home

about us

mission

contact us

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are study, democracy and unity.
 

 

MAIN ISSUES
 

Democracy

 

Economy

 

Labor/Unemployment

 

Education

 

Development

 

Global Issues

 

Research

 

Contact Us:

 
 

TALKING POINT

archives

Kenaikan Harga-harga demi Pertumbuhan Ekonomi?

Divestasi dan Privatisasi

Small but invaluable"

"Sharing Knowledge"

 


A small rock holds back a great wave. Homer (~700 BC), The Odyssey

The third week of November 2002's discussion at TII's forum:

"Sharing Knowledge" (1)
Small but invaluable

Titi Djarot

 

11/22/02

Perkenalkan saya ikut bergabung.  Saya pengajar di Universitas Indonesia, Jakarta dan kebetulan membantu pada konsultan asing yang kadang kala harus berhubungan dengan birokrasi pada suatu departemen. Lingkungan hidup saya sarat dengan kehidupan politik dan pernah bergaul dengan lingkungan "militer”.  Kadang kala saya jenuh juga dengan kondisi "yang kurang sehat".  Dengan bertambahnya usia dan coba melihat kembali masa-masa kecil di kampung yang asri dengan nyanyian-nyanyian dan suara-suara pengajian di surau/masjid, rasanya ada kedamaian tersendiri.

Turun ke desa

Pada saat ini saya memutuskan untuk turun ke desa, bukit dan gunung-gunung di sekitar Jakarta.  Pada mulanya sekedar meyalurkan apa yang sedikit saya punya. Banyak hal yang kita bisa perbuat untuk Indonesia dan saya tertarik menjawab mengenai sharing knowledge.

Saya dengan beberapa teman “seperjuangan” dan dibantu mahasiswa (secara pribadi/tidak terikat pada institusi) secara rutin datang untuk ngobrol-ngolrol dengan penduduk setempat, memberikan bantuan pengobatan murah, sunatan masal, memberikan buku-buku, mengaji bersama, membantu pengairan, mencoba menghidupkan kembali permainan anak-anak desa dan membatu polisi hutan untuk melestarikan lingkungan. Dengan tulisan sederhana kami berikan pengetahuan tentang sampah, kesehatan, lingkungan hidup dan sebagainya.

Bila kita bisa mengekspose pada dunia tentang kehidupan desa yang asri - dimana anak-anak bermain ceria dengan dolanan desa dan berkembangnya semangat kerjabakti dan gotong royong - mungkin ini salah satu kepedulian kita pada Indonesia.  Dengan cara tersebut, dunia dapat membaca dan melihat bahwa Indonesia memang negara yang punya moral, punya toleransi beragama, selalu bergandeng tangan antar suku dan merupakan Indonesia yang ramah dan terhormat.

Sedikit yang disumbangkan, baik secara moral dan material, sangat besar manfaatnya untuk generasi yang akan datang.  Kita memang hidup enak di kota, tetapi "perut yang lapar" di desa bisa menjadi pemicu kegiatan-kegiatan yang tidak kita inginkan.  Saya bisa merasakan kebahagiaan dan menghilangkan kejenuhan terhadap keganjilan-keganjilan yang selalu kita lihat dan rasakan.  Apa yang sekarang kami kerjakan mungkin baru sedikit dan kalau banyak tangan-tangan yang bergandengan dengan kami, akan bisa menjangkau desa-desa lainnya.  Saya undang teman-teman untuk sharing knowlege untuk saudara-saudara di desa, utamanya dengan kasih sayang, kepedulian dan secara konkrit dengan datang atau bantuan, bisa berupa buku-buku dan sarana pendidikan atau kesehatan.

Gerobak pintar

Betul bahwa masalah minat baca bagi anak-anak dan peserta didik masih
belum bagus. Keberadaan perpustakaan baik di kota apalagi di desa sangat memprihatinkan.  Juga harga buku yang masih belum terjangkau sementara uluran tangan pihak individu, swasta serta pengelola perpustakaan itu sendiri yang kurang menarik, merupakan hambatan.  Saya hanya ingin mengomentari apa yang kami lihat dan berdasarkan pengalaman, agar mendapat gambaran kenyataan pengadaan dan minat baca di kampung-kampung (kota maupun desa).

