|
10/01/2002:
Persoalan
tuding menuding dan lempar tanggung jawab rasanya
sudah menjadi fenomena biasa yang kita dengar dan
lihat di Indonesia. Hal ini membuat saya teringat
dengan salah satu kelas favorit saya, antropologi, di
semester pertama yang lalu. Saat itu, dosen kami
memampang besar-besar gambar seorang koki dengan aneka
tikus besar dan kecil bergelantungan di dapurnya.
Kontan saja semua yang ada di kelas terhenyak dan
bergidik karenanya. Pada saat itu kami semua tidak
mengerti kemana arah pelajaran ini. Menarik sekali,
karena dengan gambar itu, kini rasanya cara pandang
saya terhadap dunia jadi berubah. Sebegitu dalamnya
kah arti gambar itu?
Ya. Ini adalah insight (gambaran)
yang saya rasa perlu ditelaah bersama. Selama ini kita
tidak menyadari bahwa nilai-nilai yang kita anut kita
anggap yang “terbaik.” Sayangnya, kecenderungan “the
best” itu biasanya selalu disertai dengan perbandingan
yang “lebih jelek”, yang belum tentu benar. Disini,
saya ingin menggaris bawahi perbedaan pembenaran
dengan kebenaran yang sepertinya sekarang ini batasnya
sudah semakin mengabur. Buktinya saja, kenapa kita
tiba-tiba merasa jijik melihat orang makan tikus?
Karena kita telah terpengaruh dgn
pembenaran-pembenaran kita sendiri tanpa melihat lebih
jauh “kenapa” seseorang makan tikus. Karena selama ini
kita hidup selalu makan ayam bukan berarti makan tikus
menjadi lebih jelek, bukan? Dalam ilmu axiology juga
telah diakui bahwa pembenaran seperti ini tak lepas
dari nilai dan bias yang tertanam dalam diri seseorang
yang sangat mempengaruhi pola pikirnya.
Pembenaran-pembenaran yang sifatnya sangat subjektif
itu jugalah yang sepertinya sekarang sedang memenuhi
dunia perpolitikan nasional (fill up our political
air), sehingga bangsa kita menjadi terengah-engah
menghirup paksa pembenaran tersebut. Untungnya,
apabila seseorang telah sampai kepada tahap dimana dia
mampu menyadari value-laden ini, biasanya ia
akan lebih mampu melihat dari sudut pandang yang
berbeda. Saya rasa, inilah sangat perlu menjadi bagian
dari budaya bangsa – belajar melihat dari sudut
pandang yang berbeda dan menghargai perbedaan tersebut.
Belajar mengaktifkan alam sadar (conscious mind)
kita sebelum bertindak lebih jauh.
Persoalan negara ini memang sangat kompleks dan tidak
sedangkal masalah memakan tikus tadi. Akan tetapi,
analogi yang dapat kita ambil adalah: apabila kita mau
melihat dari sudut pandang yang berbeda, kita akan
jauh lebih kaya dan lebih bijaksana dalam menilai
sesuatu. Kita dapat memulai dengan mempertanyakan
kenapa seseorang melakukan apa yang dia lakukan, atau
menyatakan apa yang dia nyatakan, lalu berusaha
memposisikan diri kita seandainya kita berada dalam
posisi yang serupa. Akankah kita berlaku sama, atau
tidak berlaku sama?
Sekarang, mari tanya kembali diri masing-masing
tentang pembenaran yang kita buat dan bandingkan
dengan pembenaran pihak lain. Kemudian teliti lebih
dalam sampai pada tahap dimana kita menemukan jawaban
atas daftar “kenapa” yang kita buat, baru bertindak.
Akal yang kuat lahir dari alasan yang kuat. Powerful
minds come out from powerful reasoning.
Bersikaplah lebih netral, sebab self neutrality
prophecy seperti ini dapat membentuk watak yang
matang, dan watak yang matang adalah salah satu
ciri-ciri pemimpin bangsa yang sangat dibutuhkan
negara kita Indonesia. Kita masih harus banyak belajar
untuk menjadi pemimpin yang bijaksana, setidaknya bagi
diri kita sendiri.
New York, 1 Oktober
2002.
Your
comment
Perspective:
American Intelligent, Imagination and Our Future
Internet
and Knowledge Advancement
Information is not power
Back to
top
|