|
|||
![]() |
Membangun Keunggulan Kompetitif
Elwin Tobing |
||
| A plan without man (human) is inane , a human without plan is insane. | |||
|
Dunia
kini tengah memasuki atmosfir persaingan
paling kompetitif sepanjang sejarah. Situasi ini
tercipta karena dua arus besar terjadi secara
simultan, yaitu perubahan revolusioner di
bidang manajemen dan teknologi informasi serta pelembagaan
aturan-aturan yang memacu iklim kompetisi global. Aplikasi
dan manipulasi pengetahuan yang inovatif paruh
akhir 80-an telah menciptakan kompetisi global
yang hebat. Outputnya
terwujud dalam berbagai produk teknologi dan
manajemen yang memungkinkan fleksibilitas dan
aksesibilitas sangat tinggi dalam proses produksi,
proses komunikasi dan proses pengambilan keputusan. Fenomena
tersebut kemudian diikuti free
market access yang diatur secara internasional
melalui Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai
sebuah institusi yang bertujuan mengatur dan
mendorong kompetisi perdagangan melalui kebebasan
terhadap akses pasar.
Setiap negara anggotanya diwajibkan
mengurangi secara drastis ataupun menghapus
kebijakan-kebijakan makro yang tidak kondusif
terhadap kompetisi, apakah itu subsidi, proteksi
dan hambatan-hambatan tarif.
Salah
satu tujuan pokok yang melandasi WTO adalah
semangat kompetisi.
Liberalisasi perdagangan dan penerapan
aturan-aturan WTO memiliki dampak sangat
besar pada kompetisi global.
Dan, ini adalah warna khas dunia dalam
memasuki abad dan sekaligus milenium baru, yang
berbeda dari abad-abad sebelumnya. Dengan
demikian, setiap negara, apakah negara maju,
berkembang atau terbelakang berada dalam satu
arena kompetisi dengan tantangan sama, aturan sama
tetapi latar belakang dan kemampuan yang berbeda.
Berbagai kemungkinan, sebagai konsekuensi
kompetisi, bisa saja terjadi, apakah itu degradasi
(negara mengalami kemunduran) atau promosi (negara
mengalami kemajuan). Hal itu sangat tergantung
pada keunggulan kompetitif yang dimiliki dan
dikembangkan bangsa tersebut. Perubahan
Paradigma Lalu,
bagaimana mewujudkan keunggulan itu?
Michael E. Porter, pakar ekonomi bisnis
yang karyanya sangat monumental dalam The
Competitive Advantages of Nations(1990),
membuat analisis yang menarik tentang hal ini
dengan menganalogikan bangsa sebagai perusahaan (firm).
Analogi ini, meski banyak mendapat kritik,
namun tidak sedikit yang mendukung.
Mantan Presiden AS sendiri, Bill Clinton,
sering menggunakan retorika karakteristik
persaingan bangsa sebagai perusahaan besar yang
sedang bersaing dalam pasar global (Paul
Krugman. 1994.
Competitiveness:
a dangerous obsession',
Foreign Affairs, 73 (2):28-44). Menurut
Porter, dalam persaingan global, suatu perusahaan
dapat bertahan dan unggul hanya jika memiliki
keunggulan atas biaya (cost-based
advantage) dan keunggulan atas produk (product-based advantage). Keunggulan
atas biaya mencerminkan perusahaan beroperasi
secara efisien, dan keunggulan atas produk
indikasi perusahaan senantiasa melakukan
penelitian dan pengembangan produk-produk baru
yang inovatif.
