Home

About Us

Mission

       Contact Us

              The Prospect is published by The Indonesian Institute. Our messages are study, democracy and unity.


Main Issues

Democracy
Economy
Labor
Education
Development
Global Issues

RECENT ARTICLES

IT'S THE PEOPLE, STUPID!

AGENDA FOR ENHANCING DEMOCRACY

ON THE DEMAND FOR A GREATER DECENTRALIZATION

FUNDAMENTAL CAUSES OF NATIONAL UNITY CRISIS

PENDIDIKAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

KEMISKINAN, ARAH YANG SEDANG DITUJU DUNIA?

WHAT DO WE HOPE IN THE 21TH CENTURY?

MASALAH STRUKTURAL PENINGKATAN KESEMPATAN KERJA



The Prospect & The Indonesian Institute. Contact Us

Our View of the Month - March 2002  

Seputar Kepemimpinan Nasional

Ini adalah revisi signifikan dari tulisan aslinya yang berjudul Harapan Rekyat Terhadap Kempemimpinan Nasional yang dimuat di Suara Pembaruan 27 Oktober 1999.

Elwin Tobing

Leadership should be born out of the understanding of the needs of those who would be affected by it. Marian Anderson

Men make history, and not the other way around. In periods where there is no leadership, society stands still. Progress occurs when courageous, skillful leaders seize the opportunity to change things for the better. Harry S. Truman

The first duty of a leader is to make himself be loved without courting love. To be loved without 'playing up' to anyone - even to himself. Andre Malraux

The task of the leader is to get his people from where they are to where they have not been.  Henry Kissinger  

 

Pada tahun 1999, John Bresnan, pakar Asia Timur di Universitas Columbia, AS menulis di New York Times kalau Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Tiga tahun berselang, apakah observasi Bresnan masih relevan?

Sulit mengatakan tidak, tetapi juga tidak mudah untuk sembarang mengatakan iya. Paling tidak perlu dijelaskan terlebih dahulu tantangan krusial apa yang sedang dihadapi oleh Indonesia sekarang dan di masa depan. Beranjak dari sini kemudian dirumuskan kira-kira kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan demikian ada dasar yang terstruktur untuk menjawab observasi Bresnan tersebut.

Mari kita mulai dari hal paling awal. Meski sudah rasanya umum dan sangat terbiasa di dengar, perlu juga kita untuk mengerti sama-sama akan pengertian pemimpin dan kepemimpinan. Sangat menarik, ketika saya melihat kamus Merriam-The Webster, definisi pemimpin yang diberikan sangat singkat: a person who leads. Simpel. Intinya adalah justru memimpin. Tentu kalau seorang memimpin, yang bersangkutan harus mengerti dahulu siapa yang dipimpin, dimana titik berangkatnya, apa tantangan dan lain sebagainya. Apalagi kalau menyangkut bangsa dan negara, persyaratan ini tentu sangat vital. Tanpa itu tentu susah mengharapkan sesuatu yang berguna dari kepemimpinan tersebut, kalau tidak mengatakan akan membawa bangsa dan negara ke situasi tidak menentu.

Untuk tidak salah kaprah, kompetensi dalam memberikan opini atau ide tentang kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan pengalaman seseorang sebagai pemimpin dalam tingkat yang luas. Seorang Abraham Lincoln, Soekarno atau Hatta tentu punya konsep tersendiri terhadap kepemimpinan. Demikian juga dengan Pak Ali yang tinggal di Gunung Kidul atau anak muda Badu yang masih kuliah, masing-masing punya konsep dan pengertian sendiri tentang kepemimpinan. Yang perlu diperhatikan adalah, apapun konsep dan pengertiannya, masing-masing punya benang biru yang mengaitkannya, yakni idealisme, realisme dan optimisme.

