  |
BOSTON
(SP): Krisis sosial, politik dan ekonomi berkepanjangan
yang menimpa bangsa Indonesia sekarang ini mengundang
pertanyaan kritis: kemanakah gerangan arah bangsa ini
berjalan? Di
tengah-tengah harapan bahwa millenium
ketiga akan membuka peluang-peluang baru terhadap
perkembangan peradaban manusia, dan di tengah persaingan
ketat antar bangsa dalam memanfaatkan peluang-peluang
tersebut, bangsa Indonesia sibuk bergulat dengan dirinya
sendiri. Mungkin tidak berlebihan bila situasi di tanah
air sekarang dianalogikan bagai perahu di tengah samudera
dimana orang-orang di perahu tersebut sibuk berkelahi
memperebutkan kemudi, makanan dan fasilitas lainnya
sementara perahu-perahu lain sedang melaju menuju
pengharapan baru. Sangat
menyedihkan karena mayoritas dari bangsa kita tidak
henti-hentinya menderita secara sosial dan ekonomi sejak
jaman kolonial empat abad silam.
Kompleksnya
permasalahan yang dihadapi sekarang membuat sulit
mereduksinya pada aspek tertentu saja, karena persoalan
politik tidak lepas dari masalah ekonomi, masalah ekonomi
tidak lepas dari kenyataan sosial budaya yang berkembang
di masyarakat, sedangkan perkembangan sosial sangat
dipengaruhi oleh dinamika politik, dan seterusnya.
Dengan demikian, membenahi sistem politik tidak
dengan sendirinya akan memecahkan persoalan ekonomi dan
sosial, dan sebaliknya.
Namun, kiranya dapat ditarik gasir besar bahwa masa
depan bangsa Indonesia akan sangat ditentukan oleh paling
tidak empat hal. Pertama,
kapabilitas kepemimpinan, mulai dari tingkat nasional
(yang terutama) sampai lokal.
Kedua, nasionalisme dan kualitas generasi muda.
Ketiga, komitmen pada visi dan misi nasional, dan
keempat, dinamika peranan militer.
Mungkin
ada yang heran bagaimana persoalan kompleks sekarang dapat
direduksi menjadi empat isu pokok di atas? Dasar
pikirannya adalah apabila negara dan bangsa dapat
diibaratkan sebagai suatu keluarga, maka masa depan
keluarga sangat ditentukan oleh adanya: (1) komitmen
terhadap visi dan misi keluarga, (2) kapabilitas
kepemimpinan orang tua dalam mengarahkan sumberdaya untuk
mewujudkan misi tersebut, dan (3) kualitas anak sebagai
generasi penerus. Dalam konteks Indonesia, karena militer
memegang peranan penting, maka dinamika peranan militer
menjadi salah satu isu pokok.
Dengan demikian, situasi buruk sekarang ini, baik
secara sosial, politik dan ekonomi disebabkan adanya
permasalahan pada keempat isu pokok tersebut.
Pada
kesempatan ini, saya memfokuskan pembahasan pada isu pokok
yang pertama yakni kapabilitas kepemimpinan.
Ini sangat fundamental karena praktis hampir semua
organisasi di tanah air seperti kehilangan pegangan, tidak
ada pemimpin yang dipercaya dan yang ideal lagi, seperti
apa yang disimpulkan oleh John Bresnan, ahli tentang
Indonesia dari Institute Asia Timur, Universitas Columbia,
AS (New York Times Kamis 9 September 1999).
Kapabilitas
Kepemimpinan
Lebih
setengah abad, Indonesia secara tragis mengalami kegagalan
kepemimpinan nasional yang bukan saja telah menggiring
bangsa menjauh dari cita-cita luhur mewujudkan masyarakat
adil dan makmur, tetapi juga menyebabkan rakyat menderita.
