A JOURNAL OF INDONESIA  

Home

About Us

Mission

Contact Us

Issues
Democracy
Economy
Labor
Education
Development
Globalization

 



This week's view

Indonesia, penderita penyakit kompleks

Elwin Tobing

US: Indonesia penuh masalah. Masalah ekonomi, politik, ancaman perpecahan, pertikaian antar suku, dan yang paling gawat masalah moral. Malangnya, figur-figur yang seharusnya menjadi panutan kini menjadi ‘buronan’. Figur-figur yang harusnya menjadi teladan, kini menjadi sempalan. Figur-figur yang harusnya menjadi cerminan, kini menjadi gunjingan. Praktis tidak ada figure yang dapat diandalkan yang mampu menjembatani pertikaian antar suku, yang mampu mempersatukan perpecahan, yang mampu memimpin ahli-ahli untuk bekerja dengan benar dan yang mampu menunjukkan kualitas moral yang tinggi. Memble, tong pes, bangkrut alias besok bisa bon!

Lantas, mau kemana Indonesia hendak berjalan kalau tidak ada figur pemimpin yang qualified? Mau cari figure dari militer, rasanya kita sudah trauma. Mau coba cari dari teknokrat, sudah juga dan hasilnya sama saja, korupsi dimana-mana. Mau cari dari pesantren, juga sudah dan ‘pesawat’ kita di bawa kemana-mana dengan zag zig zug sehingga kita penumpangnya semua jadi rada mabuk. Juga, korupsi bertebaran. Mau dari partai demokrasi, sedang kita alami dan tampaknya belum ada perkembangan berarti.

Indonesia ibarat seseorang yang sedang sakit macam-macam, mulai dari borokan, muntah berak, sakit jantung, diabetes dan paru-paru.

Orang yang sedang sakit borokan, kulitnya kelihatan jelek. Dari luar saja orang sudah tahu kalau dia sakit dan biasanya orang akan cenderung menjauhinya. Indonesia juga demikian. Dipermukaan kita kesannya sudah jelek. Di Asia Tenggara? Hmm, kita lebih jelek daripada Vietnam. Ketika Vietnam masih perang sama Amerika sampai tahun 1975, kita sudah mengekspor minyak (cilakanya ini juga bibit penyakit korupsi yang kemudian menjalar kemana-mana). Seperti orang penyakit borokan, kita butuh salep. Salep yang manjur, bukan bedak Purol. Tapi darimana kita bisa dapat salep kulit yang majur? Dan ternyata salep kulit saja tidak cukup. Penderita borokan yang parah juga harus disuntik dengan antibiotik. Perlu penyembuhan dari dalam juga. Makin susah kalau begitu. Kita butuh salep kulit manjur dan antibiotik.

Orang yang penyakit muntah dan berak biasanya mukanya pucat, sering ke WC dan selera makannya kurang. Harus minum norit, kalau tidak bisa mati sekejab. Indonesia sedang muntaber, karena pejabat-pejabatnya, mulai dari tingkat nasional sampai kampung, kebanyakan makan uang haram. Muka kita sudah pucat. Seperti perut yang bergejolak, ‘perut’ Indonesia juga bergejolak. Rakyat bergejolak minta makan. Harga-harga naik, pekerjaan tidak ada. Pejabat naik Mercy, Lexus dan Land Cruiser sementara rakyat di sebelahnya makan aja musti sekali dalam sehari. ‘Perut’ Indonesia bergejolak. Daerah bergejolak minta merdeka.

Kita butuh norit secepatnya, kalau tidak gejolak perut akan semakin hebat. Jika tidak ada norit, paling tidak kita butuh garam, gula dan air panas. Kita butuh garam. Garam pembuat asin. Tanpa garam, rasanya makanan akan hambar. 

Kita butuh orang-orang yang bisa seperti garam, yang membuat makanan jadi enak. Yang membuat situasi jadi enak, bukan orang yang membuat situasi jadi tidak enak. Kita juga butuh gula. Gula rasanya manis. Kita butuh orang-orang manis, yang hatinya manis, perilakunya juga manis dan yang membuat situasi jadi manis, bukan yang membuat situasi jadi pahit.  Selain itu kita butuh air panas, yang melumerkan kebekuan dan juga yang membuat suasana jadi hangat. Sekarang kebekuan sosial dan psikologis terjadi dimana-mana. Antar suku jadi perang. Antar agama saling memusnahkan. Kebekuan hati dimana-mana. Kita butuh kehangatan. Kita butuh orang-orang yang semangat dan pergaulannya hangat. Kita tidak butuh orang-orang yang beku hatinya, yang dalam hatinya cuma dengki, iri dan dendam. Kita butuh orang-orang yang ramah dan hangat.  Tanpa orang-orang seperti garam, gula dan air panas, Indonesia bisa mati sekejab, sama seperti orang yang kena muntaber.

