|
Di
manakah paling banyak penduduk dunia berdiam?
Jawabnya adalah di pedesaan.
Di wilayah Asia dan Afrika saja, 70 persen
penduduknya (atau lebih 2 miliar jiwa) tinggal di
pedesaan. Dari
data Human
Development Report 1994, kurang lebih separuh
penduduk pedesaan tersebut hidup di bawah garis
kemiskinan. Di
Indonesia, dari 27 juta penduduk miskin pada 1990,
sekitar 67 persen (18 juta jiwa) adalah penduduk
pedesaan.
Kemiskinan
memang telah diidentikkan dengan kondisi masyarakat
pedesaan, seolah-olah kemiskinan itu telah menyatu
dengan masyarakatnya.
Dengan demikian, bicara kemiskinan adalah
bicara tentang pedesaan, dan sebaliknya, bicara
tentang desa mau tidak mau bicara soal kemiskinan.
Sementara
itu, memasuki abad ke 21, perkembangan revolusioner di
bidang teknologi komunikasi dan informasi telah
membawa dan mempercepat proses globalisasi dihampir
semua bidang. Ini
diperkuat dengan disepakatinya berbagai tatanan yang
mengarah pada penyatuan aturan yang berlaku global.
Perkembangan-perkembangan
tersebut telah membawa dunia pada suatu jarak dan
ruang sempit sehingga menciptakan apa yang disebut global
village (desa/kampung global).
Lalu, dengan terminologi “desa global”,
apakah artinya dunia akan mengarah pada proses
kemiskinan, seperti apa yang ditemukan di banyak
pedesaan.
Output
Globalisasi
?
Sejak
Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF)
berdiri pada 1944 seta GATT (sekarang WTO) pada 1947,
praktis dunia sudah memasuki globalisasi ekonomi,
karena masalah pembangunan menjadi tanggung jawab
internasional. Bank
Dunia mengucurkan dana pinjaman berbunga rendah bagi
proyek-proyek pembangunan di berbagai negara untuk
memajukan ekonominya, sedangkan IMF memberikan
pinjaman bagi negara-negara yang mengalami kesulitan
dalam neraca pembayaran luar negerinya dan GATT
berfungsi untuk mengatur perdagangan global.
Akan
tetapi, setelah separuh abad ketiga lembaga tersebut,
dan dengan revolusi teknologi komunikasi yang
mempercepat jalannya proses globalisasi, apakah
kemiskinan mampu dientaskan atau dikurangi?
Fakta menunjukkan, secara absolut, jumlah
kemiskinan terus membubung.
Jika pada 1978, penduduk dunia yang di bawah
garis kemiskinan sekitar 800 juta jiwa, pada 1994,
angka ini mencapai sekitar 1.300 juta jiwa.
Selain itu, pertisipasi penduduk miskin dalam
ekonomi global juga telah menurun (lihat tabel).
Apa
yang dilakukan ketiga institusi instrumen pembangunan
global tersebut adalah cenderung menciptakan suatu
perangkap kemiskinan (poverty
trap) sehingga setiap upaya mengentaskan
kemiskinan pada akhirnya justru akan memperbesar
kemiskinan.
Bank
Dunia, dalam laporannya yang dimuat di World
Development Report 1978, memperkirakan bahwa pada
tahun 2000, jumlah penduduk dunia yang berada di bawah
garis kemiskinan akan mencapai 600 juta jiwa.
Tetapi fakta sekarang menunjukkan angka
perkiraan tersebut jauh meleset, justru angka
kemiskinan berlipat dua mencapai 1,3 miliar jiwa
menjelang tahun 2000.
Melesetnya
perkiraan Bank Dunia tersebut terutama disebabkan
program penyesuaian struktural (Structural
Adjustment Program SAP) yang diintrodusir sejak
awal dekade 80-an.