Sumber kegagalan ini disebabkan kepemimpinan sarat
dengan kepentingan dan ambisi pribadi, baik yang tidak
kasat mata (intangible)
seperti haus kehormatan, pengkultusan diri dan motivasi
untuk berkuasa selamanya, maupun yang kasat mata seperti
penimbunan harta dan uang.
Fenomena ini sebetulnya tidak hanya terjadi di
tanah air tetapi juga di negara lain seperti Irak, Kuba,
Nigeria, Korea Utara dan beberapa negara lainnnya.
Pemimpin
di negara-negara tersebut dalam kenyataannya bertindak
tidak sebagai pemimpin tetapi lebih sebagai penguasa
karena pada hakikatnya kepemimpinannya
diarahkan untuk menguasai, mengontrol, membatasi
bahkan mematikan dinamika perkembangan masyarakatnya.
Ada juga pemimpin yang susah mengendalikan dirinya
sendiri sehingga kelompok ataupun bangsa yang dipimpinnya
beserta sebagian orang yang membantunya jadi kehilangan
arah. Pemimpin yang benar adalah yang memusatkan enerjinya
dan segala sumberdaya
yang dimiliki negara untuk membawa bangsanya pada arah
yang benar menuju cita-cita nasional.
Suka tidak suka, kepemimpinan nasional kita selama
ini masih jauh dari harapan dan masih cenderung di kedua
kelompok yang pertama.
Kenyataan
ini membuat kita bertanya, mengapa hal itu sampai terjadi?
Apakah karena kelemahan dan kemandulan sistem
sosial, ekonomi dan politik sehingga lahir dan berkembang
pemimpin yang sebetulnya penguasa dan yang visi serta
enerjinya belum tajam dan kuat. Ataukah karena memang
mentalitas yang kurang solid dari individu-individu yang
mengklaim diri sebagai pemimpin tetapi kenyataannya
termasuk dalam kategori kedua kelompok di atas?
Saya
tidak berani mengklaim bahwa mentalitas bangsa kita buruk,
tetapi saya juga tidak punya fakta dan informasi kuat
untuk menyimpulkan bahwa mentalitas bangsa kita cukup
teguh untuk berani menolak dan menentang ide dan kebijakan
yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.
Kedua rejim pemerintahan sebelumnya, terutama rejim
orde baru, tidak sedikit commit dengan tindakan
yang bertentangan dengan kemanusiaan, tetapi kenapa sampai
bisa bertahan lebih dari 30 tahun, yang praktis memakan
periode satu generasi?
Sebagian
mungkin menyodorkan alasan hebatnya hegemoni militer yang
telah merambah segala aspek kehidupan.
Sebagian lagi mungkin berkesimpulan bahwa itu
disebabkan adanya penguasa tunggal yang kharismatis dan
bertangan besi. Meski
kedua faktanya
benar, tetapi tidak cukup kuat menjelaskan mengapa sebuah
rejim yang korup dan represif
bisa bertahan sampai satu generasi. Sudah terbukti
dalam sejarah bahwa kekuatan moral dan pikiran lebih
dahsyat daripada kekuatan bedil, dan secara logis,
kekuatan dan pengaruh satu orang manusia tidaklah mungkin
mengatasi kekuatan 130 juta orang dewasa.
Sekali lagi, alasan kekuatan militer dan
pengaruh satu orang individu tidak masuk akal.
Hemat saya, permasalahan dan penyebabnya terletak
pada kita semua, pada sistem sosial dan budaya yang kita
kembangkan serta pada sistem politik yang kita bangun.
Dalam kaitan ini, menurut saya, sedikitnya ada tiga
faktor yang dapat menjelaskan.
Tiga
Kelemahan
Pertama,
lemahnya kontrol
sosial terhadap kepemimpinan yang diperburuk dengan
nihilnya figure
moral yang dapat dipercaya.
Telah menjadi budaya bahwa mengkritik kolega atau
rekan sejawat adalah kurang sopan dan konsekuensi logisnya,
mengkritik atasan atau pemimpin adalah tabu, karena
dipercaya pemimpin/atasan tidak pernah salah.
