DAILY PERSPECTIVE...                                        

Lahirnya Generasi Kualitas 2, 3, ...

Eva Gloria

Linda Sari

If we could raise one generation with unconditional love, there would be no Hitlers. We need to teach the next generation of children from Day One that they are responsible for their lives. Mankind's greatest gift, also its greatest curse, is that we have free choice. We can make our choices built from love or from fear. Dr. Elizabeth Kubler-Ross

  

Berdasarkan pengamatan saya, banyak sekali ibu-ibu, khususnya yang bekerja pada ekonomi kelas menengah ke bawah, yang bekerja ke luar daerah di lingkungan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). Untuk ekonomi kelas menengah ke atas tentu lebih banyak pilihan. Ibu-ibu ini harus berangkat kerja pagi-pagi sekali tanpa menyiapkan makanan buat anaknya (makanan pagi, siang, dan malam). Mungkin si ibu hanya menyediakan uang untuk beli makanan, atau menyuruh pembantu untuk memasak, yang menjadi masalah adalah tentang kualitas gizi makanan keluarga yang ditinggal si ibu. Anak-anak atau pembantu tentu belum mengerti tentang arti makanan bergizi, mungkin saja mereka akan membeli makanan hanya berupa jajanan. Demikian seterusnya berhari-hari sampai bertahun-tahun, kekurangan gizi ini akan terakumulasi, sehingga daya tahan tubuh keluarga tersebut menjadi kurang baik. Atau anggota keluarga itu sering menderita keluhan sakit. Kondisi kesehatan yang kurang sempurna akan mengganggu produktivitas keluarga tersebut, baik produktivitas orang tua ketika bekerja maupun kemampuan belajar anak-anaknya, sehingga mungkin menjadi sulit untuk berprestasi di sekolah. Padahal prestasi yang baik di masa sekolah sangat mendukung anak itu untuk berhasil di masa depan. Ini masih secara fisik.

Bagaimana dengan pertumbuhan jiwa anak tanpa ada pengawasan, bimbingan, kasih sayang dari orang tua. Orang tua tidak mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya sepanjang hari, bagaimana pelajaran sekolahnya, dengan siapa anaknya bergaul. Berdasarkan pengamatan saya, di lingkungan Jabotabek, sangat tidak baik membiarkan anak-anak tumbuh tanpa bimbingan orang tuanya. Sebagai contoh, sekarang ini banyak usaha penyewaan play station/games bagi anak-anak. Apabila kita melihat ke dalam ruang penyewaan, umumnya sekelompok anak-anak usia sekolah yang menyewa play station tersebut. Waktu anak-anak tersebut terpakai untuk hal-hal yang tidak terlalu berguna bagi kehidupan mereka di masa depan. Saya tidak anti teknologi, hanya saya pikir manusia yang harus mengendalikan teknologi, supaya bermanfaat, sayangnya bangsa kita belum mampu untuk mengendalikan itu.

Kembali ke anak-anak tersebut, tentu mereka belum mengetahui apa dampaknya bagi mereka di masa depan apabila tidak mengisi waktu dengan belajar atau melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depan mereka sendiri, mungkin dampak yang terlihat dari nilai rapor sekolahnya. Begitulah seterusnya anak-anak tersebut bertumbuh tanpa prestasi, begitu juga dengan jiwa anak-anak, mungkin jiwa anak-anak bertumbuh dari lingkungan kehidupannya tanpa kehadiran orang tua sepanjang hari. Melihat semakin banyak pemakai narkoba di usia sekolah, ini juga perlu menjadi bahan peringatan kepada orang tua, pemakai narkoba tidak saja dari anak-anak yang orang tuanya berduit, tetapi orang tua yang tidak mampu. 

Banyak orang tua menganggap tanggung jawab pertumbuhan moral anak sudah cukup didapat dari sekolah. Ini tentu kurang tepat. Sekolah umumnya hanya membantu dalam membuka pikiran dan menambah pengetahuan anak, selebihnya orang tua yang memegang peranan untuk perkembangan pengetahuan dan jiwa anak-anaknya. Dengan kondisi seperti di atas sepanjang hari, orang tuanya baru kembali ke rumah di malam hari, bagaimana pertumbuhan pengetahuan dan jiwa anak-anak tersebut sampai anak dewasa? Mungkin yang akan dihasilkan adalah generasi kualitas no. 2, 3, 4...

