DAILY PERSPECTIVE...                                        

Kriminalitas & Pengangguran *

 

Elwin Tobing

* Pertama kali muncul di Kompas, 17 Maret 1995. Idenya saya kira masih relevan. Meski demikian beberapa hal musti ditambah dan di update. Mengingat keterbatasan waktu dan data, saya challenge readers untuk kasih opini terhadap masalah serius ini.

Life is nothing but a competition to be the criminal rather than the victim. Bertrand Russell (1872-1970)

  
Meningkatnya kuantitas preman dan kualitas tindakan kriminalnya akhir-akhir ini tampaknya tidak lepas dari perkembangan sosial ekonomi secara makro. Berbagai kalangan mencoba mengaitkannya dengan budaya konsumerisme. Tetapi tentu saja tidak sesederhana itu.

Para preman yang terdapat di perkotaan, khususnya di kota-kota besar, mayoritas berusia antara 17-35 tahun. Untuk berkomunikasi, mereka sering menggunakan bahasa daerah. Ini mencerminkan bahwa mereka umumnya adalah para pendatang dari wilayah pedesaan, baik dari propinsi yang sama maupun dari propinsi yang berbeda. Dari sisi pendidikan, mayoritas berpendidikan menengah, dengan rata-rata tingkat menengah pertama.

Preman sesuai definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah 'sebutan kepada orang jahat (todong, copet, rampok, dsb.)'. Dari definisi tersebut dan realitas yang terjadi, preman dan tindakan kriminal memang sulit dipisahkan.

Menurut teori sosiologi, manusia pada hakikatnya adalah mahluk sosial, yang memiliki solidaritas, cinta kasih dan nilai-nilai luhur yang tinggi. Akan tetapi, dari teori-teori psikologi dapat dipahami bahwa tekanan lingkungan (eksternal) dan adanya dorongan nafsu (internal) akan mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik terhadap alam lingkungannya maupun terhadap sesama manusia. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa manusia kadang lebih buas dari binatang buas manapun.

Tekanan untuk bertahan hidup (survive) misalnya, akan mendorong manusia bertindak apapun, termasuk tindakan kriminal, yang justru sangat berbahaya buat dirinya. Ini yang luas terjadi di jaman ekonomi sulit sekarang. Tuntutan untuk bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga memaksa seseorang untuk bertindak kriminal.

Premanisme sebetulnya adalah universal, sehingga tampak juga di tataran yang lebih tinggi. Hanya saja, kadarnya sudah berbeda dan unsur kriminalnya tidak transparan. Preman jenis ini bukan untuk bertahan hidup, tetapi untuk 'selamanya' hidup. Para koruptor dan manipulator termasuk dalam kategori ini. Kalau preman jenis pertama berisiko tinggi secara fisik, preman jenis kedua ini berisiko secara mental (kalau masih punya).

Kembali kepada preman di tataran yang lebih rendah. Pada kelompok ini dapat juga dibedakan mana yang benar-benar karena tekanan hidup dan mana yang sudah menjadi gaya hidup. Preman yang menjadi gaya hidup ini sudah enjoy dan memberikan justifikasi pada tindakan kepremanannya. Karena itu, dia akan menganggap kepremanannya sebagai suatu profesi yang sama dengan profesi legal seperti wartawan atau bankir dan lain-lain. Dengan kata lain, preman ada yang amatiran dan ada yang sudah profesional.

Dalam menangani preman pengenalan akan kelompok ini amat penting karena sangatlah tidak proporsional untuk menyamaratakan perlakuan terhadap mereka semua. Mengingat usia mereka yang umumnya masih muda dan potensial, maka perlakuan yang tidak wajar (baik secara sosial maupun fisik) akan cenderung menciptakan preman-preman yang karena tekanan hidup menjadi gaya hidup. Akibatnya kualitas 'kriminalnya' serta beban penanganan yang diperlukan menjadi jauh lebih serius.


Pengangguran Usia Muda

Dalam kaitannya dengan persoalan ekonomi secara makro, yang menjadi sorotan adalah tingginya peningkatan pengangguran usia muda (PUM), yakni angkatan kerja berusia 15-35 tahun, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik, periode 1980-1993, tingkat pengangguran laki-laki usia muda di perkotaan meningkat di atas 8 persen. Dalam periode 1994-2000, angka ini meningkat 15 persen.

