|
New York, AS: Wacana
demokrasi kontemporer di Indonesia selalu memfokuskan
diri pada issu sekitar perimbangan kekuatan antara
negara dan masyarakat, issu representasi dalam
pemerintahan, dan yang terakhir mengenai peran
partai-partai politik dan perpecahannya. Sangat
sedikit perhatian -untuk tidak mengatakan tidak ada
sama sekali -diberikan kepada issu mengenai bagaimana
teknologi berperan dalam proses demokratisasi.
Sebaliknya, para ahli teknologi kita jarang sekali
melihat signifikansi aspek-aspek sosial politik dalam
proses pengembangan teknologi sehingga tidak jarang
menimbulkan diskrepansi antara teknologi yang
dikembangkan dengan realitas sosial politik. Tulisan
ini merupakan start up bagi dialog dua arah
antara para ahli sosial dan politik dengan ahli
teknologi dalam mencari suatu pemahaman relasi dua
wilayah tersebut yang selama ini tidak pernah
bersentuhan, baik dalam wacana akademis maupun dalam
wacana praksis.
Ada dua
alasan diperlukannya suatu pemahaman yang baik tentang
keterkaitan antara demokrasi dan teknologi. Pertama
adalah bahwa sistem demokrasi yang baik pada situasi
tertentu akan sangat tergantung pada teknologi.
Sebagai misal adalah teknologi telekomunikasi yang
digunakan dalam proses penyebaran berita-berita
politik yang merupakah hak setiap warga negara. Atau
misalnya teknologi komputasi yang digunakan dalam
proses penghitungan suara dalam pemilihan umum. Peran
teknologi menjadi penting ketika kita menyadarai bahwa
sistem demokrasi yang baik dapat dimanipulasi oleh
pihak-pihak yang berkepentingan melalui penguasaan
teknologi tersebut.
Jika
alasan pertama menyorot pada bagaimana teknologi
mempengaruhi sistem demokrasi, maka alasan kedua
berada pada anak panah yang sebaliknya, yakni
demokrasi mempengaruhi proses pengembangan teknologi.
Pengembangan teknologi di suatu negara, baik negara
dimana peran pemerintah sangat kuat maupun negara
liberal seperti di Amerika Serikat, tidak pernah lepas
dari peran pemerintah. Pemerintahlah yang memiliki
kekuasaan untuk membuat suatu kebijakan teknologi
(technology policy). Point of interest di sini
adalah fakta bahwa pengembangan teknologi merupakan
hasil dari suatu proses politik. Keberhasilan tim
Manhattan Project dalam mengembangkan bom hidrogen
yang digunakan dalam tragedi Hiroshima dan Nagasaki
setengah abad lebih yang lalu adalah salah satu contoh
pengembangan teknologi yang didasari atas motif
politik (political impetus). Di Indonesia, kebijakan
teknologi menjadi penting jika kita melihat fakta
bahwa telah begitu banyak dana pengembangan teknologi
dikeluarkan oleh pemerintah tetapi tidak memberikan
dampak signifikan bagi pertukbuhan ekonomi dan
kesejahteraan rakyat.
Konstruksi Sosial Teknologi
Ketika
era reformasi digulirkan oleh kalangan mahasiswa di
Jakarta dan diikuti oleh kampus-kampus dikota yang
lain, ada satu hal yang membedakan secara signifikan
gerakan mahasiswa 1998 ini dengan apa yang dilakukan
oleh senior-senior mereka di tahun-tahun sebelumnya.
Faktor penting tersebut adalah penggunaan internet.
Secara
fungsional internet adalah media pertukaran informasi
yang tidak berbeda fungsinya dari sebutlah itu telefon,
koran, faksimil. Tetapi internet memiliki empat
karakteristik yang membuatnya menjadi superior
dibanding media komunikasi lainnya. Pertama adalah
biaya penggunaan yang relatif murah. Kedua adalah
sifatnya yang real time. Ketiga adalah sifatnya
yang borderless. Tidak ada sekat-sekat ruang di
media ini yang memungkinkan tiap orang dapat saling
terkoneksi dengan baik. Keempat, dan ini yang paling
penting, internet menyediakan ruang-ruang publik yang
tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa. Ketika
Tempo dibredel oleh Harmoko atas nama penguasa Orde
Baru, bukan berarti kematian bagi Tempo. Internet lalu
menjadi alternatif yang sangat jitu dalam penyebaran
berita-berita politik aktual oleh Tempo.
Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan
internet media yang paling efektif dalam gerakan
reformasi tahun 1998. Berita-berita politik dapat
disebar tanpa adanya hambatan dari penguasa. Aksi-aksi
demokrasi dapat terkonsolidasi dengan mudah lewat
penggunaan internet khususnya pengiriman surat lewat
e-mail. Para pendukung gerakan reformasi
mendapat feedback yang cepat melalui internet.