Suatu cara yang sangat sederhana kami lakukan adalah menghimpun buku-buku yang masih layak baca dari dermawan. Namun kadangkala sulit didapat tergantung cara marketing kita. Suatu cara juga pernah saya lakukan dengan melayangkan surat kepada para penerbit untuk mendapatkan buku-buku lama yang tidak laku. Kami membuat apa yang disebut "gerobak pintar" dan dengan bantuan mahasiswa sastra mereka membuat label dan menyusun buku-buku dalam gerobak tersebut. Kami berikan gerobak pada kelompok-kelompok remaja RW atau kelurahan dengan terlebih dahulu terjun langsung mengelola perpustakaan "gerobak pintar" untuk beberapa hari dan setelah pengurus mengerti, baru kita tinggalkan. Masih baru berjalan beberapa saat sehingga kami masih belum dapat mengevaluasi secara menyeluruh. Namun itu salah satu contoh yang sangat sederhana.

Juga sekali waktu saya membacakan salah satu buku pada kumpulan anak-anak sambil main semacam "cerdas cermat" dari isi buku tersebut. Kadang kala saya juga membantu dengan membuat permainan di sekolah anak saya (SD) dengan mengarahkan mereka untuk mau masuk ke perpustakaan. Rasanya peran aktif orang tua membantu guru juga masih sangat diperlukan, mengingat kurikulum dan cara belajar di Indonesia (umumnya) tidak menghantar anak didik untuk berani mengemukakan pendapat kreatif apalagi untuk eksplore sendiri dari buku-buku di perpustakaan yang biasanya tidak menarik dari jenis dan tata letak ruangnya.  Untuk lebih menarik minat "bermain dengan buku" biasanya saya membawa buku atau majalah anak-anak "ekstra" atau kue untuk hadiah.

"Small but invaluable"

Saya setuju bahwa tidak sedikit manusia Indonesia mempunyai kompetensi dan keahlian pada bidang masing-masing.   Sumbangan pemikiran melalui diskusi juga bisa membuka wawasan kita.   Konsep dan program yang terencana untuk jangka panjang dalam pembentukan kebersamaan juga baik misalnya untuk sharing knowledge (yang mungkin kita belum sepakat pengertiannya).  Tulisan, konsep dan pemikiran mungkin baik untuk yang secara geografis jauh dari Indonesia.  Secara konkrit, tentu perlu dikembalikan kepada kebutuhan masyarakat Indonesia yang paling utama.

Mungkin apa yang telah saya dan teman-teman kerjakan belum seberapa, karena kami memang tidak ekspose dan tidak kerjasama dengan organisasi yang sudah ada (mungkin baru kali ini kami ekspose).  Kami hanya pribadi-pribadi yang punya peduli sedikit. Teman-teman yang tergabung adalah dokter, psikolog, pencinta alam, pramuka (beneran) yang juga sibuk dengan kegiatan sehari-hari.  Kami datang di akhir pekan bersama keluarga masing-masing, sehingga juga secara tidak langsung menanamkan pendidikan bagi keluarga kita.  Salah satu bentuk bantuan kami adalah mendapatkan data murid-murid kurang mampu yang berprestasi dan data tersebut kami kirim ke Yanbri (organisasi yang dihimpun oleh teman-teman Indonesia yang sedang studi di Bremen?) untuk mendapat beasiswa.  

Selanjutnya kami serahkan pada penyandang dana untuk ditinjau langsung dan konfirmasi dengan aparat desa, sekolah, pemuka agama.  Kami tidak punya pundi khusus, hanya patungan antar teman dan selajutnya dana yang terkumpul kami salurkan.  Jika memerlukan bantuan khusus, misalnya mengenai lingkungan hidup, kami mencari teman yang ahli dan sembari mempelajarinya, baru bersama-sama berdiskusi dengan penduduk setempat.  Kalau satu desa sudah selesai dipetakan, kemudian berpindah desa lainnya dan seterusnya.

Mungkin kegiatan-kegiatan di atas sudah memberikan arti, walau sedikit, bagi Indonesia.

 

 Your comment

Back to top

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved. Do not reprint without express written permission