Dengan
menganalogikan hal ini, paradigma keunggulan
kompetitif bangsa adalah efisiensi (keunggulan
atas biaya) dan inovasi (keunggulan atas produk). Keberhasilan ekspor produk manufaktur negara industri baru
dan negara berkembang misalnya, adalah salah
satu contoh keunggulan atas biaya (di negara
berkembang hal ini didukung kebijakan relokasi
industri dari negara-negara maju). Kini,
setelah berhasil mengembangkan efisiensi, negara
industri baru dan sebagian negara berkembang
dihadapkan pada masalah, bagaimana meningkatkan
efisiensi sekaligus mengembangkan produk-produk
inovatif. Sebab,
bila tetap mempertahankan keunggulan komparatif
dan keunggulan atas biaya, tanpa beranjak pada
pengembangan produk-produk kompetitif, niscaya
akan tertinggal. Di tahun 70an dan 80an, salah satu contoh paling berhasil mewujudkan keunggulan efisiensi-inovasi adalah industri elektronik Jepang. Pada awalnya, industri-industri elektronik Jepang mampu bersaing dalam hal harga. Tahap selanjutnya, industri tersebut unggul dalam produk-produk futuristik lewat inovasi yang mengagumkan. Potret
Kebijakan Orde Baru Mari
sejenak lupakan keadaan sekarang dan kita kaji
kebijakan ekonomi pemerintah Orde Baru. Di masa
Orde Baru, kita saksikan pemerintah, sebagai
bagian daripada program SAP
yang disponsori oleh Bank Dunia dan IMF, melakukan
serangkaian deregulasi di bidang ekonomi yang
bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dengan cara
mengurangi distorsi-distorsi yang terjadi dalam
kegiatan ekonomi. Salah
stu distorsi yang ingin dikurangi adalah campur
tangan pemerintah. Pengurangan atau penghapusan
distorsi-distorsi tersebut akan mendorong iklim
domestik yang lebih kompetitif dan selanjutnya
diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan
produktivitas industri domestik. Akan
tetapi fokus dari serangkaian deregulasi tersebut
masih terpusat pada usaha mewujudkan keunggulan
kompetitif atas biaya (efisiensi).
Itu adalah syarat perlu (necessary),
namun tidak mencukupi (sufficient).
Seperti diuraikan di atas, salah satu
paradigma keunggulan kompetitif yang tidak kalah
penting adalah inovasi. Maka, dalam konteks
industri nasional, masalah pengembangan
produk-produk andalan baru (inovasi) sangatlah
urgent. Selama
masa itu misalnya, produk ekspor non migas andalan
adalah kayu-kayuan dan TPT (tekstil dan produk
tekstil) yang mencapai hampir 45 persen dari total
ekspor non migas.
Bila di tambah sekitar 18 persen komoditi
ekspor hasil pertanian, maka hampir 65 persen
ekspor non migas adalah komoditi yang nilai tambah
dan elastisitas permintaannya relatif rendah
karena termasuk komoditi produk sektor primer. (Elastisitas
rendah maksudnya, setiap perubahan yang sedikit
dalam harga, jumlah yang diminta terhadap produk
tersebut turun drastis). Sebetulnya,
Indonesia masih berpeluang besar mengembangkan
produk-produk ekspor.
Dari sekitar 7 ribuan lebih mata dagangan
yang diperdagangkan di dunia, Indonesia baru
mengekspor sekitar 4000 mata dagangan.
Peluang ini dapat dimanfaatkan terutama
dengan pengembangan produk dagangan yang memiliki
nilai tambah relatif besar. Tentu
saja, peluang tersebut hanya dapat tercipta
apabila industri nasional didukung oleh kualitas
SDM yang tinggi, infrastruktur fisik kuat dan
lingkungan inovatif yang kondusif (kegiatan
penelitian dan pengembangan yang kompetitif).
Dilihat dari proporsi pengeluaran R &
D (Research
and Development) terhadap Produk Domestik
Bruto, Indonesia (0,25 %) jauh lebih kecil
dibanding 'macan' Asia: Singapura (0,9 %), Taiwan
(1,7 %) atau Korea Selatan (1,9 %). Dari
aspek kualitas SDM dan infrastruktur ekonomi,
tantangan yang dihadapi juga tidak kecil.
Dilihat dari struktur tenaga kerja berdasarkan
pendidikan, proporsi tenaga kerja Indonesia yang
berpendidikan diploma ke atas masih sangat
kecil. Bila menggunakan indikator kasar Human Development Index (HDI) yang dikembangkan oleh UNDP
(United Nations for Development Program), pada
akhir-akhir masa Orba, Indonesia menduduki posisi
105 dalam peringkat Human Development Index (HDI), relatif cukup jauh dibanding Korea
Selatan (32), Singapura (43) dan Malaysia (57).
Pada tahun 1997, ranking Indonesia masih
berada pada 102. Dari
formulasi yang digunakan untuk menghitung skor HDI,
interaksi kualitas SDM dan infrastruktur fisik
adalah komponen utama, sehingga paling tidak
peringkat tersebut menggambarkan tantangan yang
besar dalam masalah pengembangan SDM dan
infrastruktur fisik. Gambaran
tersebut mengindikasikan kalau pemerintah Orba
meletakkan prioritas belakang pada (1) kebijakan
yang mendorong iklim inovatif dan (2) kebijakan
dalam peningkatan kualitas manusia. Banyak
negara menginvestasikan sedikit dalam pembangunan
manusia dan infrastruktur fisik dan mampu mengejar
pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi
indikator-indikator pembangunan sosialnya justru
kurang memadai seperti akses masyarakat terhadap
pendidikan, kondisi sanitasi dan kesehatan serta
fasilitas transportasi dan komunikasi yang amat
rendah. Pada
akhirnya, kondisi
sumberdaya manusia yang dimiliki tidak akan mampu
mendukung penciptaan bangsa yang kompetitif. Hal
yang sebaliknya justru terjadi di Chili dan
Jamaica, yaitu meskipun pertumbuhan ekonominya
lebih lambat, tetapi indikator-indikator sosial
masyarakatnya meningkat (Summers dan Thomas, Recent Lessons of Development, The World Bank 1993). Bila
dicermati, pada hakikatnya hubungan antara
kualitas bangsa dengan manusianya adalah kausal.