Pada intinya, SAP ini menekankan bahwa
pemerintah dunia ketiga harus melakukan pembaruan
makro ekonomi dengan mengarahkan ekonomi ke arah export
oriented, liberalisasi impor, pemotongan drastis
dalam pembelanjaan negara termasuk subsidi bagi
kesejahteraan umum, pendidikan maupun pangan.
Hal ini dilakukan sebagai syarat penjadwalan
ulang utang-utang yang semakin lama semakin menumpuk,
dan sebagai syarat pemberian utang baru.
Kenyataannya,
meskipun angka-angka kuantitatif pertumbuhan ekonomi
di negara berkembang menunjukkan kemajuan, tetapi
kelaparan meluas, kualitas kesehatan penduduk semakin
rendah dan angka kemiskinan semakin membengkak.
Hasil penelitian J. M. Tanski
(The Impact of Crisis, Stabilization and Structural
Adjustment on Women in Lima, Peru.
World Development, November 1994)
menunjukkan bahwa program SAP yang diintrodusir di
Peru memperburuk kehidupan kaum miskin, khususnya
wanita (yang merupakan populasi terbesar dari penduduk
miskin dunia, yaitu mencapai 70 persen).
Jadi
mimpi indah globalisasi akan membawa masyarakat miskin
(khususnya di dunia ketiga) ke arah kemakmuran, justru
sebaliknya, kondisi kekurangan pangan, perumahan dan
kondisi kesehatan yang buruk menjadi realitas
kehidupan sehari-hari di sebagian besar penduduk dunia
ketiga.
Memang
ada perubahan mendasar dalam pendekatan yang dipakai
PBB (melalui
United Nations Development Programme – UNDP)
untuk menilai kemajuan pembangunan sebuah negara,
terutama setelah diperkenalkannya Human
Development Report yang memuat Human
Development Index (HDI) sejak 1990.
Penyesuaian ini juga disertai dengan seruan
akan pentingnya komitmen terhadap pembangunan yang
berlanjutan (sustainable
development).
Akan
tetapi, sepanjang struktur ekonomi secara global masih
tetap sepenuhnya dikendalikan kelompok kaya (lihat
tabel) dan institusi-institusi pembangunan global
cenderung melegitimasi dan melestarikan struktur yang
ada, kemajuan dan penyesuaian apapun yang dicapai
tidak akan banyak membantu dalam mengentas kemiskinan,
khususnya penduduk yang bermukim di dunia ketiga.
Sustainable
development
yang digalakkan akan berwujud sebagai sustainable
exploitation (permerasan berkelanjutan).
Martin Khor Kok Peng (The
Future of North-South Relations, Conflict or
Cooperation, Third World Network 1992) secara
panjang lebar menguraikan bahwa kemiskinan yang
menimpa dunia ketiga tidak lepas dari pola hubungan
utara-selatan yang sifatnya eksploitatif.
Landasan
Rapuh
Haluan
pembangunan global yang mengarah pada pelebaran jurang
kaya-miskin juga secara tidak sengaja terjadi pada
konteks pembangunan ekonomi di masing-masing negara.
Akibatnya, disparitas kehidupan kaum kaya
dengan miskin semakin melebar.
Jika
pada 1960, rasio pendapatan 20% penduduk terkaya
terhadap 20% penduduk termiskin sekitar 30:1, maka
pada 1989 rasio ini melonjak dua kali lipat menjadi
59:1. Artinya,
konsep-konsep pembangunan yang bertumpu pada
industrialisasi, pertumbuhan ekonomi dan paradigma
efek menetes ke bawah (trickled
down effect) semuanya gagal mencapai satu hal
paling penting: distribusi pendapatan (distribution
of income).
Dalam
hal lebih mikro, pembangunan pedesaan, tampaknya juga
tidak banyak membantu, meskipun telah banyak
pendekatan terhadap pembangunan pedesaan dikembangkan.