Apabila diperhatikan menurut sektor ekonomi, pada periode 1990-20, penyerapan tenaga kerja usia muda di sektor primer (umumnya pertanian) dan tersier menurun dengan laju rata-rata 3,5 persen dan 0,9 persen per tahun. Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja di sektor sekunder hanya meningkat dengan laju sebesar 2,7 persen per tahun.

Fakta-fakta di atas menggambarkan pertumbuhan lapangan kerja yang dapat diciptakan sangat tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja. Khususnya di perkotaan, angkatan kerja usia muda (AKUM) bertambah sangat pesat rata-rata 9 persen (laki-laki) dan 15 persen (perempuan) per tahun. Hal ini berkaitan erat masalah klasik, urbanisasi.

Yang menarik, meski laju urbanisasi angkatan perempuan dua kali lebih tinggi dari laki-laki, tingkat penganggurannya relatif sama. Diperkirakan angkatan kerja perempuan urban ini memasuki sektor-sektor industri seperti industri tekstil, sepatu dan elektronika yang membutuhkan butuh berpendidikan relatif rendah. Sementara, angkatan kerja laki-laki urban banyak diserap sektor angkutan dan bangunan.

Pergeseran tenaga kerja usia muda dari sektor primer ke sektor sekunder berkaitan dengan transformasi struktural ekonomi secara makro. Masalahnya, laju pergeseran AKUM dari sektor primer dan tersier ke sektor sekunder belum diimbangi kemampuan penyerapan di sektor tersebut (sekunder). Di sini perlu dicermati, perpindahan AKUM dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder, khususnya di perkotaan, tampaknya tidak selalu disebabkan adanya permintaan tenaga kerja di sektor tersebut. Ada beberapa kemungkinan yang mendasari, yaitu:

Bagi AKUM, bekerja di sektor pertanian adalah kurang menarik karena di samping pendapatan rendah, musim panen/tuai hasil di sektor ini relatif lebih lama di banding di sektor lain. Hal ini kemudian mendorong urbanisasi ke perkotaan. Selain itu, lahan pertanian di perkotaan telah menurun secara drastis, sementara angkatan kerja yang sebelumnya bekerja di sektor tersebut tidak dapat bekerja di sektor lain karena rendahnya keahlian dan pendidikan yang dimiliki.

Industri Kecil dan Sektor Informal

Secara singkat, meningkatnya PUM di perkotaan berkaitan erat dengan dua hal, yaitu (1) pertumbuhan AKUM yang tinggi yang antara lain didorong oleh besarnya arus migrasi (sisi penawaran), dan (2) laju perpindahan AKUM dari sektor primer dan tersier tidak sebanding dengan laju penyerapan sektor sekunder (sisi permintaan).

Rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor sekunder tampaknya berkaitan dengan struktur industri nasional yang cenderung padat modal dan teknologi, sehingga kurang berbasis pada permasalahan nasional yang sifatnya labour surplus. Dengan demikian, di samping membangun industri besar yang sifatnya padat modal dan teknologi, perhatian juga perlu diberikan pada pengembangan industri yang lebih berorientasi pada penyerapan AKUM berpendidikan menengah yang jumlahnya tidak hanya besar, tetapi juga tumbuh dengan sangat cepat.

Dalam hal ini, diversifikasi pengembangan industri dan perlindungan terhadap industri kecil sangat diperlukan, mengingat industri kecil mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja. Karena itu, pengembangan industri-industri rumah tangga, industri kerajinan ukir-ukiran, rotan, bambu dan berbagai produk lokal yang menggunakan bahan baku lokal dapat dipertimbangkan untuk mengurangi laju urbanisasi (menghentikan urbanisasi sama sekali adalah mustahil - seperti pengalaman Jakarta dengan kebijakan kota tertutupnya.

Bagaimanapun, kepercayaan bahwa sektor sekunder lebih cepat mendatangkan uang sudah merasuki AKUM pada saat ini. Ini memang berkaitan dengan budaya instant dan konsumerisme yang semakin melanda segenap pelosok desa-desa.

Hal lain yang musti mendapat perhatian serius juga adalah pembenahan sektor informal. Di jaman ekonomi sulit sekarang, tampaknya setiap orang punya justifikasi untuk melakukan apa saja termasuk mengembangkan usaha-usaha positif yang tergolong dalam sektor informal. Hanya saja, meski sangat vital, perhatian setiap pemerintah daerah terhadap sektor ini masih jauh dari harapan.

Next: Reorientasi pembenahan sektor informal.

 

Your comment