|
Bila
ada angket yang menanyakan tentang keadaan nasional
sekarang, mayoritas responden mungkin menjawab,” tidak
bagus”. Bila ditanya tentang masa depan Indonesia,
kebanyakan mungkin akan tidak optimis. Dan bila pertanyaan
lebih spesifik ke arah tujuan yang Indonesia akan capai,
mungkin mayoritas kesulitan menjawabnya.
Persoalan
terbesar Indonesia saat ini bukan masalah mentalitas dan
moralitas pejabat, pemimpin politik, anggota DPR,
pengusaha dan masyarakat. Juga bukan menyangkut korupsi
atau buruknya masalah hukum. Persoalan terbesar sekarang
lebih mendasar daripada hal-hal disebutkan di atas, yang
semuanya cenderung merupakan derivasi (turunan) daripada
satu hal yang sangat fundamental, yakni: arah dan masa
depan bangsa ini sendiri. Where do we really want to
go?
Mau
kemanakah sebenarnya bangsa ini mau berjalan?
Where?
Apakah agenda bangsa ini 5, 10 dan 20 tahun dari sekarang?
Lebih
setengah abad merdeka, Indonesia ternyata masih berada
pada tahapan where, belum pada tahapan how to
get there dan when we will get there. Situasi
ini seolah mundur kembali ke jaman sebelum kemerdekaan.
Mungkin lebih buruk daripada itu apabila faktor
perkembangan jaman (termasuk perbandingan dengan bangsa
lain) dan faktor waktu di sesuaikan.
Misalnya saat itu mayoritas bangsa di Asia masih
berada pada tahap where, bertanya dan berjuang
dengan kata kemana. Sekarang mayoritas
bangsa-bangsa tersebut tidak lagi bertanya where
dan how, tetapi sudah when. Malaysia
misalnya sudah lama menargetkan dan bekerja sehingga pada
tahun 2020 sudah sejajar dengan bangsa maju sekarang.
Ketika sudah merdeka lebih 50 tahun dan ketika
sudah berada di jaman Internet, Indonesia masih belum
mampu menjawab singkat tersebut.
Dosa
Orde Baru?
Jatuhnya
pemerintahaan Orde Baru ternyata tidak hanya membukakan
mata bahwa ternyata landasan pembangunan ekonomi
sedemikian buruknya. Tidak hanya membuka mata kalau
masalah hukum juga buruk. Tetapi satu hal paling jelas
adalah ternyata pemerintahan Orde Baru bukan penyebab
satu-satunya semua masalah Indonesia sekarang seperti yang
tidak sedikit dikemukakan beberapa kalangan.
Di
jaman Orde Baru, umum berkembang keyakinan bahwa
calon-calon pemimpin potensial dilumpuhkan dan dikebiri
oleh penguasa sehingga masyarakat tidak melihat adanya
calon-calon pemimpin brilian dan hebat. Ada juga keyakinan
kalau penguasa secara tidak langsung mengembangkan
ketidakharmonisan di tengah masyarakat dengan meniupkan
isu SARA dan kemudian meligitimasi penguasa menggunakan
tangan besi dalam menumpas setiap gerakan berbau SARA.
SARA menjadi alat politik.
Juga
dikemukakan bahwa apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak
lagi berperan sebagai rubber stamp penguasa,
Indonesia akan lebih baik.
Semua itu adalah keyakinan yang tidak jarang
dikemukakan orang.
Empat
tahun sejak jatuhnya Orde Baru, tampaknya
keyakinan-keyakinan tersebut hanya isapan jempol belaka.
Krisis kepemimpinan serius terjadi justru pasca Orde Baru.
Apabila memang sebelumnya ada figur hebat dan benar-benar
pemimpin, figur tersebut akan dengan sendirinya rising
like the sun dan shining like the star di jaman
sekarang. Figur
tersebut akan menjadi sosok yang di dengar dan mendapat
respek dari hampir semua kalangan, baik mayoritas maupun
minoritas. Krisis kepemimpinan lebih disebabkan kenyataan
bahwa memang Indonesia belum berhasil melahirkan figur
pemimpin, bukan karena tindakan pengebirian dari pihak
penguasa masa lampau. Belum ada figur yang benar-benar
sebagai pemimpin. Seorang real pemimpin justru
umumnya tampil pada saat krisis. Gandhi bukan tampil di
tengah situasi aman sejahtera. Bung Hatta yang praktis
mendapat respek dari hampir semua kalangan di tanah air
juga tida tampil pada saat Indonesia aman sejahtera.