 

Idealisme, realisme dan optimisme

Idealisme berkaitan dengan situasi dan kondisi ideal yang masing-masing figur idam-idamkan di masa depan yang ingin dicapai, baik sebagai bapak rumah tangga, mahasiswa, pemimpin desa dan pemimpin negara. Masing-masing memiliki situasi ideal masa depan yang diinginkan untuk dicapai. Tanpa memiliki idealime, seorang yang mengaku pemimpin hanyalah seorang pemabuk yang hanya mampu beteriak tanpa mengerti apa yang diungkapkan. Apa yang dikatakan hari ini sudah lupa besoknya. Pernyataannya tidak lebih pada ucapan-ucapan acak yang hanya asal keluar tanpa tujuan yang terarah. Karena pernyataannya sendiri sudah acak, tindakan dan usahanya juga tidak lebih daripada kesia-siaan. Memiliki seorang pemimpin seperti hanya akan membawa kelompok yang dipimpimnya sengsara.

Realisme menyangkut pengertian dan pemahaman akan kondisi dan situasi yang berkembang. Realisme yang saya maksudkan di sini agak berbeda dengan pengertian filosofisnya yang cenderung menolak hal-hal impractical atau visionary, tetapi lebih pada, seperti apa yang dikemukakan Kamus Merriam-Webster’s: concern for fact or reality. Ini sangat penting karena tanpa pemahaman akan fakta dan situasi yang berkembang, seorang pemimpin tidak lebih daripada pembual. Apa yang dikatakannya tidak ada dasarnya, sehingga tidak berbeda dengan omong kosong. Memenuhi syarat pertama, yakni memiliki idealisme, tanpa dilengkapi dengan realisme juga tidak menolong karena hanya menghasilkan pemimpin yang cenderung sebagai pemimpi. Alhasil, kelompok yang dipimpinnya akan cenderung menjadi kelompok pemimpi. Idealisme harus dibangun daripada fakta dan kenyataan yang berkembang. Indonesia bisa bermimpi menjadi negara tangguh yang mampu memproduksi pesawat supersonik dan ulang-ulang antariksa. Tetapi apakah mimpi itu memiliki fondasi yang kuat sekarang ini?

Ketika John Kennedy, presiden AS, di awal tahun 1960-an mengumunkan sesuatu yang terkesan ‘mimpi’ saat itu bahwa sebelum dekade 60-an berakhir AS akan menginjakkan kakinya di bulan, Kennedy bukanlah bermimpi, tetapi memiliki visi yang ada dasarnya. Ketika itu ekonomi, industri dan riset di As mengalami booming. Khususnya dalam eksplorasi angkasa luar, semangat kompetisi sangat tinggi (apalagi setelah mengetahui kejayaan Sputnik). Pendek kata, mimpi tersebut ada dasarnya.

Pemimpin yang tidak berbicara berdasarkan fakta hanya akan menyesatkan kelompoknya. Apabila dia kebetulan memimpin sebuah bangsa, bangsa tersebut kan terjerumus pada ketinggalan yang jauh. Karena gerak kemajuan suatu bangsa secara relatif memakan waktu lama, setiap proses kemunduran akan menghasilkan waktu yang jauh lebih lama untuk kembali ke keadaan yang diinginkan. Misalnya, apabila suatu bangsa mengalami kemunduran karena kesalahan kepemimpinan, waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki keadaan bangsa tersebut dan membawanya ke situasi yang diinginkan jauh lebih lama dibanding bila tidak ada kesalahan kepemimpinan. Barangkali pembaca bisa mengaplikasi klaim ini terhadap pengalaman yang di alami Indonesia saat ini.

Optimisme berkaitan dengan adanya enerji, usaha, kemampuan manajerial dan semangat yang optimis bahwa kondisi ideal yang diinginkan tersebut bsia dicapai. Seorang pemimpin setidaknya memiliki hal-hal tersebut. Dia harus mampu menjadi motivator, driving force (penggerak orang-orang), inspirator dan menjadi pemandu. Apabila seseorang yang mengklaim dirinya pemimpin tetapi justru bersikap tidak optimis, tidak memiliki enerji dan kemampuan menggerakkan orang-orang dan tidak menjadi inspirator, alhasil klaimnya hanyalah fantasi. Tujuan tidak pernah menjadi kenyataan.