Budaya ini, yang tidak hanya terjadi di sektor
pemerintah tetapi juga hampir di semua lembaga di tanah
air, sama sekali tidak konstruktif yang oleh rejim orde
baru dieksploitir untuk melegitimasi
kebijakan-kebijakannya.
Rakyat, yang oleh pengaruh budaya sungkan
mengeritik dan tekanan represif rejim penguasa, sangat
takut bersuara terhadap penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi.
Secara
perlahan iklim pembaruan telah mengubah mentalitas bangsa
dari yang selalu merasa takut menjadi lebih berani.
Meski dalam derajat yang masih sangat kecil,
sebagian mulai berani mengkritik pemimpinnya tetapi
sebagaian besar masih sifatnya opportunis dimana tujuannya
lebih pada keuntungan politik individu/golongan tertentu.
Kontrol sosial tidak hanya menyangkut kebebasan
untuk mengkritik tetapi juga kemauan untuk menunjukkan
sikap kebenaran, karena pada saat kita mengkritik saat itu
juga harus berani dan konsisten berjalan pada kebenaran
universal. Apa
yang cenderung terjadi adalah maling teriak maling.
Alhasil, rakyat tidak dapat melihat adanya figur
yang dapat dipercaya dan layak didukung.
Kontrol
sosial terhadap kepemimpinan, baik nasional maupun lokal
hanya dapat diciptakan apabila rakyat dapat secara bebas
mengemukakan pendapatnya baik melalui perwakilan di
legislatif, perkelompok ataupun secara individu yang
kemudian didukung adanya pers yang kuat.
Kombinasi kedua kekuatan ini akan menghasilkan
kontrol sosial yang efektif terhadap kepemimpinan nasional.
Kenyataan menunjukkan belum adanya sinergi yang
harmonis antara kedua kekuatan tersebut dan ini adalah
kelemahan bangsa secara kolektif.
Jadi, mencari kambing hitam pada satu orang tidak
akan menjamin kepemimpinan nasional yang lebih baik di
masa depan.
(note:
pers yang kuat tidak identik dengan pers yang bebas. Pers
yang kuat berkaitan quality and accountability)
Kedua,
lemahnya kontrol
sistem yang diperburuk dengan adanya kekuasaan
kolektif yang berdiri di atas sistem menyebabkan kontrol
sistem praktis tidak berfungsi.
Bertahannya rejim yang korup lebih seperempat abad
bukanlah hasil rancangan dan kerja satu orang saja
melainkan kerjasama, sadar atau tidak sadar, dari
kekuasaan kolektif yang terstruktur rapi.
Ini menjelaskan mengapa meskipun Soeharto
mengundurkan diri, praktik-praktik rejim lama masih terus
berlangsung.
Kontrol
sistem hanya bisa berjalan apabila ada waktu akhir yang
pasti (definite
terminal time) dari suatu proses serta adanya
mekanisme pengawasan internal yang betul-betul berfungsi
mengevaluasi sistem tersebut.
Tanpa adanya waktu akhir yang pasti, sistem akan
cenderung berputar-putar (looping)
dalam dirinya sendiri dan hasil akhirnya tidak akan
membawa perubahan nyata.
Apabila mekanisme internal gagal mendeteksinya
sistem akan berputar terus sampai crash
karena kekuatan eksternal atau komplikasi internal.
Tidak adanya waktu terminal ini telah menyebabkan dua
kepemimpinan nasional crash,
Soekarno jatuh akibat komplikasi internal dan Soeharto
undur oleh kombinasi tekanan eksternal dan komplikasi
internal dan output
keduanya adalah kondisi bangsa tidak lebih baik dari
keadaan sebelumnya. Secara bersamaan, mekanisme pengawasan
internal memerlukan DPR yang kuat.