Secara umum bahkan bisa dilihat bagaimana internet
merubah perilaku individual dan sosial masyarakat
khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki
infratsruktur teknologi pendukung internet yang
memadai seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan
Surabaya. Dari teknologi yang kelihatannya sepele ini,
gerakan reformasi mendapat momentum politik yang besar.
Kajian yang lengkap mengenai internet dan proses
reformasi di Indonesia dapat dilihat dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Merlyna Lim, kandidat
doktor Science, Technology, and Society Studies (STS)
University of Twente.
Tentunya
internet bukanlah satu-satunya faktor teknologis yang
bermain. Telepon selular dan televisi adalah faktor
teknologis yang berperan cukup penting dalam
akselerasi momentum politik gerakan reformasi 1998.
Tetapi internetlah yang saya kira memberikan suatu
kesempatan yang baru bagi para pelaku refromasi untuk
saling berinteraksi secara lebih intensif.
Michael
Dertozous,
pelopor ArpaNet yang merupakan cikal bakal internet,
tidak pernah membayangkan atau dengan sengaja
menciptakan teknologi yang berdampak pada sistem
demokrasi di Indonesia. Datang ke Indonesiapun mungkin
dia belum pernah. Evolusi pemfungsian internet dari
sarana komunikasi antar komputer menjadi media
demokratisasi dapat dipahami dalam kerangka teori
kontruksi sosial teknologi(social construction of
technology) dimana perkembangan teknologi tidaklah
bersifat linier (Bijker, 1987).
Berkembanganya suatu teknologi adalah hasil dari
konstruksi sosial (socially constructed). Suatu
teknologi berkembang sebagai suatu hasil bentukan
sosial (social shaping) di mana teknologi tersebut
berada. Ahli teknik dan ahli desain yang merancang
suatu produk teknologi “hanyalah” agen-agen teknis
yang “tunduk” pada proses sosial antara produk
teknologi dan masyarakat pengguna. Teknologi bukanlah
suatu entitas vakum dan bebas nilai. Ketika
berinteraksi dengan masyarakat pengguna, teknologi
mengalami proses appropriation (diterjemahkan
secara bebas sebagai penyesuaian). Appropriation
adalah suatu proses pemberian makna oleh
kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai
serta kepentingan yang ada pada masyarakat tersebut
terhadap suatu produk teknologi Pemberian makna yang
beragam, baik antar individu maupun anta kelompok,
menjadikan proses perkembangan (evolusi) teknologi
menjadi multikultural.
Dari
penjelasan ini kita bisa memahami bagaimana “nilai”
suatu produk teknologi pada suatu kelompok sosial
tertentu berbeda dengan kelompok sosial lainnya karena
perbedaan budaya kedua kelompok tersebut Sebagai misal,
kecenderungan orang Indonesia dalam memaknai produk
teknologi sebagai bagian dari gaya hidup menghasilkan
nilai guna yang berbeda dengan orang Eropa yang
memperlakukan produk teknologi semata-mata sebagai
instrumen. Contoh yang gamblang adalah telepon seluler
yang bagi orang Indonesia dianggap bukan hanya sebagai
alat telekomunikasi, seperti yang dilakukan oleh orang
Eropa, tetapi sebagai simbol status. Perbedaan “makna”
ini berimplikasi pada proses appropriation yang
berbeda terhadap produk teknologi yang sama yang
mempengaruhi proses perkembangan teknologi tersebut.
Proses
appropriation teknologi ini terjadi dalam
teknologi internet dalam kaitannya dengan proses
demokratisasi di Indonesia. Setiap fungsi teknis yang
terangkum dalam internet mengalami proses penyesuaian
yang tidak hanya berimplikasi pada fungsi teknis,
tetapi juga fungsi sosial (dan politik).
Proses
appropriation menjadi krusial ketika teknologi
menjadi alat (manipulasi) politik yang ampuh.
Penguasaan teknologi pencitraan melalui satelit oleh
negara-negara maju adalah salah satu bukti bagaimana
negara-negara tersebut mampu mendominasi konstelasi
politik dunia melalui teknologi. Atau bagaimana CNN
yang pro-barat dengan jaringan teknologi
broadcasting yang sangat luas mampu menghegemoni
berita-berita dunia. Di Indonesia, kasus penguasaan
teknologi sebagai alat politik bisa dilihat ketika
Golongan Karya masih berkuasa pada era Orde Baru
dimana televisi dan beberapa media lainnya dijadikan
alat propaganda yang ampuh.