Setelah mendefinisikan hal-hal pokok apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, kini kita sampai pada tantangan apa yang saat ini dan di masa depan yang dihadapi oleh Indonesia. Dengan kata lain, kita mencoba menguraikan idealisme yang dibangun atas realisme dalam konteks bangsa Indonesia.

 

Tantangan dan harapan

Ketika rejim Order Baru lengser di tahun 1998 dan semangat reformasi bangkit secara luar biasa saat itu, terkuak beberapa idealisme yang sebelumnya seolah-olah hanya mimpi yang mustahil menjadi kenyataan. Idealisme tersebut adalah (1) kemenangan moral atas kekuasaan, (2) kejayaan reformasi atas status quo, (3) kegemilangan masa depan atas masa kini dan lalu serta (4) kemenangan hati nurani rakyat atas ketidakpuasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan sebelumnya.

Apakah hal-hal ideal tersebut sudah menjadi kenyataan saat ini? Rasanya masih jauh dari harapan. Mungkin mereka masih embrio-embrio yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan. Karenanya keempat hal ideal di atas masih tetap sebagai tantangan terhadap kepemimpinan nasional di masa kini, sehingga siapapun yang mengklaim diri menjadi pemimpin bangsa harus memperhatikan keempat keadaan ideal di atas. Dia harus mampu menjadi leader, inspirator dan motivator dalam mengembangkan embrio-embrio tersebut menjadi kenyataan. Dalam kaitan ini, paling sedikit ada empat tanggung jawab yang diemban oleh pemimpin nasional.

Pertama, meneruskan komitmen terhadap perjuangan moral.  Umum diketahui bahwa praktik-praktik korupsi, kolusi, suap, katabelettje dan lain sebagainya yang merajalela dalam pemerintahan lama adalah disebabkan rendahnya moralitas birokrat, pengusaha dan sebagian masyarakat. Praktik-praktik tersebut berkembang dan merajalela disebabkan banyaknya hal misterius, ketertutupan dan ketidak jujuran dipemerintahan, sektor swasta dan masyarakat. Tugas berat pemimpin nasional antara lain adalah memulihkan dan membangun moralitas birokrat, sektor swasta dan masyarakat yang sudah berkarat dengan praktik negatif tersebut selama kurang lebih 30 tahun.  

Salah satu upaya pemulihan yang mungkin adalah dengan memulai dari dirinya sendiri, menciptakan keterbukaan dan kejujuran dalam dirinya sendiri. Tanpa itu rasanya mustahil pemimpin nasional bisa berhasil memulihkan kebobrokan itu. Ini tidak lain disebabkan juga budaya kita yang paternalistik, sehingga seorang pemimpin adalah menjadi tauladan dan figur pertama yang akan konsisten menegakkan prinsip moral dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan pemerintahan. 

Pengalaman negara-negara berkembang yang mengalami pergantian pemerintahan dari militer ke sipil menunjukkan kegagalan dalam menciptakan pemerintahan yang bersih, yang ironisnya justru salah satu tema utama kampanye sipil sebelum berkuasa.  Sebaliknya, praktik korupsi dan sogok meluas seperti apa yang terjadi di Pakistan dan beberapa negara Amerika Latin.  Harapan terhadap pemimpinan nasional adalah agar mampu menciptakan pemerintahan yang bersih, berwibawa dan yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan pada golongan tertentu.

Komitmen terhadap perjuangan moral juga berarti pendekatan kebijakan pemerintah akan lebih mengutamakan moralitas dan rasionalitas di atas kekuasaan dan kekuatan.  Karenanya, harapan terhadap pemimpin nasional adalah untuk lebih mengembangkan dialog terbuka yang persuasif dan rasional, bukan ceremonial dan emosional, dengan masyarakat dan mengutamakan pendekatan bottom up dalam kebijakan pemerintah.

