|
Hati-hatilah
memburu efisiensi! Fakta di negara maju dan berkembang
mengindikasikan efisiensi tidak selalu identik dengan prosperity,
bahkan itu cenderung menyebarkan status paling dibenci
setiap manusia: pengangguran. Ini adalah konsekuensi
iklim kompetitif yang mengagungkan efisiensi sebagai
faktor utama dalam menentukan pemenang kompetisi.
Lihat saja
angka-angka berikut. Pada 1999, produsen mobil
kenamaan Perancis, Renault memangkas 1.735 pekerjanya
untuk mengejar produktivitas dan efisiensi. Merujuk ke
belakang, periode 1980-90, pabrik baja US Steel, AS
telah merumahkan sekitar 100 ribu pekerjanya sebagai
bagian dari program peningkatan efisiensi. Di Jepang,
periode 1960-90, produksi sektor manufaktur naik dua
kali lipat tetapi jumlah tenaga kerja yang terserap di
sektor tersebut tidak meningkat.
Bila dipaparkan lebih
jauh termasuk dengan perkembangan data terbaru, daftar
"korban" akan semakin panjang tanpa
membedakan apakah negara maju atau negara terbelakang,
mulai dari Jerman sampai Cina mengalami ancaman satu
hal: tercabutnya hak asasi manusia untuk bekerja
mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Di Indonesia sendiri
dampak memburu efisiensi sudah terasa, di antaranya
kebijakan reorganisasi PT Timah dan rasionalisasi Bank
Rakyat Indonesia awal tahun 90-an yang merumahkan
ribuan tenaga kerjanya. Ini belum termasuk PHK-PHK di
sektor swasta yang datanya secara transparan susah
dideteksi.
Paradoks
Tak pelak lagi,
efisiensi menjadi syarat mutlak keunggulan bersaing
dewasa ini, dan setiap individu/organisasi yang
mengabaikannya akan menjadi pecundang. Ini merupakan
aturan global yang didorong perkembangan dua fenomena
yang terjadi secara simultan, yaitu perkembangan
teknologi yang pesat dan penerapan aturan-aturan
internasional yang baru.
Revolusi penerapan
teknologi dan manajemen telah menciptakan
fleksibilitas dan aksesibilitas sangat tinggi dalam
proses produksi, komunikasi dan pengambilan keputusan.
Sementara itu, secara bersamaan, dunia membangun
aturan free market access sebagai sebuah
instrumen untuk meningkatkan kompetisi global melalui
akses pasar. Keduanya memacu satu hal, yakni efisiensi.
Pada dasarnya
efisiensi adalah nisbah antara keluaran (output)
terhadap masukan (input). Maka, untuk meningkatkan
efisiensi paling tidak ada tiga cara: (1) meningkatkan
keluaran dengan menjaga masukan konstan, (2)
mengurangi masukan dengan keluaran konstan, atau (3)
mengurangi masukan sekaligus meningkatkan keluaran.
Perkembangan sekarang menunjukkan cara ketiga yang
umum terjadi.
Misalnya
inovasi-inovasi di bidang mikroelektronika yang
memperpendek daur hidup produk (product life cycles)
serta inovasi dalam manajemen seperti pengendalian
mutu terpadu (total quality control - TQC) dan
penyerahan tepat waktu (just in time - JIT).
Demikian juga dengan perubahan mendasar dalam
manajemen yang dikenal dengan rekayasa ulang proses
bisnis (business process reengineering -BPR) di
awal 90-an dan Internet di paruh akhir 90-an yang
meningkatkan efisiensi pencarian data dan informasi
serta peningkatan efisiensi dalam komunikasi. Semuanya
menekankan satu hal, kurangi input dan perbanyak
output.
Upaya ini tentu
sangat masuk akal mengingat keterbatasan input faktor
produksi seperti modal, tanah dan tenaga kerja.
