home

about us

mission

contact us

The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are study, democracy and unity.
 

 

MAIN ISSUES
 

Democracy

 

Economy

 

Labor/Unemployment

 

Education

 

Development

 

Global Issues

 

Research

 

Contact Us:

Elwin Tobing

Daily Archives


Pentingnya Keabsahan Data

Elwin Tobing

Facts are entities which cannot be manipulated or disputed. Robert Burns, 1759-96.

Pertama kali dipublikasikan di Suara Pembaruan sebagai Kolom Khusus pada Juni 21 1995. Meski demikian, isinya masih sangat relevan dengan situasi sekarang.

Alvin Toeffler dan John Naisbitt adalah dua futurolog kondang asal Amerika Serikat yang karyanya selalu menarik perhatian banyak kalangan. Analisis dan ramalan mereka sangat persuasif sehingga tidak mengherankan bila karyanya banyak digunakan sebagai panduan oleh para pengambil keputusan, baik  di bidang pemerintahan maupun bisnis.  Lantas, di manakah letak keunggulan karya Toeffler dan Naisbitt?

Secara  metodologi keilmuan, apa yang dilakukan Naisbitt sebetulnya tergolong umum.  Dimulai dari  perumusan  masalah, pengamatan  dan pengumpulan data yang relevan, penyusunan data serta perumusan dan pengujian hipotesis.  Keunggulan mencolok terletak pada perumusan masalahnya yang  tajam, didukung data yang komprehensif dan proses deduktif-induktif yang kuat dalam menguji hipotesis.  Tambahan  satu hal, semua itu dilakukan dengan dukungan suatu  tim yang solid, yang secara eksplisit disebutkan mereka dalam setiap kata pengantar bukunya.

Sama seperti beberapa karya dari displin keilmuan, ciri menonjol lainnya adalah pola pendekatan empiris yang digunakan mereka dalam mengambil kesimpulan.  Pola empirisme merupakan usaha mencari pengetahuan dengan mendasarkan  pada pengalaman berupa fakta/objek yang dapat ditangkap oleh panca-indera.  Jadi, fakta adalah 'roh' pola empirisme, dan itulah yang melandasi analisis dan ramalan Toeffler dan Naisbitt. 

Akan tetapi, bagaimana kalau data-data dan fakta-fakta yang disajikan mereka tidak benar?  Apakah prediksi yang disimpulkan masih valid dan patut dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan/kebijakan?

Fakta dan Informasi

Fakta adalah sesuatu yang membuat suatu pernyataan betul atau salah.  Bahwa matahari panas adalah fakta.  Bahwa Belanda pernah menjajah Indonesia adalah juga fakta.  Jadi, ibarat seorang hakim, fakta akan memutuskan apakah suatu pernyataan, oleh siapapun, dan kapanpun, mengandung unsur kebenaran atau sebaliknya.  Karena itu, fakta  adalah juru adil yang paling adil. 

Sedangkan data merujuk pada fakta (refer  to  facts) yang umum dinyatakan dalam angka (number).  Ungkapan express in number (nyatakan dalam angka) sangat populer  di kalangan kaum empiris.  Filsuf Lord Kelvin berkata, "Jika Anda mengatakan bahwa Anda mengetahui sesuatu, tetapi tidak dapat menyatakannya dalam angka,  maka pengetahuan Anda tersebut belumlah lengkap".  Ini menunjukkan bahwa angka merupakan komponen sangat penting dalam pengetahuan.

Tetapi  reaksi terhadap suatu angka sangat bervariasi dan tergantung subjek dan perspektif.  Angka inflasi tahun 2002 sebesar 10 persen misalnya, mungkin bagi nelayan tidak  berarti apa-apa kecuali daya belinya turun, sehingga dengan jumlah uang  yang sama, dia hanya mendapatkan 9 kilo beras, dibanding 10 kilo pada tahun sebelumnya. 

Bagi para pengambil keputusan, angka itu relatif tidak mengurangi daya belinya, kecuali  akan gusar  karena kebijakannya untuk menekan inflasi di bawah 10 persen mengalami kegagalan.  Dua perspektif dan konsekuensi yang berbeda untuk angka yang sama pada masalah yang sama.

Dengan demikian, sebetulnya sangat celaka untuk memanipulasi angka sebab itu juga berarti memanipulasi data dan mengelabui fakta.  Akibatnya sangatlah berbahaya.  Misalnya, peristiwa Teluk Babi pada awal tahun 1961 di mana terjadi konflik segitiga AS, Uni  Sovyet dan Kuba yang nyaris membawa dunia pada kehancuran karena dipicu oleh kesalahan data intelijen.

Data boleh dimanipulir, namun sesungguhnya fakta tidak bisa dibohongi. Galileo boleh dihukum mati, tetapi temuannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, bukan sebaliknya, adalah fakta tak terbantah. 