Apa yang
dijelaskan di atas ingin menunjukkan bagaimana peran
teknologi dalam sistem demokrasi. Pada satu sisi
teknologi dapat membantu proses demokratisasi tetapi
pada sisi lain penguasaan teknologi oleh kelompok
tertentu pada dapat mempengaruhi berjalannya sistem
demokrasi.
Demokratisasi Teknologi
Isyu
demokratisasi dalam teknologi dapat dilihat dalam
konteks proses kebijakan. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, perkembangan teknologi sedikit banyak
bergantung pada kebijakan pemerintah. Dalam konteks
ini, pengembangan teknologi adalah political
statement dalam arti kata bahwa teknologi
merupakan representasi kepentingan-kepentingan politis.
Hal ini jelas terbukti pada kebijakan teknologi di
beberapa negara di mana perkembangan teknologi sangat
tergantung pada keputusan politik pemerintah untuk
mencapai political ends tertentu atas negara
lain.
Proyek
pengembangan teknologi dirgantara di era Habibie
adalah contoh kasus yang sangat kontekstual.
Pengembangan teknologi canggih, khususnya industri
dirgantara merupakan political statement untuk
mengangkat citra Indonesia di mana internasional.
Sebagai political statement, teknologi canggih
yang dikembangkan sangat sarat dengan muatan-muatan
politik (political impetus) yang sayangnya justru
menjadikan proyek-proyek tersebut jauh dari realitas
sosial ekonomi masyarakat.
Dari
sekian banyak alternatif teknologi yang dapat
dikembangkan, keputusan Habibie untuk mengembangkan
teknologi dirgantara tidak lepas dari kerangka
teknologi sebagai political statement. Dengan
dukungan politik yang utuh dari Presiden Suharto pada
masa itu, kebijakan Habibie dalam pengembangan
teknologi canggih seakan-akan menjadi suatu keharusan
dan setiap warga negara Indonesia patut mendukung.
Tetapi harga yang harus dibayar teramat mahal. Krisis
finansial yang melanda IPTN (sekarang PTDI) dan
terhentinya proyek N250 dan N2130 menjadi salah satu
bukti ketidaktepatan kebijakan teknologi yang dibuat
oleh Habibie.
Kebijakan teknologi Habibie tidak saja gagal dalam
proyek pengembangan teknologi canggih, tapi juga telah
mengorbankan sektor lainnya untuk berkembang karena
tersedotnya dana ke sektor teknologi canggih yang
menyerap dana triliunan rupiah. Pengembangan teknologi
pertanian misalnya, atau jenis teknologi lainnya yang
lebih menyentuh kebutuhan nyata masyarakat luas
menjadi terhambat dana yang terbatas.
Kegagalan kebijakan teknologi Habibie sangat erat
terkait dengan sistem politik otoriter di era Orde
Baru. Kedekatan Habibie dengan Presiden Suharto
menjadikan proses kebijakan teknologi menjadi sangat
tertutup dan cenderung one-man-show sehingga
manipulasi sangat mungkin terjadi. Ketidaktepatan
kebijakan (inappropriate policy) yang dibuat
Habibie adalah bentuk governing mentality yang
cenderung menafikan keterlibatan publik dalam proses
pengambilan keputusan (Campbell, 2000).
Dari
kasus kebijakan teknologi Habibie, kita bisa melihat
pentingnya demokrasi bagi perkembangan teknologi yang
lebih tepat dan bijak. Demokrasi memungkinkan proses
pembuatan kebijakan teknologi tidak lagi didominasi
oleh individu tertentu atau kelompok tertentu
melainkan menjadi agenda publik. Keterlibatan publik
dalam proses pembuatan kebijakan teknologi memberi
peluang terjadinya proses negosiasi antara para
pembuat kebijakan dan masyarakat. Dan melalui proses
negosiasi tersebut dapat dicapai suatu kebijakan
teknologi yang lebih tepat bagi masyarakat. Dengan
kata lain, tanpa adanya suatu sistem demokrasi yang
baik, maka sangat sulit untuk mengharapkan kebijakan
teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat luas dapat
tercapai maksimal.
Agenda
demokratisasi teknologi di Indonesia dapat dimulai
dengan transparansi proses pembuatan kebijakan
teknologi. Dominasi para elit-elit teknologi yang
berada dilembaga pemerintah seperti BPPT, Kementerian
Riset dan Teknologi, dan berbagai bentuk dewan riset
yang ada sudah selayaknya diimbangi dengan partisipasi
publik secara luas.
Sulfikar Amir, mahasiswa program doktor di
Department of Science and Technology Studies
Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York,
Amerika Serikat.
Your
comment
Back to
top
|