Ironisnya, justru inovasi tersebut membuat faktor
produksi tenaga kerja seakan tidak terbatas. Padahal,
selain sebagai faktor produksi, tenaga kerja (manusia)
juga sekaligus sebagai subjek (penikmat) keluaran
produksi. Itu berarti, semakin berkurang tenaga kerja
yang terlibat, semakin sedikit yang menikmati hasil
produksi.
Hal ini menimbulkan
paradoks. Di satu sisi, efisiensi dikembangkan untuk
kesejahteraan manusia, di sisi lain sebaliknya
efisiensi justru menimbulkan kemelaratan manusia.
Implikasi
Mau tidak mau,
paradigma efisiensi akan menjadi salah satu
pertimbangan utama dalam menyusun kebijakan
pembangunan. Karena itu, dalam kaitan dengan situasi
di atas, setidaknya ada beberapa hal yang perlu
dicermati. Pertama, apa pun wujudnya, serangkaian
kebijakan yang digelar pemerintah pada hakikatnya
didasarkan keinginan untuk meningkatkan efisiensi
dengan menekan penggunaan input dan merangsang
peningkatan output. Lantas, dalam mewujudkan efisiensi
tersebut, input proses produksi manakah yang
dirasionalisasi (disesuaikan)?
Di dalam jangka
menengah dan panjang, apabila rasionalisasi terjadi
pada biaya dan jumlah tenaga kerja, maka ledakan
surplus tenaga kerja serta degradasi kualitas hidup
buruh akan tidak terbendung. Sementara bila
rasionalisasi ditujukan untuk mengurangi
distorsi-distorsi yang terjadi dalam kegiatan ekonomi,
maka itu berarti menekan input biaya biaya non labour
dalam proses produksi. Hal terakhir inilah yang
sebenarnya yang sangat diharapkan.
Berbagai distorsi
yang timbul dalam perekonomian nasional seperti
monopoli baik dalam produksi maupun distribusi,
korupsi, sogok dan berbagai praktik lain yang tidak
mendukung jalannya mekanisme pasar yang bebas. Ini
kemudian menyebabkan ekonomi nasional biaya tinggi.
Karena itu, rasionalisasi harus ditujukan pada
pengurangan distorsi-distorsi tersebut.
Kedua, pilihan
kebijakan industrialisasi adalah tak terbantah karena
secara ekonomi terbukti membawa kemajuan di
negara-negara yang lebih dulu melakukannya. Masalahnya,
pola industrialisasi yang bagaimana yang harus
ditempuh, berbasis pada modal dan teknologi tinggi
atau berbasis pada manusia dengan teknologi madya.
Diskusi semacam ini
memang jauh-jauh hari sudah dikemukakan, tetapi
rasanya masih relevan untuk dibicarakan. Sebab, selain
penduduk bertambah terus dan modal terbatas,
pengalaman negara lain juga menunjukkan lompatan
teknologi selalu lebih banyak menyimpan cerita
kegagalan daripada keberhasilan.
Dalam kaitan ini
patut dicermati, keberhasilan negara industri maju dan
negara industri baru melewati tahapan industrialisasi
umumnya didukung oleh dua faktor penting. Pertama,
pertanian yang tangguh dan kedua, jumlah penduduk
'optimal'.
Pertanian tangguh
dicirikan dengan adanya pertanian modern yang didukung
oleh penerapan teknologi dan manajemen modern, terms
of trade produk pertanian yang baik dan tingkat
pendapatan yang memungkinkan petani hidup jauh di atas
subsistensi. Hal-hal ini masih belum terwujud dalam
pengembangan sektor pertanian di tanah air.
Menyangkut jumlah
penduduk, penduduk Indonesia sekarang, 210 juta jauh
di atas jumlah penduduk 'optimal' untuk mendukung
industrialisasi yang cepat. Korea Selatan misalnya,
hanya sekitar 40 juta, Jepang pada tahun 1960
berpenduduk di bawah 100 juta dan penduduk Amerika
Serikat pada 1930 di bawah 130 juta pada saat negara
tersebut mencapai tahapan sebagai negara industri.