Nelson Mandela dan Abraham Lincoln juga tampil tidak dalam
keadaan bangsanya aman. Real leaders adalah sosok
yang berjuang di segala situasi dan memiliki suatu visi
yang menjadi ciri khas mereka yakni: persatuan dan
kesatuan. Dan, yang jauh dari godaan harta.
Isu
SARA juga ternyata bukan mitos ciptaan Orde Baru. SARA
bahkan lebih serius pasca Orde Baru.
Meski demikian, masih tetap banyak kalangan menilai
bahwa SARA sekarang justru output dari Orba. Ini
menyepelekan situasi bahwa masalah SARA sangat dipengaruhi
oleh cara pandang dan cara berpikir setiap insan Indonesia
dalam memahami eksistensi dirinya di tengah berbagai
problematika dan kemajemukan bangsa. Karenanya, masalah
SARA sangat berkaitan erat dengan where, kemana
bangsa ini mau berjalan..
Tiga
Isu Fundamental vs Pemimpin
Where
do we really want to go? Sebagai
sebuah bangsa, jawaban terhadap pertanyaan tersebut harus
jelas, konsisten dan mensyaratkan adanya komitmen. Di UUD
45 sangat jelas bahwa tujuan bangsa ini adalah masyarakat
adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Penguasa Orba tidak
salah dalam hal ini. Arahnya justru sangat tepat. Yang
salah adalah pelaksanaannya dan komitmennya. Sekarang,
pasca Orba, justru arah, pelaksanaan dan komitmen semua
masih kabur. Arah yang jelas akan membuat masyarakat
paling tidak mengerti kemungkinan apa yang akan mereka
hadapi serta pengorbanan dan perjuangan apa yang
dibutuhkan dari mereka (selama Orde Baru rakyat sudah
cukup banyak berkorban).
Dalam
kaitan dengan arah ini ada tiga isu yang sangat
fundamental diperhatikan yakni:
Kemanakah
arah bangsa ini dalam hal kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat?
Ke
manakah arah bangsa ini dalam hal pelaksanaan tertib
kenegaraan dan kehidupan bermasyarakat?
Ke
manakah arah bangsa ini dalam hal pembangunan sosial dan
ekonomi?
Jawaban
yang ideal adalah Kesatuan, Demokrasi
dan Kemakmuran
.
Tetapi
keadaan ideal masih sangat jauh dari kenyataan. Kesatuan
dan persatuan nampaknya sesuatu yang harus diupayakan
dengan ekstra sungguh-sungguh. Kata persatuan dan kesatuan
sendiri mungkin saat ini sudah berbeda-beda untuk setiap
orang atau kelompok. Ini mengisyaratkan masih perlunya
pemahaman akan kata where dalam hal persatuan.
Kesatuan yang bagaimana, dan persatuan yang bagaimana?
Meski
tampaknya Indonesia mengalami krisis dalam hal persatuan
dan kesatuan, dengan kemajemukan bangsa yang sangat tinggi,
situasi Indonesia secara relatif sebetulnya lebih baik
dibanding beberapa bangsa lain dalam memelihara perbedaan.
Rakyat Indonesia sudah terbiasa hidup dalam kemajemukan.
Indonesia memiliki budaya tepo saliro, saling
menghargai satu sama lain. Ini adalah modal positif dalam
membangun kesatuan bangsa. Namun, selain faktor positif
ada hal negatif yang tidak kalah pentingnya dicermati.
Karena dalam setiap perbedaan umumnya ter-internalize sifat-sifat
eksklusifme dan ancaman, setiap gangguan terhadap
keseimbangan perbedaan ini akan dengan mudah menghancurkan
keselarasan, keharmonisan dan kesatuan.
Di
tengah budaya yang masih paternalistik dan di tengah
perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang masih sedang
berkembang, baik dari segi pendidikan, pengetahuan dan
kemakmuran ekonomi, setiap goncangan (ketidakstabilan)
yang diperkenalkan oleh seorang pemimpin atau suatu
kelompok dapat dengan mudah menggoyahkan keadaan kesatuan
masyarakat. Ini tidak mengherankan mengapa kita melihat
peristiwa di Sampit, Poso, Maluku dan lain sebagainya.
