|
||||||||||||
![]() |
|
Lahirnya Generasi Kualitas 2, 3, ... | ||||||||||
|
Eva Gloria |
||||||||||||
|
|
||||||||||||
|
||||||||||||
|
Berdasarkan
pengamatan saya, banyak sekali ibu-ibu, khususnya yang
bekerja pada ekonomi kelas menengah ke bawah, yang
bekerja ke luar daerah di lingkungan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi).
Untuk ekonomi kelas menengah ke atas tentu lebih banyak
pilihan. Ibu-ibu ini harus berangkat kerja pagi-pagi
sekali tanpa menyiapkan makanan buat anaknya (makanan
pagi, siang, dan malam). Mungkin si ibu hanya
menyediakan uang untuk beli makanan, atau menyuruh
pembantu untuk memasak, yang menjadi masalah adalah
tentang kualitas gizi makanan keluarga yang ditinggal si
ibu. Anak-anak atau pembantu tentu belum mengerti
tentang arti makanan bergizi, mungkin saja mereka akan
membeli makanan hanya berupa jajanan. Demikian
seterusnya berhari-hari sampai bertahun-tahun,
kekurangan gizi ini akan terakumulasi, sehingga daya
tahan tubuh keluarga tersebut menjadi kurang baik. Atau
anggota keluarga itu sering menderita keluhan sakit.
Kondisi kesehatan yang kurang sempurna akan mengganggu
produktivitas keluarga tersebut, baik produktivitas
orang tua ketika bekerja maupun kemampuan belajar
anak-anaknya, sehingga mungkin menjadi sulit untuk
berprestasi di sekolah. Padahal prestasi yang baik di
masa sekolah sangat mendukung anak itu untuk berhasil di
masa depan. Ini masih secara fisik. Bagaimana
dengan pertumbuhan jiwa anak tanpa ada pengawasan,
bimbingan, kasih sayang dari orang tua. Orang tua tidak
mengetahui apa yang dilakukan anak-anaknya sepanjang
hari, bagaimana pelajaran sekolahnya, dengan siapa
anaknya bergaul. Berdasarkan pengamatan saya, di
lingkungan Jabotabek, sangat tidak baik membiarkan
anak-anak tumbuh tanpa bimbingan orang tuanya. Sebagai
contoh, sekarang ini banyak usaha penyewaan play
station/games bagi anak-anak. Apabila kita melihat ke
dalam ruang penyewaan, umumnya sekelompok anak-anak usia
sekolah yang menyewa play station tersebut. Waktu
anak-anak tersebut terpakai untuk hal-hal yang tidak
terlalu berguna bagi kehidupan mereka di masa depan.
Saya tidak anti teknologi, hanya saya pikir manusia yang
harus mengendalikan teknologi, supaya bermanfaat,
sayangnya bangsa kita belum mampu untuk mengendalikan
itu. Kembali ke anak-anak tersebut, tentu mereka belum mengetahui apa dampaknya bagi mereka di masa depan apabila tidak mengisi waktu dengan belajar atau melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depan mereka sendiri, mungkin dampak yang terlihat dari nilai rapor sekolahnya. Begitulah seterusnya anak-anak tersebut bertumbuh tanpa prestasi, begitu juga dengan jiwa anak-anak, mungkin jiwa anak-anak bertumbuh dari lingkungan kehidupannya tanpa kehadiran orang tua sepanjang hari. Melihat semakin banyak pemakai narkoba di usia sekolah, ini juga perlu menjadi bahan peringatan kepada orang tua, pemakai narkoba tidak saja dari anak-anak yang orang tuanya berduit, tetapi orang tua yang tidak mampu. Banyak
orang tua menganggap tanggung jawab pertumbuhan moral
anak sudah cukup didapat dari sekolah. Ini tentu kurang
tepat. Sekolah umumnya hanya membantu dalam membuka
pikiran dan menambah pengetahuan anak, selebihnya orang
tua yang memegang peranan untuk perkembangan pengetahuan
dan jiwa anak-anaknya. Dengan kondisi seperti di atas
sepanjang hari, orang tuanya baru kembali ke rumah di
malam hari, bagaimana pertumbuhan pengetahuan dan jiwa
anak-anak tersebut sampai anak dewasa? Mungkin yang akan
dihasilkan adalah generasi kualitas no. 2, 3, 4... Ini
akan sangat berbeda dengan anak-anak yang dibesarkan di
pedesaan, lingkungan dan keluarga besar masih mempunyai
peranan untuk memperhatikan anak-anak saudara/tetangganya.
