|
11/22/02
Perkenalkan saya ikut bergabung. Saya pengajar di
Universitas Indonesia, Jakarta dan kebetulan membantu
pada konsultan asing yang kadang kala harus
berhubungan dengan birokrasi pada suatu departemen.
Lingkungan hidup saya sarat dengan kehidupan politik
dan pernah bergaul dengan lingkungan "militer”. Kadang
kala saya jenuh juga dengan kondisi "yang kurang sehat".
Dengan bertambahnya usia dan coba melihat kembali
masa-masa kecil di kampung yang asri dengan
nyanyian-nyanyian dan suara-suara pengajian di surau/masjid,
rasanya ada kedamaian tersendiri.
Turun ke desa
Pada saat ini saya memutuskan untuk turun ke desa,
bukit dan gunung-gunung di sekitar Jakarta. Pada
mulanya sekedar meyalurkan apa yang sedikit saya punya.
Banyak hal yang kita bisa perbuat untuk Indonesia dan
saya tertarik menjawab mengenai sharing knowledge.
Saya dengan beberapa teman “seperjuangan” dan dibantu
mahasiswa (secara pribadi/tidak terikat pada institusi)
secara rutin datang untuk ngobrol-ngolrol dengan
penduduk setempat, memberikan bantuan pengobatan murah,
sunatan masal, memberikan buku-buku, mengaji bersama,
membantu pengairan, mencoba menghidupkan kembali
permainan anak-anak desa dan membatu polisi hutan
untuk melestarikan lingkungan. Dengan tulisan
sederhana kami berikan pengetahuan tentang sampah,
kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya.
Bila kita bisa
mengekspose pada dunia tentang kehidupan desa yang
asri - dimana anak-anak bermain ceria dengan dolanan
desa dan berkembangnya semangat kerjabakti dan gotong
royong - mungkin ini salah satu kepedulian kita pada
Indonesia. Dengan cara tersebut, dunia dapat membaca
dan melihat bahwa Indonesia memang negara yang punya
moral, punya toleransi beragama, selalu bergandeng
tangan antar suku dan merupakan Indonesia yang ramah
dan terhormat.
Sedikit yang disumbangkan, baik secara moral dan
material, sangat besar manfaatnya untuk generasi yang
akan datang. Kita memang hidup enak di kota, tetapi "perut
yang lapar" di desa bisa menjadi pemicu
kegiatan-kegiatan yang tidak kita inginkan. Saya bisa
merasakan kebahagiaan dan menghilangkan kejenuhan
terhadap keganjilan-keganjilan yang selalu kita lihat
dan rasakan. Apa yang sekarang kami kerjakan mungkin
baru sedikit dan kalau banyak tangan-tangan yang
bergandengan dengan kami, akan bisa menjangkau
desa-desa lainnya. Saya undang teman-teman untuk
sharing knowlege untuk saudara-saudara di desa,
utamanya dengan kasih sayang, kepedulian dan secara
konkrit dengan datang atau bantuan, bisa berupa
buku-buku dan sarana pendidikan atau kesehatan.
Gerobak pintar
Betul bahwa masalah minat baca bagi anak-anak dan
peserta didik masih
belum bagus.
Keberadaan perpustakaan baik di kota apalagi di desa
sangat memprihatinkan. Juga harga buku yang masih
belum terjangkau sementara uluran tangan pihak
individu, swasta serta pengelola perpustakaan itu
sendiri yang kurang menarik, merupakan hambatan. Saya
hanya ingin mengomentari apa yang kami lihat dan
berdasarkan pengalaman, agar mendapat gambaran
kenyataan pengadaan dan minat baca di kampung-kampung
(kota maupun desa).