Rakyat Indonesia adalah bangsa yang berbudaya (civilized),
namun dikarenakan berbagai faktor termasuk hal-hal disebut
di atas, kestabilan mind (cara pandang dan cara
bersikap) mereka relatif mudah terganggu. Ini
mengisyaratkan bahwa peranan pemimpin dalam mewujudkan
kesatuan bangsa ini sangat vital. Soekarno tidak salah,
dan jauh hari dia sudah menyadari hal tersebut. Lebih 50
tahun kemudian, ternyata masih belum tampak pemimpin di
Indonesia yang benar-benar menyadari hal tersebut.
Kata kunci: pemimpin.
Mayoritas
mungkin setuju bahwa demokrasi yang sedang dikembangkan
Indonesia saat ini masih jauh dari harapan.
Demokrasi tidak hanya berarti pemerintahan dipilih oleh
rakyat melalui perwakilannya. Yang tidak kalah
pentingnya adalah pemerintahan bersumber dari rakyat
dan untuk rakyat. Dalam hal ini faktor kepemimpinan
sangat sentral. Seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat
dapat menjauh dan bukan untuk rakyat. Berbagai contoh di
banyak negara menunjukkan hal tersebut.
Selama
empat tahun terakhir, pengertian demokrasi sudah
banyak mengalami bias dan penyimpangan. Demokrasi bukan
hanya menyangkut mekanisme pergantian pemerintahan tetapi
juga meliputi mentalitas, cara berpikir dan bersosialisasi
masyarakat.
Demokrasi menyangkut pembaruan sikap masyarakat dan
penerimaan secara dewasa perbedaan-perbedaan baik ras,
agama, suku dan etnis, yang merupakan isu sangat sensitif
selama ini, serta penempatan kepentingan bangsa secara
utuh di atas kepentingan golongan.
Dengan pengembangan demokrasi yang benar, semangat
kesatuan dan persatuan dengan sendirinya meningkat.
Pemimpin-pemimpin
di Indonesia, mulai dari presiden, pemimpin partai serta
anggota DPR, pada saat krusial sekarang ini seharusnya
dapat mendefiniskan kembali, memberi makna lebih berbobot
dan merevitalisasi demokrasi yang sedang diperjuangkan.
Tanpa itu, mustahil rasanya mengharapkan banyak dari
perjuangan mewujudkan demokrasi di Indonesia.
Dengan polarisasi politik dan ideologi yang makin
tajam terutama menjelang Pemilu 2004, tampaknya usaha
perwujudan demokrasi ini dapat mengalami hambatan fatal.
Kata kunci: pemimpin dan anggota badan legislatif.
Kemakmuran
suatu bangsa tidak dapat terwujud tanpa perencanaan
pembangunan yang matang dan strategis. Krisis ekonomi
terjadi lima tahun lalu, namun sampai sekarang Indonesia
belum memiliki blue print rencana pembangunan jangka
panjang. Dua tahun setelah Soeharto berkuasa di tahun
1967, pemerintahan Orba keluar dengan repelita I.
Pemerintahan sekarang ini masih 9 bulan, tetapi di tengah
situasi sekarang dan dengan pengetahuan yang sudah ada,
pemerintahan sekarang seharusnya dapat bekerja lebih keras.
Apabila dalam kurun 6 bulan lagi belum keluar rencana
eksplisit pembangunan jangka panjang Indonesia, sudah
sepantasnya kinerja Cabinet sekarang dipertanyakan.
Masalah yang paling serius tentang pembangunan ekonomi
bukan menyangkut kebijakan hari per hari, minggu per
minggu atau tahun per tahun, tetapi menyangkut arah serta
tujuan yang akan dicapai. Menunggu pemerintahan pasca 2004
melakukan hal tersebut merupakan kelalaian serius.
Untuk
mewujudkan hal ini diperlukan adanya kepemimpinan yang
tidak hanya mampu menggalang ide-ide cemerlang dari
pembantu-pembantunya serta masyarakat, mengolahnya dan
menghasilkan ide-ide yang lebih cemerlang, tetapi juga
yang mampu menggerakkan dan memotivasi masyarakat untuk
bekerja sesuai dengan ide tersebut. Dengan sendirinya ini
berimplikasi bahwa pemimpin yang sangat dibutuhkan saat
ini adalah yang mampu berkomunikasi dan yang mampu
bertindak.
Persoalan
where do we really want to go dapat direduksi
menjadi persoalan bagaimana memperoleh pemimpin dan
anggota legislatif yang benar-benar berkualitas, yang
dapat menggerakkan bangsa dan negara mewujudkan tiga hal
fundamental: kesatuan, demokrasi dan kemakmuran.
| Selanjutnya:
Leader Factor |
|
Your
comment
|