Apabila
telah lahir generasi yang kurang berkualitas begitu, apa
artinya penghasilan yang selama ini diperoleh orang
tuanya? Mungkin menjadi tidak berarti. Apakah ini sebuah
prasangka buruk atau ketakutan saja? Atau memang
begitulah hidup, setiap orang/anak menganggap kehidupan
ini hanya suatu nasib atau takdir yang harus diterima
begitu saja. Eva Gloria, Jakarta. Pencinta anak. Tanggapan: Keprihatinan
Eva adalah keprihatinan kita semua. Dan ini adalah
keprihatinan yang sangat nyata.
Sebagai orang yang dilahirkan di tahun tujuh
puluhan, saya juga merasakan dengan jelas perbedaan
situasi antara masa dulu dan sekarang. Namun sepertinya
hal ini akan selalu terulang pada generasi apapun.
Orang-orang tua kita selalu berpendapat bahwa tantangan
dan godaan yang dihadapi kita pada masa remaja dulu jauh
lebih besar dari pada mereka. Mereka-mereka yang kita
khawatirkan sekarang ini, yang disebut-sebut orang
sebagai Gen-X atau Y, akan mengkhawatirkan
generasi-generasi selanjutnya: generasi-Z, -E, atau
entah apalah nanti mereka disebut.
Padahal kalau dipikir-pikir, saat saya kecil
paling yang ada sebagai hiburan itu Si Unyil, Voltus V,
Candy-Candy, dan Lima Sekawan saja. Begitu menginjak
remaja, hiburan yang agak dilarang oleh orang-tua saya
adalah radio Prambors, khususnya ‘Catatan si Boy’,
karena mereka takut saya cepat ‘dewasa’. Saya sering
merasa lebih ‘beruntung’ dilahirkan di tahun itu
daripada sekarang. Bila
kita lihat yang terjadi di era informasi ini, apa saja
bisa diakses oleh semua orang. Dari yang paling noble
sampai hal dan kejadian2 yang paling heinous. Walaupun
tanpa internet, seorang anak akan gampang sekali
terekspos dan bisa terpengaruh dengan apa yang
ditontonnya di layar kaca. Jaman dulu tontonan di layar
kaca pasti berkisar hal-hal yang mendidik dan punya
pesan moral yang dalam, sebangsa Little House in the
Praire, juga bahkan sinetron-sinetron Indonesianya.
Tanpa didampingi oleh orang dewasa pun kita biasanya
bisa gampang terenyuh dan gampang menangkap pesan-pesan
moral yang bertaburan di sana yang meninggalkan kesan
yang mendalam sekali. Saya kurang sependapat bahwa hanya orang-orang tua dengan tingkat pendapatan tinggi bisa lebih punya pilihan dalam mendidik putra-putrinya sehingga bisa menghasilkan generasi yang relatif lebih baik. Memang kesan langsung adalah orang-orang tua di tingkat ini bisa memasukkan anak-anaknya ke kursus-kursus yang bertebaran di mana-mana itu. Secara otak mereka mungkin akan terasah, tapi bagaimana dengan wawasan dan kemampuan untuk bertoleransi terhadap perbedaan tanpa kehilangan prinsip-prinsip hidup penting, alias tahu membedakan mana area yang absolute mana yang relatif? Bagaimana
dengan penanaman pentingnya memiliki visi jangka panjang,
yang bukan sekedar kemampuan berpikir secara pragmatis?
Bagaimana dengan kepekaan sosial?