Suatu cara yang
sangat sederhana kami lakukan adalah menghimpun
buku-buku yang masih layak baca dari dermawan. Namun
kadangkala sulit didapat tergantung cara marketing
kita. Suatu cara juga pernah saya lakukan dengan
melayangkan surat kepada para penerbit untuk
mendapatkan buku-buku lama yang tidak laku. Kami
membuat apa yang disebut "gerobak pintar" dan dengan
bantuan mahasiswa sastra mereka membuat label dan
menyusun buku-buku dalam gerobak tersebut. Kami
berikan gerobak pada kelompok-kelompok remaja RW atau
kelurahan dengan terlebih dahulu terjun langsung
mengelola perpustakaan "gerobak pintar" untuk beberapa
hari dan setelah pengurus mengerti, baru kita
tinggalkan. Masih baru berjalan beberapa saat sehingga
kami masih belum dapat mengevaluasi secara menyeluruh.
Namun itu salah satu contoh yang sangat sederhana.
Juga sekali waktu
saya membacakan salah satu buku pada kumpulan
anak-anak sambil main semacam "cerdas cermat" dari isi
buku tersebut. Kadang kala saya juga membantu dengan
membuat permainan di sekolah anak saya (SD) dengan
mengarahkan mereka untuk mau masuk ke perpustakaan.
Rasanya peran aktif orang tua membantu guru juga masih
sangat diperlukan, mengingat kurikulum dan cara
belajar di Indonesia (umumnya) tidak menghantar anak
didik untuk berani mengemukakan pendapat kreatif
apalagi untuk eksplore sendiri dari buku-buku di
perpustakaan yang biasanya tidak menarik dari jenis
dan tata letak ruangnya. Untuk lebih menarik minat "bermain
dengan buku" biasanya saya membawa buku atau majalah
anak-anak "ekstra" atau kue untuk hadiah.
"Small but invaluable"
Saya setuju bahwa tidak sedikit manusia Indonesia
mempunyai kompetensi dan keahlian pada bidang
masing-masing. Sumbangan pemikiran melalui diskusi
juga bisa membuka wawasan kita. Konsep dan program
yang terencana untuk jangka panjang dalam pembentukan
kebersamaan juga baik misalnya untuk sharing
knowledge (yang mungkin kita belum sepakat
pengertiannya). Tulisan, konsep dan pemikiran mungkin
baik untuk yang secara geografis jauh dari Indonesia.
Secara konkrit, tentu perlu dikembalikan kepada
kebutuhan masyarakat Indonesia yang paling utama.
Mungkin apa yang telah saya dan teman-teman kerjakan
belum seberapa, karena kami memang tidak ekspose dan
tidak kerjasama dengan organisasi yang sudah ada (mungkin
baru kali ini kami ekspose). Kami hanya
pribadi-pribadi yang punya peduli sedikit. Teman-teman
yang tergabung adalah dokter, psikolog, pencinta alam,
pramuka (beneran) yang juga sibuk dengan kegiatan
sehari-hari. Kami datang di akhir pekan bersama
keluarga masing-masing, sehingga juga secara tidak
langsung menanamkan pendidikan bagi keluarga kita. Salah
satu bentuk bantuan kami adalah mendapatkan data
murid-murid kurang mampu yang berprestasi dan data
tersebut kami kirim ke Yanbri (organisasi yang
dihimpun oleh teman-teman Indonesia yang sedang studi
di Bremen?) untuk mendapat beasiswa.
Selanjutnya kami serahkan pada penyandang dana untuk
ditinjau langsung dan konfirmasi dengan aparat desa,
sekolah, pemuka agama. Kami tidak punya pundi khusus,
hanya patungan antar teman dan selajutnya dana yang
terkumpul kami salurkan. Jika memerlukan bantuan
khusus, misalnya mengenai lingkungan hidup, kami
mencari teman yang ahli dan sembari mempelajarinya,
baru bersama-sama berdiskusi dengan penduduk setempat.
Kalau satu desa sudah selesai dipetakan, kemudian
berpindah desa lainnya dan seterusnya.
Mungkin kegiatan-kegiatan di atas sudah memberikan
arti, walau sedikit, bagi Indonesia.
Your
comment
Back
to top
|