Ini akan sangat berbeda dengan anak-anak yang dibesarkan di pedesaan, lingkungan dan keluarga besar masih mempunyai peranan untuk memperhatikan anak-anak saudara/tetangganya.

Apabila telah lahir generasi yang kurang berkualitas begitu, apa artinya penghasilan yang selama ini diperoleh orang tuanya? Mungkin menjadi tidak berarti. Apakah ini sebuah prasangka buruk atau ketakutan saja? Atau memang begitulah hidup, setiap orang/anak menganggap kehidupan ini hanya suatu nasib atau takdir yang harus diterima begitu saja.

Eva Gloria, Jakarta. Pencinta anak.

Tanggapan:

Keprihatinan Eva adalah keprihatinan kita semua. Dan ini adalah keprihatinan yang sangat nyata.   Sebagai orang yang dilahirkan di tahun tujuh puluhan, saya juga merasakan dengan jelas perbedaan situasi antara masa dulu dan sekarang. Namun sepertinya hal ini akan selalu terulang pada generasi apapun. Orang-orang tua kita selalu berpendapat bahwa tantangan dan godaan yang dihadapi kita pada masa remaja dulu jauh lebih besar dari pada mereka. Mereka-mereka yang kita khawatirkan sekarang ini, yang disebut-sebut orang sebagai Gen-X atau Y, akan mengkhawatirkan generasi-generasi selanjutnya: generasi-Z, -E, atau entah apalah nanti mereka disebut.  Padahal kalau dipikir-pikir, saat saya kecil paling yang ada sebagai hiburan itu Si Unyil, Voltus V, Candy-Candy, dan Lima Sekawan saja. Begitu menginjak remaja, hiburan yang agak dilarang oleh orang-tua saya adalah radio Prambors, khususnya ‘Catatan si Boy’, karena mereka takut saya cepat ‘dewasa’. Saya sering merasa lebih ‘beruntung’ dilahirkan di tahun itu daripada sekarang.

Bila kita lihat yang terjadi di era informasi ini, apa saja bisa diakses oleh semua orang. Dari yang paling noble sampai hal dan kejadian2 yang paling heinous.  Walaupun tanpa internet, seorang anak akan gampang sekali terekspos dan bisa terpengaruh dengan apa yang ditontonnya di layar kaca. Jaman dulu tontonan di layar kaca pasti berkisar hal-hal yang mendidik dan punya pesan moral yang dalam, sebangsa Little House in the Praire, juga bahkan sinetron-sinetron Indonesianya. Tanpa didampingi oleh orang dewasa pun kita biasanya bisa gampang terenyuh dan gampang menangkap pesan-pesan moral yang bertaburan di sana yang meninggalkan kesan yang mendalam sekali.

Yang jadi pertanyaannya sekarang kemana kesan baik yang telah tertanam pada masa kanak-kanak itu tersimpan pada diri orang-orang tua muda saat ini? Menurut pengamatan saya, banyak orang tua yang terimbas cara berpikirnya oleh tayangan sinetron-sinetron di TV yg diputar saat ini, sehingga logika berpikirnya juga mirip yang ditampilkan di sana, tanpa sadar bahwa itu semua adalah ‘exaggeration’ dari kehidupan normal.  Kesan lain yang tampak nyata sekali pada diri generasi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang tua di jaman ini adalah sikap APATIS.  Apatis terhadap kemiskinan sekitarnya, apatis terhadap masalah dan masa depan bangsa secara keseluruhan, juga apatis terhadap perilaku tetangga bahkan keluarga dekat, apalagi orang lain, yang melakukan tindakan korupsi dan kriminal lainnya dan menganggap itu semua sebagai hal yang umum dan lazim.

Saya kurang sependapat bahwa hanya orang-orang tua dengan tingkat pendapatan tinggi bisa lebih punya pilihan dalam mendidik putra-putrinya sehingga bisa menghasilkan generasi yang relatif lebih baik. Memang kesan langsung adalah orang-orang tua di tingkat ini bisa memasukkan anak-anaknya ke kursus-kursus yang bertebaran di mana-mana itu. Secara otak mereka mungkin akan terasah, tapi bagaimana dengan wawasan dan kemampuan untuk bertoleransi terhadap perbedaan tanpa kehilangan prinsip-prinsip hidup penting, alias tahu membedakan mana area yang absolute mana yang relatif? 

