DAILY PERSPECTIVE...                                       

Antara CENEP, Bak Pao dan Bak Mie 

* potret proses pergantian kekuasaan dan generasi

Elwin Tobing

Dalam perjalanan sejarah, pergantian generasi dan kekuasaan dalam suatu bangsa adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Proses tersebut bisa berlangsung dalam berbagai macam. Ada yang berlangsung mulus secara alami. Contoh yang umum adalah terjadi di negara-negara Barat yang sudah lebih demokratis dan yang memiliki sistem sudah rapi. Transfer kekuasaan berjalan normal.

Proses pergantian generasi dan kekuasaan juga ada yang terpaksa harus melewati pergolakan. Ini biasanya dikarenakan dua hal. Yang pertama, pemimpin puncak belum bersedia meyerahkan tongkat kekuasaan kepada generasi penerusnya, atau dia menyerahkan kekuasaan tersebut tetapi kepada orang yang salah menurut penilaian umum atau sekelompok elit. Meski demikian, proses transisi kekuasaan bisa berlangsung relatif aman karena pergolakan biasanya terisolasi pada sekelompok elit. 

Tetapi, kalau pergolakan dalam sekelompok elit tidak bisa terkontrol, bisa terjadi pergolakan dashyat yang akan memakan ratusan bahkan ribuan nyawa tak berdosa.  Misalnya seperti yang terjadi di Cina akhir tahun 1980an. Ketika itu konon Deng Xiaoping cenderung berpihak pada perdana menteri yang pro demokrasi. Sekelompok elit partai, melihat semangat demokrasi menjadi sangat berbahaya pada kedudukan mereka serta masa depan partai, menjadi menjadi tidak suka dengan PM tersebut, yang kemudian dipenjarakan. Konon juga dengan restu Deng, ribuan mahasiswa pun jadi korban yang terkenal dengan peristiwa Tiananmen.

Tidak usah jauh-jauh, di Indonesia hal ini juga terjadi ketika publik kurang setuju dengan transfer kekuasaan dari Soeharto ke Habibie. Beberapa elit politik juga tidak setuju. Tetapi karena mottonya adalah, sepertinya motto ini dipakai kemudian, “pokoknya bukan Soeharto”, maka transisi itupun berlangsung relatif ‘damai’ meski banyak menelan korban.

Penyebab lain proses pergantian generasi dan kekuasaan harus lewat pergolakan adalah bila pemegang kekuasaan tidak mau menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada generasi berikutnya. Biasanya ini dikarenakan pemimpin tersebut sudah bertahun-tahun memegang kendali dan kepemimpinannya penuh dengan korupsi dan penyelewengan. Ini adalah ciri khas negara-negara miskin dan berkembang. Untuk mengakhirinya biasanya harus lewat pergolakan berdarah.  Revolusi rakyat di Filipina tahun 80-an adalah contoh yang nyata. Juga, kita tahu persis Indonesia mengalami hal yang sama selama masa Orde Baru.

Entah secara alami maupun lewat pergolakan, generasi muda mau tidak mau harus tampil ke depan.  Di negara maju yang demokratis dan yang sistemnya sudah rapi, generasi muda umumnya mengambil posisi di sektor swasta karena daya tarik kapital sangat menggoda. Namun, tidak sedikit yang mengambil posisi pada sektor non profit seperti lembaga think thank, lembaga riset, pusat-pusat study, konsultan kebijakan maupun penasihat politik. Berkembangnya lembaga-lembaga tersebut dengan rapi dan juga dengan relatif terbukanya proses seleksi di lembaga legislatif, memungkinkan generasi muda bisa punya beberapa pilihan jalur jika berniat menjadi penentu kebijakan baik regional maupun nasional.  

Mereka mengikuti apa yang disebut CENEK yakni Creativity, Network and Luck atau Kreativitas, Jaringan dan keberuntungan.  Ini tidak hanya berlaku di pemerintahan, politik tetapi juga bisnis.