Strategi pengembangan
industri ini diharapkan tidak sampai menimbulkan
inefisiensi yang besar terhadap sumberdaya nasional.
Misalnya strategi pengembangan industri pada masa Orde
Baru cenderung menekankan pada pengembangan industri
besar strategis termasuk di dalamnya IPTN. Sekarang
ini sangat mendesak dilakukan reformulasi kembali
strategi pengembangan industri nasional dengan merujuk
pada real potensi yang dimiliki oleh bangsa.
Ketiga, apa yang
terjadi selama Orde Baru laju transformasi
perekonomian jauh meninggalkan laju transformasi di
bidang Sumberdaya Manusia (SDM). Sebagai gambaran,
pada 1999, hanya 29 persen angkatan kerja yang
berpendidikan menengah ke atas, relatif amat rendah
dibanding 52 persen saat Korea Selatan memulai
industrialisasi pada 1975. Padahal, proses
industrialisasi membutuhkan tenaga terdidik yang
jumlahnya tidak sedikit.
Karenanya diperlukan
strategi dan terobosan dalam peningkatan kualitas
manusia yang tidak bertumpu pada pendidikan formal.
Mengingat pendidikan formal mahal dan menempuh waktu
lama, sangat mendesak dipikirkan peningkatan kualitas
dan intensitas pendidikan informal termasuk dengan
gerakan pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat
yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai moral tetapi
juga basis kognitif dan pengetahuan praktis dalam
dunia nyata.
Di sini peranan
organisasi kemasyarakatan dan LSM-LSM sebagai mitra
pemerintah sangat diperlukan sehingga orientasinya
tidak condong pada orientasi sosial politik tetapi
pada pembinaan masyarakat di bidang pengetahuan dan
teknologi. Ini tentu harus didukung distribusi
buku-buku dan prasarana pendidikan lainnya yang
harganya terjangkau, kalau perlu disebarkan gratis.
Sejauh ini ada
beberapa learning centre di kota-kota besar di tanah
air yang menawarkan pelayanan belajar komputer kepada
anak-anak. Tetapi sifatnya masih profit motive
sehingga jangkauannya masih sangat terbatas kepada
keluarga yang secara ekonomi kuat. Hal ini yang salah
satu mendorong the Indonesian Institute untuk aktif
berpartisipasi dalam membantu peningkatan kualitas
pendidikan informal generasi muda di tanah air.
Fokusnya adalah pada pengembangan pengetahuan kognitif
dan kewiraswastaan.
Keempat, dibanding
negara-negara tetangga dan industri baru,
produktivitas tenaga kerja di Indonesia sangat rendah.
Sementara karena dorongan politis, biaya tenaga kerja
akan semakin meningkat. Pada gilirannya, beban biaya
mahal ini akan melemahkan keunggulan komparatif
terhadap negara lain yang menawarkan upah relatif sama
tetapi produktivitas lebih tinggi.
Masalahnya,
produktivitas yang rendah tersebut semata-mata bukan
karena SDM berkualitas rendah tetapi minimnya
infrastruktur dan teknologi serta berkembangnya iklim
yang kurang kondusif untuk peningkatan produktivitas.
Artinya dengan kondisi sekarang tantangan tidak hanya
pada mutu SDM, juga peningkatan penerapan dan
penguasaan teknologi, karena bagaimanapun
produktivitas terkait erat dengan penerapan teknologi.
Untuk tidak salah
kaprah, teknologi sebetulnya tidak selalu identik
dengan peralatan canggih. Selama Orde Baru, rakyat
sering diombang-ambingkan dengan istilah teknologi
seakan-akan teknologi hanya kapal terbang dan lain
sebagainya.Tetapi, teknologi adalah suatu metode
mengkombinasikan berbagai input dalam proses produksi
dengan teknik produksi yang efisien untuk menghasilkan
output yang semakin baik. Kalau kemudian muncul
peralatan canggih, itu adalah instrumen teknologi.
Your
comment
Back to
top
|