Kedua, melanjutkan dan meningkatkan kualitas reformasi.  Selama tiga tahun terakhir, pengertian reformasi sudah banyak mengalami bias dan penyimpangan. Seorang pemimpin nasional diharapkan dapat mendefiniskan kembali, memberi makna lebih berbobot dan merevitalisasi reformasi yang sedang diperjuangkan.  Reformasi bukan hanya menyangkut pergantian dan revitalisasi pemerintahan tetapi juga meliputi mentalitas, cara berpikir dan bersosialisasi masyarakat.  Reformasi menyangkut pembaruan sikap masyarakat dan penerimaan secara dewasa perbedaan-perbedaan baik ras, agama, suku dan etnis, yang merupakan isu sangat sensitif selama ini, serta penempatan kepentingan bangsa secara utuh di atas kepentingan golongan.  Karenanya diharapkan tidak akan terjadi dominasi mayoritas, dan juga tirani minoritas, melainkan terciptanya keseimbangan dan kesamarataan peranan setiap rakyat, terlepas dari latar belakang, dalam berpartisipasi membangun bangsa.

Seorang pemimpin nasional diharapkan dapat memimpin pembaruan terhadap kesenjangan pemikiran, pendapat dan sikap antar golongan, agama dan suku terhadap reformasi.  Bagaimanapun juga tidak semua kalangan menyambut reformasi secara positif.  Beberapa anasir mungkin akan mencoba membalik atau memanfaatkan situasi demi kepentingan golongannya.  Harapan rakyat, lewat reformasi, pemimpin nasional dapat menyatukan bangsa dalam satu visi dan misi: keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Ketiga, mewujudkan kegemilangan masa depan atas masa lalu dan kini.  Masa lalu bangsa ditandai dengan mismanagement sumberdaya alam dan manusia nasional.  Pemanfaatan sumberdaya alam, yang justru sangat kaya, tidak dioptimalkan untuk kemakmuran seluruh rakyat, tetapi sebaliknya, tingkat kesenjangan ekonomi dan kemiskinan hanya berkurang secara perlahan.  Sama halnya, sumberdaya manusia belum dimanfaatkan secara optimal karena dua hal, yakni pembangunan lebih diarahkan pada pembangunan fisik dan individu-individu kapabel justru berada di luar sistem. 

Kondisi sekarang, khususnya dari segi ekonomi, sangatlah serius ditandai dengan tingkat pengangguran relatif tinggi yang diperkirakan mencapai 40%, tingkat kemiskinan yang mencapai 50 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, melonjak tiga kali lipat dari tahun 1996, lunturnya kepercayaan investor asing dan domestik, tingginya tingkat harga, ketersediaan bahan kebutuhan pokok dan rendahnya nilai tukar rupiah.  Masalah berat lain adalah restrukturusisasi perbankan dan utang luar negeri.  Utang domestik pemerintah telah membubung hampir mencapai 70 milyar dollar.  Di pihak swasta, negosiasi utang dengan debitur di bawah program yang didukung World Bank belum membawa hasil menggembirakan.  Pendek kata, tantangan dalam mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat sangat berat.

Beranjak dari kenyataan ini, harapan rakyat terhadap pemimpin nasional adalah untuk dapat merumuskan dan menjalankan kebijakan yang tidak hanya bertujuan mengatasi masalah ekonomi sekarang, tetapi juga kebijakan masa depan yang konsisten dengan misi dan visi bangsa. Apa yang harus dilakukan dalam jangka pendek dan bagaimana mencapainya. Apakah pemulihan kurs rupiah terhadap dollar AS menjadi tujuh ribu misalnya. Berapakah tingkat tingkat kondusif untuk pembangunan ekonomi? Masih spekulatif dan sangat janggal kalau belum ada studi komprehensif ke arah sana. Dalan jangka pendek misalnya memulihkan strukturisasi perbankan sehingga mampu berfungsi menyalurkan kredit pada investasi produktif, serta lebih memberdayakan Badan Restrukturisasi Bank Indonesia dalam mengupayakan restrukturisasi kredit macet yang mencapai lebih 230 triliun rupiah.  Rakyat perlu juga mengetahui target-target apa yang hendak dicapai dan bagaimana strategi dan usaha pemimpin nasional dalam mencapai target-target tersebut.