Kreativitas sendiri sulit tanpa ada jaringan kerjasama. Dan kadang kala, faktor keberuntungan juga sangat menentukan. Meski demikian, seperti kata top Grandmaster catur, Botvinnik, luck favors the well prepared player.  Keberuntungan umumnya berpihak pada orang yang benar-benar punya persiapan matang. Well, kalau begitu CENEK bisa diganti CNET, creativity and network (tidak ada hubungannya dengan CNET perusahaan IT di AS). Tapi menurut saya mungkin CENEP lebih tepat, dimana P merujuk ke Persistence atau keuletan/kegigihan.

Bagaimana dengan generasi muda di negara terbelakang? Sama seperti di negara maju, generasi muda di negara-negara yang belum demokratis dan belum rapi sistemnya juga punya beberapa alternatif jalur bilamana ia menginginkan kesempatan sebagai penentu kebijakan di bidang bisnis, pemerintahan maupun bidang-bidang lainnya. Bedanya alternatif-alternatif tersebut minim sekali yang bernuansa kreatif dan yang memacu kreativitas. Hampir semuanya mengarah pada Bak Pao yakni Bapak Pan Omong (Pan artinya seluruh).  

Jadi ada jalur ABS (Asal Bapak Senang). Ada jalur KBS (Kepunyaan Bapak Saya). Ada jalur SBS (Sebab Bapak Saya). Ada jalur IPB (Itu Pesan Bapak). Ada jalur STB (Sepenuhnya Terserah Bapak). Ada jalur MPB (Menurut Petunjuk Bapak). Ada jalur MBA (Maunya Bapak Aja). Ada jalur ABA (Anaknya Bapak Anu). Ada jalur BBS (Bisnis Bapak Saya). Ada jalur BOS (Bapak Omong Selesai). Maksudnya, kalau bapaknya ngomong, semua perkara aman. Dan banyak Bak Pao lainnya.  

Akhirnya yang kita dapat adalah generasi yang tidak bisa hidup tanpa bapak.  Hampir semua organisasi kepemudaan selalu pakai pembina dan pelindung Bak Pao. Bisnis tidak bisa berkembang tanpa Bak Pao. Bak Pao tertawa, semua tertawa. Bak Pao bersin, semua sodorin sapu tangan. Kreativitas generasi muda bangsa jadi cenderung impotent.

Itu sangat kentara di jaman Orde Baru. Bagaimana dengan situasi sekarang? Kata pepatah, warisan baik sulit dilupakan. Kata saya, warisan buruk yang lebih sulit dilupakan dan dibuang. Itu karena sifat alamiah manusia yang lebih mengingat hal yang buruk daripada yang baik (kalau cenderung yang terakhir yang terjadi, dunia sudah aman dan damai).

Jadi warisan buruk Bak Pao tersebut tidak mudah dibuang. Karena wanita sekarang menjadi pemimpin, mungkin bukan murni Bak Pao lagi tapi sudah Bak Mie (Bapak dan Mamie). Jadi mungkin ada jalur PMS (Pesan Mamie Saya). Ada jalur MMS (Maunya Mamie Saja) dan lain sebagainya.

Sekarang ini keadaan ekonomi negara kita cukup parah. Kesempatan kerja sangat terbatas, ketidakadilan dimana-mana. Intinya gejolak sosial terasa rawan. Apakah kita masih mau dicecoki dengan Bak Pao dan disuapin dengan Bak Mie? Kedua-duanya hanya akan membuat keadaan semakin buruk.

Sudah saatnya kita beralih ke CENEK ataupun CENEP.  Dan The Indonesian Institute adalah salah satu alternatif network. Lupakan dan tinggalkan organisasi, baik bisnis, kepemudaaan, dan bentuk organisasi lainnya, yang mengikuti model Bak Pao dan Bak Mie. Itu tidak lebih daripada racun.

Your comment