Suatu  ilustrasi menarik dikemukakan filsuf dan matematikawan Betrand Russel dalam  Human Knowledge: Its Scope and Limits (1948).  Jika seorang  penjual daging berkata, "jualan habis dan itulah fakta", namun segera setelah itu, seorang langganan yang disenanginya  datang dan dia memperoleh sekerat daging anak domba di bawah meja.  Di sini, penjagal itu menceritakan dua kebohongan.  Pertama, mengatakan bahwa dagangannya terjual habis, dan kedua, mengatakan bahwa dagangannya terjual habis adalah suatu fakta.

Data adalah bahan baku informasi dan informasi digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan atau kebijakan.  Maka, data yang sudah dimanipulasi akan menghasilkan informasi yang salah, dan tentu saja sulit mengharapkan keputusan/kebijakan yang benar jika dibangun di atas informasi yang salah.  Lalu, apakah tindakan yang harus dikenakan kepada setiap pelaku kegiatan manipulasi data dan informasi? 

Dunia sekarang berada pada era informasi di mana data dan informasi diperjualbelikan layaknya produk manufaktur.  Karena itu, segala aspek penilaian kualitas terha­dap  produk informasi seyogianya tidak berbeda dengan komoditas barang.

Artinya, seorang konsumen informasi seyogianya mempertanyakan: (a) kualitas informasi terse­but,  (b)  kualitas proses produksi informasi, (c) kualitas datanya, sebagai bahan baku informasi, dan (d) kualitas produsen informasi tersebut.  Dengan kata lain, pengujian terhadap kualitas input, proses produksi dan output informasi menjadi sangat penting.

Dari  perspektif  ini, setiap pemalsuan data dan informasi, sebetulnya sama halnya dengan pemalsuan produk manufaktur.  Implikasinya, dari aspek hukum, kegiatan manipulasi data tentu dapat diajukan sebagai kasus pemalsuan yang tergolong tindakan pidana termasuk misalnya pemalsuan data laporan keuangan, apakah tergolong tindakan kejahatan pidana atau bukan, mestinya dapat didekati dari konteks ini. 

Kualitas Data di Indonesia

Sangat tidak mengherankan kalau seseorang merasa skeptis dengan kualitas data di Indonesia. Sama seperti di negara terbelakang dan berkembang, umumnya di negara-negara tersebut badan pengumpul dan pengolah data, seperti Biro Pusat Statistik, cenderung sebagai bagian daripada mesin birokrasi dan mesin penyanggah regim yang berkuasa. Disamping penyajian data yang kurang up to date, konsiten dan fleksibel, keabsahananya sering meragukan. Masih segar dalam ingatan kasus eksport fiktif di tahun 1995.

Di lain pihak, sektor swasta juga cenderung belum memiliki dan mengembangkan tradisi untuk mengumpul, menyimpan dan menggunakan data sebagai bagian vital daripada proses pengambilan keputusan. Itu tidak lepas daripada cara berpikir old enterpreneurs yang lebih cenderung menggunakan insting dalam mengambil keputusan bisnis daripada pendekatan sistematik yang dilandasari ketersediaan data.

Data memang terlanjur menyimpan banyak misteri; fakta menjadi juru adil suatu pernyataan; Toeffler dan Naisbitt menunjukkan betapa pentingnya data dan fakta dalam merekonstruksi kemungkinan  ke depan. Tetapi, menurut saya, yang jauh lebih penting adalah kualitas data dan informasi: apakah data yang disajikan sudah dimanipulir atau informasi penuh kebohongan, khususnya di bidang bisnis dan ekonomi. Dan, pemerintah sekarang serta yang berikut, bersama-sama dengan sektor swasta harus benar-benar berpikir ke arah sana, bagaimana menghasilkan data yang lebih akurat dan bagaimana mengembangkan data minded baik di kalangan birokrat, swasta maupun masyarakat.

Untuk pemerintah, salah satu caranya adalah dengan perbaikan vital yang mendesak pada BPS. Misalnya contoh kecil, fasilitas data di website BPS sendiri sangat jauh dari harapan, apalagi kemampuan mendeliver data yang akurat dan up to date. Demikian juga dengan berbagai badan pemerintah lainnya. Di samping itu, tentang masalah website, badan-badang pemerintah tersebut tidak jarang mengganti alamat link ke sumber data tertentu. Ini tentu mempersulit access kepada pihak yang tertarik terhadap perkembangan di Indonesia.

Mengenai swasta, para enterprenuers dan manajer muda sekarang sudah cenderung menganggap data sebagai sesuatu kebutuhan vital sebagai landasan pengambilan keputusan. Namun, di lain pihak masih ada paranoia dalam merelease data perusahaan sendiri terhadap publik. Juga, meski menganggap data penting, namun belum cukup berkembang usaha untuk menyimpan dan mengelola data perusahaan sendiri. Sejauh tertentu, seyogianya ada online data dan informasi yang dapat di akses oleh publik terutama mengenai laporan keuangan perusahaan yang sudah go publik dan berbagai data serta informasi umum lainnya.

our comment

Back to top

 

© 2002 The Prospect and The Indonesian Institute, All Rights Reserved.