Pertama,
pendekatan yang berorientasi pada milik (asset)
yang berfokus pada kebijakan perbaikan tata milik
tanah (land
reform) serta membangun institusi yang bertujuan
mengoptimalkan penggunaan asset
tersebut. Hal
ini sejalan dengan kenyataan bahwa rakyat pedesaan
hanya memiliki dua sumberdaya, yaitu tanah dan tenaga
kerja.
Pedekatan
kedua didasarkan pada strategi yang menimbulkan
permintaan. Karena
tenaga kerja kaum miskin di pedesaan kebanyakan tidak
terampil, maka strategi pembangunan yang meningkatkan
permintaan akan tenaga kerja tidak terampil adalah
strategi yang paling menguntungkan kaum miskin.
Misalnya adalah industri padat karya dan
industri kecil.
Ketiga,
kebijakan yang meningkatkan produktivitas.
Karena tenaga kerja merupakan asset
utama kaum miskin maka asset
itu perlu ditingkatkan dengan peningkatan mutu melalui
investasi modal manusia (human
capital) dan dengan memperkenalkan teknologi untuk
meningkatkan produktivitas.
Pendekatan-pendekatan
di atas lazim disebut sebagai pendekatan
“redistribusi sebelum pertumbuhan”.
Akan tetapi, dalam kenyataan yang terjadi
adalah “pertumbuhan dengan sedikit redistribusi”.
Hal ini tidak mengerankan mengingat pola
tersebut condong pada pendekatan top
down.
Belakangan
ini, pendekatan top
down telah dikombinasikan dengan pendekatan bottom
up yang memasukkan faktor inisiatif rakyat
pedesaan sebagai variabel penting.
Misalnya, proyek Comillan di Bangladesh, proyek
Pueblo di Meksiko dan program Inpres Desa Tertinggal (IDT)
di Indonesia.
Akan
tetapi, pola ini juga masih terjebak pada asumsi
ekonomis bahwa pemenuhan kebutuhan material semata
merupakan jawaban terhadap pengentasan kemiskinan, dan
efektivitas pembangunan terjadi jika digerakkan dari
atas. Partisipasi
rakyat miskin terkesan sebatas simbol dan retorika.
Dalam
Human Development Report 1993 serta pada KTT
Pembangunan Sosial Kopenhagen, masalah pertisipasi
sangat ditekankan dalam pembangunan manusia.
Dalam laporan tersebut dinyatakan: “Perticipation
means that people are closely involved in the
economic, social, cultural and political processes
that affect their lives.… People can participate as
individuals or as groups.”
Ini
tentu mengundang debat baru, yakni partisipasi sulit
tanpa dukungan prakondisi yang memadai. Seseorang
mustahil bisa berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi
tanpa individu tersebut memiliki potensi yang dapat
ditranformasikan menjadi bentuk yang nyata, seperti
keahlian, modal dan pendidikan. Sebaliknya, untuk
mencapai yang terakhir perlu ada partisipasi. Jadi
seakan siklus.
Dimanakah
mata rantainya? Sedihnya, justru terletak pada politik.
Kemauan politik dari para business dan political
leaders yang punya keberpihakan pada golongan
tertinggal dan miskin sangat rendah.
Tabel
Penguasaan
Aset Ekonomi Antar Penduduk Dunia
1960-90 (%)
|
Indikator
|
20
% Penduduk Terkaya
|
20
% Penduduk Termiskin
|
|
|
|
1960-70
|
1990
|
|
Perolehan
GNP
|
82,7
|
2,3
|
1,3
|
|
Perdagangan
Dunia
|
81,2
|
1,3
|
0,9
|
|
Investasi
Domestik
|
80,5
|
3,5
|
1,1
|
|
Tabungan
Domestik
|
80,6
|
3,5
|
0,9
|
|
Pinjaman
Komersial
|
94,6
|
0,3
|
0,2
|
Sumber:
Human Development Report 1992 dan 1993.
Oxford University Press.
New York.
Your
comment
Back to
top
|