Sekarang
ini sudah ada upaya perbaikan terhadap kontrol sistem ini
dengan pembatasan terhadap kepemimpinan nasional sudah
maksimum 2 kali untuk satu individu.
Dan dalam tataran tertentu, DPR pasca Orba sudah
relatif lebih kuat. Ketika
jaman Orba, adalah mimpi di siang bolong untuk
mengharapkan DPR yang kuat.
Melihat
situasi sekarang, tampaknya kedua perbaikan tersebut belum
mengarah pada subtansi permasalahan. Sekarang bukan
persoalan apakah seorang pemimpin nasional akan bisa turun
setelah 2 period, tetapi apakah bisa bertahan 1 periode.
Kalau dulu DPR kehilangan taji sekarang seolah-olah punya
taji. DPR dalam melakukan pengawasan tidak konsisten dan
berbobot. Berbagai persolan dalam bangsa ini pasca Orde
Baru justru sebagian karena kontribusi DPR.
Ketiga,
lemahnya kontrol
moral yang disertai dengan berkembangnya budaya haus
kekuasaan. Tidak
jarang kita saksikan, baik di pemerintahan maupun
institusi-institusi lainnya, bahwa satu individu memegang
posisi strategis paling sedikit di lima institusi yang
sangat penting. Kita saksikan banyak sekali orang yang
salah menduduki posisi penting, dan orang yang tepat
menduduki posisi salah. Dari pihak penguasa, konsentrasi
kekuasaan ini sangat essensial untuk bisa mengontrol gerak
dinamika perkembangan masyarakat. Alhasil, produktivitas
bangsa sangat rendah.
Secara makro ini didukung World Bank (1993) yang
menemukan bahwa produktivitas Indonesia paling rendah di
kawasan ASEAN.
Ketidakadaan
kontrol moral telah menyebabkan kita gagal membedakan
antara individu yang mampu (able)
dan yang kapabel (capable)
untuk memimpin, dua hal hampir sama tetapi sangat berbeda.
Misalnya, secara teknis seseorang yang memiliki
pengetahuan agama tinggi dan luas karena rajin membaca dan
belajar ilmu agama mampu menjadi guru agama. Tetapi
perlakuannya yang suka menjarah harta dan menggoda istri
orang lain membuat dia tidak kapabel menjadi guru agama.
Hal yang sama, seseorang mungkin memiliki kemampuan
teknis manajerial dan organisasi yang canggih serta
memiliki pengetahuan luas dan dalam, tetapi dalam
realitasnya tutup mata bahkan secara tidak langsung
mendukung praktek-praktek yang bertentangan dengan hak
asasi manusia. Apakah
individu tersebut memiliki kapabilitas untuk memimpin
sebuah bangsa dalam membangun meningkatkan kesejahteraan
seluruh rakyat yang dipimpinnya?
Jawabnya jelas tidak.
Banyak orang yang mampu, tetapi hanya segelintir
orang yang kapabel untuk memimpin sebuah bangsa.
Penutup
Adalah
aksioma bahwa manusia kalau diberikan kekuasaan akan
cenderung menyalahgunakan kekuasaan tersebut, dan juga,
manusia kalau sudah berambisi pada hal tertentu akan
cenderung menjadi tidak objektif menilai kapabilitas diri
sendirinya. Masa depan bangsa akan sangat ditentukan
sejauh mana kita dapat mengembangkan kontrol sosial,
kontrol sistem dan kontrol moral terhadap kepemimpinan
nasional.
Selama
hal itu tidak kita kembangkan, siapapun pemimpin nasional
yang dipilih, tidak akan banyak mengubah keadaan, kecuali
secara mujizat pemimpin tersebut secara sadar dan objektif
menilai kapabilitas dirinya, tetapi ini mustahil karena
bertentangan dengan aksioma di atas.
Akhirnya
terserah kita semua, mau kemana bangsa ini hendak dibawah
berjalan.
|