Dalam jangka menengah, pemimpin nasional diharapkan memahami bahwa strategi pengembangan ekonomi pertanian, industri kecil dan menengah hendaknya menjadi sentral kebijakan pembangunan ekonomi.  Dari data BPS (1998), sekitar 50 % atau 40 juta tenaga kerja masih terpusat di sektor pertanian dan hanya 12.5 % di sektor industri.  Apa yang terjadi selama pemerintahan Orde Baru adalah, strategi kebijakan ekonomi yang berfokus pada industri telah gagal menyerap surplus ternaga kerja di pertanian, sementara ironisnya, sumberdaya modal lebih terpusat pada sektor industri.

Dalam jangka panjang, tujuannya adalah kemakmuran bagi seluruh rakyat yang hanya dapat terwujud apabila segala potensi sumberdaya nasional diarahkan pada pembangunan manusia Indonesia.  Dalam hal ini, mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi isu sangat pokok.  Data BPS (1998) menunjukkan 70% atau 140 juta penduduk masih berpendidikan SD ke bawah.  Di tengah revolusi teknologi dan pengetahuan, tidak ada jalan lain selain membina dan memperlengkapi penduduk yang tertinggal dengan sarana dan prasarana pengetahuan. 

Sangat mengagumkan contoh yang diberikan Andrew Carnegie, konglomerat baja AS yang membangun lebih kurang 1.800 perpustakaan di seluruh AS.  Harapan rakyat, pemimpin nasional hendaknya mampu menggalang sumberdaya pemerintah dan swasta untuk mendirikan dan mengembangkan perpustakaan umum di setiap ibukota kabupaten.  Hanya dengan memperlengkapi rakyat dengan pengetahuan, bangsa Indonesia akan mampu mengikuti kemajuan peradaban manusia. Dalam kaitan ini, sejauh ini Presiden Megawati baru menghimbau pengusaha dan masyarakat mendonasikan uangnya kepada pemerintah. Tentu diperlukan visi dan landasan yang jauh lebih penting daripada sekedar himbauan.

Keempat, mewujudkan kemenangan nurani rakyat.  Selama beberapa dekade, rakyat telah menyaksikan banyak individu yang melakukan penyimpangan baik di bidang ekonomi, politik dan hukum, tetapi hukum dikebiri sehingga tidak mampu menjangkau individu-individu tersebut.  Harapan rakyat, pemimpin nasional dapat menyelenggarakan amanat konstitusi bahwa RI adalah negara yang berlandaskan hukum dengan membangun dan menciptakan hukum bagi semuanya tanpa pandang bulu.  Usulan untuk mengembangkan rekonsiliasi nasional tetaplah harus menjaga keseimbangan antara keadilan dan persatuan nasional.

Sejarah menunjukkan tidak sedikit pemimpin yang lahir dari dan didukung oleh rakyat akhirnya, dengan godaan kekuasaan dan lemahnya kontrol moral, menjauh dari rakyat dan menjadi beban bangsa.  Karenanya sangat menarik apa yang dikatakan oleh guru saya Jeff Gilmore, “let humility define your ambition, but not ambition define your humility.” (topik ini akan menjadi bahan diskusi di lain kesempatan)

Ketika seseorang memiliki ambisi menjadi pemimpin nasional, hal yang pertama yang harus dia jawab adalah apakah ambisinya menentukan karakternya atau karakternya menentukan ambisinya. Kalau jawabannya adalah cenderung yang pertama, lebih baik dari awal yang bersangkutan cukup menjadi pemimpin keluarga.

Akhirnya untuk menjawab observasi Bresnan, kita cukup mengaitkan tantangan dan harapan di atas dengan perkataan Gilmore. Kesimpulannya, rasanya memang Indonesia masih sedang mengalami krisis kepemimpinan.

 
Archives
Asal Mula Krisis? Potret Perbankan Lima Tahun Pakto 1988
Should We Believe in the World Bank and the IMF?
Do Media Serve Democracy?
The New New World Order
Back to top

Your comment

US:02/22/02

© 2001, 2002 The Prospect & The Indonesian Institute