Tetap ini semua adalah karakter-karakter yang
hanya bisa dibangun di dalam lingkungan yang kondusif,
di mana benar, orang tua, dalam strata ekonomi manapun
dia, berperan langsung untuk mengasahnya di dalam diri
generasi penerus. Tanpa
itu, produk generasi masa depan adalah generasi berbeda
strata ekonomi, yang sama-sama tidak peduli terhadap
masalah sesama dan lingkungannya – d.p.l. generasi
yang juga apatis. Namun jangan dikira masalah ini hanya dialami oleh negara berkembang yang sedang bangkrut seperti kita. Di Amerika juga sekarang mulai dirasakan krusialnya pengasahan watak di samping otak. Di era tahun 90-an, di mana pertumbuhan ekonomi begitu pesat dan belum ada ancaman keamanan besar terhadap warga negaranya secara komunal seperti ini, nilai-nilai kehidupan tradisional yang baik jarang dihiraukan lagi. Toleransi ada tapi bersifat semu karena semua perbedaan pendapat dilihat sebagai ‘a matter of opinon’, sebab apa yang dinamakan ‘absolute truth’ itu dianggap sudah tidak ada. Dalam
suatu wawancara dengan Wall Street Journal dua
tahun lalu terhadap seorang muda belasan tahun yang
sedang makan daging sapi saat Mad Cow sedang
ramai diributkan itu, dia berkata, “We are a doomed
generation, anyway. There is no more hope for us.”
Sepertinya pernyataan ini bisa merepresentasikan konsep
hidup generasi muda di sana. Dalam era itu, yang
imbasnya juga berbekas sampai sekarang, maka terjadi
eskalasi tingkat kekerasan di sekolah-sekolah, di mana
murid menembak sesama murid dan murid menembak guru. Ini
sedikit banyak disebabkan karena guru-guru, terutama di
sekolah-sekolah negerinya tidak diencourage untuk
memberi tahu mana yang benar dan salah.
Namun mereka sedikit banyak malah ‘beruntung’
karena baru-baru ini diberi momentum untuk mengubah
sikap bangsa terutama kepada pengertian bahwa hidup itu
begitu berharga sekaligus rentan. Bagaimana
dengan kita? Momentum apa yang bisa kita pakai untuk
bisa berubah secara komunal, demi kepentingan generasi
masa depan kita sendiri?
Euforia pergantian presiden berkali-kali
kelihatannya tidak bisa diandalkan untuk bisa jadi
kekuatan yang bisa membawa perubahan fundamental. Namun
kita harus bertekad bahwa tetap harus ada solusi
menyeluruh di bidang pendidikan, ekonomi dan hukum, pada
tingkat nasional, dan kesadaran setiap individu di
tingkat mikronya. Sistem pendidikan harus memikirkan
kurikulum yang membantu dan mengawasi para siswa untuk
tumbuh sebagai individu yang berwawasan komprehensif.
Pembangunan ekonomi harus berpihak pada pendidikan,
terutama pendidikan untuk golongan masyarakat ekonomi
lemah dan investasi-investasi untuk sumberdaya manusia
lainnya. Hukum
harus punya kekuatan nyata yang mampu mengganjar para
pelaku kejahatan sehingga generasi muda boleh belajar
langsung tentang prinsip hidup penting bahwa yang benar
pasti menang dan yang salah harus dihukum. Orang tua harus menjadi tokoh panutan untuk menjadi pahlawan
yang bisa diandalkan saat generasi muda melihat tindakan
korupsi dan kriminal tanpa sanksi di sana-sini, seperti
yang terjadi sekarang ini. Apa
tindakan praktis yang bisa kita lakukan sekarang di
dunia kecil sekeliling kita? Kumandangkan terus
keprihatinan kita pada masalah-masalah sosial –
biarkan mereka dengar suara Anda! Beri bantuan lebih
untuk pembantu rumah-tangga kita yang punya anak supaya
dia bisa sekolah dengan fasilitas yang lebih layak.
Hidup senantiasa jujur, karena seperti Barbra
Streisand katakan dalam lagunya: “Be careful on
what you say, you wish and you do.
Children will probably not do what you tell them
now - but they will listen!”. Mereka sedang
mengobservasi Anda dan saya sekarang. Linda Sari
|
|