Artinya, bangsa yang memiliki keunggulan
kompetitif, tentulah juga manusianya
memiliki keunggulan kompetitif, dan sebaliknya.
Pemerintah Orba, sadar atau tidak sadar,
telah mengabaikan hal yang jelas ini: bahwa hanya
dengan pembangunan manusia yang kompetitif, bangsa
akan menjadi kompetitif. Esensi
Pemulihan Saat
ini perekonomi kita dalam keadaan yang kurang
jelas. Industri keuangan dan perbankan, sebagai
salah satu pilar dalam proses pemulihan ini, masih
tidak menentu terutama dalan kaitan dengan kinerja
Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Ada berbagai
rumors yang beredar seputar Badan ini, mulai dari
mismanagement, pemborosan dana, pemilihan orang
tidak tepat, penjualan aset yang tidak transparan,
adanya kepentingan politik kelompok/orang tertentu
dan lain sebagainya.
Tentu ini semakin membuat usaha pemulihan
tidak prospektif. Usaha
pemulihan ini juga tampaknya kurang bergairah,
terutama dari pemerintah. Sempat ada IRF, semacam
Indonesia Recovery Fund dimana orang-orang diminta
untuk menyumbang. Ini hanya semacam dagelan. Siapa
yang mau menyumbang kalau nanti uangnya di korupsi?
Dan sekarang pemulihan ekonomi diserahkan pada
tingkat menteri. Ini juga tidak lebih daripada
joke. Masa
depan Indonesia terlalu serius untuk diserahkan
pada tingkat menteri atau setingkatnya. Kalau mau
jelas, presiden harus membentuk Badan Pemulihan
Nasional (tidak hanya ekonomi) yang dipimpin
dirinya sendiri. Badan ini mempelajari ulang
kembali semua persoalan dari awal sampai sekarang
dan mencari solusi dalam tempo paling lambat 6
bulan. Sementara Badan itu bekerja, proses hukum
terhadap para koruptor musti dilakukan. Ketika
kabinet Megawati dibentuk, berbagai harapan muncul
dan saat itu, dikatakan pemerintah akan
mengumumkan agenda pemulihan ekonomi nasional.
Ternyata itu tidak jauh daripada IRF. Dalam
keadaan terdesak dan sekarat, suatu bangsa (yang
mau jadi besar) tentu tidak hanya berpikir
bagaimana supaya bisa bertahan, tetapi juga
bagaimana supaya bisa kompetitif. Badan Pemulihan
Nasional itu bertugas untuk itu juga untuk
mendesign ulang blue-print pembangunan nasional.
Bila Soeharto keluar dengan Repelita dengan
tekanan pada pencukupan beras, maka pemerintahan
ini seharusnya bisa keluar dengan Repelita model
baru dengan tekanan pada pembangunan manusia.
Ketika Megawati membentuk kabinetnya, orang
berpikir itu bagus karena sudah meletakkan the
right man on the right place. Tentu itu tidak
tepat, karena the right men dan women dibutuhkan
sekarang adalah visionir,
hard working, kapabel, berani (tegas) dan
secara moral bersih. Silahkan evaluasi sendiri
kabinet Megawati apakah memenuhi kriteria tersebut. Mungkin
saat ini pemerintah kedudukannya seakan relatif
lebih lemah daripada DPR. Tapi ini tentu tidak
menjadi alasan, karena inisiatif untuk pembangunan
tetap di tangan pemerintah. Upaya membangun kompetitif bangsa saat ini sangat tergantung pada bagaimana pemerintahan Megawati keluar dengan blue-print baru pembangunan nasional. Forget about the IMF. Kalau perlu makan singkong, rakyat juga akan mau asal agendanya jelas, orang-orangnya bermoral dan berkualitas. Yang terjadi, rakyat makan singkong, orang-orang di atas masih sibuk berkelit. |
|