Bagaimana dengan penanaman pentingnya memiliki visi jangka panjang, yang bukan sekedar kemampuan berpikir secara pragmatis? Bagaimana dengan kepekaan sosial?  Tetap ini semua adalah karakter-karakter yang hanya bisa dibangun di dalam lingkungan yang kondusif, di mana benar, orang tua, dalam strata ekonomi manapun dia, berperan langsung untuk mengasahnya di dalam diri generasi penerus.  Tanpa itu, produk generasi masa depan adalah generasi berbeda strata ekonomi, yang sama-sama tidak peduli terhadap masalah sesama dan lingkungannya – d.p.l. generasi yang juga apatis.

Namun jangan dikira masalah ini hanya dialami oleh negara berkembang yang sedang bangkrut seperti kita. Di Amerika juga sekarang mulai dirasakan krusialnya pengasahan watak di samping otak. Di era tahun 90-an, di mana pertumbuhan ekonomi begitu pesat dan belum ada ancaman keamanan besar terhadap warga negaranya secara komunal seperti ini, nilai-nilai kehidupan tradisional yang baik jarang dihiraukan lagi. Toleransi ada tapi bersifat semu karena semua perbedaan pendapat dilihat sebagai ‘a matter of opinon’, sebab apa yang dinamakan ‘absolute truth’ itu dianggap sudah tidak ada. 

Dalam suatu wawancara dengan Wall Street Journal dua tahun lalu terhadap seorang muda belasan tahun yang sedang makan daging sapi saat Mad Cow sedang ramai diributkan itu, dia berkata, “We are a doomed generation, anyway. There is no more hope for us.” Sepertinya pernyataan ini bisa merepresentasikan konsep hidup generasi muda di sana. Dalam era itu, yang imbasnya juga berbekas sampai sekarang, maka terjadi eskalasi tingkat kekerasan di sekolah-sekolah, di mana murid menembak sesama murid dan murid menembak guru. Ini sedikit banyak disebabkan karena guru-guru, terutama di sekolah-sekolah negerinya tidak diencourage untuk memberi tahu mana yang benar dan salah.  Namun mereka sedikit banyak malah ‘beruntung’ karena baru-baru ini diberi momentum untuk mengubah sikap bangsa terutama kepada pengertian bahwa hidup itu begitu berharga sekaligus rentan.

Bagaimana dengan kita? Momentum apa yang bisa kita pakai untuk bisa berubah secara komunal, demi kepentingan generasi masa depan kita sendiri?  Euforia pergantian presiden berkali-kali kelihatannya tidak bisa diandalkan untuk bisa jadi kekuatan yang bisa membawa perubahan fundamental.

Namun kita harus bertekad bahwa tetap harus ada solusi menyeluruh di bidang pendidikan, ekonomi dan hukum, pada tingkat nasional, dan kesadaran setiap individu di tingkat mikronya. Sistem pendidikan harus memikirkan kurikulum yang membantu dan mengawasi para siswa untuk tumbuh sebagai individu yang berwawasan komprehensif. Pembangunan ekonomi harus berpihak pada pendidikan, terutama pendidikan untuk golongan masyarakat ekonomi lemah dan investasi-investasi untuk sumberdaya manusia lainnya.  Hukum harus punya kekuatan nyata yang mampu mengganjar para pelaku kejahatan sehingga generasi muda boleh belajar langsung tentang prinsip hidup penting bahwa yang benar pasti menang dan yang salah harus dihukum.  Orang tua harus menjadi tokoh panutan untuk menjadi pahlawan yang bisa diandalkan saat generasi muda melihat tindakan korupsi dan kriminal tanpa sanksi di sana-sini, seperti yang terjadi sekarang ini.

Apa tindakan praktis yang bisa kita lakukan sekarang di dunia kecil sekeliling kita? Kumandangkan terus keprihatinan kita pada masalah-masalah sosial – biarkan mereka dengar suara Anda! Beri bantuan lebih untuk pembantu rumah-tangga kita yang punya anak supaya dia bisa sekolah dengan fasilitas yang lebih layak.  Hidup senantiasa jujur, karena seperti Barbra Streisand katakan dalam lagunya: “Be careful on what you say, you wish and you do.  Children will probably not do what you tell them now - but they will listen!”. Mereka sedang mengobservasi Anda dan saya sekarang.

Linda Sari

 

Your comment