Malangnya kita juga menderita penyakit diabetes. Wow...kadar gula darah kita sudah sangat tinggi. Yah, hutang bangsa kita dan kadar korupsi (dibanding dengan pendapatan nasional atau GNP) sudah sangat tinggi. Hutang luar negeri kita mencapai 160 milyar dolar atau dengan kurs 1dolar AS=10 ribu rupiah, hutang luar negeri kita mencapai 1.600.000.000.000.000.00 rupiah. Berapakah itu? 1.600 triliun rupiah!!  Dan berapakah total korupsi yang terjadi selama Orde Baru sampai sekarang? Kalau laporan Times benar tentang korupsi pejabat-pejabat top Orde Baru, saya perkirakan, ditambah lain-lain, total korupsi mencapai paling tidak 50 milyar dolar (ini dengan kurs lama, karena dalam jumlah, saya perkirakan kebanyakan korupsi terjadi sebelum krisis).  Sebagai gambaran, Eddy Tanzil saja (yang saya kategorikan juga dalam kasus korupsi) meraup 1.3 triliun rupiah atau dengan kurs lama kira-kira setengah milyar dolar. Di kali 100 orang = 50 milyar dolar. Masuk akal bukan? Itu masih perkiraan rendah.

Seperti orang yang penyakit diabetes (kalau belum akut), meski kelihatan bisa jalan, tapi darahnya sudah ‘kotor’. ‘Darah’ ekonomi Indonesia sudah kotor. Hutang kita harus dibayar dari pendapatan nasional dan sementara timbunan gula kotor (korupsi) semakin parah. Indonesia butuh insulin untuk menurunkan kadar gulanya. Darimana bisa dapat insulin? Saya juga belum tahu.

Penyakit jantung, ouch...semakin parah. Seperti orang yang penyakit jantung, apabila ada turbulence ataupun dentuman keras yang tiba-tiba maka bisa pingsan. Kita sudah mengalaminya ketika krisis moneter 1997 lalu. Meski belum pingsan benar, tapi kondisi jantung keuangan kita sudah kurang benar. Kalau financial crash terulang lagi, Indonesia bakal collapsed, mati berdiri. Industri perbankan dan keuangan kita masih jantungan. Malangnya, yang mengaku jadi dokter atau yang kita percaya jadi dokter, seperti IBRA (Indonesian Bank Restructuring Agency atau Badan Penyehatan Perbankan Nasional) tidak lain hanya dokter impotent yang orang-orang di dalamnya justru diperkirakan korupsi juga. “Pump in the money, please”. Kita teriak-teriak supaya investor luar mau menanamkan modalnya di Indonesia. Siapa yang mau ketika kita sedang menderita borokan, muntaber, diabetes dan jantung? Kalau masih borokan, investor luar masih ok, tapi kalau sudah beragam penyakit. They say, “sorry, no mister”.

Tampaknya pasien yang bernama Indonesia cukup sengsara karena juga menderita penyakit paru-paru. Orang yang merokok berat, besar kemungkinan terserang paru-paru. Merokok identik dengan meracuni tubuh dan merusak paru-paru sendiri. Indonesia merusak paru-paru (sumber pernafasan) sendiri.  Pejabat-pejabatnya, anggota-anggota perwakilan rakyatnya, pemimpin-pemimpin organisasi termasuk partai merusak mental generasi mudanya. Mental otoriter, motto aji mumpung, sikap yang tuding menuding, lempar tanggung jawab serta nafsu yang haus duit dan kuasa ditularkan kepada generasi muda bangsa. Hampir tidak ada pemimpin yang peduli dengan masa depan bangsa. Apakah hal ini akan kita biarkan merusak mental dan moral generasi muda. No, let’s do something my friend.

Ini salah satu yang mendorong saya untuk mengembangkan dialog antar sesama generasi muda Indonesia di forum ini. So, just write your thought and post it here.

Your comments

 

The Prospect. 2001.