan birokrasi ala "Bapak Senang" berlangsung. Setiap hari kita temui praktek-2 yang bermuara pada pola di atas. Situasi ekonomi negara makin buruk, sementara para pemimpin sangat lamban bergerak dan justru tidak menunjukkan good will sama sekali untuk mengubah keadaan. Sangat terkesan bahwa mereka ingin mengangkangi jabatan-2 yang ada karena sangat menguntungkan untuk kocek pribadi mereka, sementara itu mereka amat sangat mempersetankan kesulitan-2 yang nyata-2 dihadapi rakyat. Semua saling menyalahkan satu-sama-lain dan tidak berani secara sportif mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat dan menyebabkan kebobrokan terjadi di Indonesia. Regards, Rio


Feb 11: Jana Terra, DKI, Indonesia


I have visit your site, that's good for a real reformation of movements in Indonesia, I like that!


Feb 11, 2002: Syrianus Poto Sola, Taiwan
I have read a little bit of your website. After viewing it, there was a question "What is your real mission?" I am from East Indoensia namely Flores island. I now am living in Taiwan for mandarin study. Being away from my home, that is Flores, it makes me long to find them again and this longing is not not just to share my life and stuggle here but I want to see them and try to understand how long they have been walking away. During 22 years I was educated in Indoensia, that is in Flores island. I graduated from Philosophy and theology and It took almost 8 years. To be here, in Taiwan I think it is a pleasure but sometimes too it is not easy to say ok.
My body is here but my mind and heart is not here. I sleep and work, there is coming out thet REALITY i my island. The root problem there are 1. EDUCATION. Many poeple are not just less education but UNEDUCATED. To many of them could read and understand even Indonesian langguage. So my concern is How to empower them especailly the youg generation. No way we can help them if we don't take education as the best way and the wisdom. I still remember the word of Fancis Bacon, KNOWLEDGE IS POWER. 2. BASIS COMMUNITY. Basis community here is the small group. They must be guided by Non Goverment Organisation. They are to know well what they really need, what's problem they have and how to solve it by themselves. Two points above, I am sure can help people to help themselves. 
Education and basis community is not really new idea. They are there. But how to do it effektive and to be their good examples is the problem. To my point, we can build up dormitory or boarding house for the elementary school and senior high school. We try to educate them, to discipline them from the beginning of education proces. And basis community, there are some NGO. We try to give them new idea, spirit and new way how to reach the future. My friend, these are my concerns. So again I ask you, What is your real mission?


Thanks Syrianus. I will answer you shortly. E.T. (still working on this since I need to elaborate my answer more clearly. STAY TUNE...this will be part of my explanation that needs to be addressed seriously. Thanks).

 

page  4  2  1

Back to top

Last updated 2/26/02

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved.